Title : Test of Love
Author : Siti Fajriani (SF)
Cast : Kim Ryeowook, Kim Hyejin, Super Junior's members
Genre : Romance
Happy Reading...
*****
Kim Ryeowook’s side :
“Wookie-ah... kenapa fotomu dan
yeoja itu tersebar di internet?” Tanya Yesung-hyung yang sedang asyik
internetan.
“Mwo?” Tanyaku terkejut, aku
langsung menghampiri Yesung-hyung.
“Ini... foto mesra kalian
beredar.” Tunjukknya pada layar laptopnya.
Foto mesra? Kapan aku punya foto
mesra dengan seorang yeoja itu. Aku
melihat layar laptopnya...
“Aishh... Hyung, foto mesra apa
itu? Apa kau pikir dengan jarak 20cm diantara kami itu menurutmu mesra.” Aku
menatap kesal Hyungku satu ini, benar-benar aneh.
“Tapi menurutku ini mesra
Wookie-ah.” Dia tidak mau mengalah.
Hyungku ini memang benar-benar
aneh. “Terserah apa katamu Hyung, aku mau masak saja.” Aku kembali kedapur dan
memulai meracik bahan-bahan untuk membuat masakan baru ini yang namanya aku
lupa.
“Wookie-ah...”
Aku mengeluh lelah, kali ini apa
lagi...
Aku menatap kearah Donghae-hyung
yang tersenyum penuh makna kearahku. Pasti dia ingin memintaku memasak
untuknya...
“Ne, Hyung... apa kau lapar?”
Tanyaku yang sudah tahu sekali kebiasaannya itu. Yang selalu mengingatku saat
perutnya sedang lapar.
“Ne, kau memang dongsaeng yang paling
baik dan mengerti aku.” Ucapnya dengan mata berbinar.
Benar kan apa kataku...
“Yak! Hae-ah, dia dongsaeng
kesayanganku kenapa kau mau merebutnya.” Yesung-hyung tidak terima.
Aku menghela napas bosan lalu
kembali melanjutkan masakku tanpa memperdulikan kedua Hyungku yang sibuk
memperebutkan aku sebagai dongsaeng kesayangan mereka. aku memang selalu jadi
rebutan...
“Wookie-ah... siapa yang kau
pilih untuk menjadi Hyung terbaikmu?” Teriak Donghae-hyung meminta kepastianku.
“Yak! Kenapa kalian begitu ribut,
hah! Mengganggu tidurku saja.” Leeteuk-hyung datang dan langsung memarahi
Yesung-hyung serta Donghae-hyung.
Aku hanya tersenyum senang di
dapur mendengar Leeteuk-hyung marah-marah...
“Wookie-ah... handphonemu
berbunyi.” Teriak Sungmin-hyung dari ruang TV.
Aku langsung berhenti dengan
kegiatan masakku dan langsung keruang TV untuk menjawab panggilan itu. Pasti
yeojachingu, aku tersenyum senang membayangkannya.
Ah, ternyata dugaanku benar.
“Yoboseyo.” Ucapku menjawab
panggilannya.
“Oppa, apa hari ini kau sibuk?” Tanya yeojachinguku, Kim Hye Jin.
“Anio.” Jawabku langsung dengan
semangat.
Aku merasakan suasana yang
tiba-tiba terasa aneh, dingin...
Sunyi...
Aku menatap sekitarku. Semua
Hyung menatapku tajam.
“Bagaimana kalau kita...”
“Hyejin-ah...” Potongku langsung.
“Hari ini aku memang tidak sibuk tapi...”
Aku merasa takut dengan tatapan
menghunus dari Hyung-hyungku.
Aishh... kenapa mereka jadi
seperti ini sih...
“Ah, aku lupa kalau hari ini aku
ada jadwal.” Lanjutku langsung sebelum aku di bunuh oleh hyung-hyungku itu
dengan tatapan mereka.
Terlihat senyum mereka mengembang,
karena puas mendengar ucapanku. Tepatnya penolakanku pada yeojachinguku.
Aku mendengar desahan sedihnya. “Ya sudah, aku tutup ya.” Ucapnya cepat,
dan...
Tut... tut... tut...
Aku menatap handphoneku sedih.
“Hyung, kali ini saja biarkan aku
kencan dengannya.” Aku memohon pada Hyung-hyungku.
Mereka semua serentak menggelengkan
kepala...
“Tidak bisa sebelum dia lulus tes
dari Heechul-ah.” Leeteuk Hyung mengingatkanku.
Aish... kalau bukan karena
Eunhyuk-hyung, aku tidak akan seperti ini...
“Kalau begitu percuma saja aku
menjadikannya pacar kalau kalian bersikap seperti itu.” Ucapku kesal dan
langsung masuk kedalam kamar dengan cepat.
“Yak! Kau mau kemana Wookie-ah?”
Tanya Donghae-hyung dengan panik.
“Aku marah...” Ucapku dan
langsung menutup pintu kamar.
“Lalu bagaimana dengan sarapan
kami?” Tanya Yesung-hyung juga ikut panik.
“Buat saja sendiri.” Teriakku
dari dalam kamar.
“Yak! Mana bisa begitu.” Protes
Donghae-hyung langsung.
“Sudahlah, kan masih ada
Hankyung-ah.” Ujar Leeteuk-hyung dengan senang.
Aish... mereka benar-benar Hyung
yang jahat...
Bagaimana mungkin membuat
dongsaeng mereka jadi sedih seperti ini...
Benar-benar keterlaluan...
Ini semua gara-gara Eunhyuk-hyung
yang salah memilih yeoja. Gara-gara yeoja itu menyakitinya dan membuatnya
sampai menangis tiga hari tiga malam, yang langsung membuat Hyung serta
Dongsaeng di Super Junior jadi lebih protective terhadap yeoja-yeoja yang
sedang dekat dengan kami.
Untuk itu mereka ingin melakukan
test kepada yeoja-yeoja tersebut dan ide ini di cetuskan oleh Yesung-hyung yang
sedang asyik bicara dengan Ddangkoma, tanpa sadar mengatakan itu dan langsung
di setujui oleh semua member.
Dan setelah melakukan percobaan
pada yeojachingunya Kangin-hyung yang ternyata lulus test dengan hasil
memuaskan karena ternyata yeoja itu benar-benar tulus mencintai Kangin-hyung.
Dan sebagai korban selanjutnya adalah aku...
Padahal aku sudah mengatakan pada
mereka kalau aku kenal baik dengan Hyejin-ah. Dia adalah teman satu SMA ku.
Walaupun terkadang sifatnya cukup mengesalkan tapi sejauh aku mengenalnya dia
adalah orang yang baik dan perhatian. Dan dia menyukaiku...
Walaupun harus aku akui beberapa
kali dia sempat membuat korea heboh dengan mengupload foto-foto kami di
internet. Contohnya ya seperti yang tadi di tunjukkan oleh Yesung-hyung. Itu
pun juga tidak bisa di bilang foto seperti sepasang kekasih karena kami berfoto
dengan saling menjaga jarak.
Dengan segala kelebihan dan
kekurangnnya, aku mencintainya. Bukankah manusia tidak ada yang sempurna?
Kenapa aku harus menuntutnya untuk sempurna...
*****
Kim Hyejin’s side :
Dan hari ini pun dia menolak
ajakanku lagi. Padahal tadi dia terdengar sangat semangat, kenapa tiba-tiba
langsung menolak ajakanku.
Aishh... namja ini...
Ya, semua memang salahku yang
menerima cintanya, padahal aku sudah tahu bagaimana sibuknya dia sebagai
seorang penyanyi yang sedang naik daun. Dan aku harus menerima itu...
Aishh... tapi kenapa aku masih
tetap sebal kepadanya...
“Hyejin-ah... apa hari ini kau
mengupload foto lagi di blogmu?” Tanya chinguku yang baru datang dengan nafas
yang terengah-engah.
“Anio, aku mengupload foto dua
hari yang lalu.” Jawabku pada chinguku, Hyomi-ah.
“Aishh, sudah berapa kali aku bilang
jangan melakukan itu. Kau ingin orang-orang jadi membencimu dan memusuhimu
karena tindakan konyolmu itu?”
“Konyol apanya, hah?” Teriakku
jadi emosi.
“Kau kan tahu saat ini dia sangat
terkenal di kalangan remaja seperti kita.”
Aku hanya mengangguk setuju
dengan ucapannya. Lalu...?
“Kalau kau bersikap seperti itu,
pamornya akan turun. Apa lagi kalau para ELF tidak setuju dengan hubungan
kalian berdua. Harusnya kau mencoba mendapatkan hati para ELF, bukan malah
membuat suasana menjadi semakin memburuk untuk hubungan kalian berdua.”
Jelasnya kepadaku dengan panjang.
Selalu saja itu yang di
bicarakannya semenjak aku berpacaran dengan Ryeowook Super Junior.
Aku mengalihkan pandanganku dan hanya
mengangguk tidak peduli.
“Hyejin-ah, dengarkan aku.” Dia
memohon.
Aku menatapnya lama. “Lalu apa
yang harus aku lakukan? Apa salah kalau aku ingin semua orang tahu tentang
hubunganku dengannya, hah.” Tanyaku.
“Kau tidak salah hanya saja
jangan terlalu cepat sepeti ini. Ini sangat mempengaruhi pada karirnya nanti.
Kau juga harus mengerti dengan posisinya.”
“Aku tahu, aku tahu... tapi
sampai kapan kami harus menyembunyikan hubungan ini. Lagi pula fotoku dengannya
kan bukan foto mesra. Hanya seperti foto antar fans dengan idolanya.”
“Yak! Kau benar-benar susah untuk
di nasehati. Terserah apa yang kau lakukan. Aku tidak akan peduli lagi, aku
bahkan bisa menjamin kalau kau akan segera putus dengannya karena ELF tidak
menyukaimu. Kau tahu kan bagaimana berperannya fans terhadap idola.” Dia
tersenyum penuh arti menatapku lalu berjalan pergi meninggalkanku sendiri di
cafe milik orang tuanya ini.
Aku menatap kepergiannya yang
kembali sibuk dengan pelanggan Cafe...
Apa aku terlalu memaksakan diri dengan
memintanya memberitahu publik kalau aku adalah pacarnya. Aku hanya ingin orang
tahu dengan hubungan kami, aku tidak ingin ada wanita lainnya yang merebutnya.
Tapi kenapa dia juga juga sama seperti chinguku itu, yang melarang tindakanku
untuk melakukan itu, walaupun dia tidak mengatakannya langsung seperti chinguku
tadi.
Dari sikapnya aku tahu dia juga
tidak ingin atau belum siap untuk mengatakan kepada publik tentang hubungan kami.
Sudah terlalu sering aku jadi kesal karena hal itu kepadanya tapi anehnya
melihatnya yang tersenyum membuat marahku langsung hilang.
Aishh... dasar babo!
“Hei, kenapa kau melamun?” Tanya
chinguku lagi, datang menghampiriku. Sepertinya dia sudah selesai dengan
mangantarkan pesanan pelanggan-pelanggannya. Dan sepertinya dia sudah melupakan
perdebatan kecil kami tadi.
“Anio, aku hanya tidak tahu harus
melakukan apa sekarang, karena Wookie-oppa sedang sibuk dan tidak bisa
menemaniku jalan-jalan hari ini.” Jawabku malas.
Dia kembali duduk di depanku dan
menatapku dengan serius.
“Mwo?” Tanyaku marah karena dia
menatapku seperti menyelidik.
“Omo! Apa kau begitu mencintai
Wookie-oppa?” Tanya terkejut.
“Ne, tentu saja, kalau tidak aku
tidak akan mau pacaran dengannya.” Kataku masih dengan kesal. Apa dia
meragukanku, dasar chingu menyebalkan.
“Aishh, kau benar-benar berubah
Hyejin-ah.” Ujarnya dengan senyum mencurigakan. “Aku senang...”
“Apa maksudmu, dengan benar-benar
berubah, hah?” Tanyaku galak, tidak terima di bilang berubah. Memagnya apa yang
berubah dari diriku. Aku masih tetap sama, Kim Hyejin.
“Lihatlah, kau menjadi sangat
pemarah sekarang.” Jawabnya. “Kau juga jadi sangat protektif terhadapnya,
selalu menelponnya lebih dulu, ingin semua orang tahu dengan hubungan kalian,
kau juga sangat peduli terhadapnya. Dan parahnya lagi kau dapat bertahan dengan
namja seperti itu selama dua minggu. Padahal biasanya kau akan langsung
memutuskan namja seperti itu.” Dia menjelaskan hasil penyelidikannya kepadaku.
Aku menatapnya kesal, apa
maksudnya dengan ‘namja seperti itu’?
Tapi yang di ucapkan chinguku ini
benar juga. Aku sepertinya benar-benar sudah berubah...
Pertanyaanya kenapa aku bisa
berubah seperti ini?
“Aku senang dengan perubahanmu,
tapi jangan lakukan itu karena dia seorang penyanyi terkenal.”
“Andwae, tentu saja bukan karena
itu. Aku sendiri juga bingung kenapa aku bisa berubah seperti ini.” Protesku
langsung.
Aku juga jadi bingung...
“Apa kau benar-benar
menyukainya?” Tanya penasaran.
“Mungkin...” Ucapku pelan dengan
sedikit ragu.
“Omo! Ini benar-benar sulit di
percaya mengingat kau seorang playgirl, dan tiba-tiba takluk dengannya.”
“Aishh, jaga ucapanmu. Playgirl
kau bilang? Itu karena namja-namja yang kupacari aneh semua. Tentu saja aku
memutuskan mereka...”
“Lalu Wookie-oppa tidak aneh
menurutmu?” Potonganya cepat dengan senyum jahilnya.
Chinguku satu ini, membuatku
kesal saja...
“Yak! Kau kenapa jadi begitu
menyebalkan seperti ini, hah. Kenapa memangnya kalau aku benar-benar
menyukainya, apa ada yang salah, hah?” Tanyaku dengan setengah berteriak.
“Yak! Kenapa kau
berteriak-berteriak, hah? Membuat pelangganku terganggu.” Protesnya.
“Kau juga berteriak, dasar Babo!”
Balasku.
“Oh, aku lupa, ini karena kau
yang memulainya lebih dulu.” Dia menyalahkanku.
“Anio, kau yang memulainya lebih
dulu dengan membuatku kesal karena pertanyaan-pertanyaan anehmu.” Aku tidak mau
kalah.
“Omo! Apa yang aneh, aku hanya
mengatakan tentang perubahan sikapmu saja dan aku senang karena itu berarti kau
tidak akan menyakiti namja lagi, seperti yang biasa kau lakukan...”
“Menyakiti namja? Lagi? Yak!
Mereka yang membuatku bosan dengan sikap mereka yang menyebalkan, lalu kenapa
aku harus mempertahankan hubungan yang seperti itu, hah!” Potongku dengan
marah.
“Aishh, kalian ini. Kenapa selalu
bertengkar, hah?” Tanya seorang yeoja datang menghampiri kami, Choi Hyumin yang
juga merupakan teman dekatku seperti Hyomi-ah.
Kami menyebut diri kami T-H, Triple-H.
Karena dari nama tengah kami yang semuanya berawal dari huruf H, Hyejin, Hyomi,
dan Hyumin...
“Apa yang sedang kau lakukan
disini?” Tanya Hyomi-ah polos.
“Yak! Kau mengusirku, hah!” Kali
ini Hyumin-ah berteriak kesal.
“Anio, hanya saja tumben kau
kemari.” Jawab Hyomi-ah pelan.
“Apanya yang tumben, hampir
setiap hari aku kemari, babo!” Dia mengingatkan.
“Aishh, kalian berdua kenapa jadi
berteriak-teriak, hah?” Tanyaku bingung. “Sudah cepat duduk.” Perintahku pada
Hyumin-ah.
Dia menatapku kesal. “Seperti kau
tidak pernah berteriak saja.” Tegurnya.
Aku hanya diam tidak ingin
menggubrisnya. Aku masih memikirkan kata-kata Hyomi-ah tentang perubahan
sikapku. Apa aku sudah benar-benar berubah...
“Apa yang sedang kalian
bicarakan?” Tanya Hyumin-ah penasaran.
Aku hanya diam tidak peduli dan
akhirnya Hyomi-ah yang menjawab semua pertanyaan Hyumin-ah dengan sangat
antusias, membuat telingaku jadi panas karena mereka sedang membicarakanku di
depanku sendiri dengan segala pendapat menyebalkan mereka tentang perubahanku
yang mereka rasa begitu cepat.
Serta mengatakan tentang sikap
protektifku yang terlalu berlebihan kepada namjachinguku. Aishh, kenapa aku
bisa mempunyai chingu-chingu yang begitu menyebalkan seperti mereka ini...
“Yak! Kenapa kalian menggosipkan
aku di depanku langsung, hah!” Aku sudah tidak tahan lagi mendengar cerita
mereka yang membuat mereka jadi semakin antusias.
“Siapa yang sedang
menggosipkanmu. Kami hanya sedang mengeluarkan pendapat kami saja tentang
perubahan sikapmu itu, dan itu fakta.” Protes Hyomi-ah tanpa dosa.
“Benar, dan kami sangat bersyukur
akan hal itu.” Dukung Hyumin-ah dengan tersenyum manis.
Aku menatap mereka berdua kesal...
“Hyejin-ah, tidak kah kau membaca
komentar buruk tentangmu di blogmu itu?” Hyumin-ah membuka pembicaraan baru.
“Aku sudah tahu, makanya aku
malas membuka blogku lagi.” Jawabku dengan malas.
“Ini semua kan karena kau
menjadikan background fotomu dengan Wookie-oppa di blogmu dan mengupload
foto-foto lainnya. Tentu saja para Ryeonsomnia tidak terima.” Tambah Hyomi-ah
mendukung.
Aku benar-benar malas
membicarakan topik yang satu ini.
“Ne, aku mengaku kalau aku salah,
lalu apa yang harus aku lakukan semua sudah terjadi. Apa kalian berdua
memintaku untuk putus saja dengannya?” Tanyaku yang sudah pasrah, karena aku
mendadak tidak ingin berdebat dengan kedua chinguku ini.
“Anio, bukan begitu. Kenapa kau
ini, Hyejin-ah.” Seru Hyumin-ah dengan panik.
“Lalu apa yang harus aku lakukan
lagi? Bukankah semua orang tidak setuju dengan hubungan kami.”
“Yak! Kenapa kau jadi begitu
lemah, hah! Kau tidak perlu putus dengannya, hanya saja lakukan hal-hal yang
membuat fansnya jadi menyukaimu.” Saran Hyomi-ah, yang di dukung dengan anggukkan
kepala dari Hyumin-ah.
“Bagaimana caranya? Menyuap
mereka dengan uang?” Tanyaku bingung, aku benar-benar merasa sudah sangat lelah
dengan topik ini.
“Yak! Kau benar-benar ingin mati,
hah!” Protes Hyomi-ah kesal melihat sikapku.
“Sebenarnya aku juga bingung apa
yang harus kau lakukan, Hyejin-ah. Aku tidak terlalu mengerti dengan para
Fansnya.” Hyumin-ah mengakui.
“Yang aku tahu fans tidak suka
jika bias mereka punya kekasih.” Ujar Hyomi-ah pelan.
Aku menghela napas. “Baiklah, aku
akan mencoba menjadi yeojachingu yang baik untuknya. Kalau itu juga tidak bisa,
mungkin aku lebih baik putus saja dengannya.”
“Apa kau yakin?” Tanya hyomi-ah
tidak percaya.
“Kau terlihat begitu menyukainya,
Hyejin-ah.” Ujar Hyumin-ah.
“Lalu apa lagi yang harus aku
lakukan lagi? Aku benar-benar gila kalau harus memikirkan ini.” Aku mengakui
dengan sedikit berteriak kesal kepada mereka, yang membuatku semakin bingung
dengan apa yang aku lakukan.
“Mianhae, karena membuatmu jadi
memikirkan ini.” Hyomi-ah meminta maaf.
“Aku senang kalian
memperhatikanku, gomawo.” Aku tersenyum senang menatap kedua chinguku. “Aishh,
sudah jam barapa ini? Aku harus segera pulang.” Aku baru ingat kalau aku harus
menjemput dongsaengku pulang les piano.
“Kenapa buru-buru?” Tanya
Hyumin-ah.
“Aku harus menjemput dongsaengku
tercinta.” Jawabku malas dan dengan senyum terpaksa menatap mereka..
“Ah, iya. Aku baru ingat kalau
kau punya pekerjaan.” Hyomi-ah tersenyum.
“Kalau begitu aku pergi dulu.”
Aku pamit.
“Hati-hati di jalan.” Mereka
mengingatkanku.
Aku langsung buru-buru
keparkiran...
Kalau aku terlambat aku,
dongsaeng cantikku itu akan marah besar kepadaku, dan akan mengadu kepada Eomma
yang nantinya akan memarahiku dengan ceramahnya yang panjang dan bosan kudengar...
Aishh, kenapa tadi aku harus
datang ke Cafenya Hyomi-ah. Walaupun terlihat perbincangan kami biasa saja,
tapi itu cukup mengganggu pikiranku. Apa yang harus aku lakukan sekarang, aku
sudah benar-benar menyukai Wookie-ah. Aku tidak tahu bagaimana kalau nanti aku
putus dengannya, apa aku masih bisa hidup. Walaupun kami belum lama berpacaran
tapi itu sudah sangat membekas di
hatiku.
Kalau itu terjadi akan sulit
bagiku untuk melihat senyum manisnya lagi. Aishh, bagaimana ini....
*****
Aurthor’s side :
Terlihat Heechul sedang sibuk
berdiskusi dengan Leeteuk, Yesung, Donghae, dan Hankyung di ruang tamu...
“Kali ini apa lagi yang akan kita
lakukan, Hyung?” Tanya Donghae yang penasaran dengan misi mereka hari ini untuk
mengetest yeojachingunya Ryeowook.
“Entahlah aku juga bingung.”
Jawab Heechul.
“Kita sudah melakukan semua,
mulai dari membuat janji dan membatalkannya begitu saja. Dan kita juga sudah
mengetest kesetiannya dengan menyuruh seorang namja untuk mendekatinya. Dan dia
tetap mempertahankan Wookie-ah, apa dia benar-benar menyukai Wookie-ah?” Kata
Hankyung yang masih ragu.
“Aku hanya tidak ingin Dongsaeng
kita itu sakit hati, kita memang harus mengetest yeoja itu lagi. Aku tidak
ingin dia suka pada Wookie-ah hanya karena status Wookie-ah.” Dukung Leeteuk
untuk terus melanjutkan misi mereka ini.
“Kemarin aku melihat foto yeoja
itu dengan Wookie-ah di blognya, sepertinya dia memang ingin semua orang tahu
kalau dia adalah yeojachingunya Wookie-ah.” Tambah Yesung, sambil sibuk dengan
Ddangkoma yang dia bawa keluar dari kandangnya.
Mereka semua pun terdiam saling
memikirkan apa rencana yang bagus, agar mereka benar-benar tahu bagaimana
perasaan yeoja itu sebenarnya terhadap Dongsaeng mereka.
“Ddangkoma pasti kau sangat lelah menunggu kami kan?
Tenang sebentar lagi kau akan makan siang. Setelah rapat ini selesai.” Kata
Yesung memecahkan keheningan kepada kura-kura peliharaannya, yang diletakkan di
atas meja.
“Aishh, kau pintar sekali Yesung-ah.” Puji Heechul
dengan senyum mengembang.
Yesung langsung menatap Heechul dengan pandangan tidak
mengerti sekaligus tidak peduli.
Leeteuk, Donghae, serta Hankyung menatap Heechul
bingung karena tidak mengerti maksud ucapan Heechul kepada Yesung.
“Mwo?” Tanya Donghae langsung karena penasaran.
“Kalian tahu, wanita paling benci menunggu. Dan kita
akan membuat yeoja itu menunggu Wookie-ah.” Cetus Heechul dengan senyum evilnya.
“Bagaimana caranya membuat yeoja itu menunggu?” Tanya
Hankyung penasaran.
Heechul hanya diam, karena belum memikirkan bagaimana
caranya. “Pasti akan ada caranya.” Heechul percaya diri.
Neo gateun saram tto
eopseo
juwireul dureobwado
geujeo georeohdeongeol
eodiseo channi
Neo gatchi joheun
saram
neo gatchi joheun
saram
neo gatchi joheun ma
eum
neo gatchi joheun
seonmul
Sebuah deringan Handphone membuat mereka terkejut...
“Yak! Handphone siapa itu, mengganggu konsentrasiku
saja.” Teriak Heechul kesal karena deringan handphone itu yang tidak berhenti.
Dan handphone itu pun sudah berhenti berdering...
“Itu kan handphonenya Wookie-ah, apa hari ini dia lupa
lagi membawa handphonenya. Pasti dia sangat sibuk mencarinya.” Jawab Yesung
yang masih asyik dengan Ddangkomanya.
Heechul serta Leeteuk langsung tersenyum penuh arti...
“Waeyo?” Tanya Donghae bersamaan dengan Hankyung,
mereka benar-benar tidak mengerti dengan pikiran kedua Hyungnya itu.
“Kita akan segera menguji yeoja itu.” Ujar Leeteuk
penuh rahasia membuat Donghae dan Hankyung jadi semakin penasaran sementara
Yesung sudah menghilang dari ruang rapat dan langsung menuju dapur karena tidak
tahan melihat Ddangkomanya yang kelaparan.
“Kita akan mengirimkannya pesan. Kita akan buat dia
merasa sangat bersalah karena sudah menyebarkan fotonya yang sedang bersama
Wookie-ah.” Kata Heechul menjelaskan ide cemerlangnya.
“Aigo, itu ide yang sangat hebat Hyung.” Dukung
Hankyung setuju.
“Apakah kita tidak terlalu jahat dengan melakukan ini,
Hyung?” Tanya Donghae jadi merasa bersalah.
“Apa kau ingin dia terluka seperti Eunhyuk-ah, hah?”
Tanya Heechul galak.
“Tentu saja tidak.” Protes Donghae langsung.
“Lagi pula ini sudah terlanjur, kenapa tidak kita
selesaikan saja sampai akhir.” Kata Hankyung semangat.
“Ne, benar sekali.” Dukung Leeteuk.
Leeteuk langsung menuju kamar Ryeowook dan mengambil
handphone Ryeowook dengan cepat...
*****
Kim Ryeowook’s side :
“Hyung, tidak bisakah kita belanjanya di percepat?”
Tanyaku pada Sungmin-hyung yang masih sibuk dengan boneka-boneka yang akan di
belinya untuk yeojachingunya.
“Sebentar lagi, Wookie-ah.” Tolaknya.
“Hyung, aku takut nanti Hyejin-ah menelponku. Jadi ayo
cepat kita pulang.” Aku masih mencoba memaksanya karena aku meninggalkan
handphoneku di dorm. Lagi pula aku cukup risih dengan topi dan masker yang ku
gunakan saat ini untuk menyamar.Kenapa jadi terkenal itu susah untuk hidup
normal seperti orang lain yang memiliki kebebasan.
“Aishh, kau ini. Memangnya kenapa kalau dia menelpon?
kau kan nanti juga bisa menelponnya balik.” Sungmin-hyung masih sibuk memilih
antara boneka beruang dan kelinci yang dua-duanya berwarna pink. Hyung ku satu
ini benar-benar pecinta pink.
“Hyung, kau seperti tidak tahu saja kalau aku dilarang
keras menghubunginya sebelum dia lulus test dari Heechul-hyung.” Aku
mengingatkannya.
“Ah, baiklah... aku sudah menemukan yang sesuai dengan
pilihanku.” Sungmin-hyung tersenyum senang.
Aku menatapnya kesal, padahal sudah dari tadi dia
ingin membeli boneka itu. Tapi malah masih tetap sibuk memilih dan pada
akhirnya boneka beruang itu juga yang dipilihnya, benar-benar membuang-buang
waktu.
“Bagaimana dengan belanjaanmu? Apakah sudah membelinya
semua?” Tanyanya.
“Ne, aku hanya membeli beberapa bahan untuk makan
malam kita nanti.” Jawabku.
......
Saat sampai di dorm, suasananya sudah sepi. Aku sempat
heran kemana orang-orang padahal sebelum aku pergi mereka tadi sedang sibuk
menonton televisi karena hari ini kami libur.
“Hei, kalian sudah kembali.” Sapa Yesung-hyung yang
sedang sibuk dikamar dengan Ddangkoma.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Langsung menuju
dapur untuk meletakkan belanjaan lalu aku langsung masuk kekamar dan mengganti
pakaianku dengan pakaian santai dan aku ingin istirahat sebentar, karena lelah
berbelanja dengan Sungmin-hyung yang memutar-mutar Mall.
“Hyung, kemana semua orang kenapa begitu sepi?”
Tanyaku sambil berbaring di bed coverku. Ah, empuknya...
“Entahlah, mereka menghilang setelah aku selesai
memberi makan Ddangkoma.” Jawabnya sambil mengelus kepala Ddangkoma.
“Sepertinya hari ini akan hujan. Oh, ya dimana
handphoneku.” Aku baru ingat kalau tadi aku pulang karena ingin mengecek
handphoneku apakah ada panggilan dari yeojachinguku.
“Aku ingin jalan-jalan.” Ucap Yesung-hyung yang
langsung keluar dari kamar. “Benar, kemana orang-orang itu kenapa
meninggalkanku sendirian.” Gerutunya sambil membuka pintu kamar.
Aku menghela napas, ternyata hari ini yeojachinguku
belum menghubungiku...
Aku langsung tersenyum senang, ini adalah kesempatan
bagus kenapa aku tidak menghubunginya saja selagi Hyung-hyung ku sedang tidak
ada di dorm untuk mengawasiku seperti biasanya.
Aku langsung mencoba untuk menghubunginya...
Aku langsung terkejut karena pintu kamar tiba-tiba
terbuka dan muncullah kepala Yesung-hyung dari balik pintu dengan ekspresi
diamnya, yang membuatku jadi takut.
“Baiklah, aku tidak akan menghubunginya.” Ucapku
dengan malas dan terpaksa.
Dia langsung kembali menghilang dari balik pintu.
“Wookie-ah, kalau kau menelponnya aku akan mengadu
pada mereka.” Teriaknya dari luar kamar.
Aishh, kenapa hidupku jadi begitu menyedihkan,
memiliki yeojachingu tapi tidak boleh menghubungi, mengirimkan pesan atau
bertemu. Orang tua ku sendiri saja tidak sampai seperti itu, kenapa mereka
begitu bersikap berlebihan, hah!
Aku tahu ini karena cintanya mereka kepadaku sehingga
tidak ingin membuatku menjadi sedih karena putus cinta...
Apa yang sekarang harus aku lakukan, hah!
Aku hanya dapat kembali berbaring di bed coverku
dengan malas...
*****
Kim Hyejin’s side :
Apa yang harus aku lakukan sepertinya kali ini
Wookie-oppa benar-benar marah kepadaku karena aku mengupload fotoku dengannya
yang membuat fansnya jadi marah...
Aku kembali membaca ulang pesan yang dikirimnya.
Aku sudah
melihat blogmu, kenapa tidak pernah mau mendengarkanku, hah! Kita harus bicara!
Aku tunggu di taman sekarang!
Aku masih tidak percaya dengan pesan yang dikirimnya,
tapi aku tetap bersiap-siap untuk ke taman aku tidak ingin membuatnya menunggu
ditaman.
.......
Aku menatap taman yang sedang sepi karena cuaca sedang
tidak bagus. Aku yakin sebentar lagi akan turun hujan melihat langit yang sudah
begitu gelap.
Tapi dimana namjachinguku itu,kenapa dia tidak ada di
taman? Apa dia sedang dalam perjalan kemari?
Aishh, babo! Kenapa aku jadi bisa melupakan
handphoneku, membuatku jadi tidak bisa menghubunginya dan menanyakan dimana dia
sekarang. Ini pasti karena tadi aku terburu-buru. Sekarang sepertinya aku harus
menunggunya, aku tahu dia bukan tipe orang yang akan membuat orang lain
menunggu lama. Kerena kalau dia sedang ada jadwal tiba-tiba dia akan langsung
menghubungiku dan mengatakannya langsung.
Yak! Bagaimana dia akan mengatakannya kalau aku
sendiri lupa membawa handphoneku.
Oke, aku akan menunggunya sekaligus ingin meminta maaf
kepadanya dengan semua kesalahan yang sudah aku perbuat kepadanya yang
membuatnya hanya dalam masalah.
Aishh, bagaimana ini...
hujan sudah mulai turun, dimana aku harus berteduh,
hah!
Oppa, kau dimana? Batinku.
Aku langsung berteduh di sebuah pohon besar yang ada
di pinggir taman tepat di pinggir jalan.
Aku mendesah, hujannya sangat deras. Aku benci hujan
yang deras seperti ini karena aku sangat takut dengan bunyi petir dan suara
gemuruh. Aku mencoba menutupi kepalaku dengan kedua tanganku walaupun itu
percuma karena aku sudah benar-benar basah, dari atas ampai bawah.
Kenapa dia belum datang juga? Apa jalanan saat ini
sedang macet?
Aku semakin cemas karena hujan yang tidak menunjukkan
tanda-tanda akan berhenti...
Apa dia benar-benar marah padaku? Sampai membuatnya
jadi tidak ingin datang kemari. Mianhae Oppa, aku melakukan itu semua karena
aku benar-benar menyukaimu dan aku tidak ingin ada orang lain yang menyukaimu.
Apa aku sudah membuat karirmu rusak dengan tindakan konyolku?
Apa sebaiknya aku pulang saja? Aku rasa dia tidak akan
datang kemari, pasti karena hujan dan membuat jalanan jadi licin. Tapi percuma
saja aku pulang, karena badanku sudah basah semua, kenapa tidak menunggu saja.
Aku langsung menutup telingaku karena suara gemuruh
guntur yang membuatku takut, sangat takut. Biasanya kalau saat hujan deras
seperti ini aku akan meringkuk dibed coverku dan menutupi seluruh badanku
dengan selimut. Atau aku berada di tengah-tengah antara Hyomi-ah dan Hyumin-ah
saat aku bersama mereka. tapi kalau sendiri seperti ini, apa yang harus aku
lakukan untuk mengurangi rasa takutku tersebut?
Hujan, ku mohon berhentilah...
Oppa, kau dimana? Kenapa belum datang juga...
Aku sudah sangat lelah menunggu dan aku juga sudah
sangat kedinginan...
Aku memutuskan untuk duduk di akar-akar pohon yang
menonjol sambil memeluk erat kedua lututku. Aishh, kenapa dia membuatku jadi
menunggu begitu lama.
Aku merasa cukup jengah dengan orang-orang lewat yang
melihat penasaran kearahku. Aku berani taruhan mereka pasti berpikir kalau aku
ini sudah gila!
Tin...tin...tin...
Suara klakson mobil membuatku sontak berdiri. Dengan
senyum mengembang aku melihat kearah mobil yang sudah terparkir.
Oppa, akhirnya kau datang juga...
Tapi kenapa mobilmu berbeda?, batinku sambil terus
melihat kearah mobil yang sudah berhenti itu. Kaca depannya terbuka secara
perlahan dan terlihatlah seorang namja dengan tatapan aneh kearahku.
Aishh, kenapa bukan Oppaku, kenapa malah Hyungnya yang
datang. Dan aku cukup merasa takut dengan Hyungnya yang satu itu karena
mengingat kata Siwon-oppa yang mengatakan ‘jika Dia ada di belakangmu, maka kau
akan merasakan aura yang berbeda, dingin...’
Dan dia adalah Yesung-oppa...
“Yak! Kenapa kau disini dan hujan-hujanan, hah?”
Tanyanya sambil berteriak kearahku.
“Aku sedang menunggu Wookie-oppa. Apa kau tahu dimana
dia sekarang, Oppa?” Tanyaku padanya.
“Menunggu Wookie-ah?” Tanyanya bingung. “Dia sedang
ada di dorm sambil tiduran.” Jawab Yesung-oppa sambil menggaruk-garuk
kepalanya.
Mwo...??
*****
Kim Ryeowook’s side :
Neo gateun saram tto
eopseo
juwireul dureobwado
geujeo georeohdeongeol
eodiseo channi
Neo gatchi joheun
saram
neo gatchi joheun
saram
neo gatchi joheun ma
eum
neo gatchi joheun
seonmul
Dengan malas aku meraih handphoneku yang terletak di meja
di samping tempat tidurku.
Aishh, kali ini apa lagi...
Dengan malas aku mengangkat telpon dari
Yesung-hyung...
“Hyung, aku benar-benar tidak menelponnya, jadi jangan
cemas.” Ucapku langsung tanpa mengucapkan salam.
“Yak! Dasar babo. Bukan itu yang ingin aku
permasalahkan. Aku hanya ingin bertanya kenapa kau membuat Yeojachingumu
menunggu di tengah derasnya hujan seperti ini, hah?” Tanyanya sambil berteriak
kesal.
“Mwo?” Tanyaku tidak mengerti dengan ucapan Hyungku
ini.
“Dia sekarang sedang menunggumu ditaman. Kenapa kau
bisa lupa kalau kau ada janji dengannya.” Katanya yang memarahiku. “Aku tadi
ingin mengantarnya pulang tapi dia tidak mau.”
“Mwo?” Aku benar-benar terkejut dan tidak percaya
dengan pendengaranku.
Menunggu ditaman? Aku tidak pernah membuat janji
dengannya, karena aku dilarang menghubunginya apa lagi untuk bertemu dengannya.
Bisa-bisa aku benar-benar di bunuh oleh Hyung-hyungku.
“Yak! Kenapa kau jadi diam, hah? Cepat jemput dia
sekarang.” Perintahnya.
“Hyung, aku benar-benar tidak ada membuat janji untuk
bertemu dengannya karena aku tahu kalian akan marah kalau aku melakukan itu.”
Aku masih tidak percaya.
“Aishh, jangan-jangan ini kerjaan Heechul-hyung dan
ketiga kaki tangannya itu.” Katanya menduga.
Aku jadi semakin bingung dengan Hyungku satu ini.
Bukankah dia juga termasuk kaki tangan Heechul-oppa dan dia juga melarang aku
kan untuk mendekati Hyejin-ah sebelum lulus test aneh dari mereka.
Yak! Benar, apakah ini salah satu test itu...
“Hyung, aku harus segera pergi...” Aku langsung memutuskan
hubungan telpon kami dan langsung bergegas keluar dorm. Aku harus menemuinya,
aishh... dia pasti sudah sangat kedinginan sekali.
Aku memacu mobilku dengan cepat menuju taman. Ah,
dasar babo! Harusnya aku sudah tahu karena melihat dorm yang sepi, mereka pasti
mengambil kesempatan saat aku lupa membawa handphoneku. Kenapa aku bisa ceroboh
seperti ini dan kenapa mereka begitu tega...
*****
Author’s side :
“Hyung, tidakkah kita terlalu jahat padanya?” Tanya
Donghae merasa bersalah.
“Anio, tunggu saja sebentar lagi. Aku yakin dia akan
pulang.” Jawab Heechul yakin.
“Dia sudah sangat ketakutan karena suara petir dan
gemuruh, tidakkah kau lihat?” Hankyung juga ikut merasa bersalah dan terlihat
sangat sedih.
“Sebaiknya kita jemput saja dia, aku rasa ini sudah
cukup.” Kata Leeteuk mengambil jalan tengah.
“Tunggulah, kenapa kalian begitu tidak sabar sih.”
Gerutu Heechul menolak.
“Dia sudah lama menunggu ditengah hujan seperti itu,
tidak kah kau kasihan padanya.” Donghae sudah mulai menangis karena terharu
melihat perjuangan Hyejin.
Heechul menatapnya galak.
“Tunggu, ada mobil yang berhenti di dekatnya.” Seru
Hankyung.
“Aku yakin dia pasti akan naik mobil itu, dan kalau
itu terjadi dia akan gagal dengan test kita.” Heechul tersenyum penuh arti.
“Sepertinya aku mengenal mobil itu.” Ujar Leeteuk
sambil terus memperhatikan mobil yang terparkir di dekat Hyejin.
“Benar, terlihat sangat familiar.” Dukung Donghae yang
sudah berhenti menangis.
“Itu... itukan mobilnya Yesung...” Teriak Hankyung
shock.
“Apa yang dilakukannya, aishh... dasar babo!” Gerutu
Heechul. “Apa dia tidak tahu rencana kita?” Tanya Heechul dengan kesal.
“Aku rasa tidak, karena saat kita pergi dia sedang
sibuk memberi makan Ddangkoma.” Jawab Donghae.
“Aishh, si babo itu! Sudah jelas dia yang mencetuskan
ide ini kenapa dia tidak tahu.” Heechul masih kesal.
“Tapi, lihat dia menolak tumpangan Yesung.” Seru
Hankyung yang masih terus asyik mengamati.
“Benar, dia menolaknya. Aku rasa kali ini dia
benar-benar lulus test dari kita.” Ujar Leeteuk sambil menatap Heechul penuh
arti.
Heechul hanya terdiam...
“kenapa dia tetap menunggu, aku yakin Yesung-hyung
pasti sudah mengatakan yang sebenarnya tentang dimana Wookie berada, tidak
mungkin dia masih belanja saat ini.” Ujar Donghae. “Aku ingin sekali ada yang
menungguku seperti itu.” Kata Donghae sambil berkhayal.
“Aku juga ingin.” Hankyung ikutan.
Heechul mendesah. “Baiklah kali ini dia lulus test.”
Ucapnya dengan berat hati.
“Kali ini? apa maksudmu dengan ‘kali ini’,
Heechul-ah?” Tanya Leeteuk marah.
“Kau tidak berniat untuk mengetestnya lagi, kan Hyung?”
Tanya Donghae ragu.
“Apa kalian pikir ini sudah membuktikan kalau dia
tidak akan melukai Dongsaeng kita?” Tanya Heechul, tidak peduli.
“Aku tidak mau tahu. Pokoknya dia sudah lulus test
dari kita.” Protes Leeteuk tidak setuju dengan adanya test lagi.
“Aku masih tidak yakin dengan yeoja itu.” Heechul
tidak terima keputusan Leeteuk.
“Pokoknya dia sudah lulus!” Teriak Leeteuk.
Donghae dan Hankyung hanya diam mengamati taman dimana
yeoja itu menunggu kedatang Ryeowook yang tidak akan pernah datang.
“Dia pergi.” Ujar Hankyung saat melihat kepergian
Hyejin dari taman dengan tatapan sedih.
“Tentu saja, apa lagi yang harus dia tunggu.” Leeteuk
setuju dengan tindakan Hyejin.
Heechul tertawa kecil. “Dia belum lulus.” Kata Heechul
cepat.
“Kau benar-benar jahat Hyung.” Kata Donghae dengan
polosnya.
“Yak! Apa maksudmu, hah?” Heechul marah, tidak terima.
“Aku rasa itu Wookie-ah.” Kata Hankyung yang terus
mengabarkan berita selanjutnya kepada Heechul, Leeteuk dan Donghae. Sambil
menunjuk kearah mobil yang berhenti di pinggir jalan, tepat di sebelah Hyejin.
“Aishh, ini akan terlihat seperti di drama-drama yang
aku bintangi.” Kata Donghae dengan senyum manisnya. Donghae langsung
mengeluarkan handphonenya dengan cepat dan mulai merekam.
“Yak! Apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Heechul
bingung dengan tingkah Dongsaengnya itu.
“Aku hanya ingin merekamnya saja. Menjadikannya
kenangan untuk kita nantinya.” Jawab Donghae dengan senang.
Hankyung dan Leeteuk mengangguk setuju.
“Aku rasa kita harus menemui mereka.” Ujar Leeteuk
membuka pembicaraan setelah mereka saling diam untuk beberapa saat dan hanya
menatap pemandangan di depan mereka.
“Benar Hyung, sebelum terjadi kesalahpahaman di antara
mareka.” Hankyung setuju.
Donghae masih sibuk dengan rekamannya, sementara
Heechul menatap kesal ketiga orang itu.
*****
Kim Hyejin’s side :
Setelah Yesung-hyung pergi meninggalkanku setelah aku
menolak ajakannya untuk mengantarku, aku hanya dapat terdiam...
Apa maksudnya ini, kenapa dia mengajakku bertemu
mengatakan ingin membicarakan masalah penting denganku. Kenapa dia bisa lupa
dengan janjinya sendiri...
Ini seperti bukan dia sama sekali. Kenapa dia begitu
menyebalkan, membuatku menunggu begitu lama di tengah hujan yang sampai
sekarang belum juga reda. Kenapa membuatku menunggu begitu lama. Harusnya dia
tahu aku benci menunggu seperti ini.
Aku benci...
Aku takut...
Karena saat ini hujan...
Tanpa terasa air mataku sudah mulai jatuh membasahi
kedua pipiku. Oppa, aku benar-benar menyukaimu... bukan, tapi aku...
mencintaimu...
Dan untuk pertama kalinya aku mengakui kalau aku
mencintai seseorang sampai seperti ini. Dan itu kepadamu, Wookie-oppa...
Babo! Apa lagi yang aku tunggu ditaman ini, sebaiknya
aku langsung pulang saja...
Huh, untung saja tadi aku tidak naik mobil, aku jadi
ada alasan kenapa aku sampai basah seperti ini untuk dijelaskan nantinya kepada
orang di rumah.
Aku langsung berjalan dan meninggalkan taman, berjalan
di trotoar dengan begitu pelan mencoba menikmati apa yang ada saat ini. Aku
tidak peduli dengan pandangan orang yang melihatku seperti ini. Seperti orang
gila. Ya, aku memang gila, gila karena aku jatuh cinta...
Aku menyukai gerimis dan aku benci hujan seperti
ini...
Tapi untuk kali ini aku mensyukurinya karena aku bisa
menangis sepuasku tanpa di ketahui oleh orang lain. Air mata yang jatuh
bersamaan dengan jatuhnya air hujan dari langit...
Oppa, aku mencintaimu...
Saranghae...
“Chagiya...”
Langkahku langsung terhenti saat aku mendengar
seseorang memanggilku. Suara yang begitu familiar dan aku sukai...
Aku tersenyum senang mendengar panggilan sayang itu...
Dengan cepat aku langsung menghapus air mataku dan aku
berbalik, mendapati namjachinguku sedang menatapku dari dalam mobilnya. Aku
tersenyum menatapnya...
Rasa kesal karena dia tidak datang langsung hilang
seketika.
“Oppa...” Sapaku dengan riang.
Dia langsung keluar dari mobilnya tidak peduli dengan
hujan yang deras.
“Babo! Kenapa kau mau menungguku begitu lama, hah?”
Dia marah kepadaku dan langsung memelukku dengan erat.
“Oppa, kau basah.” Ucapku namun tetap membalas dan
tersenyum senang dalam pelukannya, sudah lama sekali dia tidak pernah memelukku
seperti ini. Aku sudah tidak peduli dengan tatapan orang yag melihat ini. Aku
yakin ini akan membuat fans heboh, jika saja aku memfoto adegan ini.
“Kau membuatku cemas...” Ucapnya sambil melepaskan
pelukannya. “Yak! Kenapa kau tersenyum,hah!” Teriaknya di tengah derasnya
hujan.
Aku hanya menjawabnya dengan kembali tersenyuman.
“Aishh, yeoja satu ini. Kau sudah membuatku cemas dan
basah seperti ini, kenapa kau hanya tersenyum bodoh seperti itu, hah.”
Teriaknya lagi.
Aku menatapnya kesal. Apa katanya? Tersenyum bodoh?
“Yak! Kenapa kau berteriak Oppa. Kau pikir aku tidak
bisa dengar.” Balasku dengan berteriak juga. “Senyum bodoh? Itu senyum manisku,
babo!” Umpatku dengan kesal.
“Apa kau bilang, babo? Kau mengejek namjachingumu
sendiri dengan sebutan babo? Kau benar-benar keterlaluan.” Dia tidak terima.
“Percuma saja aku mencemaskanmu dan harus datang kemari sehingga membuatku jadi
basah seperti ini.” Keluhnya.
“Yak! Jadi kau menyesal datang kemari, Oppa?”
Teriakku, namja ini memang benar-benar menyebalkan tapi aku mencintainya..
“Tentu saja, kau hanya membuatku kesal saja.”
“Kau pikir aku tidak kesal karena sudah menunggumu
begitu lama ditengah derasnya hujan. Kau tahukan kalau aku sangat takut dengan
hujan yang begitu deras seperti ini. Aku sendirian menunggumu.. kenapa kau
begitu lama datang, hah...” Tangisku kembali pecah.
Untuk kedua kalinya aku bersyukur dengan derasnya
hujan ini karena dia tidak dapat melihatku yang menangis, ini memalukan kalau dia
sampai melihatku yang menangis seperti ini.
Dia mendekatiku...
Namun terhenti karena bunyi klakson panjang sebuah
mobil yang sekarang berhenti tepat di samping kami...
Saat kaca jendela mobil itu terbuka, terlihatlah
member Super Junior lainnya dengan senyum khas mereka.
Omo!
Apa aku tidak salah lihat...
Aishh, disana ada Heechul-oppa, benar-benar membuatku
deg-degan karena melihat mereka secara langsung seperti ini. Karena sebelumnya
aku hanya bertemu dengan Yesung-oppa saat Wookie-oppa mengajakku makan siang.
Heechul-oppa aku adalah fansmu, aku adal Petals,
teriakku dalam hati.
Aku langung menghapus air mataku dan tersenyum melihat
mereka. ada Donghae-oppa, Leeteuk-oppa dan Hankyung-oppa.
Aishh, kenapa mereka begitu tampan semua. Leeteuk-oppa
bahkan terlihat seperti masih remaja, dia benar-benar baby face. Donghae-oppa,
dia terlihat sangat manis sekali, ah... senyumnya itu. Dan Hankyung-oppa
terlihat sangat tampan dan china sekali.
Dan Heechul-oppa, kenapa dia terlihat seperti sedang
marah, apa yang membuatnya jadi seperti itu...
Omo! Ini benar-benar seperti mimpi untukku. Melihat
secara langsung wajah member Super Junior. Dan karena hal ini aku jadi lupa
dengan kesedihanku tadi.
“Yak! Kenapa kau tersenyum-senyum seperti itu, hah!”
Tegur namjachinguku, membuyarkan lamunanku.
Aku menatapnya kesal karena merusak lamunan indahku.
“Kenapa melotot kepada namjachingumu sendiri, hah!”
teriaknya lagi.
“Aku membencimu.” Balasku dengan berteriak.
“Aishh, kalian ini, sungguh tidak sopan kenapa
berteriak di depan orang yang lebih tua,hah.” Tegur Hankyung-oppa pada kami.
“Yak! Siapa yang tua.” Teriak Leeteuk-oppa dan
Heechul-oppa secara bersamaan tidak terima di katakan tua.
Aku dan Wookie-oppa menatap kearah mereka...
“Aku... aku tidak mengatakan tua. Aku mengatakan yang
lebih tua.” Protes Hankyung-oppa dengar panik.
“Tapi aku tidak suka mendengar kata itu.” Seru
Leeteuk-oppa.
“Kata itu sungguh menyebalkan. Aku benci kata itu.”
Tambah Heechul-oppa.
“Wow, ekpresi kalian sangat bagus sekali.” Sela
Donghae-oppa yang sedang asyik dengan handphonenya. Apa dia sedang merekam
kami?
Apa yang sedang dilakukannya? Merekam orang yang
sedang bertengkar...
Aishh, kenapa mereka terlihat sangat menarik sih...
Kalau begini ceritanya aku akan benar-benar menyukai
mereka bertigabelas, aku menyukai semuanya...
Oh, saranghaeyo Super Junior, hello a’m ELF and i’m
your bigfans.... teriakku kembali dalam hati.
“Hyung kalian benar-benar keterlaluan dengan test ini.
Tidak kah kalian kasihan melihatnya yang menunggu begitu lama. Kalau bukan
karena Yesung-hyung aku tidak akan tahu.”
Aku menatap namjachinguku dengan bingung apa maksud
ucapannya dengan mengatakan kata ‘test’. Memangnya ada test apa...
“Kalau kau tadi tidak datang kami yang akan
menghampirinya.” Jawab Leeteuk-oppa membela.
Aku masih terus menatap bingung kearah mereka dengan
pembicaraan yang tidak aku mengerti.
“Lalu, apakah dia lulus?” Tanya Wookie-oppa langsung.
“Kami bertiga setuju dia lulus tapi...” Hankyung
mengalihkan tatapannya kearah Heechul-oppa, yang diikuti dengan Leeteuk-oppa
dan Donghae-oppa dan tidak lupa dengan kameranya juga.
“Mwo? Kenapa menatapku seperti itu, hah.” Protes
Heechul-oppa dengan panik.
Aku hanya berdiri dengan menatap mereka semua bingung,
sepertinya sudah tidak ada lagi yang peduli kalau saat ini sedang hujan
walaupun sudah tidak deras lagi hanya gerimis...
Tapi, hei! Aku basah dan kedinginan disini...
Tidak bisakah kalian melihatnya...
Oppadeul, tahukah kalian aku sudah sangat
kedinginan... teriakku dalam hati memohon pengertian tapi sepertinya semua
sedang sibuk dengan masalah mereka dan tidak memperdulikanku.
“Yak! Kau, Hyejin-ah... apakah kau masih akan tetap
menjadi fansnya setelah melihat sikapnya yang begitu jahat padamu?” Tanya
Wookie-oppa kepadaku.
Aishh, apa yang sedang namjachinguku ini bicarakan...
Aku benar-benar tidak mengerti, kenapa membuatku jadi bingung
seperti ini, hah!
Ini pasti karena efek aku sudah sangat kedinginan dan
di tambah lagi melihat secara langsung makhluk-makhluk tampan di depanku ini...
“Apa kau bilang Wookie-ah? Dia adalah fansku?” Tanya
Heechul-oppa dengan senyum mengembang padahal tadinya dia terlihat sedang kesal.
“Ne, setiap aku bertemu dengannya dia hanya bertanya
tentangmu, benar-benar membuatku bosan.” Jawab Wookie-oppa dengan malas.
Apa mereka sedang membicarakanku?
Heeechul-oppa langsung menatapku dan tersenyum senang.
“Apakah itu benar? Kalau kau adalah fansku?” Tanyanya kepadaku.
Aku hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala dengan
ragu, masih tidak terlalu mengerti dengan pembicaraan mereka yang terdengar
sangat rumit ini.
“Aishh, kenapa tidak mengatakannya dari awal. Kalau
kau mengatakannya dari awal pasti aku sudah memberikan izin untuk kalian
berdua.” Ucapnya dengan senyum yang masih mengembang.
Aishh, senyumnya... manis sekali... teriakku senang
masih dalam hati.
Tapi apa maksudnya dengan memberikan izin? Test?
Tunggu...
Apa aku tadi sedang mereka test?
Aku menatap Wookie-oppa dengan pandangan penuh tanda
tanya.
“Oppa, apa maksudnya ini semua?” Tanyaku meminta
kepastian.
“Sebelumnya aku minta maaf kepadamu, Hyejin-ah. Karena
sudah tidak percaya untuk kesetianmu kepada Dongsaeng kami ini.” Sela
Leeteuk-oppa sebelum Wookie-oppa bicara.
Apa-apa ini...
“Ne, mianhae...” Donghae-oppa meminta maaf kepadaku
tapi masih tetap sibuk dengan handphonenya yang sekarang merekam kearahku.
Sudah lupakan kesibukan namja satu ini...
“Harusnya kami memang tidak melakukan ini kepadamu,
mianhae...” Tambah Hankyung-oppa dengan sedih.
Aku menatap mereka dengan bingung, aku butuh
penjelasan tapi kenapa mereka semua malah meminta maaf kepadaku...
Bagaimana aku bisa memaafkan mereka kalau aku sendiri
tidak tahu apa permasalahan sebenarnya...
Kali ini mereka semua menatap Heechul-oppa yang sibuk
bercermin di kaca spion mobil. Leeteuk-oppa langsung menyikutnya.
“Waeyo?” Tanya kesal. “Mwo?” Tanyanya yang bingung
karena semua orang menatap kearahnya.
Dia mendengus kesal. “Aishh, Ne... aku akan
mengatakannya.” Dia lalu beralih menatapku.
Aku membalas menatap Heechul oppa penasaran dengan apa
yang akan dikatakannya padaku.
“Mianhae, karena kami sudah mengetest kadar kesetiaanmu
kepada Dongsaeng kami ini. Kau tentu tahukan kalau kami hanya tidak ingin kalau
dia di sakiti...”
“Jadi yang tadi itu adalah test?” Potongku dengan
bertanya.
“Ne, tapi kau jangan marah ya, jebal...” Dia memohon.
Aku menatap mereka semua shock...
Kenapa aku harus di test? Apa mereka tidak percaya
kalau aku benar-benar menyukai Dongsaeng mereka, hah bukan! Kalau aku
benar-benar mencintai Dongsaeng mereka ini. Aishh, namja-namja ini ternyata
sangat mengerikan juga. Bagaimana mereka bisa mendapatkan ide konyol seperti
itu...
“Tolong jangan marah. Kalau kau ingin marah, marah lah
pada Yesung-ah karena dia yang mencetuskan ide ini, bahkan ide untuk membuatmu
menunggu ini juga adalah idenya.” Heechul-oppa langsung memberikan penjelasan.
Aku melihat mereka semua langsung menatap Heechul-oppa
tajam...
“Yak! Kenapa kalian menatapku seperti ingin memakanku,
hah!” Gerutunya. “Baiklah, aku akan mengakui. Ini memang idenya Yesung-ah, tapi
aku yang melakukannya, bukan dia.” Kata Heechul-oppa mengakui semuanya dengan
malas.
Aku manghela napas, aku memang pantas untuk di uji...
batinku. Mengingat semua yang telah aku lakukan pada Dongsaeng tercinta mereka.
“Hyejin-ah, apa kau marah? Kalau kau marah, marahlah
sekarang karena aku tidak ingin kehilangan seorang fans.” Ucapnya dengan rasa
bersalah.
“Anio, aku tidak marah kok.” Ucapku langsung dan tersenyum
menatap mereka semua dengan senang. “Tapi Oppa kenapa kalian bisa dapat ide
untuk mengetest ku?” Tanyaku yang sudah penasaran mendengar alasan mereka.
Semua hanya terdiam, begitu hening. Sampai sebuah
suara menjawab...
“Karena kau terlihat playgirl dengan jumlah mantan
sampai duapuluh orang.” Jawab Donghae-oppa tanpa dosa, dengan masih terus sibuk
melihat kearah layar handphonenya yang sekarang ditujukan kearahku.
Aku dan oppadeul langsung menatap tajam kearahnya...
Apa maksudnya mengatakan aku playgirl, hah!, teriakku
kesal dalam hati.
Dia merekam wajah kami satu persatu dimulai
Leeteuk-oppa sampai pada akhirnya kearahku. Dia langsung menghentikan merekam
kami dan menatap kami bingung, cemas sekaligus panik.
“Waeyo?” Tanya takut. “Apa aku salah bicara?”
Tanyanya.
“Yak! Babo! Tentu saja kau salah bicara Hae-ah.”
Gerutu Leeteuk –oppa sambil menjitak kepala Donghae-oppa.
“Bukan aku yang mengatakannya.” Heechul-oppa angkat
tangan dengan girang.
“Kenapa kau begitu jujur, hah!” Hankyung-oppa ikut
menegurnya.
“Hyung, kau benar-benar jahat.” Tambah Wookie-ah.
“Aigo... apa yang sudah aku katakan. Ah, mianhae...
Hyejin-ah. Aku tidak bermaksud membuatmu marah atau tersinggung.” Dia langsung
meminta maaf dengan paniknya.
“Ne, aku memang sedikit kesal, tapi aku malah
berterima kasih karena Oppa sudah mau jujur padaku. Sepertinya aku akan menjadi
fansmu Oppa.” Aku tersenyum menatap Donghae-oppa yang tersenyum lega. “Tapi aku
bukan playgirl.” Aku menekankan kata-kata itu.
“Maaf untuk itu, tapi benarkah kau ingin menjadi
fansku?” Tanyanya tidak percaya.
“Ne, tentu saja. Aku suka dancemu.” Jawabku dengan
senyuman manisku.
“Yak! Kenapa kau jadi beralih kepadanya, hah!” Protes
Heechul-oppa tidak terima. “Aishh, kenapa tadi aku tidak menjawabnya saja.
Sekarang aku jadi kehilang fansku dan harus membaginya menjadi dua dengan ikan
ini.” Tunjuk Heechul-oppa dengan kesal kearah Donghae-oppa yang tersenyum
senang.
Kami semuapun tertawa mendengar ucapannya...
Aku menatap langit yang sudah cerah dan hujan pun
tanpa kami sadari sudah mereda dari tadi. Tawa mereka menghangatkan tubuhku
yang tadinya kedinginan.
“Lihat, ada pelangi...” Seruku girang sambil menunjuk ke
langit.
Mereka langsung turun dari mobil dan ikut melihat kearah
langit. Wookie-ah langsung merangkul bahuku erat.
“Saranghae...” Ucapnya lembut tanpa melihat kearahku.
“Nado saranghae...” Balasku, yang senang sambil
melihat kearah langit yang sedang menunjukkan keajaibannya dengan munculnya
pelangi setelah hujan...
Untuk kali ini, sepertinya aku akan benar-benar
menyukai hujan. Karena setelah hujan itu berhenti aku akan dapat melihat
pemandangan yang begitu menakjubkan di langit, sebuah pelangi dengan
warna-warni yang indah membentuk sebuah jembatan yang tidak diketahui dimana
ujung dan pangkalnya.
Aku ingin hari-hariku nantinya juga di hiasi oleh
warna-warni indahnya pelangi. Dalam mengukir kisah cinta dan kisah hidupku....
*****
The end
Please leave
your comments
Gomawo
SF_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar