Welcome to My World

Rabu, 22 Agustus 2012

Fanfiction - Mianhae...

Tittle : Mianhae...
Author : Siti Fajriani (Shin Hyemi)
Genre : Romance
Cast : Kim Jongwoon, Shin Hyemi, Leeteuk, Jung Hara.

Happy reading...

.*****

Shin Hyemi’s side :

 Aku masih terus menatap layar laptopku dengan sedih. Sudah dua jam aku duduk di taman mencoba untuk mencari inspirasi namun belum juga aku dapati. Layar laptopku masih memperlihatkan layar kosong dari lembar kerja microsoft word. Belum ada satu kata pun yang berhasil aku tulis untuk membuat cerpenku kali ini.


Aku mendesah kesal. Kenapa hari ini begitu sulit untuk menulis?

Aku langsung mematikan laptopku, bagaimanapun juga aku yakin hari ini aku tidak akan bisa menulis apapun. Diam di sini hanya akan membuang-buang waktuku saja. Tapi aku sedang tidak ingin beranjak kemanapun.

Aku memukul kepalaku frustasi . Stupid!!

Ini semua karena aku melihatnya yang bersama dengan seorang yeoja. Kim Jongwoon, kau membuatku marah dan kesal!!!

Siapa itu tadi? Juniornya? Kenapa begitu dekat? Mau membuatku cemburu, hah?
Kau tahu? Kau berhasil membuatku cemburu!! Apa kau puas, Jongwoon-ssi? Aku sedang tidak ingin memanggilmu Oppa!

Babo!
Apa dia tidak tahu kalau aku cemburu, hah? Kenapa begitu dekat? Membuatku kesal saja... meninggalkanku hanya untuk yeoja yang tidak penting itu. Benar-benar menyebalkan!!

Dan hanya karena itu membuat moodku benar-benar hancur! Aku bahkan tidak bisa menulis lagi. Eotteohke?

Dia sudah terlalu sering membuatku kesal, dengan kesibukannya pada acara perkumpulan dengan sahabat-sahabatnya, serta yeoja-yeoja yang begitu menggilainya. Maklumi saja dia memang termasuk mahasiswa yang pupoler di kampus, untuk itu aku cukup mengerti tapi kenapa dia harus bersikap ramah pada semuanya? Dan yeoja-yeoja itu, kenapa malah mendekatinya. Harusnya mereka tahu kalau dia itu sudah bertunangan denganku. Kenapa masih tetap mendekati namja yang sudah memiliki tunangan? Benar-benar tidak ada kerjaan sama sekali.

Niga animyeon andwae
Neo eobsin nan andwae
Na ireoke haru handareul tto illyeoneul
Na apado joha

Aku hanya membiarkan handphoneku yang terus berdering sedari tadi. Tanpa peduli dengan siapa yang sedari tadi mencoba untuk menghubungiku. Aku sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun.

Handphoneku masih terus berdering, yang semakin lama membuatku kesal mendengarnya padahal itu adalah lagu kesukaanku. Aku langsung meraih handphoneku dan mematikannya langsung dengan mengeluarkan baterainya tanpa mematikannya sesuai dengan prosedur yang seharusnya. Aku benar-benar sedang kesal.

Sebenarnya aku sendiri heran dengan sikapku hari ini yang begitu aneh. Aku tahu jika ada orang yang melihatku seperti ini pasti aku terlihat sangat menyebalkan. Karena aku sendiri juga kesal dengan diriku sendiri yang seperti ini. Sebenarnya aku sadar ini terlalu kekanak-kanakkan. Tapi entah kenapa aku tidak bisa menyembunyikan sikapku itu. Bodoh!

Semakin lama disini hanya akan membuatku gila dan terus mengeluh.
Aku langsung memasukkan laptopku ke dalam tas dengan cepat sambil juga memasukkan handphoneku dengan asal, beranjak pergi meninggalkan bangku favoritku di taman ini.

Mungkin pulang dan langsung meminum teh hangat di beranda dorm akan sedikit membuat suasana hatiku menjadi lebih baik lagi dari pada sekarang dan semoga dapat menghilangkan rasa cemburuku ini.

*****

Aku keluar dari lift dan langsung menuju dormku dengan tidak semangat. Hanya karena kejadian yang aku lihat sebentar saja antara namjachinguku dengan seorang yeoja, sudah membuat moodku hancur seharian.

Aku menatap kearah lorong dan melihat seorang namja yang berdiri menyandar di dinding sambil sibuk mengotak-atik  handphonenya. Sosok itu, aku mengenalnya... bahkan sangat!

Bagaimana tidak, dia sudah berhasil membuat moodku hancur hari ini.

Aku berjalan mendekatinya, seolah tidak peduli dengan sosoknya. Padahal dalam hati aku senang karena dia datang menemuiku, dan tahukah kalian rasa kesalku hilang begitu saja saat melihatnya yang berdiri dengan cemas seperti itu. Aku tahu dia pasti mencemaskanku...

Dia menyadari kehadiranku dan langsung berjalan mendekati cepat dengan wajahnya yang cemas.

Aku tersenyum senang dalam hati melihatnya yang seperti itu.

“Yak! Hyemi-ah... kau dari mana saja? Aku menunggumu dari tadi, kenapa tidak mengangkat handphonemu, hah? Kau membuatku cemas saja.” Ucapnya cepat.

Aku hanya diam, ingin membuatnya menyadari kalau aku sedang kesal dengannya.

“Oh iya, aku hanya ingin meminta fileku yang ada di laptopmu. Hari ini aku harus mengumpulkan tugas itu.” Ucapnya lagi, yang langsung membuatku diam.

Jadi dia kemari bukan karena mencemaskanku? Tapi lebih mencemaskan tugasnya yang ada di laptopku?
Aish... jinjja...
Aku langsung berjalan dengan menghentakkan kakiku kesal, membuka pintu dorm dan langsung mengeluarkan laptopku dari tas. Dia mengikutiku dari belakang. Aku menghidupkan laptop dengan kesal melihatnya yang sibuk dengan isi tasnya.

Aku hanya diam, dia membuat rasa kesalku kembali datang lagi. Padahal tadi aku sudah tidak kesal dengannya. Tapi semuanya kembali lagi karena ternyata dia menemuiku hanya untuk meminta tugasnya yang dia kerjakan menggunakan laptopku saat kami kencan di taman. Aku bahkan tidak yakin itu bisa disebut kencan atau tidak, karena dia sibuk dengan semua tugas dan sahabat-sahabatnya. Ya... saat itu dia mengerjakan tugas kuliah kelompok dengan sahabat-sahabatnya dan dia mengajakku untuk ikut bergabung. Dan pada akhirnya aku hanya diam saja melihat mereka yang sibuk dengan semua tugas itu. Dan aku pun terabaikan...

Aku langsung masuk ke kamarku setelah menemukan file yang dibutuhkannya. Meninggalkannya tanpa peduli dengannya lagi. Bahkan dia sendiri tidak peduli denganku. Kenapa aku harus peduli. Sekarang saja dia sudah sibuk dengan mengirim-ngirim file itu. Sama sekali tidak ingin berbicara atau menanyakan tentangku. Menyebalkan...

Kenapa saat pertama kali bertemu dengannya aku bisa begitu menyukainya? Pasti ada yang salah dengan semua itu.

“Annyeong...” Kudengar suara Hara-ah memasuki dorm. Ternyata sahabatku itu sudah pulang kuliah.

“Hara-ah... Annyeong...” Balas Yesung-oppa.

Aku mendengarnya dengan kesal. Dia bahkan bisa bersikap begitu ramah dengan Hara-ah kenapa denganku tidak? Ada apa sebenarnya dengannya? Menyebalkan.

“Oppa... apa yang sedang kau lakukan? Dimana Hyemi-ah?” Tanya Hara-ah.

Aku masih terus mencoba mencuri dengar obrolan mereka dari dalam kamar.

“Sepertinya dia di kamar, kau pulang cepat hari ini Hara-ah.”

“Ne... apa aku mengganggu kalian?” Tanya Hara-ah dengan nada jahil di ucapannya.

Kudengar suara tawa Yesung-oppa. “Aniyo, lagi pula ini kan dormmu juga Hara-ah, seharusnya aku yang menanyakan itu. Apa kau terganggu dengan kehadiranku?”

“Aniyo, aku senang, karena aku mempunyai teman bicara. Apa lagi kita sama-sama menyukai bola kaki.”

Ya... baguslah...
Teruslah berteman seperti itu dan lupakan aku. Aku memang tidak terlalu menyukai bola kaki. Apa bagusnya merebut satu bola. Memangnya tidak ada lagi yang bisa dijadikan rebutan? Lebih baik mereka merebutkanku. Aku tertawa bodoh memikirkan khayalanku sendiri.

“Hyemi-ah... kau dimana?” Kudengar teriakan Hara-ah yang memanggilku.

“Aku di kamar.” Jawabku malas.

Aku tidak mendengar suaranya lagi, biasanya dia akan langsung menyusulku atau menanyakan kenapa aku tidak keluar. Tapi ini aneh karena tidak mendengar suaranya lagi. Aku mencoba mendekatkan telingaku ke arah pintu, kembali mencoba untuk mencuri dengar pembicaraan mereka.

“Oppa, kau sedang bertengkar ya dengan Hyemi-ah?” Kudengar bisikan Hara-ah.

“Aniyo... memangnya terlihat seperti itu?”

“Ya... tidak biasanya dia hanya diam di kamarnya, kecuali jika kalian sedang bertengkar.”

“Oh, tapi kami sama sekali tidak ada masalah. Ah, tugasku sudah terkirim semua. Aku harus pergi sekarang sebelum terlambat. Tolong katakan pada Hyemi-ah. Annyeong...”

Aku mendecak kesal. Dia sama sekali tidak berpamitan denganku?! Padahal dia tahu kalau aku tidak tidur atau apapun itu yang memungkinkan aku tidak mendengar suaranya. Kenapa tidak pamit padaku?

Menyebalkan!
Aish...
Jangan pernah menghubungiku lagi!
Kau benar-benar membuatku marah, Oppa!

*****

Aku sudah mematikan handphoneku sejak saat di taman kemaren sampai malam ini, namun dia sama sekali tidak ada menghubungiku. Menelponku melalui terlpon atau datang ke dorm seperti biasanya. Benar-benar menyebalkan! Apa dia sudah tidak peduli lagi pada diriku, hah?

Kalau saja aku tidak bertunangan dengannya aku sudah pasti akan meminta putus. Tapi itu tidak mudah, karena aku mencintainya. Aku saja sudah gila saat tidak melihatnya satu minggu padahal saat itu dia belum menyatakan cintanya padaku. Bagaimana sekarang jika dia sudah menyatakan cintanya padaku. Ditambah lagi kami sudah bertunangan. Itu tidak akan mudah untuk melupakannya begitu saja.

Baiklah aku akan menunggu sampai besok, jika dia tidak juga menghubungiku. Aku akan benar-benar tidak peduli lagi dengannya. Oke...

Aku juga bisa untuk tidak peduli dengannya, dia pikir hanya dia saja yang bisa bersikap seperti itu padaku? Tidak! Akan aku tunjukkan sisiku yang sebenarnya!

*****

Aku memainkan keyboard laptopku dengan asal seolah-olah itu adalah tuts-tuts piano. Mengetik dengan asal setiap huruf-huruf yang aku tekan.

“Baru juga satu jam yang lalu kau mengikrarkan janji tidak akan peduli dengannya, tapi sekarang kau sudah terlihat begitu merindukannya.” Ujar Hara-ah mengodaku.

Aku menatapnya tajam. “Aku tidak merindukannya.” Protesku langsung, tidak terima.

“Jangan pernah berbohong padaku. Itu semua terlihat jelas di matamu, Hyemi-ah.”

Aku hanya diam tidak berniat untuk menentang lebih lanjut. Semua yang dikatanya adalah benar, kenapa aku harus menentangnya lagi? Ya... dia selalu tahu apa yang aku rasakan.

Bahkan dengan rasa kesal sekaligus dengan rasa kerinduanku yang begitu memuncak pada namjachinguku yang mendadak melupakanku. Padahal sebelumnya dia tidak seperti ini. Dia selalu peduli padaku. Kenapa sikapnya sekarangnya jadi menyebalkan. Apa dia lupa kalau dia memiliki yeojachingu yang sedang merindukannya.

*****

Aku mencoba untuk tidak mempercayai apa yang baru saja aku lihat. Aku melihat yeoja yang bercerita sangat akrab  dengan Yesung-oppa saat di kampus beberapa hari yang lalu yang sukses membuatku marah dan kesal sampai saat ini. Dan sekarang aku harus melihatnya yang baru saja keluar dari rumah Yesung-oppa dengan senyum manis menjijikkannya itu.

Apa yang dilakukan yeoja itu, hah? Dia ingin merebut namja yang sudah memiliki tunangan? Dasar nappeun yeoja!

Aku masih terus berdiri memandangi mereka dari jauh  yang masih asyik berbicara di depan pintu rumah Yesung-oppa.

Baiklah...
Ini maumu Oppa...
kita berakhir, cukup sampai di sini!

Tidak ada menghubungiku, menemuiku, kau benar-benar sudah melupakanku ternyata!

Kyaaaaa....!!!!

Aku benar-benar ingin sekali berteriak mengeluarkan semua amarah serta tangisku yang sebisa mungkin sudah aku tahan dari kemarin.

Aku melihat kesal kearah cincin silver dengan permata putih yang berkilauan di jari manisku dengan kesal. Aku ingin melepasnya tapi aku langsung mengurungkan niatku untuk melakukan hal itu.

Aku mengacak-acak rambutku frustasi.

Tidak, ini tidak benar...
Aku mencintainya dan dia juga mencintaiku. Jadi aku harus percaya padanya sepenuhnya...
Ya, aku harus percaya...

Tapi pemandangan di depanku ini benar-benar memuakkan. Aku tidak akan sanggup lagi jika harus mellihatnya lebih lama lagi. Dan kau langsung mengambil tindakan ekstrem dengan melepas cincin yang melingkar di jari manisku dengan kesal dan langsung memasukkannya ke dalam tasku dengan asal. Aku sudah tidak memperdulikannya lagi.

*****

“Yeoboseyo...” Aku menjawab panggilan di telpon rumah dengan malas. Menggangguku saja yang sedang asyik menonton drama kesukaanku.

“Hyemi-ah...”

Aku mendesah malas, ternyata dia menelponku juga setelah tiga hari melupakanku begitu saja. Akhirnya ingatannya kembali juga kepadaku.

“Waeyo? Ternyata kau masih mengingatku?” Tanyaku malas. Dia benar-benar tidak sensitif, apa dia pikir aku sedang dalam mood yang baik? setelah dia melupakanku begitu saja, ditambah lagi harus melihat keakrabannya dengan yeoja centil itu.

“Bogoshipo...”

Aku hanya diam, kalau saja aku sedang tidak marah, aku akan mengatakan aku juga merindukannya. Tapi sayangnya sekarang aku benar-benar marah padanya.

“Hyemi-ah...”

Dia bahkan tidak memanggilku ‘jagiya’ lagi. Menyebalkan! Walaupun aku memang tidak terlalu menyukai panggilan itu. Tapi biasanya dia tidak akan pernah berhenti memanggilku seperti itu walaupun aku menolaknya.

“Aku rasa kita harus bertemu dan berbicara langsung.”

“Aku rasa juga begitu. Lalu?” Aku menyetujui rencananya.

“Bisa kita bertemu sekarang?”

“Jam 5 di taman. Annyeong...” Ucapku langsung sambil menghepaskan telepon yang kupengang dengan keras di tempatnya kembali. Ada sedikit rasa bersalah yang terbesit di hatiku. Apa aku terlalu kasar?

Ah...
Aku merindukannya...tapi rasa kesalku mengalahkan rasa rinduku padanya. Aku rasa sekarang dia sudah tahu kalau aku sedang kesal dengannya. Semoga saja!

Teleponku kembali berdering. Aku menatapnya malas, aku yakin itu dia. Pasti dia mencoba menghubungiku lagi. Tidak akan aku angkat. Aku marah!

Aku kembali menuju ruang tv, mencoba kembali menonton drama yang tadi aku tonton, karena satu jam lagi aku harus bersiap-siap untuk bertemu dengannya. Tapi deringan telepon itu benar-benar mengganggu telingaku, berkali-kali dan tidak berhenti juga.

Dengan malas aku mengangkat telepon itu.

“Berhenti....”

“Yak!! Kenapa kau tidak mengangkat telponmu, hah?! Dan kenapa handphonemu tidak aktif, hah?!” Teriak Eomma dari seberang sana.

Aku terdiam, membeku. Ternyata Eomma yang menelponku, aku bisa mati.

“Mian...”

“Kau tahu Appa sedang ada di rumah sakit sekarang! Cepat kemari!”

“MWO?!” Teriakku shock. Ada apa dengan Appa?

“Cepatlah kemari, tadi Appa kecelakaan. Semua sudah berkumpul di sini.” Suara Eomma mulai melemah.

“Ne...” Jawabku juga dengan lemah.

Tuhan...
Semoga Appa baik-baik saja, bagaimana ini...

Aku langsung  berlari menuju kamarku dan mempersiapkan diriku secepat yang aku bisa.

*****

 Aku duduk sambil terus berdoa tentang keselamatan Appa, karena Appa sedang menjalani operasinya. Bisa di katakan keadaan Appa cukup parah. Sementara Eomma sibuk mondar-mandir di depanku sambil mulutnya terus berkomat-kamit mengucapkan doa, dan Dongsaengku, Shin Neul Ah sudah tertidur dari tadi dipangkuanku karena lelah.

“Ah, Hyemi-ah...” aku langsung menoleh kearah Eomma yang menatapku.

“Ne?”

“Dimana Yesung-ah?”

Ow... ow...
Aku melupakannya, karena paniknnya aku tadi. Seharusnya aku sudah menghubunginya dari tadi dan mengabari orang tuanya juga. Babo! Kenapa aku bisa lupa dengannya.

“Dia sedang...”

Aku terdiam dan langsung melihat kearah jam tanganku, jam 7 malam. Eotteohke?

“Eomma... bisa aku pergi sebentar?” Tanyaku pada Eomma meminta izin.

“Waeyo? Kau mau kemana Hyemi-ah?” Tanya Eomma menatapku penasaran.

“Aku melupakan sesuatu Eomma, sesuatu yang penting.” Ucapku dengan panik.

“Mana yang lebih penting dari Appamu, hah?” Tanya Eomma memintaku untuk memilih.

Aku terdiam tidak mampu untuk menjawab lagi. Appa sangat penting untukku dan Yesung-oppa juga begitu. Apa dia masih menungguku di taman? Semoga saja tidak, kumohon...

Apa lagi sekarang hujan turun, lagi pula ini sudah tiga jam dari janji kami. Tidak mungkin dia msih menungguku, tapi aku tahu dia pasti menungguku. Bagaimana ini, dan kenapa operasinya sangat lama sekali. Bagaimana dengan keadaan Appa dan Yesung-oppa sekarang?

Seorang dokter keluar dari ruang operasi Appa, Eomma langsung menghampirinya dengan cepat menanyakan keadaan Appa. Aku mencoba membangunkan Dongsaengku yang tertidur .

Akhirnya aku bisa bernapas lega karena keadaan Appa sudah cukup membaik dari sebelumnya.

“Eomma...” Aku meminta izin Eomma lagi.

“Pergilah, setelah itu kau harus kembali lagi dengan tunanganmu. Arraseo?” Ucap Eomma.

“Ne, Arraseo... aku akan segera kembali.” Ucapku sambil menyambar tasku dan langsung pergi.

Aku menatap hujan yang turun dengan derasnya. Semoga dia tidak menungguku, hujan ini terlalu deras untuknya. Kalau dia menungguku, dia bisa sakit. Bodoh, jangan sampai kau menungguku!

*****

Aku langsung meminta sahabatnya untuk datang ke dorm membantuku untuk membawanya masuk ke dormnya serta untuk menggantikan bajunya yang basah.

Tunanganku yang bodoh ini, dia menungguku begitu lama di bawah derasnya hujan. Harusnya dia pergi dari taman itu karena hujan yang turun. Tapi dia malah tetap menungguku sampai dia menggigil kedinginan, aku yakin dia pasti akan sakit untuk beberapa hari ke depan.

“Teuki-oppa, bisa tolong gantikan bajunya. Aku akan menyiapkan makanan dulu.” Aku meminta tolong pada sahabatnya, Leeteuk-oppa.

“Ne, tapi kalau aku boleh tahu, kenapa dia sampai bisa sebasah ini?” Tanya Teuki-oppa.

“Jangan tanya aku Oppa. Dia itu terlalu bodoh, menungguku di tengah hujan. Babo!” Aku menatap Yesung-oppa yang tidur dengan kesal sekaligus sedih dan langsung berjalan menuju dapur untuk membuatkannya sup.

Sebelumnya aku sudah memberitahukan Eomma kalau aku harus merawat Yesung-oppa yang sedang sakit, sebelum Eomma mencemaskan keadaanku.

Aku kembali ke kamarnya sambil membawa sebuah mangkuk kecil dan handuk untuk mengompresnya, mengurangi suhu panasnya.

“Gomawo Oppa, sudah mau membantuku.” Ucapku pada Teuki-oppa yang duduk di kursi belajar Yesung-oppa.

“Kau tidak perlu sungkan padaku Hyemi-ah, kau sudah seperti dongsaengku sendiri. Lagi pula aku sudah menganggap Yesung-ah saudaraku sendiri. Kalian adalah keluargaku.” Dia tersenyum menatapku.

Aku membalas senyumannya.

“Maaf jika aku terlalu lancang. Tapi sebenarnya ada masalah apa kau dengannya?”

Aku langsung menceritakan masalahku pada Teuki-oppa sambil mengompres dahi Yesung-oppa. Dia benar-benar membuatku cemas. Apa aku harus membawanya ke rumah sakit juga?

“Apa kau tahu yeoja itu siapa?” Tanyanya padaku setelah aku selesai menceritakan masalah kami dari awal.

Aku hanya menggelengkan kepalaku lemah. Ini terlalu bodoh untuk diceritakan, memperlihatkan aku yang begitu cemburuan, tapi itulah sosok aku yang sebenarnya.

“Dia itu yeojachingu Jongjin-ah.”

“MWO?!” Teriakku shock.

“Mereka memang dekat, aku yakin dia kemaren menemui Yesung-ah untuk membantunya membuat kejutan ulang tahun untuk Jongjin-ah. Dia memang selalu seperti itu jika ingin memberikan kejutan untuk Jongjin-ah.” Jelas Teuki-oppa padaku.

Aku terdiam...
Semua terasa begitu menyesakkan...

Bodoh!
Kau yang begitu bodoh, Hyemi-ah!
Cemburu tidak jelas!
Lihatlah apa yang sudah terjadi!
Kau membuat orang yang kau cintai sampai sakit seperti ini. Bodoh! Bodoh! Bodoh!

“Mianhae...” Ucapku pelan.

“Hyemi-ah, aku rasa kalian harus menyelesaikan masalah kalian sendiri. Aku harap kau bisa lebih memahaminya lagi. Kalian itu saling mencintai, aku tidak ingin melihat kalian yang bertengkar seperti ini.” Ujar Teuki-oppa pelan. “Aku yakin dia tahu kau marah padanya, hanya saja dia ingin mencari waktu yang tepat untuk membicarakan masalah kalian. Beberapa hari yang lalu dia benar-benar terlihat sangat sedih. Pasti karena masalah ini.” Tambahnya lagi.

“Ne...” Aku tahu semua kesalahanku. Untuk selanjutnya aku janji akan mencoba untuk menjadi lebih baik lagi dengan hubungan ini. Aku juga ingin memperjuangkannya menjadi lebih baik lagi. Tidak cemburu lagi seperti tadi. Ah.... Hyemi-ah babo!!!

*****

Yesung’s side :

Aku terbangun dari tidurku, membuka mataku perlahan menatap langit-langit kamar, sepertinya ini kamarku, tapi kenapa aku bisa ada di sini? Aku mencoba menggerakkan tubuhku dan langsung merasakan sakit di kepala serta tubuhku. Sepertinya aku sakit karena harus berhujan-hujan. Ah, sudah jam berapa sekarang.

Aku menoleh ke samping mencoba untuk melihat jam yang ada di meja kecil di samping tempat tidurku. Tapi aku malah tertegun melihat yeoja yang begitu kucintai terlelap di sampingku sambil melipat tangannya di pinggir tempat tidurku. Pasti dia yang merawatku dan membawaku pulang ke dorm.

Tapi kenapa dia datang terlambat dari janjinya? Aku tahu dia pelupa tapi melihat sikapnya yang dingin belakangan ini, aku yakin dia pasti selalu mengingat tentangku. Aku juga tahu dia marah padaku. Tadinya aku ingin meminta maaf padanya. Tapi malah berakhir seperti ini. Ah... aku begitu merindukannya...

Aku pikir dengan mendiamkannya akan membuatnya mencoba untuk menghubungiku atau jika tidak dia harus mengatakan apa masalahnya denganku bukannya hanya diam, bahkan mematikan handphone selama beberapa hari. Benar-benar masih kekanak-kanakkan tunanganku ini.

Sebelumnya aku pikir dia adalah yeoja yang dewasa ternyata tidak. Walalupun terlihat dewasa dia masih memiliki sifat yang kekanak-kanakkan. Harusnya dia mengatakan padaku apa yang dia rasakan bukannya malah diam dan menyimpannya. Berbagi cerita denganku misalnya, mengatakan secara langsung apa yang terjadi. Sehingga tidak membuatku bingung seperti ini.

Dia pasti sangat marah karena aku tidak pernah menghubunginya. Padahal selama beberapa hari itu aku ingin membuatnya menyadari apa yang harus dia lakukan dan ingin dia meredakan marahnya kepadaku.

Aku mencoba untuk bangun dengan perlahan agar tidak membuatnya terbangun karenaku. Tapi sepertinya tidak sesuai dengan yang aku harapkan karena dia ternyata bangun.

“Oppa...” Ucapnya dengan pelan sambil mencoba untuk mengembalikan kesadarannya sepenuhnya. “Kau sudah bangun.”

“Maaf... membangunkanmu, kau pasti lelah.” Ujarku sambil duduk bersandar di kepala ranjang.

“Kau pasti lapar, Oppa. Tunggu di sini, aku akan segera kembali membawakanmu sarapan.” Belum sempat aku protes untuk menolaknya dia sudah berjalan pergi meninggalkanku.

Sebenarnya aku memang lapar, karena dari kemarin aku tidak ada makan. sepertinya aku pingsan sekaligus tertidur dengan lama, bahkan tanpa terasa sudah pagi.

Tidak lama kemudian dia kembali sambil membawa nampan di tangannya. Dia langsung duduk di samping tempat tidurku. Tidak biasanya dia hanya diam seperti ini. Biasanya dia akan sangat marah padaku karena melakukan hal bodoh yang menyebabkan aku sakit, seperti saat aku menunggunya di tengah hujan kemaren. Walaupu marah dia akan tetap peduli dan perhatian kepadaku. Hmmm, Pasti ada sesuatu yang terjadi sampai membuatnya jadi seperti ini.

Dia menyuapiku dalam diamnya, aku terus memperhatikannya yang benar-benar terlihat aneh. Dia bahkan sama sekali tidak ingin melihat kearahku. Mengalihkan pandangannya selain aku. Dan dia pasti benar-benar sangat marah padaku, buktinya dia tidak memakai cincin tunangan kami.

“Hyemi-ah...” Panggilku pelan.

Dia langsung membungkam mulutku dengan sesuap bubur yang disuapinya. Aku kembali diam. Diam ini benar-benar membuatku gila...

Hyemi-ah, ayo katakan sesuatu, katakan apapun itu, jangan hanya diam saja. Berteriaklah atau marah jika itu perlu. Kau tahu ini menyiksaku.

“Hyemi-ah...” Aku memanggilnya kembali.

Dia hanya menunduk dan diam, sibuk dengan buburku, seolah tidak mendengar panggilanku padanya.

“Hyemi-ah... mianhae...” Ucapku lagi, walaupun sebenarnya aku masih tidak mengerti dimana salahku. Tapi aku juga merasa bersalah padanya, karena tidak peduli padanya. Aku tidak menghubunginya dari telepon rumah atau tidak datang padanya. Aku minta maaf karena ketidakpedulianku yang bodoh itu.

Dia mengangkat kepalanya dan menyuapiku kembali. Aku menatapnya sedih, setetes air mata mengalir dari mata indahnya, yang langsung membuat hatiku sakit melihatnya menangis seperti ini.

“Hyemi-ah... jangan menangis. Aku benar-benar meminta maaf.” Aku mencoba untuk menghentikan tangisnya yang malah membuat tangisannya semakin jadi karena ucapanku itu.

Dia menundukan kepalanya mencoba untuk menyembunyikan tangisnya dariku.

Hatiku semakin sakit melihatnya yang seperti ini. Aku mendekat kearahnya dan memegang dagunya untuk menatap mataku yang dari tadi selalu dihindarinya. Air matanya masih terus keluar, dia menatapku dengan sedih. Akhirnya dia mau juga menatapku.

“Jangan menangis seperti ini, kau tahu ini membuatku juga sakit.” Ucapku pelan, sambil menggenggam kedua tangannya erat.

“Oppa... mianhae...” Ucapnya dengan suaranya yang parau.

Aku langsung memeluknya dengan erat, membiarkannya menangis di dalam pelukanku, mengeluarkan semua kesedihannya padaku.

“Oppa... mianhae...” Dia terus mengulangi kata-kata itu padaku.

Aku mengusap punggungnya pelan, mencoba untuk mengurangi tangisnya. “Kau sama sekali tidak salah Hyemi-ah, aku yang salah karena tidak peduli padamu.” Aku mengakui kesalahanku.

Dia menggelengkan kepalanya cepat, seolah tidak setuju dengan pengakuanku.

Dia melepaskan pelukannya dariku, menundukkan kepalanya masih tidak ingin melihat mataku.

“Aku yang salah, karena telah... Oppa mianhae, karena aku tidak percaya padamu. Aku marah karena melihatmu yang dekat dengan yeoja itu dan kau sama sekali tidak peduli denganku. Kau tahukan betapa menyebalkannya sikapmu yang seperti itu. Tidak peduli seolah kau tidak memiliki yeojachingu, kau malah asyik mengobrol dengan yeoja itu.” Aku tersenyum senang melihatnya yang sudah kembali karena begitu banyak yang dia ceritakan, aku merindukan omelannya yang polos dan jujur itu.

Tapi siapa yang dia maksud dengan ‘yeoja itu’?

“Yeoja itu? Maksudmu siapa Hyemi-ah?” Tanyaku padanya.

Dia masih tetap menundukkan kepalanya dariku. “Yeojachingu Jongjin-ah...” Ucapnya dengan pelan, hanya berupa gumaman.

Aku yakin dia pasti malu untuk mengakuinya padaku, buktinya dari tadi dia hanya menundukkan kepalanya. Pasti dia sudah salahpaham  dengan itu semua. Beberapa hari ini aku memang disibukkan dengan yeojachingu dongsaengku itu, karena dia ingin memberikan kejutan untuk dongsaengku yang seminggu lagi akan ulang tahun. Karena kesibukan itu juga yang membuatku jadi semakin malas untuk menghubungi yeojachinguku tercinta ini. Di tambah lagi aku tahu dia sedang marah tanpa sebab padaku. Jadi dia marah padaku karena masalah ini ternyata.

“Tenyata kau bisa cemburu juga, Hyemi-ah.” Godaku padanya.

Aku senang melihatnya yang jujur seperti ini, akhirnya dia mau juga untuk terbuka denganku. Sebenarnya dia tidak terlalu tertutup padaku. Hanya saja hampir satu tahun hubungan kami, aku mengenalnya yang tidak terlalu terbuka dengan apa yang dia rasakan terhadapku. Dia menyimpannya, namun masih tetap terlihat dari luar bagaimana perasaannya padaku.

Dia langsung menatapku dengan galak, setelah mendengar ucapanku yang menggodanya.

Ini adalah pertengkaran kami yang cukup lama biasanya hanya bertahan beberapa jam, bahkan tidak sampai satu harian.

Mungkin dengan begini kami akan bisa saling memahami dan belajar dari kesalahan.

“Cobalah untuk membuka hatimu padaku, Hyemi-ah. Katakan apa yang kau rasakan, jadi semuanya bisa menjadi jelas dan kita tidak perlu harus bertengkar karena masalah yang tidak penting seperti ini lagi nantinya.” Ucapku pelan, mencoba untuk menasehatinya. Ini juga untuk pengalamanku agar hubungan kami bisa menjadi lebih baik lagi.

“Ne Oppa... tapi kita harus bersama-sama melakukannya, jangan hanya aku saja.” Ucapnya pelan.

Aku tersenyum senang mendengar ucapannya. “Tentu saja, aku juga tidak ingin melihatmu menangis lagi seperti tadi. Kau tahu, itu terlihat sangat jelek.” Aku kembali mengodanya. Padahal melihatnya yang menangis seperti tadi membuat hatiku menjadi sakit. Jangan menangis lagi, tapi kalau ingin menangis jangan pernah menangis sendiri, karena bahu dan dadaku selalu ada sebagai sandaran untuk melepaskan semua kesedihan itu.

“Kau menyebalkan Oppa, cepat makan ini. Aku tidak ingin menyuapimu lagi. Aku marah!” Serunya, yang langsung menyodorkan nampan sarapan ke pangkuanku.

Ah, melihatnya yang cemberut seperti itu sebenarnya sangat lucu, apa lagi saat dia mengembungkan pipinya. Aish... membuatku ingin mencubitnya saja.

Ah, cincinnya...

“Kenapa melepas cincin tunangan kita? Kau letakkan dimana cincin itu, Hyemi-ah?” Tanyaku langsung sebelum aku melupakan hal itu.

“Omo!” Dia langsung  beranjak dari duduknya dan menatapku dengan panik.

“Wae?” Tanyaku langsung, apa dia lupa dimana meletakkan cincin tunangan kami? Awas saja kalau sampai seperti itu.

“Appa masih di rumah sakit, aku harus segera pergi.”

“Memangnya Appa sakit apa?” Tanyaku langsung sebelum dia benar-benar pergi meninggalkanku.

“Kemarin Appa kecelakaan, aku harus pergi sekarang.” Ucapnya masih dengan panik.

“Tunggu, aku juga akan ikut denganmu.” Aku mencegahnya untuk pergi. Aku jadi tahu kenapa dia tidak datang kemaren pasti karena alasan ini.

“Tapi kau kan masih sakit, Oppa.” Dia melarangku.

“Aku juga ingin menjadi calon menantu yang baik, tunggu dulu, aku akan siap-siap.” Aku langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk bersiap-siap.

“Bagaimana kalau sakitmu semakin parah, Oppa?” Tanyanya saat aku keluar dari kamar mandi.

“Kau adalah obat untukku.” Ucapku sambil mengerlingkan sebelah mataku kearahnya.

Dapat kulihat dia langsung salah tingkah, dan mengalihkan pandangannya dariku.

“Aku tunggu di luar, cepatlah.” Ucapnya dengan cepat dan langsung meninggalkanku sendiri di kamar.

Lihatlah betapa lucunya dia jika dia terlihat malu-malu, aku yakin pipinya pasti sudah merah. Padahal dia hanya mendengar ucapanku yang biasa saja. Bagaimana kalau aku mengeluarkan semua sisi keromantisanku. Apa yang akan terjadi jika hanya dengan begini dia langsung pergi.

Ah, cincin itu..
Baiklah aku bisa menanyakannya nanti, yang penting sekarang aku harus ke rumah sakit untuk menjenguk calon mertuaku. Lagi pula aku yakin, dia pasti akan membutuhkan waktu banyak untuk mencari cincin itu, karena lupa meletakkannya dimana. Aku selalu ingat bagaimana sifat ceroboh dan pelupanya itu.

Aish...

Shin Hyemi, kau benar-benar membuatku gila.
Aku mencintaimu, selalu...

*****

The end...
Please laeve your comment...
Gomawo
SF_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar