Welcome to My World

Minggu, 19 Agustus 2012

Fanfiction - Test of Love



Title : Test of Love
Author : Siti Fajriani (SF)
Cast : Kim Ryeowook, Kim Hyejin, Super Junior's members
Genre : Romance

Happy Reading...

*****

Kim Ryeowook’s side :

“Wookie-ah... kenapa fotomu dan yeoja itu tersebar di internet?” Tanya Yesung-hyung yang sedang asyik internetan.
“Mwo?” Tanyaku terkejut, aku langsung menghampiri Yesung-hyung.

Padahal aku lagi sibuk mencoba resep baruku yang tadi baru aku dapat dari Eommanya hyungku ini.
“Ini... foto mesra kalian beredar.” Tunjukknya pada layar laptopnya.
Foto mesra? Kapan aku punya foto mesra dengan seorang  yeoja itu. Aku melihat layar laptopnya...
“Aishh... Hyung, foto mesra apa itu? Apa kau pikir dengan jarak 20cm diantara kami itu menurutmu mesra.” Aku menatap kesal Hyungku satu ini, benar-benar aneh.
“Tapi menurutku ini mesra Wookie-ah.” Dia tidak mau mengalah.
Hyungku ini memang benar-benar aneh. “Terserah apa katamu Hyung, aku mau masak saja.” Aku kembali kedapur dan memulai meracik bahan-bahan untuk membuat masakan baru ini yang namanya aku lupa.
“Wookie-ah...”
Aku mengeluh lelah, kali ini apa lagi...
Aku menatap kearah Donghae-hyung yang tersenyum penuh makna kearahku. Pasti dia ingin memintaku memasak untuknya...
“Ne, Hyung... apa kau lapar?” Tanyaku yang sudah tahu sekali kebiasaannya itu. Yang selalu mengingatku saat perutnya sedang lapar.
“Ne, kau memang dongsaeng yang paling baik dan mengerti aku.” Ucapnya dengan mata berbinar.
Benar kan apa kataku...
“Yak! Hae-ah, dia dongsaeng kesayanganku kenapa kau mau merebutnya.” Yesung-hyung tidak terima.
Aku menghela napas bosan lalu kembali melanjutkan masakku tanpa memperdulikan kedua Hyungku yang sibuk memperebutkan aku sebagai dongsaeng kesayangan mereka. aku memang selalu jadi rebutan...
“Wookie-ah... siapa yang kau pilih untuk menjadi Hyung terbaikmu?” Teriak Donghae-hyung meminta kepastianku.
“Yak! Kenapa kalian begitu ribut, hah! Mengganggu tidurku saja.” Leeteuk-hyung datang dan langsung memarahi Yesung-hyung serta Donghae-hyung.
Aku hanya tersenyum senang di dapur mendengar Leeteuk-hyung marah-marah...
“Wookie-ah... handphonemu berbunyi.” Teriak Sungmin-hyung dari ruang TV.
Aku langsung berhenti dengan kegiatan masakku dan langsung keruang TV untuk menjawab panggilan itu. Pasti yeojachingu, aku tersenyum senang membayangkannya.
Ah, ternyata dugaanku benar.
“Yoboseyo.” Ucapku menjawab panggilannya.
“Oppa, apa hari ini kau sibuk?” Tanya yeojachinguku, Kim Hye Jin.
“Anio.” Jawabku langsung dengan semangat.
Aku merasakan suasana yang tiba-tiba terasa aneh, dingin...
Sunyi...
Aku menatap sekitarku. Semua Hyung menatapku tajam.
“Bagaimana kalau kita...”
“Hyejin-ah...” Potongku langsung. “Hari ini aku memang tidak sibuk tapi...”
Aku merasa takut dengan tatapan menghunus dari Hyung-hyungku.
Aishh... kenapa mereka jadi seperti ini sih...
“Ah, aku lupa kalau hari ini aku ada jadwal.” Lanjutku langsung sebelum aku di bunuh oleh hyung-hyungku itu dengan tatapan mereka.
Terlihat senyum mereka mengembang, karena puas mendengar ucapanku. Tepatnya penolakanku pada yeojachinguku.
Aku mendengar desahan sedihnya. “Ya sudah, aku tutup ya.” Ucapnya cepat, dan...
Tut... tut... tut...
Aku menatap handphoneku sedih.
“Hyung, kali ini saja biarkan aku kencan dengannya.” Aku memohon pada Hyung-hyungku.
Mereka semua serentak menggelengkan kepala...
“Tidak bisa sebelum dia lulus tes dari Heechul-ah.” Leeteuk Hyung mengingatkanku.
Aish... kalau bukan karena Eunhyuk-hyung, aku tidak akan seperti ini...
“Kalau begitu percuma saja aku menjadikannya pacar kalau kalian bersikap seperti itu.” Ucapku kesal dan langsung masuk kedalam kamar dengan cepat.
“Yak! Kau mau kemana Wookie-ah?” Tanya Donghae-hyung dengan panik.
“Aku marah...” Ucapku dan langsung menutup pintu kamar.
“Lalu bagaimana dengan sarapan kami?” Tanya Yesung-hyung juga ikut panik.
“Buat saja sendiri.” Teriakku dari dalam kamar.
“Yak! Mana bisa begitu.” Protes Donghae-hyung langsung.
“Sudahlah, kan masih ada Hankyung-ah.” Ujar Leeteuk-hyung dengan senang.
Aish... mereka benar-benar Hyung yang jahat...
Bagaimana mungkin membuat dongsaeng mereka jadi sedih seperti ini...
Benar-benar keterlaluan...
Ini semua gara-gara Eunhyuk-hyung yang salah memilih yeoja. Gara-gara yeoja itu menyakitinya dan membuatnya sampai menangis tiga hari tiga malam, yang langsung membuat Hyung serta Dongsaeng di Super Junior jadi lebih protective terhadap yeoja-yeoja yang sedang dekat dengan kami.
Untuk itu mereka ingin melakukan test kepada yeoja-yeoja tersebut dan ide ini di cetuskan oleh Yesung-hyung yang sedang asyik bicara dengan Ddangkoma, tanpa sadar mengatakan itu dan langsung di setujui oleh semua member.
Dan setelah melakukan percobaan pada yeojachingunya Kangin-hyung yang ternyata lulus test dengan hasil memuaskan karena ternyata yeoja itu benar-benar tulus mencintai Kangin-hyung. Dan sebagai korban selanjutnya adalah aku...
Padahal aku sudah mengatakan pada mereka kalau aku kenal baik dengan Hyejin-ah. Dia adalah teman satu SMA ku. Walaupun terkadang sifatnya cukup mengesalkan tapi sejauh aku mengenalnya dia adalah orang yang baik dan perhatian. Dan dia menyukaiku...
Walaupun harus aku akui beberapa kali dia sempat membuat korea heboh dengan mengupload foto-foto kami di internet. Contohnya ya seperti yang tadi di tunjukkan oleh Yesung-hyung. Itu pun juga tidak bisa di bilang foto seperti sepasang kekasih karena kami berfoto dengan saling menjaga jarak.
Dengan segala kelebihan dan kekurangnnya, aku mencintainya. Bukankah manusia tidak ada yang sempurna? Kenapa aku harus menuntutnya untuk sempurna...


*****


Kim Hyejin’s side :

Dan hari ini pun dia menolak ajakanku lagi. Padahal tadi dia terdengar sangat semangat, kenapa tiba-tiba langsung menolak ajakanku.
Aishh... namja ini...
Ya, semua memang salahku yang menerima cintanya, padahal aku sudah tahu bagaimana sibuknya dia sebagai seorang penyanyi yang sedang naik daun. Dan aku harus menerima itu...
Aishh... tapi kenapa aku masih tetap sebal kepadanya...
“Hyejin-ah... apa hari ini kau mengupload foto lagi di blogmu?” Tanya chinguku yang baru datang dengan nafas yang terengah-engah.
“Anio, aku mengupload foto dua hari yang lalu.” Jawabku pada chinguku, Hyomi-ah.
“Aishh, sudah berapa kali aku bilang jangan melakukan itu. Kau ingin orang-orang jadi membencimu dan memusuhimu karena tindakan konyolmu itu?”
“Konyol apanya, hah?” Teriakku jadi emosi.
“Kau kan tahu saat ini dia sangat terkenal di kalangan remaja seperti kita.”
Aku hanya mengangguk setuju dengan ucapannya. Lalu...?
“Kalau kau bersikap seperti itu, pamornya akan turun. Apa lagi kalau para ELF tidak setuju dengan hubungan kalian berdua. Harusnya kau mencoba mendapatkan hati para ELF, bukan malah membuat suasana menjadi semakin memburuk untuk hubungan kalian berdua.” Jelasnya kepadaku dengan panjang.
Selalu saja itu yang di bicarakannya semenjak aku berpacaran dengan Ryeowook Super Junior.
Aku mengalihkan pandanganku dan hanya mengangguk tidak peduli.
“Hyejin-ah, dengarkan aku.” Dia memohon.
Aku menatapnya lama. “Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa salah kalau aku ingin semua orang tahu tentang hubunganku dengannya, hah.” Tanyaku.
“Kau tidak salah hanya saja jangan terlalu cepat sepeti ini. Ini sangat mempengaruhi pada karirnya nanti. Kau juga harus mengerti dengan posisinya.”
“Aku tahu, aku tahu... tapi sampai kapan kami harus menyembunyikan hubungan ini. Lagi pula fotoku dengannya kan bukan foto mesra. Hanya seperti foto antar fans dengan idolanya.”
“Yak! Kau benar-benar susah untuk di nasehati. Terserah apa yang kau lakukan. Aku tidak akan peduli lagi, aku bahkan bisa menjamin kalau kau akan segera putus dengannya karena ELF tidak menyukaimu. Kau tahu kan bagaimana berperannya fans terhadap idola.” Dia tersenyum penuh arti menatapku lalu berjalan pergi meninggalkanku sendiri di cafe milik orang tuanya ini.
Aku menatap kepergiannya yang kembali sibuk dengan pelanggan Cafe...
Apa aku terlalu memaksakan diri dengan memintanya memberitahu publik kalau aku adalah pacarnya. Aku hanya ingin orang tahu dengan hubungan kami, aku tidak ingin ada wanita lainnya yang merebutnya. Tapi kenapa dia juga juga sama seperti chinguku itu, yang melarang tindakanku untuk melakukan itu, walaupun dia tidak mengatakannya langsung seperti chinguku tadi.
Dari sikapnya aku tahu dia juga tidak ingin atau belum siap untuk mengatakan kepada publik tentang hubungan kami. Sudah terlalu sering aku jadi kesal karena hal itu kepadanya tapi anehnya melihatnya yang tersenyum membuat marahku langsung hilang.
Aishh... dasar babo!
“Hei, kenapa kau melamun?” Tanya chinguku lagi, datang menghampiriku. Sepertinya dia sudah selesai dengan mangantarkan pesanan pelanggan-pelanggannya. Dan sepertinya dia sudah melupakan perdebatan kecil kami tadi.
“Anio, aku hanya tidak tahu harus melakukan apa sekarang, karena Wookie-oppa sedang sibuk dan tidak bisa menemaniku jalan-jalan hari ini.” Jawabku malas.
Dia kembali duduk di depanku dan menatapku dengan serius.
“Mwo?” Tanyaku marah karena dia menatapku seperti menyelidik.
“Omo! Apa kau begitu mencintai Wookie-oppa?” Tanya terkejut.
“Ne, tentu saja, kalau tidak aku tidak akan mau pacaran dengannya.” Kataku masih dengan kesal. Apa dia meragukanku, dasar chingu menyebalkan.
“Aishh, kau benar-benar berubah Hyejin-ah.” Ujarnya dengan senyum mencurigakan. “Aku senang...”
“Apa maksudmu, dengan benar-benar berubah, hah?” Tanyaku galak, tidak terima di bilang berubah. Memagnya apa yang berubah dari diriku. Aku masih tetap sama, Kim Hyejin.
“Lihatlah, kau menjadi sangat pemarah sekarang.” Jawabnya. “Kau juga jadi sangat protektif terhadapnya, selalu menelponnya lebih dulu, ingin semua orang tahu dengan hubungan kalian, kau juga sangat peduli terhadapnya. Dan parahnya lagi kau dapat bertahan dengan namja seperti itu selama dua minggu. Padahal biasanya kau akan langsung memutuskan namja seperti itu.” Dia menjelaskan hasil penyelidikannya kepadaku.
Aku menatapnya kesal, apa maksudnya dengan ‘namja seperti itu’?
Tapi yang di ucapkan chinguku ini benar juga. Aku sepertinya benar-benar sudah berubah...
Pertanyaanya kenapa aku bisa berubah seperti ini?
“Aku senang dengan perubahanmu, tapi jangan lakukan itu karena dia seorang penyanyi terkenal.”
“Andwae, tentu saja bukan karena itu. Aku sendiri juga bingung kenapa aku bisa berubah seperti ini.” Protesku langsung.
Aku juga jadi bingung...
“Apa kau benar-benar menyukainya?” Tanya penasaran.
“Mungkin...” Ucapku pelan dengan sedikit ragu.
“Omo! Ini benar-benar sulit di percaya mengingat kau seorang playgirl, dan tiba-tiba takluk dengannya.”
“Aishh, jaga ucapanmu. Playgirl kau bilang? Itu karena namja-namja yang kupacari aneh semua. Tentu saja aku memutuskan mereka...”
“Lalu Wookie-oppa tidak aneh menurutmu?” Potonganya cepat dengan senyum jahilnya.
Chinguku satu ini, membuatku kesal saja...
“Yak! Kau kenapa jadi begitu menyebalkan seperti ini, hah. Kenapa memangnya kalau aku benar-benar menyukainya, apa ada yang salah, hah?” Tanyaku dengan setengah berteriak.
“Yak! Kenapa kau berteriak-berteriak, hah? Membuat pelangganku terganggu.” Protesnya.
“Kau juga berteriak, dasar Babo!” Balasku.
“Oh, aku lupa, ini karena kau yang memulainya lebih dulu.” Dia menyalahkanku.
“Anio, kau yang memulainya lebih dulu dengan membuatku kesal karena pertanyaan-pertanyaan anehmu.” Aku tidak mau kalah.
“Omo! Apa yang aneh, aku hanya mengatakan tentang perubahan sikapmu saja dan aku senang karena itu berarti kau tidak akan menyakiti namja lagi, seperti yang biasa kau lakukan...”
“Menyakiti namja? Lagi? Yak! Mereka yang membuatku bosan dengan sikap mereka yang menyebalkan, lalu kenapa aku harus mempertahankan hubungan yang seperti itu, hah!” Potongku dengan marah.
“Aishh, kalian ini. Kenapa selalu bertengkar, hah?” Tanya seorang yeoja datang menghampiri kami, Choi Hyumin yang juga merupakan teman dekatku seperti Hyomi-ah.
Kami menyebut diri kami T-H, Triple-H. Karena dari nama tengah kami yang semuanya berawal dari huruf H, Hyejin, Hyomi, dan Hyumin...
“Apa yang sedang kau lakukan disini?” Tanya Hyomi-ah polos.
“Yak! Kau mengusirku, hah!” Kali ini Hyumin-ah berteriak kesal.
“Anio, hanya saja tumben kau kemari.” Jawab Hyomi-ah pelan.
“Apanya yang tumben, hampir setiap hari aku kemari, babo!” Dia mengingatkan.
“Aishh, kalian berdua kenapa jadi berteriak-teriak, hah?” Tanyaku bingung. “Sudah cepat duduk.” Perintahku pada Hyumin-ah.
Dia menatapku kesal. “Seperti kau tidak pernah berteriak saja.” Tegurnya.
Aku hanya diam tidak ingin menggubrisnya. Aku masih memikirkan kata-kata Hyomi-ah tentang perubahan sikapku. Apa aku sudah benar-benar berubah...
“Apa yang sedang kalian bicarakan?” Tanya Hyumin-ah penasaran.
Aku hanya diam tidak peduli dan akhirnya Hyomi-ah yang menjawab semua pertanyaan Hyumin-ah dengan sangat antusias, membuat telingaku jadi panas karena mereka sedang membicarakanku di depanku sendiri dengan segala pendapat menyebalkan mereka tentang perubahanku yang mereka rasa begitu cepat.
Serta mengatakan tentang sikap protektifku yang terlalu berlebihan kepada namjachinguku. Aishh, kenapa aku bisa mempunyai chingu-chingu yang begitu menyebalkan seperti mereka ini...
“Yak! Kenapa kalian menggosipkan aku di depanku langsung, hah!” Aku sudah tidak tahan lagi mendengar cerita mereka yang membuat mereka jadi semakin antusias.
“Siapa yang sedang menggosipkanmu. Kami hanya sedang mengeluarkan pendapat kami saja tentang perubahan sikapmu itu, dan itu fakta.” Protes Hyomi-ah tanpa dosa.
“Benar, dan kami sangat bersyukur akan hal itu.” Dukung Hyumin-ah dengan tersenyum manis.
Aku menatap mereka  berdua kesal...
“Hyejin-ah, tidak kah kau membaca komentar buruk tentangmu di blogmu itu?” Hyumin-ah membuka pembicaraan baru.
“Aku sudah tahu, makanya aku malas membuka blogku lagi.” Jawabku dengan malas.
“Ini semua kan karena kau menjadikan background fotomu dengan Wookie-oppa di blogmu dan mengupload foto-foto lainnya. Tentu saja para Ryeonsomnia tidak terima.” Tambah Hyomi-ah mendukung.
Aku benar-benar malas membicarakan topik yang satu ini.
“Ne, aku mengaku kalau aku salah, lalu apa yang harus aku lakukan semua sudah terjadi. Apa kalian berdua memintaku untuk putus saja dengannya?” Tanyaku yang sudah pasrah, karena aku mendadak tidak ingin berdebat dengan kedua chinguku ini.
“Anio, bukan begitu. Kenapa kau ini, Hyejin-ah.” Seru Hyumin-ah dengan panik.
“Lalu apa yang harus aku lakukan lagi? Bukankah semua orang tidak setuju dengan hubungan kami.”
“Yak! Kenapa kau jadi begitu lemah, hah! Kau tidak perlu putus dengannya, hanya saja lakukan hal-hal yang membuat fansnya jadi menyukaimu.” Saran Hyomi-ah, yang di dukung dengan anggukkan kepala dari Hyumin-ah.
“Bagaimana caranya? Menyuap mereka dengan uang?” Tanyaku bingung, aku benar-benar merasa sudah sangat lelah dengan topik ini.
“Yak! Kau benar-benar ingin mati, hah!” Protes Hyomi-ah kesal melihat sikapku.
“Sebenarnya aku juga bingung apa yang harus kau lakukan, Hyejin-ah. Aku tidak terlalu mengerti dengan para Fansnya.” Hyumin-ah mengakui.
“Yang aku tahu fans tidak suka jika bias mereka punya kekasih.” Ujar Hyomi-ah pelan.
Aku menghela napas. “Baiklah, aku akan mencoba menjadi yeojachingu yang baik untuknya. Kalau itu juga tidak bisa, mungkin aku lebih baik putus saja dengannya.”
“Apa kau yakin?” Tanya hyomi-ah tidak percaya.
“Kau terlihat begitu menyukainya, Hyejin-ah.” Ujar Hyumin-ah.
“Lalu apa lagi yang harus aku lakukan lagi? Aku benar-benar gila kalau harus memikirkan ini.” Aku mengakui dengan sedikit berteriak kesal kepada mereka, yang membuatku semakin bingung dengan apa yang aku lakukan.
“Mianhae, karena membuatmu jadi memikirkan ini.” Hyomi-ah meminta maaf.
“Aku senang kalian memperhatikanku, gomawo.” Aku tersenyum senang menatap kedua chinguku. “Aishh, sudah jam barapa ini? Aku harus segera pulang.” Aku baru ingat kalau aku harus menjemput dongsaengku pulang les piano.
“Kenapa buru-buru?” Tanya Hyumin-ah.
“Aku harus menjemput dongsaengku tercinta.” Jawabku malas dan dengan senyum terpaksa menatap mereka..
“Ah, iya. Aku baru ingat kalau kau punya pekerjaan.” Hyomi-ah tersenyum.
“Kalau begitu aku pergi dulu.” Aku pamit.
“Hati-hati di jalan.” Mereka mengingatkanku.
Aku langsung buru-buru keparkiran...
Kalau aku terlambat aku, dongsaeng cantikku itu akan marah besar kepadaku, dan akan mengadu kepada Eomma yang nantinya akan memarahiku dengan ceramahnya yang panjang dan bosan kudengar...
Aishh, kenapa tadi aku harus datang ke Cafenya Hyomi-ah. Walaupun terlihat perbincangan kami biasa saja, tapi itu cukup mengganggu pikiranku. Apa yang harus aku lakukan sekarang, aku sudah benar-benar menyukai Wookie-ah. Aku tidak tahu bagaimana kalau nanti aku putus dengannya, apa aku masih bisa hidup. Walaupun kami belum lama berpacaran tapi itu sudah sangat membekas  di hatiku.
Kalau itu terjadi akan sulit bagiku untuk melihat senyum manisnya lagi. Aishh, bagaimana ini....


                                                                                *****



Aurthor’s side :

Terlihat Heechul sedang sibuk berdiskusi dengan Leeteuk, Yesung, Donghae, dan Hankyung di ruang tamu...
“Kali ini apa lagi yang akan kita lakukan, Hyung?” Tanya Donghae yang penasaran dengan misi mereka hari ini untuk mengetest yeojachingunya Ryeowook.
“Entahlah aku juga bingung.” Jawab Heechul.
“Kita sudah melakukan semua, mulai dari membuat janji dan membatalkannya begitu saja. Dan kita juga sudah mengetest kesetiannya dengan menyuruh seorang namja untuk mendekatinya. Dan dia tetap mempertahankan Wookie-ah, apa dia benar-benar menyukai Wookie-ah?” Kata Hankyung yang masih ragu.
“Aku hanya tidak ingin Dongsaeng kita itu sakit hati, kita memang harus mengetest yeoja itu lagi. Aku tidak ingin dia suka pada Wookie-ah hanya karena status Wookie-ah.” Dukung Leeteuk untuk terus melanjutkan misi mereka ini.
“Kemarin aku melihat foto yeoja itu dengan Wookie-ah di blognya, sepertinya dia memang ingin semua orang tahu kalau dia adalah yeojachingunya Wookie-ah.” Tambah Yesung, sambil sibuk dengan Ddangkoma yang dia bawa keluar dari kandangnya.
Mereka semua pun terdiam saling memikirkan apa rencana yang bagus, agar mereka benar-benar tahu bagaimana perasaan yeoja itu sebenarnya terhadap Dongsaeng mereka.
“Ddangkoma pasti kau sangat lelah menunggu kami kan? Tenang sebentar lagi kau akan makan siang. Setelah rapat ini selesai.” Kata Yesung memecahkan keheningan kepada kura-kura peliharaannya, yang diletakkan di atas meja.
“Aishh, kau pintar sekali Yesung-ah.” Puji Heechul dengan senyum  mengembang.
Yesung langsung menatap Heechul dengan pandangan tidak mengerti sekaligus tidak peduli.
Leeteuk, Donghae, serta Hankyung menatap Heechul bingung karena tidak mengerti maksud ucapan Heechul kepada Yesung.
“Mwo?” Tanya Donghae langsung karena penasaran.
“Kalian tahu, wanita paling benci menunggu. Dan kita akan membuat yeoja itu menunggu Wookie-ah.” Cetus Heechul dengan senyum evilnya.
“Bagaimana caranya membuat yeoja itu menunggu?” Tanya Hankyung penasaran.
Heechul hanya diam, karena belum memikirkan bagaimana caranya. “Pasti akan ada caranya.” Heechul percaya diri.

Neo gateun saram tto eopseo
juwireul dureobwado geujeo georeohdeongeol
eodiseo channi
Neo gatchi joheun saram
neo gatchi joheun saram
neo gatchi joheun ma eum
neo gatchi joheun seonmul


Sebuah deringan Handphone membuat mereka terkejut...
“Yak! Handphone siapa itu, mengganggu konsentrasiku saja.” Teriak Heechul kesal karena deringan handphone itu yang tidak berhenti.
Dan handphone itu pun sudah berhenti berdering...
“Itu kan handphonenya Wookie-ah, apa hari ini dia lupa lagi membawa handphonenya. Pasti dia sangat sibuk mencarinya.” Jawab Yesung yang  masih asyik  dengan Ddangkomanya.
Heechul serta Leeteuk langsung tersenyum penuh arti...
“Waeyo?” Tanya Donghae bersamaan dengan Hankyung, mereka benar-benar tidak mengerti dengan pikiran kedua Hyungnya itu.
“Kita akan segera menguji yeoja itu.” Ujar Leeteuk penuh rahasia membuat Donghae dan Hankyung jadi semakin penasaran sementara Yesung sudah menghilang dari ruang rapat dan langsung menuju dapur karena tidak tahan melihat Ddangkomanya yang kelaparan.
“Kita akan mengirimkannya pesan. Kita akan buat dia merasa sangat bersalah karena sudah menyebarkan fotonya yang sedang bersama Wookie-ah.” Kata Heechul menjelaskan ide cemerlangnya.
“Aigo, itu ide yang sangat hebat Hyung.” Dukung Hankyung setuju.
“Apakah kita tidak terlalu jahat dengan melakukan ini, Hyung?” Tanya Donghae jadi merasa bersalah.
“Apa kau ingin dia terluka seperti Eunhyuk-ah, hah?” Tanya Heechul galak.
“Tentu saja tidak.” Protes Donghae langsung.
“Lagi pula ini sudah terlanjur, kenapa tidak kita selesaikan saja sampai akhir.” Kata Hankyung semangat.
“Ne, benar sekali.” Dukung Leeteuk.
Leeteuk langsung menuju kamar Ryeowook dan mengambil handphone Ryeowook dengan cepat...

 
                                                                                                *****

 
Kim Ryeowook’s side :

“Hyung, tidak bisakah kita belanjanya di percepat?” Tanyaku pada Sungmin-hyung yang masih sibuk dengan boneka-boneka yang akan di belinya untuk yeojachingunya.
“Sebentar lagi, Wookie-ah.” Tolaknya.
“Hyung, aku takut nanti Hyejin-ah menelponku. Jadi ayo cepat kita pulang.” Aku masih mencoba memaksanya karena aku meninggalkan handphoneku di dorm. Lagi pula aku cukup risih dengan topi dan masker yang ku gunakan saat ini untuk menyamar.Kenapa jadi terkenal itu susah untuk hidup normal seperti orang lain yang memiliki kebebasan.
“Aishh, kau ini. Memangnya kenapa kalau dia menelpon? kau kan nanti juga bisa menelponnya balik.” Sungmin-hyung masih sibuk memilih antara boneka beruang dan kelinci yang dua-duanya berwarna pink. Hyung ku satu ini benar-benar pecinta pink.
“Hyung, kau seperti tidak tahu saja kalau aku dilarang keras menghubunginya sebelum dia lulus test dari Heechul-hyung.” Aku mengingatkannya.
“Ah, baiklah... aku sudah menemukan yang sesuai dengan pilihanku.” Sungmin-hyung tersenyum senang.
Aku menatapnya kesal, padahal sudah dari tadi dia ingin membeli boneka itu. Tapi malah masih tetap sibuk memilih dan pada akhirnya boneka beruang itu juga yang dipilihnya, benar-benar membuang-buang waktu.
“Bagaimana dengan belanjaanmu? Apakah sudah membelinya semua?” Tanyanya.
“Ne, aku hanya membeli beberapa bahan untuk makan malam kita nanti.” Jawabku.
......
Saat sampai di dorm, suasananya sudah sepi. Aku sempat heran kemana orang-orang padahal sebelum aku pergi mereka tadi sedang sibuk menonton televisi karena hari ini kami libur.
“Hei, kalian sudah kembali.” Sapa Yesung-hyung yang sedang sibuk dikamar dengan Ddangkoma.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Langsung menuju dapur untuk meletakkan belanjaan lalu aku langsung masuk kekamar dan mengganti pakaianku dengan pakaian santai dan aku ingin istirahat sebentar, karena lelah berbelanja dengan Sungmin-hyung yang memutar-mutar Mall.
“Hyung, kemana semua orang kenapa begitu sepi?” Tanyaku sambil berbaring di bed coverku. Ah, empuknya...
“Entahlah, mereka menghilang setelah aku selesai memberi makan Ddangkoma.” Jawabnya sambil mengelus kepala Ddangkoma.
“Sepertinya hari ini akan hujan. Oh, ya dimana handphoneku.” Aku baru ingat kalau tadi aku pulang karena ingin mengecek handphoneku apakah ada panggilan dari yeojachinguku.
“Aku ingin jalan-jalan.” Ucap Yesung-hyung yang langsung keluar dari kamar. “Benar, kemana orang-orang itu kenapa meninggalkanku sendirian.” Gerutunya sambil membuka pintu kamar.
Aku menghela napas, ternyata hari ini yeojachinguku belum menghubungiku...
Aku langsung tersenyum senang, ini adalah kesempatan bagus kenapa aku tidak menghubunginya saja selagi Hyung-hyung ku sedang tidak ada di dorm untuk mengawasiku seperti biasanya.
Aku langsung mencoba untuk menghubunginya...
Aku langsung terkejut karena pintu kamar tiba-tiba terbuka dan muncullah kepala Yesung-hyung dari balik pintu dengan ekspresi diamnya, yang membuatku jadi takut.
“Baiklah, aku tidak akan menghubunginya.” Ucapku dengan malas dan terpaksa.
Dia langsung kembali menghilang dari balik pintu.
“Wookie-ah, kalau kau menelponnya aku akan mengadu pada mereka.” Teriaknya dari luar kamar.
Aishh, kenapa hidupku jadi begitu menyedihkan, memiliki yeojachingu tapi tidak boleh menghubungi, mengirimkan pesan atau bertemu. Orang tua ku sendiri saja tidak sampai seperti itu, kenapa mereka begitu bersikap berlebihan, hah!
Aku tahu ini karena cintanya mereka kepadaku sehingga tidak ingin membuatku menjadi sedih karena putus cinta...
Apa yang sekarang harus aku lakukan, hah!
Aku hanya dapat kembali berbaring di bed coverku dengan malas...



                                                                                 *****


Kim Hyejin’s side :

Apa yang harus aku lakukan sepertinya kali ini Wookie-oppa benar-benar marah kepadaku karena aku mengupload fotoku dengannya yang membuat fansnya jadi marah...
Aku kembali membaca ulang pesan yang dikirimnya.
Aku sudah melihat blogmu, kenapa tidak pernah mau mendengarkanku, hah! Kita harus bicara! Aku tunggu di taman sekarang!
Aku masih tidak percaya dengan pesan yang dikirimnya, tapi aku tetap bersiap-siap untuk ke taman aku tidak ingin membuatnya menunggu ditaman.
.......
Aku menatap taman yang sedang sepi karena cuaca sedang tidak bagus. Aku yakin sebentar lagi akan turun hujan melihat langit yang sudah begitu gelap.
Tapi dimana namjachinguku itu,kenapa dia tidak ada di taman? Apa dia sedang dalam perjalan kemari?
Aishh, babo! Kenapa aku jadi bisa melupakan handphoneku, membuatku jadi tidak bisa menghubunginya dan menanyakan dimana dia sekarang. Ini pasti karena tadi aku terburu-buru. Sekarang sepertinya aku harus menunggunya, aku tahu dia bukan tipe orang yang akan membuat orang lain menunggu lama. Kerena kalau dia sedang ada jadwal tiba-tiba dia akan langsung menghubungiku dan mengatakannya langsung.
Yak! Bagaimana dia akan mengatakannya kalau aku sendiri lupa membawa handphoneku.
Oke, aku akan menunggunya sekaligus ingin meminta maaf kepadanya dengan semua kesalahan yang sudah aku perbuat kepadanya yang membuatnya hanya dalam masalah.
Aishh, bagaimana ini...
hujan sudah mulai turun, dimana aku harus berteduh, hah!
Oppa, kau dimana? Batinku.
Aku langsung berteduh di sebuah pohon besar yang ada di pinggir taman tepat di pinggir jalan.
Aku mendesah, hujannya sangat deras. Aku benci hujan yang deras seperti ini karena aku sangat takut dengan bunyi petir dan suara gemuruh. Aku mencoba menutupi kepalaku dengan kedua tanganku walaupun itu percuma karena aku sudah benar-benar basah, dari atas ampai bawah.
Kenapa dia belum datang juga? Apa jalanan saat ini sedang macet?
Aku semakin cemas karena hujan yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti...
Apa dia benar-benar marah padaku? Sampai membuatnya jadi tidak ingin datang kemari. Mianhae Oppa, aku melakukan itu semua karena aku benar-benar menyukaimu dan aku tidak ingin ada orang lain yang menyukaimu. Apa aku sudah membuat karirmu rusak dengan tindakan konyolku?
Apa sebaiknya aku pulang saja? Aku rasa dia tidak akan datang kemari, pasti karena hujan dan membuat jalanan jadi licin. Tapi percuma saja aku pulang, karena badanku sudah basah semua, kenapa tidak menunggu saja.
Aku langsung menutup telingaku karena suara gemuruh guntur yang membuatku takut, sangat takut. Biasanya kalau saat hujan deras seperti ini aku akan meringkuk dibed coverku dan menutupi seluruh badanku dengan selimut. Atau aku berada di tengah-tengah antara Hyomi-ah dan Hyumin-ah saat aku bersama mereka. tapi kalau sendiri seperti ini, apa yang harus aku lakukan untuk mengurangi rasa takutku tersebut?
Hujan, ku mohon berhentilah...
Oppa, kau dimana? Kenapa belum datang juga...
Aku sudah sangat lelah menunggu dan aku juga sudah sangat kedinginan...
Aku memutuskan untuk duduk di akar-akar pohon yang menonjol sambil memeluk erat kedua lututku. Aishh, kenapa dia membuatku jadi menunggu begitu lama.
Aku merasa cukup jengah dengan orang-orang lewat yang melihat penasaran kearahku. Aku berani taruhan mereka pasti berpikir kalau aku ini sudah gila!
Tin...tin...tin...
Suara klakson mobil membuatku sontak berdiri. Dengan senyum mengembang aku melihat kearah mobil yang sudah terparkir.
Oppa, akhirnya kau datang juga...
Tapi kenapa mobilmu berbeda?, batinku sambil terus melihat kearah mobil yang sudah berhenti itu. Kaca depannya terbuka secara perlahan dan terlihatlah seorang namja dengan tatapan aneh kearahku.
Aishh, kenapa bukan Oppaku, kenapa malah Hyungnya yang datang. Dan aku cukup merasa takut dengan Hyungnya yang satu itu karena mengingat kata Siwon-oppa yang mengatakan ‘jika Dia ada di belakangmu, maka kau akan merasakan aura yang berbeda, dingin...’
Dan dia adalah Yesung-oppa...
“Yak! Kenapa kau disini dan hujan-hujanan, hah?” Tanyanya sambil berteriak kearahku.
“Aku sedang menunggu Wookie-oppa. Apa kau tahu dimana dia sekarang, Oppa?” Tanyaku padanya.
“Menunggu Wookie-ah?” Tanyanya bingung. “Dia sedang ada di dorm sambil tiduran.” Jawab Yesung-oppa sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Mwo...??


                                                                                *****


Kim Ryeowook’s side :

Neo gateun saram tto eopseo
juwireul dureobwado geujeo georeohdeongeol
eodiseo channi
Neo gatchi joheun saram
neo gatchi joheun saram
neo gatchi joheun ma eum
neo gatchi joheun seonmul

Dengan malas aku meraih handphoneku yang terletak di meja di samping tempat tidurku.
Aishh, kali ini apa lagi...
Dengan malas aku mengangkat telpon dari Yesung-hyung...
“Hyung, aku benar-benar tidak menelponnya, jadi jangan cemas.” Ucapku langsung tanpa mengucapkan salam.
“Yak! Dasar babo. Bukan itu yang ingin aku permasalahkan. Aku hanya ingin bertanya kenapa kau membuat Yeojachingumu menunggu di tengah derasnya hujan seperti ini, hah?” Tanyanya sambil berteriak kesal.
“Mwo?” Tanyaku tidak mengerti dengan ucapan Hyungku ini.
“Dia sekarang sedang menunggumu ditaman. Kenapa kau bisa lupa kalau kau ada janji dengannya.” Katanya yang memarahiku. “Aku tadi ingin mengantarnya pulang tapi dia tidak mau.”
“Mwo?” Aku benar-benar terkejut dan tidak percaya dengan pendengaranku.
Menunggu ditaman? Aku tidak pernah membuat janji dengannya, karena aku dilarang menghubunginya apa lagi untuk bertemu dengannya. Bisa-bisa aku benar-benar di bunuh oleh Hyung-hyungku.
“Yak! Kenapa kau jadi diam, hah? Cepat jemput dia sekarang.” Perintahnya.
“Hyung, aku benar-benar tidak ada membuat janji untuk bertemu dengannya karena aku tahu kalian akan marah kalau aku melakukan itu.” Aku masih tidak percaya.
“Aishh, jangan-jangan ini kerjaan Heechul-hyung dan ketiga kaki tangannya itu.” Katanya menduga.
Aku jadi semakin bingung dengan Hyungku satu ini. Bukankah dia juga termasuk kaki tangan Heechul-oppa dan dia juga melarang aku kan untuk mendekati Hyejin-ah sebelum lulus test aneh dari mereka.
Yak! Benar, apakah ini salah satu test itu...
“Hyung, aku harus segera pergi...” Aku langsung memutuskan hubungan telpon kami dan langsung bergegas keluar dorm. Aku harus menemuinya, aishh... dia pasti sudah sangat kedinginan sekali.
Aku memacu mobilku dengan cepat menuju taman. Ah, dasar babo! Harusnya aku sudah tahu karena melihat dorm yang sepi, mereka pasti mengambil kesempatan saat aku lupa membawa handphoneku. Kenapa aku bisa ceroboh seperti ini dan kenapa mereka begitu tega...


                                                                                *****


Author’s side :

“Hyung, tidakkah kita terlalu jahat padanya?” Tanya Donghae merasa bersalah.
“Anio, tunggu saja sebentar lagi. Aku yakin dia akan pulang.” Jawab Heechul yakin.
“Dia sudah sangat ketakutan karena suara petir dan gemuruh, tidakkah kau lihat?” Hankyung juga ikut merasa bersalah dan terlihat sangat sedih.
“Sebaiknya kita jemput saja dia, aku rasa ini sudah cukup.” Kata Leeteuk mengambil jalan tengah.
“Tunggulah, kenapa kalian begitu tidak sabar sih.” Gerutu Heechul menolak.
“Dia sudah lama menunggu ditengah hujan seperti itu, tidak kah kau kasihan padanya.” Donghae sudah mulai menangis karena terharu melihat perjuangan Hyejin.
Heechul menatapnya galak.
“Tunggu, ada mobil yang berhenti di dekatnya.” Seru Hankyung.
“Aku yakin dia pasti akan naik mobil itu, dan kalau itu terjadi dia akan gagal dengan test kita.” Heechul tersenyum penuh arti.
“Sepertinya aku mengenal mobil itu.” Ujar Leeteuk sambil terus memperhatikan mobil yang terparkir di dekat Hyejin.
“Benar, terlihat sangat familiar.” Dukung Donghae yang sudah berhenti menangis.
“Itu... itukan mobilnya Yesung...” Teriak Hankyung shock.
“Apa yang dilakukannya, aishh... dasar babo!” Gerutu Heechul. “Apa dia tidak tahu rencana kita?” Tanya Heechul dengan kesal.
“Aku rasa tidak, karena saat kita pergi dia sedang sibuk memberi makan Ddangkoma.” Jawab Donghae.
“Aishh, si babo itu! Sudah jelas dia yang mencetuskan ide ini kenapa dia tidak tahu.” Heechul masih kesal.
“Tapi, lihat dia menolak tumpangan Yesung.” Seru Hankyung yang masih terus asyik mengamati.
“Benar, dia menolaknya. Aku rasa kali ini dia benar-benar lulus test dari kita.” Ujar Leeteuk sambil menatap Heechul penuh arti.
Heechul hanya terdiam...
“kenapa dia tetap menunggu, aku yakin Yesung-hyung pasti sudah mengatakan yang sebenarnya tentang dimana Wookie berada, tidak mungkin dia masih belanja saat ini.” Ujar Donghae. “Aku ingin sekali ada yang menungguku seperti itu.” Kata Donghae sambil berkhayal.
“Aku juga ingin.” Hankyung ikutan.
Heechul mendesah. “Baiklah kali ini dia lulus test.” Ucapnya dengan berat hati.
“Kali ini? apa maksudmu dengan ‘kali ini’, Heechul-ah?” Tanya Leeteuk marah.
“Kau tidak berniat untuk mengetestnya lagi, kan Hyung?” Tanya Donghae ragu.
“Apa kalian pikir ini sudah membuktikan kalau dia tidak akan melukai Dongsaeng kita?” Tanya Heechul, tidak peduli.
“Aku tidak mau tahu. Pokoknya dia sudah lulus test dari kita.” Protes Leeteuk tidak setuju dengan adanya test lagi.
“Aku masih tidak yakin dengan yeoja itu.” Heechul tidak terima keputusan Leeteuk.
“Pokoknya dia sudah lulus!” Teriak Leeteuk.
Donghae dan Hankyung hanya diam mengamati taman dimana yeoja itu menunggu kedatang Ryeowook yang tidak akan pernah datang.
“Dia pergi.” Ujar Hankyung saat melihat kepergian Hyejin dari taman dengan tatapan sedih.
“Tentu saja, apa lagi yang harus dia tunggu.” Leeteuk setuju dengan tindakan Hyejin.
Heechul tertawa kecil. “Dia belum lulus.” Kata Heechul cepat.
“Kau benar-benar jahat Hyung.” Kata Donghae dengan polosnya.
“Yak! Apa maksudmu, hah?” Heechul marah, tidak terima.
“Aku rasa itu Wookie-ah.” Kata Hankyung yang terus mengabarkan berita selanjutnya kepada Heechul, Leeteuk dan Donghae. Sambil menunjuk kearah mobil yang berhenti di pinggir jalan, tepat di sebelah Hyejin.
“Aishh, ini akan terlihat seperti di drama-drama yang aku bintangi.” Kata Donghae dengan senyum manisnya. Donghae langsung mengeluarkan handphonenya dengan cepat dan mulai merekam.
“Yak! Apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Heechul bingung dengan tingkah Dongsaengnya itu.
“Aku hanya ingin merekamnya saja. Menjadikannya kenangan untuk kita nantinya.” Jawab Donghae dengan senang.
Hankyung dan Leeteuk mengangguk setuju.
“Aku rasa kita harus menemui mereka.” Ujar Leeteuk membuka pembicaraan setelah mereka saling diam untuk beberapa saat dan hanya menatap pemandangan di depan mereka.
“Benar Hyung, sebelum terjadi kesalahpahaman di antara mareka.” Hankyung setuju.
Donghae masih sibuk dengan rekamannya, sementara Heechul menatap kesal ketiga orang itu.

                                               
                                                                                *****

Kim Hyejin’s side :

Setelah Yesung-hyung pergi meninggalkanku setelah aku menolak ajakannya untuk mengantarku, aku hanya dapat terdiam...
Apa maksudnya ini, kenapa dia mengajakku bertemu mengatakan ingin membicarakan masalah penting denganku. Kenapa dia bisa lupa dengan janjinya sendiri...
Ini seperti bukan dia sama sekali. Kenapa dia begitu menyebalkan, membuatku menunggu begitu lama di tengah hujan yang sampai sekarang belum juga reda. Kenapa membuatku menunggu begitu lama. Harusnya dia tahu aku benci menunggu seperti ini.
Aku benci...
Aku takut...
Karena saat ini hujan...
Tanpa terasa air mataku sudah mulai jatuh membasahi kedua pipiku. Oppa, aku benar-benar menyukaimu... bukan, tapi aku... mencintaimu...
Dan untuk pertama kalinya aku mengakui kalau aku mencintai seseorang sampai seperti ini. Dan itu kepadamu, Wookie-oppa...
Babo! Apa lagi yang aku tunggu ditaman ini, sebaiknya aku langsung pulang saja...
Huh, untung saja tadi aku tidak naik mobil, aku jadi ada alasan kenapa aku sampai basah seperti ini untuk dijelaskan nantinya kepada orang di rumah.
Aku langsung berjalan dan meninggalkan taman, berjalan di trotoar dengan begitu pelan mencoba menikmati apa yang ada saat ini. Aku tidak peduli dengan pandangan orang yang melihatku seperti ini. Seperti orang gila. Ya, aku memang gila, gila karena aku jatuh cinta...
Aku menyukai gerimis dan aku benci hujan seperti ini...
Tapi untuk kali ini aku mensyukurinya karena aku bisa menangis sepuasku tanpa di ketahui oleh orang lain. Air mata yang jatuh bersamaan dengan jatuhnya air hujan dari langit...
Oppa, aku mencintaimu...
Saranghae...
“Chagiya...”
Langkahku langsung terhenti saat aku mendengar seseorang memanggilku. Suara yang begitu familiar dan aku sukai...
Aku tersenyum senang mendengar panggilan sayang itu...
Dengan cepat aku langsung menghapus air mataku dan aku berbalik, mendapati namjachinguku sedang menatapku dari dalam mobilnya. Aku tersenyum menatapnya...
Rasa kesal karena dia tidak datang langsung hilang seketika.
“Oppa...” Sapaku dengan riang.
Dia langsung keluar dari mobilnya tidak peduli dengan hujan yang deras.
“Babo! Kenapa kau mau menungguku begitu lama, hah?” Dia marah kepadaku dan langsung memelukku dengan erat.
“Oppa, kau basah.” Ucapku namun tetap membalas dan tersenyum senang dalam pelukannya, sudah lama sekali dia tidak pernah memelukku seperti ini. Aku sudah tidak peduli dengan tatapan orang yag melihat ini. Aku yakin ini akan membuat fans heboh, jika saja aku memfoto adegan ini.
“Kau membuatku cemas...” Ucapnya sambil melepaskan pelukannya. “Yak! Kenapa kau tersenyum,hah!” Teriaknya di tengah derasnya hujan.
Aku hanya menjawabnya dengan kembali tersenyuman.
“Aishh, yeoja satu ini. Kau sudah membuatku cemas dan basah seperti ini, kenapa kau hanya tersenyum bodoh seperti itu, hah.” Teriaknya lagi.
Aku menatapnya kesal. Apa katanya? Tersenyum bodoh?
“Yak! Kenapa kau berteriak Oppa. Kau pikir aku tidak bisa dengar.” Balasku dengan berteriak juga. “Senyum bodoh? Itu senyum manisku, babo!” Umpatku dengan kesal.
“Apa kau bilang, babo? Kau mengejek namjachingumu sendiri dengan sebutan babo? Kau benar-benar keterlaluan.” Dia tidak terima. “Percuma saja aku mencemaskanmu dan harus datang kemari sehingga membuatku jadi basah seperti ini.” Keluhnya.
“Yak! Jadi kau menyesal datang kemari, Oppa?” Teriakku, namja ini memang benar-benar menyebalkan tapi aku mencintainya..
“Tentu saja, kau hanya membuatku kesal saja.”
“Kau pikir aku tidak kesal karena sudah menunggumu begitu lama ditengah derasnya hujan. Kau tahukan kalau aku sangat takut dengan hujan yang begitu deras seperti ini. Aku sendirian menunggumu.. kenapa kau begitu lama datang, hah...” Tangisku kembali pecah.
Untuk kedua kalinya aku bersyukur dengan derasnya hujan ini karena dia tidak dapat melihatku yang menangis, ini memalukan kalau dia sampai melihatku yang menangis seperti ini.
Dia mendekatiku...
Namun terhenti karena bunyi klakson panjang sebuah mobil yang sekarang berhenti tepat di samping kami...
Saat kaca jendela mobil itu terbuka, terlihatlah member Super Junior lainnya dengan senyum khas mereka.
Omo!
Apa aku tidak salah lihat...
Aishh, disana ada Heechul-oppa, benar-benar membuatku deg-degan karena melihat mereka secara langsung seperti ini. Karena sebelumnya aku hanya bertemu dengan Yesung-oppa saat Wookie-oppa mengajakku makan siang.
Heechul-oppa aku adalah fansmu, aku adal Petals, teriakku dalam hati.
Aku langung menghapus air mataku dan tersenyum melihat mereka. ada Donghae-oppa, Leeteuk-oppa dan Hankyung-oppa.
Aishh, kenapa mereka begitu tampan semua. Leeteuk-oppa bahkan terlihat seperti masih remaja, dia benar-benar baby face. Donghae-oppa, dia terlihat sangat manis sekali, ah... senyumnya itu. Dan Hankyung-oppa terlihat sangat tampan dan china sekali.
Dan Heechul-oppa, kenapa dia terlihat seperti sedang marah, apa yang membuatnya jadi seperti itu...
Omo! Ini benar-benar seperti mimpi untukku. Melihat secara langsung wajah member Super Junior. Dan karena hal ini aku jadi lupa dengan kesedihanku tadi.
“Yak! Kenapa kau tersenyum-senyum seperti itu, hah!” Tegur namjachinguku, membuyarkan lamunanku.
Aku menatapnya kesal karena merusak lamunan indahku.
“Kenapa melotot kepada namjachingumu sendiri, hah!” teriaknya lagi.
“Aku membencimu.” Balasku dengan berteriak.
“Aishh, kalian ini, sungguh tidak sopan kenapa berteriak di depan orang yang lebih tua,hah.” Tegur Hankyung-oppa pada kami.
“Yak! Siapa yang tua.” Teriak Leeteuk-oppa dan Heechul-oppa secara bersamaan tidak terima di katakan tua.
Aku dan Wookie-oppa menatap kearah mereka...
“Aku... aku tidak mengatakan tua. Aku mengatakan yang lebih tua.” Protes Hankyung-oppa dengar panik.
“Tapi aku tidak suka mendengar kata itu.” Seru Leeteuk-oppa.
“Kata itu sungguh menyebalkan. Aku benci kata itu.” Tambah Heechul-oppa.
“Wow, ekpresi kalian sangat bagus sekali.” Sela Donghae-oppa yang sedang asyik dengan handphonenya. Apa dia sedang merekam kami?
Apa yang sedang dilakukannya? Merekam orang yang sedang bertengkar...
Aishh, kenapa mereka terlihat sangat menarik sih...
Kalau begini ceritanya aku akan benar-benar menyukai mereka bertigabelas, aku menyukai semuanya...
Oh, saranghaeyo Super Junior, hello a’m ELF and i’m your bigfans.... teriakku kembali dalam hati.
“Hyung kalian benar-benar keterlaluan dengan test ini. Tidak kah kalian kasihan melihatnya yang menunggu begitu lama. Kalau bukan karena Yesung-hyung aku tidak akan tahu.”
Aku menatap namjachinguku dengan bingung apa maksud ucapannya dengan mengatakan kata ‘test’. Memangnya ada test apa...
“Kalau kau tadi tidak datang kami yang akan menghampirinya.” Jawab Leeteuk-oppa membela.
Aku masih terus menatap bingung kearah mereka dengan pembicaraan yang tidak aku mengerti.
“Lalu, apakah dia lulus?” Tanya Wookie-oppa langsung.
“Kami bertiga setuju dia lulus tapi...” Hankyung mengalihkan tatapannya kearah Heechul-oppa, yang diikuti dengan Leeteuk-oppa dan Donghae-oppa dan tidak lupa dengan kameranya juga.
“Mwo? Kenapa menatapku seperti itu, hah.” Protes Heechul-oppa dengan panik.
Aku hanya berdiri dengan menatap mereka semua bingung, sepertinya sudah tidak ada lagi yang peduli kalau saat ini sedang hujan walaupun sudah tidak deras lagi hanya gerimis...
Tapi, hei! Aku basah dan kedinginan disini...
Tidak bisakah kalian melihatnya...
Oppadeul, tahukah kalian aku sudah sangat kedinginan... teriakku dalam hati memohon pengertian tapi sepertinya semua sedang sibuk dengan masalah mereka dan tidak memperdulikanku.
“Yak! Kau, Hyejin-ah... apakah kau masih akan tetap menjadi fansnya setelah melihat sikapnya yang begitu jahat padamu?” Tanya Wookie-oppa kepadaku.
Aishh, apa yang sedang namjachinguku ini bicarakan...
Aku benar-benar tidak mengerti, kenapa membuatku jadi bingung seperti ini, hah!
Ini pasti karena efek aku sudah sangat kedinginan dan di tambah lagi melihat secara langsung makhluk-makhluk tampan di depanku ini...
“Apa kau bilang Wookie-ah? Dia adalah fansku?” Tanya Heechul-oppa dengan senyum mengembang padahal tadinya dia terlihat sedang kesal.
“Ne, setiap aku bertemu dengannya dia hanya bertanya tentangmu, benar-benar membuatku bosan.” Jawab Wookie-oppa dengan malas.
Apa mereka sedang membicarakanku?
Heeechul-oppa langsung menatapku dan tersenyum senang. “Apakah itu benar? Kalau kau adalah fansku?” Tanyanya kepadaku.
Aku hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala dengan ragu, masih tidak terlalu mengerti dengan pembicaraan mereka yang terdengar sangat rumit ini.
“Aishh, kenapa tidak mengatakannya dari awal. Kalau kau mengatakannya dari awal pasti aku sudah memberikan izin untuk kalian berdua.” Ucapnya dengan senyum yang masih mengembang.
Aishh, senyumnya... manis sekali... teriakku senang masih dalam hati.
Tapi apa maksudnya dengan memberikan izin? Test?
Tunggu...
Apa aku tadi sedang mereka test?
Aku menatap Wookie-oppa dengan pandangan penuh tanda tanya.
“Oppa, apa maksudnya ini semua?” Tanyaku meminta kepastian.
“Sebelumnya aku minta maaf kepadamu, Hyejin-ah. Karena sudah tidak percaya untuk kesetianmu kepada Dongsaeng kami ini.” Sela Leeteuk-oppa sebelum Wookie-oppa bicara.
Apa-apa ini...
“Ne, mianhae...” Donghae-oppa meminta maaf kepadaku tapi masih tetap sibuk dengan handphonenya yang sekarang merekam kearahku.
Sudah lupakan kesibukan namja satu ini...
“Harusnya kami memang tidak melakukan ini kepadamu, mianhae...” Tambah Hankyung-oppa dengan sedih.
Aku menatap mereka dengan bingung, aku butuh penjelasan tapi kenapa mereka semua malah meminta maaf kepadaku...
Bagaimana aku bisa memaafkan mereka kalau aku sendiri tidak tahu apa permasalahan sebenarnya...
Kali ini mereka semua menatap Heechul-oppa yang sibuk bercermin di kaca spion mobil. Leeteuk-oppa langsung menyikutnya.
“Waeyo?” Tanya kesal. “Mwo?” Tanyanya yang bingung karena semua orang menatap kearahnya.
Dia mendengus kesal. “Aishh, Ne... aku akan mengatakannya.” Dia lalu beralih menatapku.
Aku membalas menatap Heechul oppa penasaran dengan apa yang akan dikatakannya padaku.
“Mianhae, karena kami sudah mengetest kadar kesetiaanmu kepada Dongsaeng kami ini. Kau tentu tahukan kalau kami hanya tidak ingin kalau dia di sakiti...”
“Jadi yang tadi itu adalah test?” Potongku dengan bertanya.
“Ne, tapi kau jangan marah ya, jebal...” Dia memohon.
Aku menatap mereka semua shock...
Kenapa aku harus di test? Apa mereka tidak percaya kalau aku benar-benar menyukai Dongsaeng mereka, hah bukan! Kalau aku benar-benar mencintai Dongsaeng mereka ini. Aishh, namja-namja ini ternyata sangat mengerikan juga. Bagaimana mereka bisa mendapatkan ide konyol seperti itu...
“Tolong jangan marah. Kalau kau ingin marah, marah lah pada Yesung-ah karena dia yang mencetuskan ide ini, bahkan ide untuk membuatmu menunggu ini juga adalah idenya.” Heechul-oppa langsung memberikan penjelasan.
Aku melihat mereka semua langsung menatap Heechul-oppa tajam...
“Yak! Kenapa kalian menatapku seperti ingin memakanku, hah!” Gerutunya. “Baiklah, aku akan mengakui. Ini memang idenya Yesung-ah, tapi aku yang melakukannya, bukan dia.” Kata Heechul-oppa mengakui semuanya dengan malas.
Aku manghela napas, aku memang pantas untuk di uji... batinku. Mengingat semua yang telah aku lakukan pada Dongsaeng tercinta mereka.
“Hyejin-ah, apa kau marah? Kalau kau marah, marahlah sekarang karena aku tidak ingin kehilangan seorang fans.” Ucapnya dengan rasa bersalah.
“Anio, aku tidak marah kok.” Ucapku langsung dan tersenyum menatap mereka semua dengan senang. “Tapi Oppa kenapa kalian bisa dapat ide untuk mengetest ku?” Tanyaku yang sudah penasaran mendengar alasan mereka.
Semua hanya terdiam, begitu hening. Sampai sebuah suara menjawab...
“Karena kau terlihat playgirl dengan jumlah mantan sampai duapuluh orang.” Jawab Donghae-oppa tanpa dosa, dengan masih terus sibuk melihat kearah layar handphonenya yang sekarang ditujukan kearahku.
Aku dan oppadeul langsung menatap tajam kearahnya...
Apa maksudnya mengatakan aku playgirl, hah!, teriakku kesal dalam hati.
Dia merekam wajah kami satu persatu dimulai Leeteuk-oppa sampai pada akhirnya kearahku. Dia langsung menghentikan merekam kami dan menatap kami bingung, cemas sekaligus panik.
“Waeyo?” Tanya takut. “Apa aku salah bicara?” Tanyanya.
“Yak! Babo! Tentu saja kau salah bicara Hae-ah.” Gerutu Leeteuk –oppa sambil menjitak kepala Donghae-oppa.
“Bukan aku yang mengatakannya.” Heechul-oppa angkat tangan dengan girang.
“Kenapa kau begitu jujur, hah!” Hankyung-oppa ikut menegurnya.
“Hyung, kau benar-benar jahat.” Tambah Wookie-ah.
“Aigo... apa yang sudah aku katakan. Ah, mianhae... Hyejin-ah. Aku tidak bermaksud membuatmu marah atau tersinggung.” Dia langsung meminta maaf dengan paniknya.
“Ne, aku memang sedikit kesal, tapi aku malah berterima kasih karena Oppa sudah mau jujur padaku. Sepertinya aku akan menjadi fansmu Oppa.” Aku tersenyum menatap Donghae-oppa yang tersenyum lega. “Tapi aku bukan playgirl.” Aku menekankan kata-kata itu.
“Maaf untuk itu, tapi benarkah kau ingin menjadi fansku?” Tanyanya tidak percaya.
“Ne, tentu saja. Aku suka dancemu.” Jawabku dengan senyuman manisku.
“Yak! Kenapa kau jadi beralih kepadanya, hah!” Protes Heechul-oppa tidak terima. “Aishh, kenapa tadi aku tidak menjawabnya saja. Sekarang aku jadi kehilang fansku dan harus membaginya menjadi dua dengan ikan ini.” Tunjuk Heechul-oppa dengan kesal kearah Donghae-oppa yang tersenyum senang.
Kami semuapun tertawa mendengar ucapannya...
Aku menatap langit yang sudah cerah dan hujan pun tanpa kami sadari sudah mereda dari tadi. Tawa mereka menghangatkan tubuhku yang tadinya kedinginan.
“Lihat, ada pelangi...” Seruku girang sambil menunjuk ke langit.
Mereka langsung turun dari mobil dan ikut melihat kearah langit. Wookie-ah langsung merangkul bahuku erat.
“Saranghae...” Ucapnya lembut tanpa melihat kearahku.
“Nado saranghae...” Balasku, yang senang sambil melihat kearah langit yang sedang menunjukkan keajaibannya dengan munculnya pelangi setelah hujan...
Untuk kali ini, sepertinya aku akan benar-benar menyukai hujan. Karena setelah hujan itu berhenti aku akan dapat melihat pemandangan yang begitu menakjubkan di langit, sebuah pelangi dengan warna-warni yang indah membentuk sebuah jembatan yang tidak diketahui dimana ujung dan pangkalnya.
Aku ingin hari-hariku nantinya juga di hiasi oleh warna-warni indahnya pelangi. Dalam mengukir kisah cinta dan kisah hidupku....


*****

The end
Please leave your comments
Gomawo
SF_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar