Welcome to My World

Senin, 20 Agustus 2012

Fanfiction - My Love Story [Part 1]


Title : My Love Story
Author : Siti Fajriani (SF)
Genre : Romance
Cast  : Yesung, Shin Hyemi, Jung Hara


Happy reading....


*****

 
Part 1
Shin Hyemi’s side :

Aku mungkin adalah gadis yang paling bodoh di dunia. Mencintai seseorang yang sama sekali tidak pernah melihat kepadaku. Mengaguminya selama bertahun-tahun tanpa pernah merasa bosan. Bahkan aku masih mencintainya ketika aku tahu dia berpacaran dengan sahabatku sendiri.

Tragis!


Kata itu memang cocok untuk menyatakan tentang kisah cintaku yang tidak pernah berakhir dengan indah.

Selalu!

Ini bukan yang pertama kalinya, ini yang kedua kalinya aku alami.

Dan aku jera!

Aku benci untuk merasakan cinta itu lagi. Aku benci merasakan rasa sakit itu!

Aku benci dan aku muak dengan kisah cintaku yang selalu menyedihkan!

Dan kali ini ada seorang namja memperhatikanku dan selalu ramah padaku. Sempat terlintas di hatiku yang mengatakan bahwa dia menyukaiku. Bukankah sudah jelas? Dia selalu mempehatikanku saat aku belajar dan saat aku berkumpul bersama dengan teman-temanku. Dia tersenyum saat tatapan kami bertemu secara tidak sengaja. Membuat jantungku berdetak dengan kencang saat merasa tatapannya mengarah padaku.

Tapi, ternyata takdir mengatakan hal lain.

Aku kembali terluka, aku kembali merasakan rasa sakit itu. Kali ini tidak terlalu sakit. Karena aku selalu merasakan rasa sakit itu. Aku bahkan sudah mencintai rasa sakit itu.

Kalian tahu, ternyata namja itu memperhatikan chinguku, bukan aku! Aku dengan chinguku ini cukup dekat, kami selalu duduk bersebelahan, jadi wajar jika namja itu seolah melihat kearahku karena chinguku selalu duduk di sampingku.

Mengetahui fakta bahwa itu bukan aku membuatku hanya dapat tersenyum sedih dan mengucapkan selamat atas hubungan mereka. mereka berpacaran!

Wow....

Hal itu membuatku ingin selalu sendiri. Aku tidak ingin merasakan sakit itu lagi. Tidak!

Apakah aku tidak pantas untuk dicintai?
Apa aku terlalu jelek untuk mendapatkan sebuah cinta yang tulus?
Apa yang salah pada diriku sampai tidak ada yang tertarik padaku?
Apa yang salah?

Aku benci di kelilingi yeoja-yeoja cantik, aku tahu mereka chinguk-u. Tapi aku benci karena bukan aku yang dilihat?
Haruskah aku berubah menjadi cantik, agar dilihat?
Haruskah aku melakukan hal bodoh itu?

Kenapa semua namja hanya melihat pada kecantikan seorang yeoja?
Apa kencantikan itu sangat penting?
Tidakkah lebih penting melihat kepribadian dan hati yeoja itu?

Aku lelah merasakan ssakit itu. Sangat lelah!
Sampai kapan aku harus merasakan rasa sakit itu?
Tidakkah ini terlalu lama?
Harus berapa lama lagi aku merasakan sakit itu?

Tuhan, tidak bisakah kau mengirimkan seorang namja yang benar-benar baik dan tulus mencintaiku?
Aku lelah merasakan ini? Ini menyakitkan!

Ini sangat bodoh!
Dan gadis bodoh itu adalah aku, Shin Hyemi!

.......

Aku duduk sendirian di sebuah ayunan yang kosong di Taman. Menatap hampa kearah hamparan taman bunga di depanku yang seolah menjadi pagar pembatas antara taman bermain dengan sebuah lapangan basket.

Tuhan, aku tahu kau akan mengirimkan seorang namja baik hati yang tulus mencintaiku. Aku tahu...
Dan aku tahu, saat ini bukan waktu yang tepat untuk itu. Aku tahu...

Tapi, tidak bisakah Engkau menghilangkan rasa itu. Rasa cinta, rasa suka dan rasa kagumku pada namja. Aku hanya tidak ingin merasakan rasa sakit itu.

Sudah terlalu banyak rasa sakit yang aku rasakan. kali ini, aku hanya ingin bebas saja dari rasa itu.

Rasanya akan lebih baik jika aku tidak memiliki rasa itu, karena pada akhirnya aku hanya akan terjatuh berulang kali. Aku muak! Aku bosan! Aku sakit!

“Bolehkan aku duduk di sini?”

Aku mendongakkan kepalaku dan mendapati seorang namja tampan berdiri di depanku dengan senyum manisnya. Untuk beberapa detik aku terhipnotis dengan senyuman manis itu.

“Boleh, kan?” Dia mengulangi pertanyaannya.

Aku hanya mengangguk kecil. Lalu kembali mengalihkan pandanganku, sebelum aku kembali kagum dengan senyum manis itu.

Aku memejamkan mataku untuk beberapa saat, menguatkan hatiku untuk tidak merasa tertarik dengan namja yang duduk di ayunan di sampingku ini.

Aku tidak menyukainya, lagi pula aku tidak mengenalnya. Kenapa aku harus menyukainya? Dia hanya orang asing, ucapku dalam hati.

“Sepertinya aku mengenalmu. Apa kau mahasiswi di Chungwoon university?”

Aku menoleh kearah namja itu yang kembali memperlihatkan senyum manisnya.

“Ne...” Jawabku singkat. Aku sedang tidak ingin berbicara. Dan aku sedang tidak ingin untuk merasakan rasa tertarik pada seorang namja. Tapi entah kenapa daya tarik namja ini sangat besar. Aku seolah tidak mampu untuk tidak tertarik akan sosoknya yang memang terlihat menyenangkan. Apa lagi senyum ramahnya itu.

“Ah, apa kau temannya Jung Hara-ssi?” Tanyanya lagi, kali ini terlihat sangat antusias.

Aku menatapnya lama sebelum menjawab pertanyaannya. Kembali aku merasakan rasa sakit itu. Aku iri! Aku cemburu dengan chingu-ku yang cantik, pintar serta ramah itu. Aku iri akan sosoknya. Dan aku lebih iri lagi karena aku tidak bisa untuk menjadi sepertinya.

“Ne...” Jawabku dengan malas.

Apa namja ini ingin meminta nomor handphone chinguku itu, seperti namja-namja lainnya. Yang selalu memanfaatkan aku agar bisa dekat dengan chinguku itu.

Aku mengeluarkan handphone-ku dari saku blazerku, dan mencari nomor handphone Hara, sebelum namja di sampingku itu bertanya-tanya yang hanya akan membuatku semakin iri dengan chingu-ku.

“Cepat keluarkan handphone-mu.” Pintaku langsung, tanpa mau melihat wajahnya lagi. Aku yakin saat ini dia sedang tersenyum senang, karena berhasil mendapatkan nomor handphone chingu-ku yang memang cukup terkenal itu. Dia mengeluarkan handphone-nya. “Tolong dicatat, aku tidak akan mengulangnya.” Aku mengingatkan dan aku langsung menyebutkan angka-angka nomor handphone chingu-ku itu langsung.

Aku langsung berdiri dari ayunan dan menatap namja itu sekilas. “Itu nomor handphone-nya, kau bisa menghubunginya langsung, dan tidak perlu mengucapkan terima kasih.” Aku langsung berjalan pergi meninggalkan namja itu.

“Tapi... Yak!”

Aku tetap berjalan pergi meninggalkannya, lagi pula untuk apa aku harus memperdulikannya. Bukannya lebih mudah jika dia ingin bertanya langsung pada Hara tentang apa yang disukainya. Kenapa aku harus repot-repot menjawab pertanyaan itu. Aku juga bosan menjawab pertanyaan-pertanyaan semua namja tentang itu.

Tidakkah cukup hanya dengan nomor handphone-nya saja. Aku muak menjadi tukang pos untuk menyampaikan setiap kata-kata cinta itu, bingkisan-bingkisan kado itu, aku muak!

Tidakkah ada yang ingin memberikannya untuk?
Aku juga ingin mendapatkan sebuah hadiah.
Aku juga ingin mendapatkan ucapan-ucapan selamat.
Aku juga ingin mendengarkankata-kata romantis itu.
Aku juga ingin...

*****

 “Hyemi-ya, kau dari mana saja?” Tanya Hara, saat aku memasuki dorm. Kami memang tinggal bersama, karena kami ingin hidup mandiri.

Aku bekerja sebagai penulis cerpen di sebuah penerbitan. Sedangkan Hara menjadi salah satu guru balet di sebuah sekolah dasar dan jam mengajarnya di sesuaikan dengan jadwal kuliah kami yang memang belum selesai.

“Aku dari Taman.” Jawabku seadanya dan langsung memasuki kamarku. “Aku ingin istirahat. Tolong jangan ganggu aku dulu.” Pintaku sebelum menutup pintu kamarku.

“Kau aneh Hyemi-ya” Ucapnya pelan.

Aku tahu, dia pasti merasa aneh dengan diriku sekarang. Karena aku sendiri juga merasa aneh. Apa aku cemburu?

Bukankah aku sudah biasa memberikan nomor handphone-nya kepada namja-namja. Tapi kenapa kali ini terasa begitu aneh. Kenapa kali ini aku merasa begitu tidak ikhlas dan menyesal.

“Ah, Hyemi-ya... kenapa kau jadi aneh. Kau tahu kan namja itu menyukai chingu-mu, bukan kau. Jadi lupakan!” Gumamku memohon pada  hati dan pikiranku untuk tidak merasakan penyesalan itu.

“Hara-ya, tadi aku memberikan nomor handphone-mu pada seorang namja.” Teriakku dari dalam kamar.

“Mwo? Oh, ne... tidak masalah.” Kudengar jawabannya.

Aku berdiri di depan cermin yang memantulkan sosokku yang berantakan.

Pantas saja tidak ada namja yang menyukaiku. Lihatlah rambutku yang aku ikat dengan asal dengan poniku yang juga tidak rapi. Aku sudah seperti orang gila atau orang yang frustasi. Dengan kaos yang dibalut blazer hitam dan celana jeans. Bukankah memakai sebuah dress atau gaun akan lebih manis?

Apa aku harus berubah?
Tapi aku benci untuk menjadi orang lain, walaupun sebenarnya aku menginginkan itu.

Aku lelah...
Jika aku terus memikirkan tentang itu...

Aku merebahkan tubuh mungilku di atas tempat tidurku yang empuk. Memejamkan mataku untuk membuat suasana hatiku menjadi lebih baik lagi. Rasanya tidur lebih baik dari pada aku terus memikirkan segala kecemburuanku.

Masih banyak hal yang bisa aku pikirkan selain namja dan kecemburuan bodohku. Dan masih banyak tugas yang belum aku selesaikan. Aku belum menyelesaikan tugas kampus dan juga belum menyelesaikan cerpenku yang akan aku kirimkan tiga hari lagi. Aku harus mencari inspirasi lagi...

*****

Aku duduk di ayunan favoritku sambil menatap sedih kearah sekitarku yang sepi. Entah kenapa aku sangat menyukai suasana yang sepi. Merasakan kesedihan itu terkadang membuatku merasa lebih baik. Sudah aku katakan, terlalu banyak kesedihan yang aku alami, sampai aku menyukai rasa sakit itu. Walaupun aku muak merasakannya.

Dan karena merasakan kesedihan itu, aku jadi selalu menuliskan kisah cinta yang bahagia. Aku hanya tidak ingin, apa yang aku rasakan terlihat jelas dalam tulisanku, walaupun orang-orang kadang dapat menilainya sendiri walau aku menyembunyikan perasaanku yang sesungguhnya.

Aku juga ingin menuliskan tentang sebuah kebahagiaan dalam ceritaku. Sekaligus untuk menghibur kesedihanku. Setidaknya, walaupun dalam tulisan aku dapat merasakan kebahagiaan itu. Dalam dunia khayalanku aku selalu merasa bahagia. Dimana selalu ada namja yang dapat mencintaiku dengan tulus. Walaupun hanya dalam tulisan, itu sudah cukup membuatku bahagia.

Hari ini aku ingin mencari inspirasiku di Taman. Aku memang sering mendapatkan inspirasi jika aku duduk di bangku ayunan ini. Mengamati kesepian di siang hari ini dan keramaian di sore hari. dan sebentar lagi di Taman ini akan ramai oleh pengunjung. Orang tua yang menemani anaknya bermain, sepasang kekasih yang berpacaran sambil olahraga. Kebahagian itu, setidaknya dapat membuatku sedikit baik.

Aku langsung beranjak dari ayunan dan duduk di bangku taman di sebelah ayunanku tadi. Menghidupkan laptopku dan mulai mengetikkan ceritaku karena aku baru saja mendapatkan inspirasi setelah melihat sepasang kekasih yang saling tertawa di depanku.

Kebahagiaan itu...
Aku menginginkannya!
Aku ingin merasakannya!
Dapatkah aku merasakan itu suatu saat nanti?
Aku merindukan akan datangnya saat-saat itu...

“Annyeong haseyo...”

Aku menoleh kebelakang ke sumber suara yang menyapaku. Aku tertegun melihat namja dengan senyum manis itu berdiri di depanku.

“A... annyeong haseyo...” Balasku dengan sedikit bingung melihat namja yang kemarin mendatangiku.

Aish, apa dia tidak bisa bertanya langsung pada Hara. Apa dia ingin mengintrogasiku untuk menjawab semua pertanyaannya tentang Hara-ah? Aku bosan jika menjawab itu semua.

Memang susah memiliki chingu yang terkenal. Harusnya aku membukukan saja semua tentangnya, seperti biodata dan semua tentangnya yang kuketahui. Aku yakin akan laku keras nantinya jika aku menjualnya pada namja yang ada di Kampus.

Wah, pasti dengan begitu aku akan memiliki banyak uang tambahan. Sehingga aku bisa berlibur untuk beberapa minggu tanpa harus menulis dan aku bisa istirahat tanpa harus sibuk mencari inspirasi di taman ini.

Wah... sepertinya menyenangkan...

“Hmm... apa yang kau lakukan di sini?”

Lamunanku terhenti dan aku menatap namja itu yang sekarang duduk di depanku.

Aku menatapnya penuh curiga. Apa yang diinginkan namja ini? Aku jadi merasa sedikit takut dengannya. Walaupun aku akui senyumnya sangat tulus dan ramah. Tapi kami tidak saling mengenal. Kenapa dia membuat keadaan seolah kami sudah dekat.

“Aku sedang menulis.” Jawabku singkat.

“Ah, aku belum mengenalmu.” Dia tersenyum ramah kearahku sambil menyodorkan tangannya kearahku.

“Kim Jongwoon imnida... tapi kau bisa memanggilku Yesung.” Ucapnya memperkenalkan dirinya.

“Shin Hyemi imnida...” aku membalas uluran tangannya.

“Kita satu universitas dan aku adalah seniormu.” Ucapnya lagi.

Aku diam sesaat...

Omo!
Dia seniorku?

Aku pikir dia satu tingkat atau juniorku. Ternyata aku salah, aku sudah tidak sopan dengannya.

“Mianhaeyo, sebelumnya aku tidak tahu kalau kau adalah seniorku, Yesung-sunbaenim.” Ucapku meminta maaf.

*****

Yesung’s side :

“Mianhaeyo, sebelumnya aku tidak tahu kalau kau adalah seniorku, Yesung-sunbaenim.” Ucapnya meminta maaf.

Aku pikir aku cukup terkenal di kampus, tapi kenapa dia malah tidak mengenaliku.

Aku terus memperhatikannya yang sibuk dengan laptop-nya. Sepertinya dia sedang mengetik sesuatu. Aku sangat penasaran dengan apa yang diketiknya. Sebuah ceritakah? Atau tugas?

“Apa yang kau ketik?”

“Aku mengetik sebuah cerita.” Jawabnya tanpa melihat kearahku.

Aku jadi merasa ada yang aneh dengan yeoja di depanku ini. Setiap kali berbicara denganku dia jarang sekali mau menatapku dan selalu menjawab pertanyaanku dengan singkat. Seolah tidak ingin membuka pertanyaan lagi. Apa aku mengganggunya?

“Kau penulis novel?” Tanyaku lagi penasaran dengan jawabannya tadi.

“Ne, aku penulis tapi bukan novel hanya  cerita-cerita pendek.” Jawabnya.

Aku menganggukkan kepala mengerti.

Sepertinya dia memang sedang tidak ingin diganggu, tapi entah kenapa aku jadi ingin tahu tentangnya. Dia terlihat sangat misterius dan itu membuatku penasaran.

“Apakah cerpenmu sering muncul di majalah atau tabloid?” Tanyaku, mulai mengintrogasinya.

“Ne, di majalah.”

“Apakah sudah sering di publish?”

“Hmm, dua kali dalam seminggu.” Jawabnya sambil menyebutkan nama majalah tersebut.

Ah, sepertinya aku harus membeli majalah itu dan melihat tulisannya. Entah kenapa aku jadi penasaran dengan sosoknya.

“Apa yang biasa kau tulis?”

Dia diam sesaat, menatap layar laptop-nya.

Apa aku melakukan kesalahan? Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?

Aku jadi bingung dengan yeoja di depanku ini. Kenapa dia diam.

Untuk kali ini dia menatapku, tatapan yang biasa namun entah kenapa membuat jantungku berdetak dengan kencang.

“Seperti penulis lainnya, aku menulis tentang kisah cinta. Memang kenapa?” Untuk kali ini dia balik bertanya, dan menatapku serius.

“Aniyo, aku hanya ingin tahu saja.” Jawabku singkat. Kenapa jantungku jadi berdebar seperti ini saat matanya menatapku.

“Owh...” Dia kembali menatap kearah laptop-nya dan tidak memperdulikanku.

“Apakah kau pernah atau sedang memiliki kisah cinta yang indah Yesung-sunbaenim?” Tanyanya padaku, dan kembali dia menatapku dengan serius.

“Aku..” aku berpikir sebentar untuk menjawab pertanyaannya.

Sebenarnya aku tidak memiliki kisah cinta yang cukup menarik untuk diceritakan. Sama seperti kebanyakan orang berpacaran lalu merasa bosan dan tidak cocok maka akan putus, ya... seperti itu lah kisah cintaku, sangat membosankan.

“Waeyo?” Tanyaku meminta penjelasan.

“Aku hanya ingin tahu.” Jawabnya seperti mengulang jawabanku tadi.

Aku sebenarnya sangat malas untuk menceritakannya, karena memang tidak ada yang menarik untuk diceritakan.

“Seperti kebanyakan kisah cinta lainnya. Berakhir ketika merasa bosan dan tidak cocok lagi...”

“Berapa kali kau sudah berpacaran Yesung-sunbaenim?” Tanyanya langsung sebelum aku menyelesaikan ceritaku.

Aku diam, sedikit heran dengan pertanyaannya yang aneh dan tidak terduga.

“Sudah dua kali.” Jawabku, dan lebih aneh lagi karena aku menjawab pertanyaannya.

“Kalau begitu Hara akan jadi yang ketiga.” Gumamnya pelan, namun aku masih bisa mendengarnya.

Owh, aku rasa ia salah paham dengan ini semua.

Aku ingin mencoba memprotesnya namun kembali ia bicara sebelum aku sempat protes.

“Kalau begitu kau harus menyerah Yesung-sunbaenim, karena Hara tidak menyukai untuk jadi yang ketiga, dia hanya ingin jadi yang pertama.” Ujarnya tanpa menatap kearahku, sibuk dengan ketikannya.

“Hmm, Hyemi-ssi... aku rasa kau salah paham tentang itu.” Aku mencoba untuk mengklarifikasi masalah kemarin.

Dia berhenti mengetik dan menatapku serius. “Apa maksudmu, Yesung-sunbaenim?”

Aku langsung menjelaskan padanya tentang aku yang tidak bermaksud meminta nomor handphone Hara. Aku mengenalnya karena chingu-ku yang menyukai yeoja itu dan aku sering melihat mereka bersama. Makanya aku mengenalnya.

Dia hanya mengaggukkan kepalanya mengerti setelah mendengar ceritaku.

“Mianhaeyo.” Ucapnya singkat, dan kembali sibuk dengan ketikannya.

Aish, yeoja ini...
Kenapa dia mengacuhkanku, apa tulisannya itu lebih penting. Kenapa dia menyia-nyiakan namja tampa di depannya?

Aku juga ikut diam, dan hanya mengamatinya yang sibuk mengetik.

*****

Shin Hyemi’s side :

Sudah seminggu ini namja itu selalu mendatangiku dan duduk di bangku di depanku saat aku di Taman. Aku sedikit heran dengan kadatangannya yang selalu menghampiriku. Terlebih aku heran dengan diriku sendiri yang merasa begitu nyaman jika dia ada di dekatku. Secara perlahan dia seperti memberikanku inspirasi, aku jadi selalu membayangkan sosoknya saat aku menulis. Gila!

Dia orang yang baru aku kenal, kenapa terasa begitu nyaman saat berada di sampingnya, saling bercerita dan mendengarkan.

Dan hari ini, aku duduk di bangku favoritku di taman, menunggunya. Sudah hampir dua jam aku di duduk di bangku taman ini, namun dia belum datang juga. Entah kenapa aku begitu terbiasa dengan kehadiran, sampai membuatku jadi cemas karena tidak melihatnya di depanku seperti biasanya.
Apakah ini wajar?

Aku mengacak rambutku frustasi. Kenapa dia bisa membuatku jadi seperti ini. Aku bahkan tidak bisa menulis dan mendapatkan inspirasi karena tidak melihatnya.
Kemana dia?

*****

Ini sudah lebih dari satu minggu aku tidak melihatnya. Dan itu benar-benar membuatku frustasi. Aku merasakan sesuatu yang hilang di hatiku, terasa begitu kosong...

Aku...
Aku membutuhkannya...

Aku bahkan sama sekali tidak pernah melihatnya di kampus. Kemana dia pergi, kenapa menghilang begitu saja?

Tidakkah dia tahu, aku mencemaskannya...
Aku mencarinya...
Aku menunggunya...

Niga animyeon andwae
Neo eobsin nan andwae
Na ireoke haru handareul tto illyeoneul
Na apado joha

Aku menjawab panggilan di handphone-ku. Tertera nama Hara-ah.

“Yeoboseyo, waeyo, Hara-ya?” Tanyaku padanya.

“Kau dimana? Kenapa belum pulang, sebentar lagi akan hujan dan kau tidak membawa payung. Cepatlah pulang, aku tidak ingin kau sakit.” Ucapnyanya yang mencemaskanku.

Aku menatap kearah langitnya yang memang sudah gelap. Benar, sebentar lagi akan hujan. Tapi aku masih ingin di sini, menunggunya...

Aku tidak tahu apa yang membuat diriku begitu ingin menunggunya, aku hanya yakin dia akan datang. Walaupun tahu bukan saat ini, tapi...

“Cepat pulang, jangan menunggu sesuatu yang tidak pasti lagi, Hyemi-ya. Kenapa kau menunggu namja yang baru kau kenal itu? Apa dia begitu penting, hah?” Tanyanya.

Dia memang tahu apa yang aku lakukan di taman ini, karena aku memang menceritakan tentang namja itu kepadanya. Dan itu adalah cerita pertamaku padanya tentang namja.

“Bukankah orang tuamu sudah menjodohkanmu dengan namja yang lebih baik dari pada namja yang kau tunggu itu. Kalau dia menyukaimu, dia tidak akan meninggalkanmu.” Katanya lagi, memcoba membuatku melupakan Yesung-sunbaenim. Ah, aku bahkan belum memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’.

“Yak! Sudah aku ingatkan jangan membahas masalah perjodohan itu, membuat kepalaku jadi semakin sakit.” Keluhku padanya.

Topik itu, topik yang selalu aku hindari dari tiga hari yang lalu. Aku benci mengingatnya...

Kenapa orang tuaku harus menjodohkanku?
Apa mereka pikir aku tidak bisa menemukan namja yang lebih baik, hah?

Aku menatap sedih rerumputan...
Ya, benar... aku memang tidak pernah bisa mendapatkan namja yang baik. Buktinya aku selalu disakiti oleh namja yang aku sukai, seperti saat ini...

Ini benar-benar menyiksaku...

“Ne... aku akan pulang sekarang...” Jawabku mengalah.

Lagi pula, apa yang harus aku tunggu?
Namja itu tidak akan pernah datang lagi, mungkin aku hanya sesuatu yang tidak penting untuknya.

Tapi kenapa dia begitu baik dan terasa begitu tulus?

Ah, aku gila!

Namja menyebalkan!

“Kalau begitu cepat pulang, aku sudah membuatkan sup untukmu. Sampai jumpa di dorm.” Ujar Hara-ah dan langsung memutuskan hubungan telponnya.

Aku kembali menatap langit, mencoba untuk menahan air mataku yang ingin tumpah.

Aku begitu bodoh, karena kembali harus merasakan rasa sakit itu lagi. Untuk yang kesekian kalinya. Sangat bodoh!
Sama sekali tidak pernah bisa belajar dari pengalaman.
Bodoh!
.....
“Eomma...” Keluhku pada Eomma melalui handphone, yang memaksaku untuk menemui namja yang akan di jodohkan padaku.

“Sampai kapan kau selalu menolak apa yang Eomma  dan Appa pinta, hah?”

Aku mengacak-acak rambutku frustasi. Aku bahkan belum sembuh dari rasa sedihku karena Yesung-sunbaenim, tapi Eomma dan Appa malah menyuruhku untuk bertunangan dengan namja yang mereka pilih.

“Eomma, aku masih kuliah.” Aku mencoba memberikan alasan.

“Hanya itu alasanmu dari kemarin, Eomma bosan mendengarnya. Lagi pula kau hanya akan bertunangan dengannya, bukan menikah.” Tekan Eomma pada kata ‘bertunangan’ dan ‘menikah’.

Aku diam, sangat sulit untuk berdebat dengan Eomma.

“Kau ingin jadi anak durhaka karena melawan Eomma, hah?”

Aish...

“Aniyo... Eomma...” Aku sudah kehabisan kata-kata untuk menolak permintaan Eomma.

“Hari minggu ini kau harus pulang, karena keluarganya akan datang kerumah kita.”

“Mwo?!” Aku terkejut mendengar ucapan Eomma. “Kenapa begitu cepat?”

“Eomma tidak mau tahu, kau harus datang. Annyeong...”

Aku manatap handphoneku shock!

Apa-apaan ini?

Aish...
Jinjjayo?
Bertunangan...
Aku gila!

“Waeyo Hyemi-ya?” Tanya Hara yang menghampiriku di ruang tv.

Aku menatapnya sedih. “Hara-ya...” Kali ini aku tidak bisa membendung air mataku lagi yang entah kenapa mengalir begitu saja. “Aku akan bertunangan. Eotteohke?” Aku memeluknya erat.

“Mwo? Kenapa begitu cepat? Ternyata orang tuamu benar-benar serius dengan pertunangan itu, Hyemi-ya.”

“Ah, eotteohke? Aku tidak ingin Hara-ya. Bagaimana kalau aku tidak bisa mencintainya? Bukankah itu hanya akan menyakitinya nanti?” Tanyaku padanya di sela isakan tangisku.

Dia langsung melepaskan pelukanku dan menatapku lembut. “Jangan menangis Hyemi-ya Kau pasti bisa mencintainya karena aku tahu orang tuamu pasti menjodohkanmu dengan namja yang baik.” Ucapnya yakin.

Aku menghapus air mataku dengan tanganku, dan tersenyum menatap chingu-ku itu. Setidaknya itu dapat membuat hatiku menjadi sedikit baik.

“Kau harus yakin.” Dia tersenyum menatapku. “Fighting Hyemi-ya.” Ujarnya dengan semangat. “Mungkin memang namja itu jodhmu, bukan namja yang selalu kau tunggu di taman itu.”

Ucapannya membuatku terdiam dan kembali merasakan rasa sedih itu. Aku tahu pilihan orang tua memang selalu baik. Tapi... aku ujur aku masih sulit untuk menerima pertunangan ini. Masih ada sedikit keyakinanku kalau namja yang aku tunggu itu akan datang.

Tapi...

Baiklah, aku akan mencoba menerima permintaan Appa dan Eomma-ku kali ini. Aku juga yakin mereka pasti akan memberikan yang terbaik untukku nantinya.

Tidak ada salahnya kan mencoba walaupun aku sendiri masih tidak terlalu yakin untuk itu.

Lagi pula, mau sampai kapan aku selalu hidup sendiri. Tanpa pernah merasakan cinta...

Mungkin nantinya dengan namja itu aku bisa merasakan cinta yang belum pernah aku rasakan, atau bahakan kami akan sama-sama saling mencintai nantinya. Tidak seperti saat ini dan dulu, dimana cintaku yang selalu bertepuk sebelah tangan.

Tuhan, semoga namja itu nantinya juga mencintaiku. Untuk kali ini biarkan aku merasakan cinta yang tulus itu...

*****

Shin Hyemi’s side :
Aku duduk di bangku favoritku di taman. Seperti biasa mencoba untuk mencari inspirasiku yang baru.

Aku berpindah dan duduk di ayunan, sambil mendengarkan musik dari handphoneku yang aku letak di meja taman.

Aku menatap langit yang mulai gelap, sepertinya akan turun hujan lagi. Entah kenapa cuaca saat ini selalu mendung, seolah mengerti dengan apa yang aku rasakan. sebuah kesedihan!

Aku rindu bermain ayunan dengan Hara. Dulu aku dan dia sangat sering bermain di taman ini. Taman ini sudah seperti tempat favorit untuk kami. Tapi sekarang dia terlihat sibuk dengan pekerjaannya dan namja-namja yang mendekatinya. Dia begitu populer di kampus, sangat berbeda sekali dengan diriku yang biasa ini. Tapi aku senang menjadi biasa walaupun tidak bisa dipungkiri kalau terkadang aku cemburu dengannya.

Menjadi biasa membuatku merasa nyaman melakukan apapun tanpa harus merasa terganggu ataupun risih dengan tatapan orang yang selalu tertuju padaku.

Ah, aku belum mendapatkan inspirasi. Apa yang harus aku tulis untuk ceritaku kali ini, aku bingung.

Aku tersenyum sedih mengingat hari minggu yang akan tiba dua hari lagi. Aku benar-benar akan gila jika memikirkannya. Tapi sepertinya cerita tentang perjodohan memang sedang banyak terjadi kali ini. Apa aku juga harus menuliskan ceritaku yang dijodohkan itu?

Ya, sebenarnya untuk dijadikan sebuah cerita tidak terlalu buruk. Apa salahnya untuk mencoba, tentunya dengan ditambahkan dengan khayalanku yang akan menulis happy ending. Entah kenapa semua cerita yang aku buat selalu berakhir dengan bahagia.

Walaupun diawal kisah sedih tapi akhirnya selalu bahagia. Sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang aku alami. Hahaha...
Sangat lucu, sampai membuatku ingin menangis.

Yak! Kenapa kisah cintaku begitu menyedihkan?

Ah, baiklah aku tidak akan mengeluh lagi.

Semangat Hyemi-ya!

Aku kembali duduk di bangku favoritku dan langsung menuliskan beberapa kalimat di buku catatanku. Hari aku tidak membawa laptopku karena punggungku sakit, hampir setiap hari aku membawanya kemana-mana.

Hari ini aku akan membuat sebuah kisah tentang hidupku dan sebuah kenyataan kecil tentang betapa menyedihkannya kisah cintaku ini.

Aku duduk di taman ini, selalu menunggunya...
Entah apa yang membuatku begitu merasakan kehilangan akan sosoknya. Aku belum mengenalnya lama. Hanya satu minggu, tapi satu minggu terasa begitu lama untukku, sehingga membuatku begitu kehilangan akan sosok itu. Dia memasuki kehidupanku dengan begitu biasa dan secara perlahan dia menjadi inspirasiku. Aku membutuhkannya...

Tapi aku tidak bisa menemukannya lagi. Padahal aku hanya ingin berada di dekatnya, ada sesuatu yang hilang di hatiku ketika aku tidak bisa melihatnya lagi. Sesuatu yang membuatku merasakan sakit saat mengingatnya. Sakit karena aku terlalu merindukannya.

Aku menuliskan kata-kata itu di buku catatan hitam favoritku yang selalu kubawa kemana-mana.

Walaupun aku tidak bisa melihatnya lagi, setidaknya aku masih menyimpan sosoknya dalam hatiku.

Ah, perjodohan itu...
Aku takut jika aku tidak bisa menyukai namja itu...

“Hyemi-ya...”

Aku berhenti menulis dan terdiam.
Aku langsung merasakan debaran jantungku yang tidak teratur, saat mendengar suara itu. Hanya karena suara itu!

Aku mengangkat wajahku dan menemukan sosok yang begitu kurindukan berdiri di depanku, dengan senyum manis itu.

Rasanya aku ingin berlari kearahnya dan memeluknya dengan begitu erat agar dia tidak bisa pergi lagi. Tapi aku tidak memiliki kuasa untuk melakukan itu, hanya dia terpaku menatapnya yang tersenyum begitu manis. Aku hanya dapat diam tanpa bisa melakukan apapun. Bahkan untuk tersenyum pun aku tidak bisa. Air mataku sudah berkumpul di pelupuk mataku, ingin segera keluar, namun aku mencoba untuk menahannya semampuku. Aku tidak boleh menangis!

Sudah terlalu banyak air mata yang aku keluarkan hanya untuk menangisinya karena kerinduanku. Aku tidak boleh menangis!

Dia berjalan mendekatiku dan duduk di depanku, selalu... selalu seperti itu setiap kami bertemu di taman.

Aku ingin berteriak dan memarahinya, karena menghilang begitu saja, membuatku cemas dan sedih. Aku ingin marah, namun mulutku seolah terkunci dengan sangat rapat. Aku hanya dapat diam melihatnya. Hanya diam!

“Apa kau merindukanku? Mianhae, aku tidak menemuimu, Hyemi-ya.” Ucapnya terdengar begitu sedih.

Tuhan, dia bahkan memanggil dengan panggil  tidak formal padaku. Sedangkan aku! Aku bahkan tidak pernah memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’ padahal dia sudah memintanya. Aku tidak bisa mengucapkan kata itu, itu terasa begitu sulit untuk di ucapkan. Sama halnya seperti mengucapkan kata maaf atau cinta. Sulit!

“Sepertinya kau tidak merindukanku? Padahal aku begitu merindukanmu, Hyemi-ya.” Ucapnya dengan sedih.

Aku ingin, sangat ingin membalas ucapannya dengan mengatakan betapa aku merindukannya, sangat merindukannya.

Tapi aku sadar itu hanya akan membuatku sakit nantinya.

Perjodohan itu!

Aku tidak bisa menolaknya, seandainya aku bisa. Aku sudah mengatakan padanya bahwa aku sangat merindukannya, bahwa aku sangat mencintainya dan bahwa aku sangat membutuhkannya. Tapi aku sadar, aku tidak bisa!

“Hyemi-ya...” Dia menatapku serius.

Aku hanya diam, berbicara berarti menangis! Dan aku sedang mencoba untuk menahan tangisku.

“Aku tidak berharap kau akan membalas ucapanku ini. Aku hanya ingin kau tahu satu hal bahwa aku... aku mencintaimu, Hyemi-ya.”

Kata itu...
Aku menunggu kata itu begitu lama untuk keluar dari seorang namja...

Penantian lamaku akhirnya datang, dan Tuhan mengabulkan doaku...
Tapi kenapa dia mengucapkannya sekarang? Kenapa tidak lebih awal. Di saat aku masih memiliki kesempatan untuk menolak perjodohan itu. Di saat aku masih memiliki kesempatan untuk mengenalkannya pada orang tuaku. Di saat...
Kenapa tidak lebih awal?

Aku semakin diam, mencoba menahan tangis dan air mataku yang semakin mendesak ingin keluar.

Kulihat dia berdiri dan masih terus tersenyum manis kearahku. Senyum yang begitu kusukai, namun ada kesedihan di balik senyum manisnya itu...

“Aku hanya ingin mengatakan itu. Mianhae... jika itu membuatmu tidak nyaman. Dan... mianhae karena aku tidak bisa menemuimu lagi, Hyemi-ya. Annyeong higaseyo...” Dia berbalik dan berjalan pergi meninggalkanku dengan tidak lupa meninggalkan sebuah senyuman manis kepadaku. Senyum terakhir yang bisa aku lihat.

Butiran air mata turun secara perlahan melalui sudut mataku seiring dengan kepergiannya...

Aku menatap punggungnya yang semakin menjauh, tanpa bisa melakukan apapun. Aku sangat ingin mengejarnya dan mengatakan kalau aku juga mencintainya, sangat mencintainya!

Bodoh!
Aku adalah orang paling bodoh di dunia ini!
Membiarkan pergi cinta yang telah lama aku tunggu. Membiarkannya pergi begitu saja, tanpa mampu untuk mencegahnya sedikitpun.

Bodoh sekaligus menyedihkan!

Tangisku semakin keras, aku bahkan sudah tidak memperdulikan rintikan hujan yang turun membasahi tubuhku.

Air hujan yang turun seolah mewakili tangisku untuk menyampaikan kepadanya bahwa aku menangis karena tidak bisa membalas ucapannya.

Aku membiarkan tubuhku basah dengan air hujan yang turun dari langit. Seperti orang bodoh menangis ditengah hujan.

Aku sangat menyukai hujan. Hujan seolah lambang kesedihan dan kesunyian yang aku rasakan selama ini, sangat sendu...

Aku sudah tidak bisa  lagi menahan tangis yang sudah kutahan beberapa hari terakhir ini. Semua keluar begitu saja, mengeluarkan semua sakit yang aku rasakan tanpa membiarkan sedikit sakit pun tersimpan di hatiku.

Tuhan...
Kenapa kau membiarkanku untuk tidak bisa memilikinya?
Apakah dia memang bukan jodohku?
Lalu kenapa, kau membuatku jadi begitu mencintainya? Ini sangat menyakitkan, melihatnya yang pergi begitu saja tanpa bisa aku tahan. Padahal aku mencintainya dan dia juga mencintaiku.

Kenapa begitu tidak adil!

Ini pertama kalinya aku mendengar seseorang mengatakan kata-kata indah itu!

Kenapa begitu tidak adil terhadapku. Aku juga ingin merasakan cintanya padaku. Ini sangat tidak adil...

*****



To be continued...
Please laeve your comment...
Gomawo
SF_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar