Title
: My Love Story
Author
: Siti Fajriani (SF)
Genre
: Romance
Cast : Yesung, Shin Hyemi, Jung Hara
Happy reading....
*****
Part
1
Shin
Hyemi’s side :
Aku mungkin adalah gadis yang
paling bodoh di dunia. Mencintai seseorang yang sama sekali tidak pernah
melihat kepadaku. Mengaguminya selama bertahun-tahun tanpa pernah merasa bosan.
Bahkan aku masih mencintainya ketika aku tahu dia berpacaran dengan sahabatku
sendiri.
Tragis!
Kata itu memang cocok untuk
menyatakan tentang kisah cintaku yang tidak pernah berakhir dengan indah.
Selalu!
Ini bukan yang pertama kalinya, ini
yang kedua kalinya aku alami.
Dan aku jera!
Aku benci untuk merasakan cinta itu
lagi. Aku benci merasakan rasa sakit itu!
Aku benci dan aku muak dengan kisah
cintaku yang selalu menyedihkan!
Dan kali ini ada seorang namja
memperhatikanku dan selalu ramah padaku. Sempat terlintas di hatiku yang
mengatakan bahwa dia menyukaiku. Bukankah sudah jelas? Dia selalu
mempehatikanku saat aku belajar dan saat aku berkumpul bersama dengan
teman-temanku. Dia tersenyum saat tatapan kami bertemu secara tidak sengaja.
Membuat jantungku berdetak dengan kencang saat merasa tatapannya mengarah
padaku.
Tapi, ternyata takdir mengatakan
hal lain.
Aku kembali terluka, aku kembali
merasakan rasa sakit itu. Kali ini tidak terlalu sakit. Karena aku selalu
merasakan rasa sakit itu. Aku bahkan sudah mencintai rasa sakit itu.
Kalian tahu, ternyata namja itu
memperhatikan chinguku, bukan aku! Aku dengan chinguku ini cukup dekat, kami
selalu duduk bersebelahan, jadi wajar jika namja itu seolah melihat kearahku
karena chinguku selalu duduk di sampingku.
Mengetahui fakta bahwa itu bukan
aku membuatku hanya dapat tersenyum sedih dan mengucapkan selamat atas hubungan
mereka. mereka berpacaran!
Wow....
Hal itu membuatku ingin selalu
sendiri. Aku tidak ingin merasakan sakit itu lagi. Tidak!
Apakah aku tidak pantas untuk
dicintai?
Apa aku terlalu jelek untuk
mendapatkan sebuah cinta yang tulus?
Apa yang salah pada diriku sampai
tidak ada yang tertarik padaku?
Apa yang salah?
Aku benci di kelilingi yeoja-yeoja
cantik, aku tahu mereka chinguk-u. Tapi aku benci karena bukan aku yang dilihat?
Haruskah aku berubah menjadi
cantik, agar dilihat?
Haruskah aku melakukan hal bodoh
itu?
Kenapa semua namja hanya melihat
pada kecantikan seorang yeoja?
Apa kencantikan itu sangat penting?
Tidakkah lebih penting melihat
kepribadian dan hati yeoja itu?
Aku lelah merasakan ssakit itu.
Sangat lelah!
Sampai kapan aku harus merasakan
rasa sakit itu?
Tidakkah ini terlalu lama?
Harus berapa lama lagi aku
merasakan sakit itu?
Tuhan, tidak bisakah kau
mengirimkan seorang namja yang benar-benar baik dan tulus mencintaiku?
Aku lelah merasakan ini? Ini
menyakitkan!
Ini sangat bodoh!
Dan gadis bodoh itu adalah aku,
Shin Hyemi!
.......
Aku duduk sendirian di sebuah
ayunan yang kosong di Taman. Menatap hampa kearah hamparan taman bunga di
depanku yang seolah menjadi pagar pembatas antara taman bermain dengan sebuah
lapangan basket.
Tuhan, aku tahu kau akan
mengirimkan seorang namja baik hati yang tulus mencintaiku. Aku tahu...
Dan aku tahu, saat ini bukan waktu
yang tepat untuk itu. Aku tahu...
Tapi, tidak bisakah Engkau
menghilangkan rasa itu. Rasa cinta, rasa suka dan rasa kagumku pada namja. Aku
hanya tidak ingin merasakan rasa sakit itu.
Sudah terlalu banyak rasa sakit
yang aku rasakan. kali ini, aku hanya ingin bebas saja dari rasa itu.
Rasanya akan lebih baik jika aku
tidak memiliki rasa itu, karena pada akhirnya aku hanya akan terjatuh berulang
kali. Aku muak! Aku bosan! Aku sakit!
“Bolehkan aku duduk di sini?”
Aku mendongakkan kepalaku dan
mendapati seorang namja tampan berdiri di depanku dengan senyum manisnya. Untuk
beberapa detik aku terhipnotis dengan senyuman manis itu.
“Boleh, kan?” Dia mengulangi
pertanyaannya.
Aku hanya mengangguk kecil. Lalu
kembali mengalihkan pandanganku, sebelum aku kembali kagum dengan senyum manis
itu.
Aku memejamkan mataku untuk
beberapa saat, menguatkan hatiku untuk tidak merasa tertarik dengan namja yang
duduk di ayunan di sampingku ini.
Aku tidak menyukainya, lagi pula aku
tidak mengenalnya. Kenapa aku harus menyukainya? Dia hanya orang asing, ucapku
dalam hati.
“Sepertinya aku mengenalmu. Apa kau
mahasiswi di Chungwoon university?”
Aku menoleh kearah namja itu yang
kembali memperlihatkan senyum manisnya.
“Ne...” Jawabku singkat. Aku sedang
tidak ingin berbicara. Dan aku sedang tidak ingin untuk merasakan rasa tertarik
pada seorang namja. Tapi entah kenapa daya tarik namja ini sangat besar. Aku
seolah tidak mampu untuk tidak tertarik akan sosoknya yang memang terlihat
menyenangkan. Apa lagi senyum ramahnya itu.
“Ah, apa kau temannya Jung Hara-ssi?”
Tanyanya lagi, kali ini terlihat sangat antusias.
Aku menatapnya lama sebelum
menjawab pertanyaannya. Kembali aku merasakan rasa sakit itu. Aku iri! Aku
cemburu dengan chingu-ku yang cantik, pintar serta ramah itu. Aku iri akan
sosoknya. Dan aku lebih iri lagi karena aku tidak bisa untuk menjadi
sepertinya.
“Ne...” Jawabku dengan malas.
Apa namja ini ingin meminta nomor
handphone chinguku itu, seperti namja-namja lainnya. Yang selalu memanfaatkan
aku agar bisa dekat dengan chinguku itu.
Aku mengeluarkan handphone-ku dari
saku blazerku, dan mencari nomor handphone Hara, sebelum namja di sampingku
itu bertanya-tanya yang hanya akan membuatku semakin iri dengan chingu-ku.
“Cepat keluarkan handphone-mu.”
Pintaku langsung, tanpa mau melihat wajahnya lagi. Aku yakin saat ini dia
sedang tersenyum senang, karena berhasil mendapatkan nomor handphone chingu-ku
yang memang cukup terkenal itu. Dia mengeluarkan handphone-nya. “Tolong dicatat,
aku tidak akan mengulangnya.” Aku mengingatkan dan aku langsung menyebutkan
angka-angka nomor handphone chingu-ku itu langsung.
Aku langsung berdiri dari ayunan
dan menatap namja itu sekilas. “Itu nomor handphone-nya, kau bisa menghubunginya
langsung, dan tidak perlu mengucapkan terima kasih.” Aku langsung berjalan
pergi meninggalkan namja itu.
“Tapi... Yak!”
Aku tetap berjalan pergi
meninggalkannya, lagi pula untuk apa aku harus memperdulikannya. Bukannya lebih
mudah jika dia ingin bertanya langsung pada Hara tentang apa yang
disukainya. Kenapa aku harus repot-repot menjawab pertanyaan itu. Aku juga
bosan menjawab pertanyaan-pertanyaan semua namja tentang itu.
Tidakkah cukup hanya dengan nomor
handphone-nya saja. Aku muak menjadi tukang pos untuk menyampaikan setiap
kata-kata cinta itu, bingkisan-bingkisan kado itu, aku muak!
Tidakkah ada yang ingin memberikannya
untuk?
Aku juga ingin mendapatkan sebuah
hadiah.
Aku juga ingin mendapatkan
ucapan-ucapan selamat.
Aku juga ingin
mendengarkankata-kata romantis itu.
Aku juga ingin...
*****
“Hyemi-ya, kau dari mana saja?” Tanya Hara,
saat aku memasuki dorm. Kami memang tinggal bersama, karena kami ingin hidup
mandiri.
Aku bekerja sebagai penulis cerpen
di sebuah penerbitan. Sedangkan Hara menjadi salah satu guru balet di sebuah
sekolah dasar dan jam mengajarnya di sesuaikan dengan jadwal kuliah kami yang
memang belum selesai.
“Aku dari Taman.” Jawabku seadanya
dan langsung memasuki kamarku. “Aku ingin istirahat. Tolong jangan ganggu aku
dulu.” Pintaku sebelum menutup pintu kamarku.
“Kau aneh Hyemi-ya” Ucapnya pelan.
Aku tahu, dia pasti merasa aneh
dengan diriku sekarang. Karena aku sendiri juga merasa aneh. Apa aku cemburu?
Bukankah aku sudah biasa memberikan
nomor handphone-nya kepada namja-namja. Tapi kenapa kali ini terasa begitu aneh.
Kenapa kali ini aku merasa begitu tidak ikhlas dan menyesal.
“Ah, Hyemi-ya... kenapa kau jadi
aneh. Kau tahu kan namja itu menyukai chingu-mu, bukan kau. Jadi lupakan!”
Gumamku memohon pada hati dan pikiranku
untuk tidak merasakan penyesalan itu.
“Hara-ya, tadi aku memberikan nomor
handphone-mu pada seorang namja.” Teriakku dari dalam kamar.
“Mwo? Oh, ne... tidak masalah.”
Kudengar jawabannya.
Aku berdiri di depan cermin yang
memantulkan sosokku yang berantakan.
Pantas saja tidak ada namja yang menyukaiku.
Lihatlah rambutku yang aku ikat dengan asal dengan poniku yang juga tidak rapi.
Aku sudah seperti orang gila atau orang yang frustasi. Dengan kaos yang dibalut
blazer hitam dan celana jeans. Bukankah memakai sebuah dress atau gaun akan
lebih manis?
Apa aku harus berubah?
Tapi aku benci untuk menjadi orang
lain, walaupun sebenarnya aku menginginkan itu.
Aku lelah...
Jika aku terus memikirkan tentang
itu...
Aku merebahkan tubuh mungilku di
atas tempat tidurku yang empuk. Memejamkan mataku untuk membuat suasana hatiku
menjadi lebih baik lagi. Rasanya tidur lebih baik dari pada aku terus
memikirkan segala kecemburuanku.
Masih banyak hal yang bisa aku
pikirkan selain namja dan kecemburuan bodohku. Dan masih banyak tugas yang
belum aku selesaikan. Aku belum menyelesaikan tugas kampus dan juga belum
menyelesaikan cerpenku yang akan aku kirimkan tiga hari lagi. Aku harus mencari
inspirasi lagi...
*****
Aku duduk di ayunan favoritku
sambil menatap sedih kearah sekitarku yang sepi. Entah kenapa aku sangat
menyukai suasana yang sepi. Merasakan kesedihan itu terkadang membuatku merasa
lebih baik. Sudah aku katakan, terlalu banyak kesedihan yang aku alami, sampai
aku menyukai rasa sakit itu. Walaupun aku muak merasakannya.
Dan karena merasakan kesedihan itu,
aku jadi selalu menuliskan kisah cinta yang bahagia. Aku hanya tidak ingin, apa
yang aku rasakan terlihat jelas dalam tulisanku, walaupun orang-orang kadang
dapat menilainya sendiri walau aku menyembunyikan perasaanku yang sesungguhnya.
Aku juga ingin menuliskan tentang
sebuah kebahagiaan dalam ceritaku. Sekaligus untuk menghibur kesedihanku.
Setidaknya, walaupun dalam tulisan aku dapat merasakan kebahagiaan itu. Dalam
dunia khayalanku aku selalu merasa bahagia. Dimana selalu ada namja yang dapat
mencintaiku dengan tulus. Walaupun hanya dalam tulisan, itu sudah cukup
membuatku bahagia.
Hari ini aku ingin mencari
inspirasiku di Taman. Aku memang sering mendapatkan inspirasi jika aku duduk di
bangku ayunan ini. Mengamati kesepian di siang hari ini dan keramaian di sore
hari. dan sebentar lagi di Taman ini akan ramai oleh pengunjung. Orang tua yang
menemani anaknya bermain, sepasang kekasih yang berpacaran sambil olahraga.
Kebahagian itu, setidaknya dapat membuatku sedikit baik.
Aku langsung beranjak dari ayunan
dan duduk di bangku taman di sebelah ayunanku tadi. Menghidupkan laptopku dan
mulai mengetikkan ceritaku karena aku baru saja mendapatkan inspirasi setelah
melihat sepasang kekasih yang saling tertawa di depanku.
Kebahagiaan itu...
Aku menginginkannya!
Aku ingin merasakannya!
Dapatkah aku merasakan itu suatu
saat nanti?
Aku merindukan akan datangnya
saat-saat itu...
“Annyeong haseyo...”
Aku menoleh kebelakang ke sumber
suara yang menyapaku. Aku tertegun melihat namja dengan senyum manis itu berdiri
di depanku.
“A... annyeong haseyo...” Balasku
dengan sedikit bingung melihat namja yang kemarin mendatangiku.
Aish, apa dia tidak bisa bertanya
langsung pada Hara. Apa dia ingin mengintrogasiku untuk menjawab semua
pertanyaannya tentang Hara-ah? Aku bosan jika menjawab itu semua.
Memang susah memiliki chingu yang
terkenal. Harusnya aku membukukan saja semua tentangnya, seperti biodata
dan semua tentangnya yang kuketahui. Aku yakin akan laku keras nantinya jika
aku menjualnya pada namja yang ada di Kampus.
Wah, pasti dengan begitu aku akan
memiliki banyak uang tambahan. Sehingga aku bisa berlibur untuk beberapa minggu
tanpa harus menulis dan aku bisa istirahat tanpa harus sibuk mencari inspirasi
di taman ini.
Wah... sepertinya menyenangkan...
“Hmm... apa yang kau lakukan
di sini?”
Lamunanku terhenti dan aku menatap
namja itu yang sekarang duduk di depanku.
Aku menatapnya penuh curiga. Apa
yang diinginkan namja ini? Aku jadi merasa sedikit takut dengannya. Walaupun
aku akui senyumnya sangat tulus dan ramah. Tapi kami tidak saling mengenal. Kenapa
dia membuat keadaan seolah kami sudah dekat.
“Aku sedang menulis.” Jawabku
singkat.
“Ah, aku belum mengenalmu.” Dia
tersenyum ramah kearahku sambil menyodorkan tangannya kearahku.
“Kim Jongwoon imnida... tapi kau
bisa memanggilku Yesung.” Ucapnya memperkenalkan dirinya.
“Shin Hyemi imnida...” aku membalas
uluran tangannya.
“Kita satu universitas dan aku
adalah seniormu.” Ucapnya lagi.
Aku diam sesaat...
Omo!
Dia seniorku?
Aku pikir dia satu tingkat atau
juniorku. Ternyata aku salah, aku sudah tidak sopan dengannya.
“Mianhaeyo, sebelumnya aku tidak
tahu kalau kau adalah seniorku, Yesung-sunbaenim.” Ucapku meminta maaf.
*****
Yesung’s
side :
“Mianhaeyo, sebelumnya aku tidak
tahu kalau kau adalah seniorku, Yesung-sunbaenim.” Ucapnya meminta maaf.
Aku pikir aku cukup terkenal di
kampus, tapi kenapa dia malah tidak mengenaliku.
Aku terus memperhatikannya yang
sibuk dengan laptop-nya. Sepertinya dia sedang mengetik sesuatu. Aku sangat
penasaran dengan apa yang diketiknya. Sebuah ceritakah? Atau tugas?
“Apa yang kau ketik?”
“Aku mengetik sebuah cerita.”
Jawabnya tanpa melihat kearahku.
Aku jadi merasa ada yang aneh
dengan yeoja di depanku ini. Setiap kali berbicara denganku dia jarang sekali mau
menatapku dan selalu menjawab pertanyaanku dengan singkat. Seolah tidak ingin
membuka pertanyaan lagi. Apa aku mengganggunya?
“Kau penulis novel?” Tanyaku lagi
penasaran dengan jawabannya tadi.
“Ne, aku penulis tapi bukan novel
hanya cerita-cerita pendek.” Jawabnya.
Aku menganggukkan kepala mengerti.
Sepertinya dia memang sedang tidak
ingin diganggu, tapi entah kenapa aku jadi ingin tahu tentangnya. Dia terlihat
sangat misterius dan itu membuatku penasaran.
“Apakah cerpenmu sering muncul di
majalah atau tabloid?” Tanyaku, mulai mengintrogasinya.
“Ne, di majalah.”
“Apakah sudah sering di publish?”
“Hmm, dua kali dalam seminggu.”
Jawabnya sambil menyebutkan nama majalah tersebut.
Ah, sepertinya aku harus membeli
majalah itu dan melihat tulisannya. Entah kenapa aku jadi penasaran dengan
sosoknya.
“Apa yang biasa kau tulis?”
Dia diam sesaat, menatap layar
laptop-nya.
Apa aku melakukan kesalahan? Apa
ada yang salah dengan pertanyaanku?
Aku jadi bingung dengan yeoja di
depanku ini. Kenapa dia diam.
Untuk kali ini dia menatapku,
tatapan yang biasa namun entah kenapa membuat jantungku berdetak dengan
kencang.
“Seperti penulis lainnya, aku
menulis tentang kisah cinta. Memang kenapa?” Untuk kali ini dia balik bertanya,
dan menatapku serius.
“Aniyo, aku hanya ingin tahu saja.”
Jawabku singkat. Kenapa jantungku jadi berdebar seperti ini saat matanya
menatapku.
“Owh...” Dia kembali menatap kearah
laptop-nya dan tidak memperdulikanku.
“Apakah kau pernah atau sedang
memiliki kisah cinta yang indah Yesung-sunbaenim?” Tanyanya padaku, dan kembali
dia menatapku dengan serius.
“Aku..” aku berpikir sebentar untuk
menjawab pertanyaannya.
Sebenarnya aku tidak memiliki kisah
cinta yang cukup menarik untuk diceritakan. Sama seperti kebanyakan orang
berpacaran lalu merasa bosan dan tidak cocok maka akan putus, ya... seperti itu
lah kisah cintaku, sangat membosankan.
“Waeyo?” Tanyaku meminta
penjelasan.
“Aku hanya ingin tahu.” Jawabnya
seperti mengulang jawabanku tadi.
Aku sebenarnya sangat malas untuk
menceritakannya, karena memang tidak ada yang menarik untuk diceritakan.
“Seperti kebanyakan kisah cinta
lainnya. Berakhir ketika merasa bosan dan tidak cocok lagi...”
“Berapa kali kau sudah berpacaran
Yesung-sunbaenim?” Tanyanya langsung sebelum aku menyelesaikan ceritaku.
Aku diam, sedikit heran dengan
pertanyaannya yang aneh dan tidak terduga.
“Sudah dua kali.” Jawabku, dan lebih aneh lagi karena aku menjawab pertanyaannya.
“Kalau begitu Hara akan jadi
yang ketiga.” Gumamnya pelan, namun aku masih bisa mendengarnya.
Owh, aku rasa ia salah paham dengan
ini semua.
Aku ingin mencoba memprotesnya
namun kembali ia bicara sebelum aku sempat protes.
“Kalau begitu kau harus menyerah
Yesung-sunbaenim, karena Hara tidak menyukai untuk jadi yang ketiga, dia hanya
ingin jadi yang pertama.” Ujarnya tanpa menatap kearahku, sibuk dengan
ketikannya.
“Hmm, Hyemi-ssi... aku rasa kau
salah paham tentang itu.” Aku mencoba untuk mengklarifikasi masalah kemarin.
Dia berhenti mengetik dan menatapku
serius. “Apa maksudmu, Yesung-sunbaenim?”
Aku langsung menjelaskan padanya tentang
aku yang tidak bermaksud meminta nomor handphone Hara. Aku mengenalnya
karena chingu-ku yang menyukai yeoja itu dan aku sering melihat mereka bersama. Makanya aku mengenalnya.
Dia hanya mengaggukkan kepalanya
mengerti setelah mendengar ceritaku.
“Mianhaeyo.” Ucapnya singkat, dan
kembali sibuk dengan ketikannya.
Aish, yeoja ini...
Kenapa dia mengacuhkanku, apa
tulisannya itu lebih penting. Kenapa dia menyia-nyiakan namja tampa di
depannya?
Aku juga ikut diam, dan hanya
mengamatinya yang sibuk mengetik.
*****
Shin
Hyemi’s side :
Sudah seminggu ini namja itu selalu
mendatangiku dan duduk di bangku di depanku saat aku di Taman. Aku sedikit
heran dengan kadatangannya yang selalu menghampiriku. Terlebih aku heran dengan
diriku sendiri yang merasa begitu nyaman jika dia ada di dekatku. Secara
perlahan dia seperti memberikanku inspirasi, aku jadi selalu membayangkan
sosoknya saat aku menulis. Gila!
Dia orang yang baru aku kenal,
kenapa terasa begitu nyaman saat berada di sampingnya, saling bercerita dan
mendengarkan.
Dan hari ini, aku duduk di bangku
favoritku di taman, menunggunya. Sudah hampir dua jam aku di duduk di bangku
taman ini, namun dia belum datang juga. Entah kenapa aku begitu terbiasa dengan
kehadiran, sampai membuatku jadi cemas karena tidak melihatnya di depanku
seperti biasanya.
Apakah ini wajar?
Aku mengacak rambutku frustasi.
Kenapa dia bisa membuatku jadi seperti ini. Aku bahkan tidak bisa menulis dan
mendapatkan inspirasi karena tidak melihatnya.
Kemana dia?
*****
Ini sudah lebih dari satu minggu
aku tidak melihatnya. Dan itu benar-benar membuatku frustasi. Aku merasakan
sesuatu yang hilang di hatiku, terasa begitu kosong...
Aku...
Aku membutuhkannya...
Aku bahkan sama sekali tidak pernah
melihatnya di kampus. Kemana dia pergi, kenapa menghilang begitu saja?
Tidakkah dia tahu, aku
mencemaskannya...
Aku mencarinya...
Aku menunggunya...
Niga animyeon andwae
Neo eobsin nan andwae
Na ireoke haru handareul tto
illyeoneul
Na apado joha
Aku menjawab panggilan di
handphone-ku. Tertera nama Hara-ah.
“Yeoboseyo, waeyo, Hara-ya?”
Tanyaku padanya.
“Kau dimana? Kenapa belum pulang,
sebentar lagi akan hujan dan kau tidak membawa payung. Cepatlah pulang, aku
tidak ingin kau sakit.” Ucapnyanya yang mencemaskanku.
Aku menatap kearah langitnya yang memang
sudah gelap. Benar, sebentar lagi akan hujan. Tapi aku masih ingin di sini,
menunggunya...
Aku tidak tahu apa yang membuat
diriku begitu ingin menunggunya, aku hanya yakin dia akan datang. Walaupun tahu
bukan saat ini, tapi...
“Cepat pulang, jangan menunggu
sesuatu yang tidak pasti lagi, Hyemi-ya. Kenapa kau menunggu namja yang baru
kau kenal itu? Apa dia begitu penting, hah?” Tanyanya.
Dia memang tahu apa yang aku
lakukan di taman ini, karena aku memang menceritakan tentang namja itu
kepadanya. Dan itu adalah cerita pertamaku padanya tentang namja.
“Bukankah orang tuamu sudah
menjodohkanmu dengan namja yang lebih baik dari pada namja yang kau tunggu itu.
Kalau dia menyukaimu, dia tidak akan meninggalkanmu.” Katanya lagi, memcoba
membuatku melupakan Yesung-sunbaenim. Ah, aku bahkan belum memanggilnya dengan
sebutan ‘oppa’.
“Yak! Sudah aku ingatkan jangan
membahas masalah perjodohan itu, membuat kepalaku jadi semakin sakit.” Keluhku
padanya.
Topik itu, topik yang selalu aku
hindari dari tiga hari yang lalu. Aku benci mengingatnya...
Kenapa orang tuaku harus
menjodohkanku?
Apa mereka pikir aku tidak bisa
menemukan namja yang lebih baik, hah?
Aku menatap sedih rerumputan...
Ya, benar... aku memang tidak pernah
bisa mendapatkan namja yang baik. Buktinya aku selalu disakiti oleh namja yang
aku sukai, seperti saat ini...
Ini benar-benar menyiksaku...
“Ne... aku akan pulang sekarang...”
Jawabku mengalah.
Lagi pula, apa yang harus aku
tunggu?
Namja itu tidak akan pernah datang
lagi, mungkin aku hanya sesuatu yang tidak penting untuknya.
Tapi kenapa dia begitu baik dan
terasa begitu tulus?
Ah, aku gila!
Namja menyebalkan!
“Kalau begitu cepat pulang, aku
sudah membuatkan sup untukmu. Sampai jumpa di dorm.” Ujar Hara-ah dan langsung
memutuskan hubungan telponnya.
Aku kembali menatap langit, mencoba
untuk menahan air mataku yang ingin tumpah.
Aku begitu bodoh, karena kembali
harus merasakan rasa sakit itu lagi. Untuk yang kesekian kalinya. Sangat bodoh!
Sama sekali tidak pernah bisa
belajar dari pengalaman.
Bodoh!
.....
“Eomma...” Keluhku pada Eomma
melalui handphone, yang memaksaku untuk menemui namja yang akan di jodohkan
padaku.
“Sampai kapan kau selalu menolak
apa yang Eomma dan Appa pinta, hah?”
Aku mengacak-acak rambutku
frustasi. Aku bahkan belum sembuh dari rasa sedihku karena Yesung-sunbaenim,
tapi Eomma dan Appa malah menyuruhku untuk bertunangan dengan namja yang mereka
pilih.
“Eomma, aku masih kuliah.” Aku
mencoba memberikan alasan.
“Hanya itu alasanmu dari kemarin,
Eomma bosan mendengarnya. Lagi pula kau hanya akan bertunangan dengannya, bukan
menikah.” Tekan Eomma pada kata ‘bertunangan’ dan ‘menikah’.
Aku diam, sangat sulit untuk
berdebat dengan Eomma.
“Kau ingin jadi anak durhaka karena
melawan Eomma, hah?”
Aish...
“Aniyo... Eomma...” Aku sudah
kehabisan kata-kata untuk menolak permintaan Eomma.
“Hari minggu ini kau harus pulang,
karena keluarganya akan datang kerumah kita.”
“Mwo?!” Aku terkejut mendengar
ucapan Eomma. “Kenapa begitu cepat?”
“Eomma tidak mau tahu, kau harus
datang. Annyeong...”
Aku manatap handphoneku shock!
Apa-apaan ini?
Aish...
Jinjjayo?
Bertunangan...
Aku gila!
“Waeyo Hyemi-ya?” Tanya Hara yang menghampiriku di ruang tv.
Aku menatapnya sedih. “Hara-ya...”
Kali ini aku tidak bisa membendung air mataku lagi yang entah kenapa mengalir
begitu saja. “Aku akan bertunangan. Eotteohke?” Aku memeluknya erat.
“Mwo? Kenapa begitu cepat? Ternyata
orang tuamu benar-benar serius dengan pertunangan itu, Hyemi-ya.”
“Ah, eotteohke? Aku tidak ingin
Hara-ya. Bagaimana kalau aku tidak bisa mencintainya? Bukankah itu hanya akan
menyakitinya nanti?” Tanyaku padanya di sela isakan tangisku.
Dia langsung melepaskan pelukanku
dan menatapku lembut. “Jangan menangis Hyemi-ya Kau pasti bisa mencintainya
karena aku tahu orang tuamu pasti menjodohkanmu dengan namja yang baik.”
Ucapnya yakin.
Aku menghapus air mataku dengan
tanganku, dan tersenyum menatap chingu-ku itu. Setidaknya itu dapat membuat
hatiku menjadi sedikit baik.
“Kau harus yakin.” Dia tersenyum
menatapku. “Fighting Hyemi-ya.” Ujarnya dengan semangat. “Mungkin memang namja
itu jodhmu, bukan namja yang selalu kau tunggu di taman itu.”
Ucapannya membuatku terdiam dan
kembali merasakan rasa sedih itu. Aku tahu pilihan orang tua memang selalu
baik. Tapi... aku ujur aku masih sulit untuk menerima pertunangan ini. Masih
ada sedikit keyakinanku kalau namja yang aku tunggu itu akan datang.
Tapi...
Baiklah, aku akan mencoba menerima
permintaan Appa dan Eomma-ku kali ini. Aku juga yakin mereka pasti akan
memberikan yang terbaik untukku nantinya.
Tidak ada salahnya kan mencoba
walaupun aku sendiri masih tidak terlalu yakin untuk itu.
Lagi pula, mau sampai kapan aku
selalu hidup sendiri. Tanpa pernah merasakan cinta...
Mungkin nantinya dengan namja itu
aku bisa merasakan cinta yang belum pernah aku rasakan, atau bahakan kami akan
sama-sama saling mencintai nantinya. Tidak seperti saat ini dan dulu, dimana
cintaku yang selalu bertepuk sebelah tangan.
Tuhan, semoga namja itu nantinya
juga mencintaiku. Untuk kali ini biarkan aku merasakan cinta yang tulus itu...
*****
Shin
Hyemi’s side :
Aku duduk di bangku favoritku di
taman. Seperti biasa mencoba untuk mencari inspirasiku yang baru.
Aku berpindah dan duduk di ayunan,
sambil mendengarkan musik dari handphoneku yang aku letak di meja taman.
Aku menatap langit yang mulai
gelap, sepertinya akan turun hujan lagi. Entah kenapa cuaca saat ini selalu
mendung, seolah mengerti dengan apa yang aku rasakan. sebuah kesedihan!
Aku rindu bermain ayunan dengan
Hara. Dulu aku dan dia sangat sering bermain di taman ini. Taman ini sudah
seperti tempat favorit untuk kami. Tapi sekarang dia terlihat sibuk dengan
pekerjaannya dan namja-namja yang mendekatinya. Dia begitu populer di kampus,
sangat berbeda sekali dengan diriku yang biasa ini. Tapi aku senang menjadi
biasa walaupun tidak bisa dipungkiri kalau terkadang aku cemburu dengannya.
Menjadi biasa membuatku merasa
nyaman melakukan apapun tanpa harus merasa terganggu ataupun risih dengan
tatapan orang yang selalu tertuju padaku.
Ah, aku belum mendapatkan
inspirasi. Apa yang harus aku tulis untuk ceritaku kali ini, aku bingung.
Aku tersenyum sedih mengingat hari
minggu yang akan tiba dua hari lagi. Aku benar-benar akan gila jika
memikirkannya. Tapi sepertinya cerita tentang perjodohan memang sedang banyak
terjadi kali ini. Apa aku juga harus menuliskan ceritaku yang dijodohkan itu?
Ya, sebenarnya untuk dijadikan
sebuah cerita tidak terlalu buruk. Apa salahnya untuk mencoba, tentunya dengan
ditambahkan dengan khayalanku yang akan menulis happy ending. Entah kenapa
semua cerita yang aku buat selalu berakhir dengan bahagia.
Walaupun diawal kisah sedih tapi
akhirnya selalu bahagia. Sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang aku
alami. Hahaha...
Sangat lucu, sampai membuatku ingin
menangis.
Yak! Kenapa kisah cintaku begitu
menyedihkan?
Ah, baiklah aku tidak akan mengeluh
lagi.
Semangat Hyemi-ya!
Aku kembali duduk di bangku
favoritku dan langsung menuliskan beberapa kalimat di buku catatanku. Hari aku
tidak membawa laptopku karena punggungku sakit, hampir setiap hari aku
membawanya kemana-mana.
Hari ini aku akan membuat sebuah
kisah tentang hidupku dan sebuah kenyataan kecil tentang betapa menyedihkannya
kisah cintaku ini.
Aku
duduk di taman ini, selalu menunggunya...
Entah
apa yang membuatku begitu merasakan kehilangan akan sosoknya. Aku belum
mengenalnya lama. Hanya satu minggu, tapi satu minggu terasa begitu lama
untukku, sehingga membuatku begitu kehilangan akan sosok itu. Dia memasuki
kehidupanku dengan begitu biasa dan secara perlahan dia menjadi inspirasiku.
Aku membutuhkannya...
Tapi
aku tidak bisa menemukannya lagi. Padahal aku hanya ingin berada di dekatnya,
ada sesuatu yang hilang di hatiku ketika aku tidak bisa melihatnya lagi.
Sesuatu yang membuatku merasakan sakit saat mengingatnya. Sakit karena aku
terlalu merindukannya.
Aku menuliskan kata-kata itu di
buku catatan hitam favoritku yang selalu kubawa kemana-mana.
Walaupun aku tidak bisa melihatnya
lagi, setidaknya aku masih menyimpan sosoknya dalam hatiku.
Ah, perjodohan itu...
Aku takut jika aku tidak bisa
menyukai namja itu...
“Hyemi-ya...”
Aku berhenti menulis dan terdiam.
Aku langsung merasakan debaran
jantungku yang tidak teratur, saat mendengar suara itu. Hanya karena suara itu!
Aku mengangkat wajahku dan
menemukan sosok yang begitu kurindukan berdiri di depanku, dengan senyum manis
itu.
Rasanya aku ingin berlari kearahnya
dan memeluknya dengan begitu erat agar dia tidak bisa pergi lagi. Tapi aku
tidak memiliki kuasa untuk melakukan itu, hanya dia terpaku menatapnya yang
tersenyum begitu manis. Aku hanya dapat diam tanpa bisa melakukan apapun.
Bahkan untuk tersenyum pun aku tidak bisa. Air mataku sudah berkumpul di
pelupuk mataku, ingin segera keluar, namun aku mencoba untuk menahannya semampuku.
Aku tidak boleh menangis!
Sudah terlalu banyak air mata yang
aku keluarkan hanya untuk menangisinya karena kerinduanku. Aku tidak boleh
menangis!
Dia berjalan mendekatiku dan duduk
di depanku, selalu... selalu seperti itu setiap kami bertemu di taman.
Aku ingin berteriak dan
memarahinya, karena menghilang begitu saja, membuatku cemas dan sedih. Aku
ingin marah, namun mulutku seolah terkunci dengan sangat rapat. Aku hanya dapat
diam melihatnya. Hanya diam!
“Apa kau merindukanku? Mianhae, aku
tidak menemuimu, Hyemi-ya.” Ucapnya terdengar begitu sedih.
Tuhan, dia bahkan memanggil dengan
panggil tidak formal padaku. Sedangkan
aku! Aku bahkan tidak pernah memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’ padahal dia
sudah memintanya. Aku tidak bisa mengucapkan kata itu, itu terasa begitu sulit
untuk di ucapkan. Sama halnya seperti mengucapkan kata maaf atau cinta. Sulit!
“Sepertinya kau tidak merindukanku?
Padahal aku begitu merindukanmu, Hyemi-ya.” Ucapnya dengan sedih.
Aku ingin, sangat ingin membalas
ucapannya dengan mengatakan betapa aku merindukannya, sangat merindukannya.
Tapi aku sadar itu hanya akan
membuatku sakit nantinya.
Perjodohan itu!
Aku tidak bisa menolaknya,
seandainya aku bisa. Aku sudah mengatakan padanya bahwa aku sangat
merindukannya, bahwa aku sangat mencintainya dan bahwa aku sangat
membutuhkannya. Tapi aku sadar, aku tidak bisa!
“Hyemi-ya...” Dia menatapku serius.
Aku hanya diam, berbicara berarti
menangis! Dan aku sedang mencoba untuk menahan tangisku.
“Aku tidak berharap kau akan
membalas ucapanku ini. Aku hanya ingin kau tahu satu hal bahwa aku... aku
mencintaimu, Hyemi-ya.”
Kata itu...
Aku menunggu kata itu begitu lama
untuk keluar dari seorang namja...
Penantian lamaku akhirnya datang,
dan Tuhan mengabulkan doaku...
Tapi kenapa dia mengucapkannya
sekarang? Kenapa tidak lebih awal. Di saat aku masih memiliki kesempatan untuk
menolak perjodohan itu. Di saat aku masih memiliki kesempatan untuk
mengenalkannya pada orang tuaku. Di saat...
Kenapa tidak lebih awal?
Aku semakin diam, mencoba menahan
tangis dan air mataku yang semakin mendesak ingin keluar.
Kulihat dia berdiri dan masih terus
tersenyum manis kearahku. Senyum yang begitu kusukai, namun ada kesedihan di
balik senyum manisnya itu...
“Aku hanya ingin mengatakan itu.
Mianhae... jika itu membuatmu tidak nyaman. Dan... mianhae karena aku tidak
bisa menemuimu lagi, Hyemi-ya. Annyeong higaseyo...” Dia berbalik dan berjalan
pergi meninggalkanku dengan tidak lupa meninggalkan sebuah senyuman manis
kepadaku. Senyum terakhir yang bisa aku lihat.
Butiran air mata turun secara
perlahan melalui sudut mataku seiring dengan kepergiannya...
Aku menatap punggungnya yang
semakin menjauh, tanpa bisa melakukan apapun. Aku sangat ingin mengejarnya dan
mengatakan kalau aku juga mencintainya, sangat mencintainya!
Bodoh!
Aku adalah orang paling bodoh di
dunia ini!
Membiarkan pergi cinta yang telah
lama aku tunggu. Membiarkannya pergi begitu saja, tanpa mampu untuk mencegahnya
sedikitpun.
Bodoh sekaligus menyedihkan!
Tangisku semakin keras, aku bahkan
sudah tidak memperdulikan rintikan hujan yang turun membasahi tubuhku.
Air hujan yang turun seolah
mewakili tangisku untuk menyampaikan kepadanya bahwa aku menangis karena tidak
bisa membalas ucapannya.
Aku membiarkan tubuhku basah dengan
air hujan yang turun dari langit. Seperti orang bodoh menangis ditengah hujan.
Aku sangat menyukai hujan. Hujan
seolah lambang kesedihan dan kesunyian yang aku rasakan selama ini, sangat
sendu...
Aku sudah tidak bisa lagi menahan tangis yang sudah kutahan
beberapa hari terakhir ini. Semua keluar begitu saja, mengeluarkan semua sakit
yang aku rasakan tanpa membiarkan sedikit sakit pun tersimpan di hatiku.
Tuhan...
Kenapa kau membiarkanku untuk tidak
bisa memilikinya?
Apakah dia memang bukan jodohku?
Lalu kenapa, kau membuatku jadi
begitu mencintainya? Ini sangat menyakitkan, melihatnya yang pergi begitu saja
tanpa bisa aku tahan. Padahal aku mencintainya dan dia juga mencintaiku.
Kenapa begitu tidak adil!
Ini pertama kalinya aku mendengar
seseorang mengatakan kata-kata indah itu!
Kenapa begitu tidak adil
terhadapku. Aku juga ingin merasakan cintanya padaku. Ini sangat tidak adil...
*****
To be continued...
Please laeve your comment...
Gomawo
SF_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar