Welcome to My World

Rabu, 22 Agustus 2012

Fanfiction - Look at Me!


Tittle : Look at Me!
Author : Siti Fajriani (Shin Hyemi)
Genre : Romance
Cast : Lee Hyukjae, Park Hyunji, Lee Donghae, Park Hima.

Happy Reading...

*****

Setiap orang selalu berharap akan kisahnya yang berakhir dengan bahagia, namun selalu ada rintangan untuk menuju bahagia. Bahkan terkadang, kita harus merasakan rasa yang begitu sakit untuk hal itu. Walalupun begitu, tidak jarang semuanya hanya berakhir dengan sia-sia, sebuah kesedihan.

*****

Kisahku dimulai saat aku menerima cinta seorang namja di kampusku. Dia adalah Lee Hyukjae, atau orang lebih sering memanggilnya dengan Eunhyuk. Dia adalah namja tampan yang sangat hebat dalam dance. Dan aku tertarik padanya saat aku melihatnya dance di ruang tari kampusku. Ketika aku tidak sengaja melewati ruangan itu...


.....


Aku tersenyum senang melihatnya yang datang menghampiriku dengan dua gelas cappucino di tangan kiri dan kanannya.

“Maaf membuatmu menunggu lama.” Ujarnya sambil menyodorkan cappucino yang ada di tangannya, dan langsung duduk di sebelahku. Aku menerimanya.

Aku menatap capuccino hangat yang sekarang berpindah tangan padaku. Dia sangat menyukai cappucino ini, dan... tidak untukku.


“Kenapa hanya diam, ayo diminum, ini bisa menghangatkanmu karena cuaca yang dingin ini.” Ucapnya dengan senang.

Aku memaksakan senyumku padanya.  “Ne...” Jawabku pelan, sambil sedikit merasakan cappucino pemberiannya. Aku tidak menyukai rasanya. Aku ingin es krim, walaupun sekarang cuaca sedang dingin, aku lebih menyukai es krim dari pada minuman yang ada di tanganku ini.

Dia sama sekali tidak pernah bertanya apa yang aku sukai dan apa yang tidak aku sukai. Dia menganggap semuanya sama, sama seperti saat dia dulu bersama dengan yeoja itu.

*****

Aku menatap layar handphoneku yang menampilkan foto namjachingu-ku yang tersenyum manis menatap kamera. Senyumnya benar-benar memikat hatiku. Aku mengambilnya diam-diam dari handphone-nya.

“Berhentilah menatap handphone-mu, kau bisa membuat layarnya pecah, Hyunji-ah.” Tegur sahabatku, Park Hima.

Aku menatapnya kesal, selalu saja merusak mood-ku.

“Kenapa kau di sini? Bukankah kau ada jam kuliah?” Tanyaku padanya yang sekarang sibuk dengan game di handphone-nya.

“Aku sedang tidak ingin belajar, makanya aku bolos.” Ucapnya dengan santai tanpa mengalihkan pandangan dari handphone-nya.

Aku menatapnya kesal, benar-benar santai. Apa dia tidak memikirkan bagaimana nilainya nanti. Aku yang sudah rajin saja tidak bisa mendapatkan nilai yang sempurna, bagaimana dengannya yang santai ini. Pasti akan sangat hancur.

“Kau benar-benar mencintainya, Hyunji-ah?” Tanyanya yang kali ini menatapku dengan serius.

“Eunhyuk-ah?” Tanyaku memastikan.

Dia menganggukkan kepalanya. “Ne, siapa lagi selain dia, atau apakah kau memiliki dua namjachingu?” Tanyanya menyelidik.

“Kau pikir aku yeoja seperti apa, hah?!” Aku menatapnya galak. “Tentu saja aku mencintainya, dia benar-benar membuatku gila, kau tahu? Melihatnya tersenyum saja membuat hidupku bahagia.” Ceritaku sambil tersenyum senang mengingatnya.

“Kau gila!” Umpatnya padaku.

“Yak! Kau!”

“Apa aku salah? Itu kan memang kenyataan?”

Ne, itu memang kenyataan. Aku gila karenanya.” Aku mengakuinya.

Dia menatapku dengan jijik. “Yak! Kau benar-benar terlihat mengerikan, Hyunji-ah.”

Wae? Ini kan wajar karena aku sedang jatuh cinta.” Ujarku lagi. “Seperti kau tidak saja saat bersama Kyuhyun.”

“Tapi tidak seperti kau, Kyuhyun lebih mencintaiku dan itu terlihat, sedangkan kau, kau terlihat begitu mencintainya dan mengejar-ngejarnya. Itu memalukan untuk seorang yeoja!”

Aku terdiam mendengar kata-kata Hima-ah. Itu terdengar begitu kasar, tapi aku tahu itu benar. Aku yang begitu meyukainya, aku yang begitu mengejar-ngejar cintanya, aku yang... lebih mencintainya dari pada dia mencintaiku...

Mianhae... ucapanku kasar. Tapi itu lah yang aku lihat saat kau bersamanya.” Ujar Hima-ah pelan.

Aku tersenyum tipis menatapnya. “Kau benar, memang aku yang begitu mencintainya. Dan karena itu, aku akan membuatnya melihatku dan mencintaiku.” Ujarku dengan senang.

Fighting Hyunji-ah!” Dia memberikanku semangat.

*****

“Eunhyuk-ah...” Aku berjalan cepat menghampirinya yang duduk santai di taman sambil mendengarkan lagu dengan headset-nya.

Aku tersenyum menatapnya, dia masih asyik dengan handphone-nya, tidak menyadari kehadiranku. Dari dulu aku selalu menyukai namja yang duduk santai sambil mendengarkan musik dengan haedset-nya, seperti Eunhyuk-ah saat ini.

Aku duduk di sampingnya, dia langsung menoleh kearahku dan tersenyum menatapku.

Dia langsung melepaskan heaadset-nya. “Apa kau sudah tidak ada kelas lagi?” Tanyanya.

“Masih ada, setelah jam makan siang.” Jawabku malas.

“Kau pasti sangat lelah, Hyura-ah...”

Ne?” Tanyaku.

“Kau pasti lelah, dengarkan lagu ini, kau pasti akan merasa tenang.” Dia langsung memasangkan headset-nya padaku.

Aku mendengar alunan musik lembut itu. Ya... musik dan suara yang menenangkan.

“Lagu yang bagus.” Ucapku.

“Ini kan lagu kesukaanmu, Hyura-ah. Aku selalu mengingat...”

“Eunhyuk-ah, sepertinya aku harus pergi sekarang.” Potongku langsung, sambil beranjak dari dudukku. Padahal aku masih ingin duduk di sampingnya.

“Bukankah kau masuk setelah jam makan siang, dan itu dua jam lagi. Kenapa buru-buru?” Tanyanya mencegahku.

Aku memakasakan senyumku padanya. “Aku lupa kalau aku ada sedikit urusan. Sampai jumpa lagi nanti.” Ucapku dan langsung pergi meninggalkannya, sebelum dia kembali bertanya-tanya padaku.

Aku berjalan pelan, menatap hampa kearah rerumputan, sambil memegang dadaku yang terasa begitu sakit.

Apa?? Hyura?!
AKU PARK HYUNJI, Eunhyuk-ah!!
Bagaimana bisa kau salah memanggil yeojachingu-mu sendiri, hah!
Apa nama itu terdengar sama di telingamu?

Aku mencoba menghapus air mataku yang menghalangi pandanganku...

Bruk!!

Aku berdiri, menatap kumpulan buku dan kertas-kertas yang berserakan di depanku. Aku langsung menghapus air mataku dan membantu orang yang tidak sengaja aku tabrak sampai semua buku dan kertas-kertas yang di bawanya jatuh berserakan.

Mianhamnida... mianhamnida...” Ucapku berkali-kali meminta maaf atas kebodohanku.

Ne, gwaenchanayo...” Ucapnya menenangkanku yang panik.

Aku memberikan padanya kertas-kertasnya berserakan yang berhasil aku kumpulkan.

Gamsahamnida...” Dia menerima kertas yang ada di tanganku.

Aku kembali mengumpul kertas yang tersisa.

“Maaf, kau menangis, Aghassi?” Tanyanya.

Aku menatapnya lama, sedikit tersinggung dengan ucapannya. Tidak sopan menanyakan hal itu pada orang yang tidak di kenalnya.

Aku tidak mengubris pertanyaannya dan dengan cepat mengumpulkan kertas-kertas itu. Aish, kenapa dia banyak sekali membawa kertas foto copy-an sih, membuatku repot saja.

Aku kembali menyerahkan kertas terakhir yang aku kumpulkan dan langsung berdiri, hendak pergi meninggalkannya. Aku rasa ini sudah cukup sebagai permintaan maaf padanya karena tidak sengaja menabraknya.

“Ah, kita belum berkenalan.” Dia mencegahku untuk pergi. “Annyeong haseyo, Lee Donghae imnida.” Dia tersenyum manis sambil  mengulurkan tangannya ke arahku.

Aku menatap uluran tangannya dengan aneh. Aku sedang tidak ingin berkenalan dengan siapapun, yang sekarang aku butuhkan adalah menyendiri untuk menghilangkan rasa sedihku.

Park Hyunji imnida.” Ucapku sambil membalas uluran tangannya dengan cepat. Dan langsung berjalan pergi meninggalkan namja aneh itu.

Kenapa harus berkenalan? Nantinya juga aku tidak akan bertemu dengannya. Dan alasan apa yang harus membuatku bertemu dengannya. Dasar namja aneh, mengerikan!

*****

Aku mendesah lelah setelah sampai di atap gedung kampus. Setelah sebelumnya aku membeli satu kaleng minuman soda, untuk melepaskan dahagaku saat harus menaiki tangga menuju atap kampus.

Langkahku terhenti saat melihat seorang namja yang berdiri sambil menopang kedua tangannya di pagar pembatas dengan menatap ke arah langit. Begitu menikmati tiap hembusan angin yang menerpa tubuhnya.

Aku berjalan pelan menuju pagar pembatas itu juga, dan berdiri sambil menyandarkan kedua tanganku pada pagar pembatas itu, menatap langit. Posisi yang sama seperti namja yang ada di sampingku. Memejamkan mata sambil menikmati hembusan angin yang juga menerpa tubuhku.

“Kau meniruku.”

Aku membuka mataku dan menoleh ke arah namja itu yang menatapku dengan senyumannya.

Aku menatapnya dengan bingung.

“Kita bertemu lagi Hyunji-ssi.”

Lagi? Aku mencoba mengingat siapa namja yang ada di depanku ini, aku tidak pernah mengingat kalau aku pernah bertemu dengannya. Tapi, sepertinya wajah itu cukup familiar...

“Kau...”

“Lee Dnghae.” Dia kembali tersenyum menatapku.

Ah, aku ingat. “Ne, Lee Donghae-ssi, annyeong...” Sapaku dengan senyuman. Sepertinya dia bukan orang yang jahat, kenapa aku harus selalu menatapnya tidak bersahabat.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” Aku membuka pembicaraan.

“Hanya ingin menikmati pemandangan, aku memang sering berada di sini.” Jawabnya.

“Oh ya? Aku juga sering datang kemari, tapi kenapa kita tidak pernah bertemu ya?” Tanyaku, seharusnya kami sering bertemu di sini.

“Entahlah aku juga tidak tahu. Mungkin takdir memang sudah menuntun kita sejak insiden kemarin.” Ucapnya sambil kembali menatap langit.

Aku sedikit bingung dengan ucapannya dan kembali ikut diam.

“Maaf jika ini membuatmu terganggu, tapi aku benar-benar penasaran kenapa kau menangis kemarin.”

Aku menoleh ke arahnya yang masih tetap pada posisinya yang menatap langit sambil memenjamkan matanya.

“Kenapa kau ingin tahu?” Aku balik bertanya.

“Entahlah aku tidak tahu, hanya saja ada sesuatu di dalam diriku yang ingin tahu semua tentangmu.” Ucapnya pelan.

Aku semakin bingung dengan ucapannya yang aneh itu. Rasanya lebih baik aku diam saja dari pada harus mendengar kata-katanya yang aneh itu.

Ah, aku merindukan namjachingu-ku itu...
Kenapa dia tidak ada menghubungiku dari sejak kemarin di taman. Apa dia tidak merindukanku?

“Kau sedang memikirkan seseorang?”

Aku kembali menoleh ke arahnya yang kali ini menatapku, merasa sedikit aneh dengan tatapannya.

“Donghae-ssi... kau...” Ucapanku terhenti oleh deringan handphone-ku di saku celana jeansku.

Aku langsung melihat layarnya, dan tersenyum senang melihat nama yang tertera di layar handphone-ku, Yeobo-ah. Namanya yang aku buat di handphone-ku. Padahal pada kenyataannya kami tidak pernah memanggil sayang satu sama lain, hanya nama. Itu saja...

“Aku harus menjawab panggilan ini dulu, tunggu sebentar.” Aku berjalan menjauhinya.

*****

Sudah satu minggu ini aku selalu bertemu dengan namja aneh itu di atap, siapa lagi kalau bukan Lee Donghae. Aku memang sering bingung dengan ucapannya yang terkadang memang aneh dan selalu menanyakan hal-hal yang membuatku risih. Walaupun aku sudah menerimanya sebagai teman. Hei, kami berteman! Dan dia adalah satu-satunya teman namja yang cukup dekat denganku. Ehm... maksudku itu mungkin karena kami sering bertemu secara tidak sengaja.

Aku  akui, bersama dengannya memang menyenangkan. Dia orang yang sangat ramah, humoris dan bisa mencairkan suasana. Dan satu hal yang paling aku sukai darinya adalah, dia bisa bermain gitar! Aku benar-benar menyukai namja yang bisa bermain gitar.

Kalau boleh aku jujur, dia adalah tipe idealku. Tapi aku tidak bisa mengganggapnya lebih dari seorang teman. Dan aku menyukainya hanya sekedar suka dengan teman yang memiliki suatu kelebihan.

Lain rasanya jika aku bersama dengan Eunhyuk-ah. Rasanya lebih bahagia jika di sampingnya, walaupun dia masih saja terus salah memanggil namaku. Pada akhirnya aku sudah terbiasa dengan hal itu, namun tetap saja ada rasa sakit yang terselip di hatiku setiap kali dia salah memanggil namaku.

“Kau pasti sedang sedih, kan?” Tanya Donghae-ah kembali membuka pembicaraan setelah beberapa saat kami saling diam.

Aku menatapnya dengan sedikit kesal. “Kenapa kau selalu ingin tahu tentangku, hah?”

“Bukankah kita teman? Apa salahnya saling mengetahui satu sama lain, mungkin dengan begitu kita bisa menjadi lebih dekat.” Jawabnya.

Aku memikirkan kata-katanya, ucapannya ada benarnya juga. Mungkin dengan begitu kami bisa saling mengenal satu sama lain dan aku juga memang membutuhkan tempat untuk curhat, karena jika aku curhat pada Hima-ah pasti dia akan memarahiku karena kebdohanku yang masih tetap ingin bertahan dengan Eunhyuk-ah.

“Kalau aku cerita, kau juga harus cerita padaku, bagaimana?” Tanyaku meminta kesepakatan.

Dia tersenyum dan langsung menganggukkan kepalanya.

Aku menatap kearah langit yang mendung, sepertinya hari ini akan hujan lagi setelah kemarin juga hujan.

“Kau tahu, aku sedang kesal dengan namjachingu-ku. Dia...”Aku menggantung ucapanku masih bingung bagaimana harus menceritakannya. Aku yakin dia pasti akan mengatakan aku bodoh setelah mendengar ceritaku ini.

“Dia kenapa?” Tanya penasaran.

“Sebenarnya aku tidak kesal, hanya saja aku sedih karena setiap kali dia selalu menyebut namaku dengan nama mantan yeojachingu-nya. Kau tahu bagaimana sakitnya?” Tanyaku padanya yang pasti tidak akan tahu apa yang aku rasakan. “Rasanya sangat sakit, sampai membuatmu ingin menerjunkan diri ke jurang, menangis dengan kencang atau berteriak seperti orang gila untuk menghilangkan rasa sakit itu.” Jelasku padanya. “Pasti kau tidak percaya dengan ucapanku, kan?” Tanyaku  dengan sedih. “Kau pasti menganggapku gila dan begitu bodoh, kan?

“Aku percaya apa yang kau ucapkan, Hyunji-ah. Dan... harusnya dia sangat bersyukur mendapatkan yeoja yang begitu mencintainya.”

Aku menatapnya aneh yang tersenyum begitu manis ke arahku. Aku tersenyum membalas senyumnya. “Sayangnya dia tidak bersyukur akan hal itu.” Aku mendengus kesal. “Lalu apa saranmu untukku sebagai seorang teman?”

“Carilah cinta yang baru.”

Mwo???”

Dia tertawa kecil menatapku yang terkejut mendengar ucapannya. “Aku hanya bercanda, Hyunji-ah.” Dia langsung diam, seolah berpikir. “Hmm, menurutku, tetaplah untuk mencintainya, aku yakin suatu saat nanti dia akan merasakan tulusnya cintamu untuknya. Percayalah akan kekuatan cinta.”

Aku menatapnya takjub, ini pertama kalinya aku mendengarnya yang berbicara dengan begitu bijak.

Gomawo atas dukunganmu, Hae-ah.”

*****

“Eunhyuk-ah... kau sibuk?” Tanyaku padanya yang menghampirinya yang duduk santai di taman.

Ani, waeyo?” Tanyanya melihatku sekilas lalu sibuk dengan handphone-nya.

“Apa kau mencintaiku?” Tanyaku, aku sendiri bingung kenapa malah pertanyaan itu yang aku ucapkan, padahal tadinya aku hanya ingin mengajaknya ke perpustakaan untuk membantuku belajar.

Dia menatapku dengan aneh, seolah mengatakan ‘apa yang kau bicarakan, Hyunji-ah?’

Aku memaksakan senyumku tersungging. “Bisa bantu aku belajar? Ada beberapa bahan yang tidak aku mengerti.” Aku langsung mengganti topik pembicaraan karena yakin dia tidak akan menjawab pertanyaanku. Walaupun sebenarnya aku sangat ingin mendengar jawabannya yang mengatakan ‘ya, aku mencintaimu, Hyunji-ah’. Bukankah itu terdengar begitu indah?

“Baiklah, tapi aku tidak punya banyak waktu, karena aku harus latihan dance dengan teman-temanku.” Jawabnya setuju.

Aku langsung tersenyum senang menatapnya dan langsung menarik tangannya untuk mengikutiku. Merasakan hangat tangannya dalam genggamanku membuatku senang dan merasa begitu bahagia.

*****

Sudah seminggu ini aku tidak bertemu dengan Eunhyuk-ah. Bahkan saat aku ke taman pun, aku tidak pernah melihatnya yang duduk di bangku favoritnya sambil mendengarkan musik.

Dia tidak menghubungiku untuk memberikanku kabar, karena memang sebelumnya dia tidak pernah pertama kali menghubungiku. Selalu aku yang memulai, bahkan untuk saling berkirim pesan pun begitu. Dia hanya satu kali memulai menelpon, saat aku di atap bersama dengan Donghae-ah, aku selalu ingat saat itu. Itu pertama kalinya, bagaimana aku bisa melupakannya. Dan dia mnghubungiku juga hanya mengatakan kalau ingin meminjam buku catatanku.

Tidak pernah mengatakan kalau dia merindukanku, menyayangiku, apa lagi mencintaiku. Apa jangan-jangan dia memang tidak mencintaiku sama sekali? Tapi kenapa menerima cintaku saat aku menyatakan perasaanku padanya?

Ini menyakitkan, mengingatnya yang sama sekali tidak peduli dan acuh padaku. Apa cintanya begitu besar untuk Hyura-ssi mantannya itu?

Kenapa masih tetap menyukai yeoja yang sudah jelas mencampakkannya? Dasar namja bodoh! Sampai kapan aku harus membuatmu sadar kalau aku yang selalu ada di sampingmu, selalu.

“Kenapa kau begitu sering melamun, hah?”

Aku menoleh ke belakang dan langsung tersenyum senang, menatap Donghae-ah yang berjalan mendekatiku. Atap gedung kampus sepertinya menjadi tempat favorit kami berdua, karena di tempat ini lah kami selalu bertemu.

“Melamun itu menyenangkan, terlebih jika mengkhayal. Karena hanya dengan berkhayal lah aku menjadi bahagia, karena semua impianku tercapai untuk sesaat.” Jawabku.

Dia sudah berdiri di sampingku, menatap langit lalu memejamkan matanya. Hal yang selalu dia lakukan, merasakan tiap hembusan angin yang menyentuh kulitnya.

“Hati-hati, karena khayalan itu akan membuatmu tertinggal jauh di belakang. Kecuali kau mampu untuk mengubahnya menjadi nyata.”

Aku tersenyum mendengar ucapannya. Dia benar, hanya berkhayal akan membuatku tidak bergerak maju.

“Ada apa lagi denganmu? Bermasalah lagi dengan kekasihmu?”

Aku tertawa kecil mendengar pertanyaannya. Dia selalu tahu kalau ada masalah. Memangnya tertulis jelas ya di dahiku kalau aku sedang ada masalah?

“Dari mana kau tahu kalau aku sedang sedih?” Tanyaku.

“Bukankah jika sedih orang selalu membutuhkan tempat untuk sendiri?” Dia menatapku dengan senyum penuh kemenangan. “Dan semakin di kuatkan dari matamu. Mata mencerminkan isi hati.” Tambahnya lagi.

Aku mencerna ucapannya. “Kalau mata mencerminkan isi hati, kenapa dia tidak pernah menyadari kalau aku mencintainya.” Gumamku pelan, lebih menunjukkan untuk diriku sendiri. Yang membuatku kembali teringat dengan Eunhyuk-ah.

“Dia hanya belum menyadarinya saja.” Balas Donghae-ah.

Aku tersenyum menatapnya, ternyata dia mendengar ucapanku. Ya, mungkin Eunhyuk-ah belum menyadari rasa cintaku yang besar untuknya.

“Ya semoga dia cepat menyadarinya, sebelum aku berhenti untuk mencintainya.” Aku menatap langit sambil tersenyum, mencoba memberikan semangat pada diriku.

“Memangnya kau ingin berhenti mencintainya?” Tanya Donghae-ah yang sekarang menatapku dengan penasaran.

“Jika dia menyukai orang lain, kenapa aku harus terus memaksanya bersamaku? Itu hanya akan membuatnya sakit, bukan?”

Donghae-ah mengalihkan pandangannya seolah mencoba mencerna ucapanku. “Jika kau menyerah, aku akan ada menjadi penopang untukmu.” Ucapnya tulus.

Aku tersenyum menatapnya yang terlihat begitu tampan. Ya, dia memang tampan. “Gomawo...”

“Bukankah itu fungsinya teman?”

*****

“Hyunji-ah!!”

Aku menoleh ke sumber suara yang memanggil namaku. Dan tersenyum senang melihat Hima-ah yang datang menghampiriku.

Annyeong, Hima-ah. Sudah lama sekali rasanya aku tidak melihatmu.” Ucapku langsung.

Dia langsung duduk di sampingku, saat ini aku sedang ada di kantin kampus menikmati secangkir jus jeruk dingin sambil membaca sebuah novel romance.

Aku menghentikan kegiatan membacaku, merasa aneh dengan Hima-ah yang sepertinya terus menatap ke arahku. “Waeyo?” Tanyaku langsung.

Dia masih menatapku dengan tatapan menyelidik.

“Tidak mungkin itu terjadi, buktinya dia baik-baik saja.” Aku mendengarkan gumaman Hima-ah dengan aneh. Ada apa dengan sahabatku ini?

Wae wae wae? Kau membuatku cemas saja.” Tuntutku, memintanya untuk menjelaskan.

“Kau...” Aku melihatnya yang sedikit ragu. “Ah, tidak! Lupakan!”

“Yak! Jangan membuatku bingung sekaligus penasaran, Hima-ya!” Aku menatapnya dengan kesal. “Jelaskan ada apa?” Paksaku.

“Kau... putus dengan Eunhyuk-ah?”

Aku menatapnya terkejut. Apa yang dia bicarakan? Aku tahu dia memang tidak terlalu menyukai Eunhyuk-ah karena Eunhyuk-ah yang tidak peduli padaku, tapi bukan berarti dia harus berharap aku putus dengan Eunhyuk-ah.

“Tentu saja tidak!” Aku menatapnya marah. “Apa sih yang kau bicarakan?”

Dia terlihat takut, aku yakin pasti ada yang disembunyikannya dariku.

“Kenapa kau bisa sampai berpikir seperti itu, Hima-ya?” Tanyaku yang kali ini menjadi cemas. Pasti ada yang tidak beres, sampai dia berpikir seperti itu. Memangnya ada apa dengan Eunhyuk-ah?

“Aku... aku melihatnya jalan bersama dengan Hyura.”

Aku terdiam...
Mendengar nama yeoja itu saja sudah sukses membuat hatiku sakit. bagaimana jika aku melihat langsung mereka yang berjalan berdampingan, saling bergandengan tangan, serta tertawa bersama. Dia bahkan tidak pertama menggenggam tanganku lebih dulu. Kenapa harus selalu aku yang memulainya.

Apa itu penyebab dia menghilang sampai saat ini, sama sekali tidak menghubungiku dan memberikan kabar untukku yang selalu mencemaskannya setiap saat. Apa dia lupa kalau dia masih memiliki yeojachingu yang selalu setia menantinya. Setidaknya katakan putus jika ingin kembali dengan yeoja itu, bukan seperti ini. Ini terlalu menyakitkan dengan status yang masih berpacaran. Atau bahkan kau sudah lupa kalau mempunyai aku, Eunhyuk-ah?

Aku selalu ada di samping, bagaimana bisa kau melupakanku?

Aku memaksakan senyum ke arah Hima-ah yang pasti menatapku dengan cemas. “Gwaenchanayo, dia pasti memiliki alasan untuk itu.” Aku mencoba menenangkan kemarahan Hima-ah akan tindakan Eunhyuk-ah yang kembali membuatku sakit.

“Hyunji-ah, aku mohon... berhentilah untuk terus mencintainya. Cintamu terlalu berharga hanya untuk orang sepertinya.”

“Yak! Apa maksudmu dengan ‘orang sepertinya’, huh? Kau pikir dia apa?” Tanyaku mencoba untuk mencairkan suasana.

“Kau tidak perlu berusaha untuk tegar, aku mengenalmu dengan sangat baik. Kalau kau ingin menangis, maka menangislah. Menyimpan itu menyakitkan, Hyunji-ah”

Setetes air mata jatuh begitu saja melalui sudut mataku, tanpa aku perintah.

“Aku hanya ingin mencoba untuk tegar, Hima-ah.” Kali ini pertahanku runtuh, air mataku semakin deras. Aku menyembunyikan tangisanku di balik novelku.

“Berhentilah membohongi hatimu, Hyunji-ah!” Bentaknya. “Kau melihat sendiri fakta yang mengatakan kalau dia tidak mencintaimu, kenapa terus membohongi hatimu dengan mengatakan dia tidak seperti itu. Berhenti berpikiran positif tentangnya! Kau tahu kan itu hanya akan membuatmu semakin sakit!”

Tangisku semakin keras saat mendengar kata-kata Hima-ah yang semuanya memang benar. Aku sudah terlalu lama membohongi hatiku dengan selalu membuang pikiran negatif tentang Eunhyuk-ah.

Aku sadar kalau dia tidak mencintaiku, namun aku selalu menepis jauh-jauh pikiran itu. Dan sekarang, aku sudah terlalu jauh melangkah. Butuh waktu lama untuk dapat kembali seperti dulu.

“Aku mencintainya, Hima-ah... sangat!” Ucapku di sela isakan tangisku.

Apa aku bisa tanpanya
Apa ini saatnya untukku berhenti?
Aku belum siap, dan tidak akan pernah siap untuk itu!

*****

Aku kembali berjalan menuju taman setelah jam kuliahku selesai. Berharap dia yang aku rindukan duduk di bangku favoritnya sambil mendengarkan musik. Posisi yang selalu aku sukai saat melihatnya.

Kali ini kedatanganku tidak sia-sia karena aku melihatnya yang duduk di sana, namun kali ada yang berbeda dengannya. Di pangkuannya terdapat sebuah kue tart kecil dengan satu lilin yang menyala.

Aku menatapnya dengan aneh. Apa aku melupakan sesuatu yang penting hari ini? Aku ingat hari ini bukan ulang tahunnya, dan aku juga tidak sedang berulang tahun. Dan kami juga belum berpacaran satu bulan. Lalu itu untuk siapa?

Apa itu untukku? Sebagai permintaan maafnya karena telah menghilang begitu saja kemarin-kemarin. Aku melangkahkan kakiku dengan senang.

“Eunhyuk-ah...” Aku tersenyum riang menatapnya dan langsung duduk di sampingnya.

Dia hanya menatapku datar dan mencoba untuk memaksakan senyum. Tidak bisakah berbohong untuk sekali saja saat melihatku datang, menyambutku dengan senyuman manismu seperti setiap kali kau menatap Hyura-ssi. Kalaupun kau ingin memaksakannya tidak bisakah lebih sedikit terlihat biasa? Kenapa begitu kaku, seolah aku tidak lebih dari seorang yeoja yang akan mengganggu kesendirianmu.

“Apa itu untukku, Eunhyuk-ah?” Tanyaku langsung sambil menunjuk ke arah kue tart coklat yang ada di pangkuannya.

Dia terlihat sedih menatap kue itu. “Kau mau?” Tanyanya.

Aku tersenyum senang menatapnya sambil mengangguk cepat. Dia langsung menyodorkan kue itu kepadaku.

Gomawo...” Aku menerimanya dengan senang. Hei! Ini kue pertama yang dia berikan padaku, dan ini kue tart coklat. Aku suka coklat! Rasanya aku ingin berteriak untuk meluapkan rasa senangku. Aku bahkan lupa untuk memarahinya karena tidak memberikanku kabar.

“Tadinya itu ingin aku berikan pada Hyura, tapi dia tidak ada.”

Aku langsung menghentikan gerakan tanganku yang akan memakan kue itu, ketika mendengar kata-katanya.

“Jika kami masih bersama ini adalah hari jadi kami yang kedua.” Suaranya terdengar berat dan sedih.

Tapi apa dia tahu bagaimana sakitnya hatiku mendengarkan ceritanya itu. Tidak bisakah mengatakan ceritanya kepada orang lain? Tidak bisakah untuk sekali saja tidak menyakitiku? Tidak bisakah untuk sekali saja tidak membuatku menangis dan merasakan sakit? Tidak bisakah untuk sekali saja membuatku tersenyum tanpa harus merasakan sakit?

Aku menatap kue tart coklat yang berada di atas tanganku dengan sedih.

Hyura-ah...
Kau sangat beruntung bisa dicintai oleh namja ini dengan begitu tulus. Kenapa kau berpisah dengannya? Kenapa kau malah memilih namja yang akan di jodohkan orang tuamu? Lihatlah sekarang akibat perbuatanmu, dia sama sekali tidak bisa melihat yeoja lain. Hanya kau! Hanya kau yang mengisi seluruh hati dan pikirannya!
Kau benar-benar beruntung, aku iri padamu!

Aku mengerjapkan mataku berulang kali mencoba memaksa air mataku untuk kembali masuk. Aku memegang dadaku yang terasa begitu sakit, aku benci debaran menyakitkan ini!

Aku menoleh ke arah Eunhyuk-ah yang terlihat begitu sedih. Yang membuatku semakin menekan rasa sakit yang menyeruak dari dalam dadaku.

“Eunhyuk-ah...” Aku mencoba meredam suara serakku akibat menahan tangis. “Apa kau mencintaiku?” Tanyaku begitu pelan, karena aku tidak bisa lagi untuk mengatakannya dengan lantang. Tangisku sudah ingin keluar.

Aku hanya berani menatap rerumputan, jika aku menatapnya aku yakin, aku tidak akan bisa lagi menahan tangisanku. Terlebih aku tidak sanggup mendengar jawabannya yang mengatakan ‘tidak’.

“Sebegitu sulitkah menjawabnya?” Tanyaku lagi setelah dia hanya diam tidak menjawab pertanyaanku yang mudah. “Kau hanya perlu menjawab ‘iya’ atau ‘tidak’, aku tidak memintamu untuk menjelaskan sesuatu.” Kali ini aku sudah bisa lagi menahan air mataku yang jatuh begitu saja.

Aku langsung beranjak dari dudukku dan meletakkan kue yang ada di tanganku di sampingnya. “Maaf...” Aku langsung melangkahkan kaiku cepat pergi menjauhinya.

Kau bahkan sama sekali tidak mengejarku, Eunhyuk-ah...
Kenapa kau menerima cintaku saat itu? Apa aku hanya pelarian saja untukmu? Atau kau hanya ingin agar Hyura cemburu malihatku? Sehingga membuatnya kembali padamu! Apa itu tujuanmu selama ini, Eunhyuk-ah!

Kau jahat! Sangat jahat!

*****

“Kau menyerah?” Tanya Donghae yang duduk di sampingku sambil bersandar di pagar pembatas atap gedung kampusku, tempat favoritku dan dia.

“Apa lagi yang bisa aku tahan? Jika pada akhirnya semua akan menjadi sia-sia. Mungkin ini adalah titik puncak rasa lelahku untuk tetap bertahan dengan cinta sepihak ini.” Ucapku diplomatis, menerawang ke arah langit senja.

Jam kuliah sudah berakhir sejam yang lalu, namun langkah kakiku seolah berat untuk membawaku pulang. Aku masih ingin di sini. Menatap langit yang berwarna oranye dengan beberapa semburat pink yang menghiasinya. Indah dan menentramkan.

“Tapi kau masih mencintainya, kan?”

Aku tersenyum tipis, masih tetap menatap ke arah langit. “Akan butuh waktu lama untuk menghilangkan rasa cinta ini, aku bahkan ragu apakah aku bisa membuang rasa cinta ini. Kau tahu, kan?” Aku menoleh penuh arti ke arah Donghae-ah yang menatapku. “Dia cinta pertamaku.” Aku tersenyum bodoh menatapnya. Menertawakan ketragisan cintaku.

Aku menghela napas berat. “Tragis bukan? Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta, namun aku malah merasakan sakit yang begitu dalam. Bukankah setiap cinta pertama selalu berakhir dengan bahagia. Ya, maksudku... tidak sesakit ini... ini terlalu menyakitkan.” Aku memelankan ucapanku pada kata-kata terakhirku.

Aku menoleh ke arah Donghae-ah. Dia langsung membalas menatapku. “Apa aku bisa menemukan cinta yang baru, Hae-ah?” Tanyaku.

“Yak! Hyunji-ah! Mau kau kemanakan aku, huh?”

Aku dan Donghae-ah langsung mengalihkan pandangan kami ke arah suara yang menginterupsi jawaban Donghae-ah.

Di sana, di depan pintu itu...
Berdiri dia yang aku cintai namun selalu membuatku menangis, menatap kami dengan marah.

“Eunhyuk-ah...” Sejujurnya aku masih tidak mempercayai penglihatanku ini. Namun melihat reaksi Donghae-ah yang sama terkejut, aku jadi yakin itu bukan imajinasiku.

“Eunhyuk-ah... annyeong...”

Aku menoleh ke arah Donghae-ah dengan bingung. Kenapa dia terlihat begitu ramah seolah kenal dekat dengan Eunhyuk-ah. Apa mereka saling mengenal.

Eunhyuk-ah langsung berjalan cepat mendekati kami dan langsung menarik tanganku dengan sedikit kasar, membuatku menatapnya marah. Ada apa dengannya?

“Yak! Ada apa denganmu, Eunhyuk-ah. Lepaskan dia!” Donghae mencoba melepaskan tangan Eunhyuk-ah yang menarik pergelangan tanganku erat.

Entah kenapa aku hanya bisa diam melihat mereka yang bertengkar. Aku masih terlalu bingung dengan semua ini. Apa aku sedang bermimpi?

“Yak! Kau yang harusnya pergi, Hae-ah! Kau ingin menggoda yeojachingu-ku, hah?” Tantangnya Eunhyuk-ah.

“MWO?!” Aku mengalihkan pandanganku ke arah Donghae-ah yang sepertinya terkejut mendengar penuturan Eunhyuk-ah itu. Dan dia langsung menatapku dengan tatapan ‘apa maksudnya ini?’

Dia mendengus. “Jadi, selama ini yang membuatmu terus menangis adalah namja ini, Hyunji-ah?” Donghae-ah menatapku meminta penjelasaan.

Aku hanya memanggukkan kepalaku perlahan, menjawab pertanyaannya.

Aish... jinjja, kalau tahu dia orangnya...” Donghae-ah menatap ke arahku tidak percaya lalu mengalihkan pandangannya pada Eunhyuk-ah dengan kesal.

“Yak! Jangan bertengkar!” Aku mencoba melerai mereka, sebelum Donghae mengambil tindakan ekstrem.

Donghae-ah langsung melepaskan tangannya yang ingin melepaskan tanganku dari Eunhyuk-ah. Dan menatap Eunhyuk-ah tajam. Semoga tidak terjadi kekerasaan di sini, aku masih terlalu kecil untuk melihat adegan itu secara langsung, batinku berdoa.

“Yak! Eunhyuk-ah! Kau harusnya beruntung mendapatkan yeoja yang begitu mencintaimu. Kenapa kau masih terus mencoba mengejar-ngejar Hyura. Kau tahu kan dia sudah di jodohkan orang tuanya, terlebih dia mencintai namja itu.” Ucap Donghae menjelas.

Aku menatapnya bingung. Bagaimana Donghae-ah bisa mengetahui tentang hal itu.

“Kalian... saling mengenal?” Tanyaku menginterupsi pembicaraan mereka dengan pertanyaan yang sedari tadi ingin aku tanyakan.

Ne, dia sahabatku.” Jawab Donghae-ah santai.

Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah Eunhyuk-ah, meminta jawabannya juga.

“Kami memang bersahabat.”

Aku menatap mereka tidak percaya. Kenapa aku bisa sampai tidak tahu? Ya, aku memang tidak pernah sekali pun melihat mereka berdua bersama. Wajar jika aku tidak mengetahui hal ini.

“Selesaikan lah masalah kalian berdua dengan baik-baik.” Ucap Donghae-ah pelan, sambil menatapku tersenyum seolah mendukungku untuk tidak menyerah. “Dan kau, Eunyuk-ah!” Dia menatap Eunhyuk-ah dengan tajam. “Kau akan mati jika kau membuatnya kembali menangis. Walaupun kita bersahabat aku tidak akan menoleransi tindakanmu yang membuat Hyunji-ah menangis. Dia sudah terlalu lelah menangisimu.”

“Aku tahu, cepatlah kau pergi.” Usir Eunhyuk-ah langsung dengan memaksa.

Donghae-ah langsung mengambil tasnya dan beranjak pergi. “Hyunji-ah, katakan padaku jika dia membuatmu menangis lagi!” Teriaknya sebelum menghilang di balik pintu.

Aku tersenyum menatapnya, benar-benar teman yang baik. Aku sangat bersyukur memiliki teman sepertinya. Terima kasih Donghae-ah karena sudah mau menjadi temanku dan mendengarkan setiap keluh kesahku.

“Berhentilah tersenyum seperti itu, kau hanya boleh tersenyum seperti padaku!”

Aku mangalihkan pandanganku pada Eunhyuk-ah yang kali ini menggenggam kedua tanganku erat.

“Kau tidak pernah melihat senyumku, semanis apapun aku tersenyum. Kenapa aku harus tersenyum padamu.” Balasku tajam.

Apa dia tidak tahu, tindakannya serta kata-katanya itu membuatku semakin mencintainya. Padahal aku sudah bertekad untuk melupakannya. Dasar!

Mianhae... jeongmal mianhae, Hyunji-ah.”

Aku menatapnya panik sekaligus terkejut melihat air matanya yang tiba-tiba jatuh begitu. Dia menangis! Yak! Dia kan namja. Maksudku, bukan berarti namja tidak boleh menangis, tapi dia menangis di depanku saat ini. Bukankah hal itu memalukan untuk ukuran seorang namja?

Ah, aku tidak peduli yang terpenting dia menangis untukku...

“Apa kau mau memaafkanku, Hyunji-ah?”

Aku menatap matanya lembut. Apa setelah aku memaafkannya, dia akan pergi meninggalkanku?

“Bisakah kita memulai dari awal lagi hubungan kita? Kau tahu, penyesalan selalu datang terlambat, dan maaf telah membuatmu begitu sering menangis dan terluka, Hyunji-ah.”

Aku tersenyum senang menatapnya. Itu kata-kata yang tulus yang pertama kali aku dengar keluar dari bibirnya.

Aku masih diam, menunggunya mengucapkan satu kata yang selalu aku minta untuk di ucapkannya. Sebuah kata sederhana yang dapat merubah hidupku. sebuah kata sederhana yang membuatku akan selalu bertahan di sampingnya. Sebuah kata sederhana yang begitu sulit untuk di ucapkan pada orang yang tidak kita cintai. Dan sebuah kata sederhana yang selalu aku harapkan keluar dari bibirnya untukku.

Saranghae, Hyunji-ah...”

Kali ini senyumku semakin lebar. Kata itu, kata yang selalu aku minta untuk di ucapkannya. Kata yang begitu aku nanti, akhirnya terucap sempurna olehnya.

Aku langsung memeluknya dengan erat, mencoba menjawab semua pertanyaanya serta permintaannya untuk kembali dari awal lagi memulai kisah cinta kami, pada lembaran yang baru.

“YAK! CEPAT PULANG, MAU SAMPAI KAPAN KALIAN BERPELUKAN SEPERTI ITU. GEDUNG AKAN SEGERA DI KUNCI!!”

Aku menghela napas kesal mendengar teriakan Donghae-ah dari halaman depan kampus yang mengganggu momen romantisku yang pertama. Dasar pengacau, aku harus mencarikannya yeoja agar nantinya dia tidak akan menggangguku dan Eunhyuk-ah lagi.

*****

The end
Please leave your comments
Gomawo
SF_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar