Tittle : Mianhae...
Author : Siti Fajriani (Shin Hyemi)
Genre : Romance
Cast : Kim Jongwoon, Shin Hyemi, Leeteuk, Jung Hara.
Cast : Kim Jongwoon, Shin Hyemi, Leeteuk, Jung Hara.
Happy reading...
.*****
Shin Hyemi’s side :
Aku masih terus
menatap layar laptopku dengan sedih. Sudah dua jam aku duduk di taman mencoba
untuk mencari inspirasi namun belum juga aku dapati. Layar laptopku masih
memperlihatkan layar kosong dari lembar kerja microsoft word. Belum ada satu
kata pun yang berhasil aku tulis untuk membuat cerpenku kali ini.
Aku mendesah kesal. Kenapa hari ini begitu sulit untuk
menulis?
Aku langsung mematikan laptopku, bagaimanapun juga aku
yakin hari ini aku tidak akan bisa menulis apapun. Diam di sini hanya akan
membuang-buang waktuku saja. Tapi aku sedang tidak ingin beranjak kemanapun.
Aku memukul kepalaku frustasi . Stupid!!
Ini semua karena aku melihatnya yang bersama dengan seorang
yeoja. Kim Jongwoon, kau membuatku marah dan kesal!!!
Siapa itu tadi? Juniornya? Kenapa begitu dekat? Mau
membuatku cemburu, hah?
Kau tahu? Kau berhasil membuatku cemburu!! Apa kau puas, Jongwoon-ssi?
Aku sedang tidak ingin memanggilmu Oppa!
Babo!
Apa dia tidak tahu kalau aku cemburu, hah? Kenapa begitu dekat?
Membuatku kesal saja... meninggalkanku hanya untuk yeoja yang tidak penting
itu. Benar-benar menyebalkan!!
Dan hanya karena itu membuat moodku benar-benar hancur! Aku
bahkan tidak bisa menulis lagi. Eotteohke?
Dia sudah terlalu sering membuatku kesal, dengan
kesibukannya pada acara perkumpulan dengan sahabat-sahabatnya, serta yeoja-yeoja
yang begitu menggilainya. Maklumi saja dia memang termasuk mahasiswa yang
pupoler di kampus, untuk itu aku cukup mengerti tapi kenapa dia harus bersikap
ramah pada semuanya? Dan yeoja-yeoja itu, kenapa malah mendekatinya. Harusnya
mereka tahu kalau dia itu sudah bertunangan denganku. Kenapa masih tetap
mendekati namja yang sudah memiliki tunangan? Benar-benar tidak ada kerjaan
sama sekali.
Niga animyeon andwae
Neo eobsin nan andwae
Na ireoke haru
handareul tto illyeoneul
Na apado joha
Aku hanya membiarkan handphoneku yang terus berdering
sedari tadi. Tanpa peduli dengan siapa yang sedari tadi mencoba untuk
menghubungiku. Aku sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun.
Handphoneku masih terus berdering, yang semakin lama
membuatku kesal mendengarnya padahal itu adalah lagu kesukaanku. Aku langsung
meraih handphoneku dan mematikannya langsung dengan mengeluarkan baterainya
tanpa mematikannya sesuai dengan prosedur yang seharusnya. Aku benar-benar
sedang kesal.
Sebenarnya aku sendiri heran dengan sikapku hari ini yang
begitu aneh. Aku tahu jika ada orang yang melihatku seperti ini pasti aku
terlihat sangat menyebalkan. Karena aku sendiri juga kesal dengan diriku sendiri
yang seperti ini. Sebenarnya aku sadar ini terlalu kekanak-kanakkan. Tapi entah
kenapa aku tidak bisa menyembunyikan sikapku itu. Bodoh!
Semakin lama disini hanya akan membuatku gila dan terus
mengeluh.
Aku langsung memasukkan laptopku ke dalam tas dengan cepat
sambil juga memasukkan handphoneku dengan asal, beranjak pergi meninggalkan
bangku favoritku di taman ini.
Mungkin pulang dan langsung meminum teh hangat di beranda
dorm akan sedikit membuat suasana hatiku menjadi lebih baik lagi dari pada
sekarang dan semoga dapat menghilangkan rasa cemburuku ini.
*****
Aku keluar dari lift dan langsung menuju dormku dengan
tidak semangat. Hanya karena kejadian yang aku lihat sebentar saja antara
namjachinguku dengan seorang yeoja, sudah membuat moodku hancur seharian.
Aku menatap kearah lorong dan melihat seorang namja yang
berdiri menyandar di dinding sambil sibuk mengotak-atik handphonenya. Sosok itu, aku mengenalnya...
bahkan sangat!
Bagaimana tidak, dia sudah berhasil membuat moodku hancur
hari ini.
Aku berjalan mendekatinya, seolah tidak peduli dengan
sosoknya. Padahal dalam hati aku senang karena dia datang menemuiku, dan
tahukah kalian rasa kesalku hilang begitu saja saat melihatnya yang berdiri
dengan cemas seperti itu. Aku tahu dia pasti mencemaskanku...
Dia menyadari kehadiranku dan langsung berjalan mendekati
cepat dengan wajahnya yang cemas.
Aku tersenyum senang dalam hati melihatnya yang seperti
itu.
“Yak! Hyemi-ah... kau dari mana saja? Aku menunggumu dari
tadi, kenapa tidak mengangkat handphonemu, hah? Kau membuatku cemas saja.”
Ucapnya cepat.
Aku hanya diam, ingin membuatnya menyadari kalau aku sedang
kesal dengannya.
“Oh iya, aku hanya ingin meminta fileku yang ada di
laptopmu. Hari ini aku harus mengumpulkan tugas itu.” Ucapnya lagi, yang
langsung membuatku diam.
Jadi dia kemari bukan karena mencemaskanku? Tapi lebih
mencemaskan tugasnya yang ada di laptopku?
Aish... jinjja...
Aku langsung berjalan dengan menghentakkan kakiku kesal,
membuka pintu dorm dan langsung mengeluarkan laptopku dari tas. Dia mengikutiku
dari belakang. Aku menghidupkan laptop dengan kesal melihatnya yang sibuk
dengan isi tasnya.
Aku hanya diam, dia membuat rasa kesalku kembali datang
lagi. Padahal tadi aku sudah tidak kesal dengannya. Tapi semuanya kembali lagi
karena ternyata dia menemuiku hanya untuk meminta tugasnya yang dia kerjakan
menggunakan laptopku saat kami kencan di taman. Aku bahkan tidak yakin itu bisa
disebut kencan atau tidak, karena dia sibuk dengan semua tugas dan
sahabat-sahabatnya. Ya... saat itu dia mengerjakan tugas kuliah kelompok dengan
sahabat-sahabatnya dan dia mengajakku untuk ikut bergabung. Dan pada akhirnya
aku hanya diam saja melihat mereka yang sibuk dengan semua tugas itu. Dan aku
pun terabaikan...
Aku langsung masuk ke kamarku setelah menemukan file yang
dibutuhkannya. Meninggalkannya tanpa peduli dengannya lagi. Bahkan dia sendiri
tidak peduli denganku. Kenapa aku harus peduli. Sekarang saja dia sudah sibuk
dengan mengirim-ngirim file itu. Sama sekali tidak ingin berbicara atau
menanyakan tentangku. Menyebalkan...
Kenapa saat pertama kali bertemu dengannya aku bisa begitu
menyukainya? Pasti ada yang salah dengan semua itu.
“Annyeong...” Kudengar suara Hara-ah memasuki dorm.
Ternyata sahabatku itu sudah pulang kuliah.
“Hara-ah... Annyeong...” Balas Yesung-oppa.
Aku mendengarnya dengan kesal. Dia bahkan bisa bersikap
begitu ramah dengan Hara-ah kenapa denganku tidak? Ada apa sebenarnya dengannya?
Menyebalkan.
“Oppa... apa yang sedang kau lakukan? Dimana Hyemi-ah?”
Tanya Hara-ah.
Aku masih terus mencoba mencuri dengar obrolan mereka dari
dalam kamar.
“Sepertinya dia di kamar, kau pulang cepat hari ini
Hara-ah.”
“Ne... apa aku mengganggu kalian?” Tanya Hara-ah dengan
nada jahil di ucapannya.
Kudengar suara tawa Yesung-oppa. “Aniyo, lagi pula ini kan
dormmu juga Hara-ah, seharusnya aku yang menanyakan itu. Apa kau terganggu
dengan kehadiranku?”
“Aniyo, aku senang, karena aku mempunyai teman bicara. Apa
lagi kita sama-sama menyukai bola kaki.”
Ya... baguslah...
Teruslah berteman seperti itu dan lupakan aku. Aku memang
tidak terlalu menyukai bola kaki. Apa bagusnya merebut satu bola. Memangnya
tidak ada lagi yang bisa dijadikan rebutan? Lebih baik mereka merebutkanku. Aku
tertawa bodoh memikirkan khayalanku sendiri.
“Hyemi-ah... kau dimana?” Kudengar teriakan Hara-ah yang
memanggilku.
“Aku di kamar.” Jawabku malas.
Aku tidak mendengar suaranya lagi, biasanya dia akan
langsung menyusulku atau menanyakan kenapa aku tidak keluar. Tapi ini aneh
karena tidak mendengar suaranya lagi. Aku mencoba mendekatkan telingaku ke arah
pintu, kembali mencoba untuk mencuri dengar pembicaraan mereka.
“Oppa, kau sedang bertengkar ya dengan Hyemi-ah?” Kudengar
bisikan Hara-ah.
“Aniyo... memangnya terlihat seperti itu?”
“Ya... tidak biasanya dia hanya diam di kamarnya, kecuali
jika kalian sedang bertengkar.”
“Oh, tapi kami sama sekali tidak ada masalah. Ah, tugasku
sudah terkirim semua. Aku harus pergi sekarang sebelum terlambat. Tolong
katakan pada Hyemi-ah. Annyeong...”
Aku mendecak kesal. Dia sama sekali tidak berpamitan
denganku?! Padahal dia tahu kalau aku tidak tidur atau apapun itu yang
memungkinkan aku tidak mendengar suaranya. Kenapa tidak pamit padaku?
Menyebalkan!
Aish...
Jangan pernah menghubungiku lagi!
Kau benar-benar membuatku marah, Oppa!
*****
Aku sudah mematikan handphoneku sejak saat di taman kemaren
sampai malam ini, namun dia sama sekali tidak ada menghubungiku. Menelponku
melalui terlpon atau datang ke dorm seperti biasanya. Benar-benar menyebalkan!
Apa dia sudah tidak peduli lagi pada diriku, hah?
Kalau saja aku tidak bertunangan dengannya aku sudah pasti
akan meminta putus. Tapi itu tidak mudah, karena aku mencintainya. Aku saja
sudah gila saat tidak melihatnya satu minggu padahal saat itu dia belum
menyatakan cintanya padaku. Bagaimana sekarang jika dia sudah menyatakan
cintanya padaku. Ditambah lagi kami sudah bertunangan. Itu tidak akan mudah
untuk melupakannya begitu saja.
Baiklah aku akan menunggu sampai besok, jika dia tidak juga
menghubungiku. Aku akan benar-benar tidak peduli lagi dengannya. Oke...
Aku juga bisa untuk tidak peduli dengannya, dia pikir hanya
dia saja yang bisa bersikap seperti itu padaku? Tidak! Akan aku tunjukkan
sisiku yang sebenarnya!
*****
Aku memainkan keyboard laptopku dengan asal seolah-olah itu
adalah tuts-tuts piano. Mengetik dengan asal setiap huruf-huruf yang aku tekan.
“Baru juga satu jam yang lalu kau mengikrarkan janji tidak
akan peduli dengannya, tapi sekarang kau sudah terlihat begitu merindukannya.”
Ujar Hara-ah mengodaku.
Aku menatapnya tajam. “Aku tidak merindukannya.” Protesku
langsung, tidak terima.
“Jangan pernah berbohong padaku. Itu semua terlihat jelas
di matamu, Hyemi-ah.”
Aku hanya diam tidak berniat untuk menentang lebih lanjut.
Semua yang dikatanya adalah benar, kenapa aku harus menentangnya lagi? Ya...
dia selalu tahu apa yang aku rasakan.
Bahkan dengan rasa kesal sekaligus dengan rasa kerinduanku
yang begitu memuncak pada namjachinguku yang mendadak melupakanku. Padahal
sebelumnya dia tidak seperti ini. Dia selalu peduli padaku. Kenapa sikapnya
sekarangnya jadi menyebalkan. Apa dia lupa kalau dia memiliki yeojachingu yang
sedang merindukannya.
*****
Aku mencoba untuk tidak mempercayai apa yang baru saja aku
lihat. Aku melihat yeoja yang bercerita sangat akrab dengan Yesung-oppa saat di kampus beberapa
hari yang lalu yang sukses membuatku marah dan kesal sampai saat ini. Dan
sekarang aku harus melihatnya yang baru saja keluar dari rumah Yesung-oppa
dengan senyum manis menjijikkannya itu.
Apa yang dilakukan yeoja itu, hah? Dia ingin merebut namja
yang sudah memiliki tunangan? Dasar nappeun yeoja!
Aku masih terus berdiri memandangi mereka dari jauh yang masih asyik berbicara di depan pintu
rumah Yesung-oppa.
Baiklah...
Ini maumu Oppa...
kita berakhir, cukup sampai di sini!
Tidak ada menghubungiku, menemuiku, kau benar-benar sudah
melupakanku ternyata!
Kyaaaaa....!!!!
Aku benar-benar ingin sekali berteriak mengeluarkan semua
amarah serta tangisku yang sebisa mungkin sudah aku tahan dari kemarin.
Aku melihat kesal kearah cincin silver dengan permata putih
yang berkilauan di jari manisku dengan kesal. Aku ingin melepasnya tapi aku
langsung mengurungkan niatku untuk melakukan hal itu.
Aku mengacak-acak rambutku frustasi.
Tidak, ini tidak benar...
Aku mencintainya dan dia juga mencintaiku. Jadi aku harus
percaya padanya sepenuhnya...
Ya, aku harus percaya...
Tapi pemandangan di depanku ini benar-benar memuakkan. Aku
tidak akan sanggup lagi jika harus mellihatnya lebih lama lagi. Dan kau
langsung mengambil tindakan ekstrem dengan melepas cincin yang melingkar di
jari manisku dengan kesal dan langsung memasukkannya ke dalam tasku dengan
asal. Aku sudah tidak memperdulikannya lagi.
*****
“Yeoboseyo...” Aku menjawab panggilan di telpon rumah
dengan malas. Menggangguku saja yang sedang asyik menonton drama kesukaanku.
“Hyemi-ah...”
Aku mendesah malas, ternyata dia menelponku juga setelah
tiga hari melupakanku begitu saja. Akhirnya ingatannya kembali juga kepadaku.
“Waeyo? Ternyata kau masih mengingatku?” Tanyaku malas. Dia
benar-benar tidak sensitif, apa dia pikir aku sedang dalam mood yang baik?
setelah dia melupakanku begitu saja, ditambah lagi harus melihat keakrabannya
dengan yeoja centil itu.
“Bogoshipo...”
Aku hanya diam, kalau saja aku sedang tidak marah, aku akan
mengatakan aku juga merindukannya. Tapi sayangnya sekarang aku benar-benar
marah padanya.
“Hyemi-ah...”
Dia bahkan tidak memanggilku ‘jagiya’ lagi. Menyebalkan!
Walaupun aku memang tidak terlalu menyukai panggilan itu. Tapi biasanya dia
tidak akan pernah berhenti memanggilku seperti itu walaupun aku menolaknya.
“Aku rasa kita harus bertemu dan berbicara langsung.”
“Aku rasa juga begitu. Lalu?” Aku menyetujui rencananya.
“Bisa kita bertemu sekarang?”
“Jam 5 di taman. Annyeong...” Ucapku langsung sambil
menghepaskan telepon yang kupengang dengan keras di tempatnya kembali. Ada
sedikit rasa bersalah yang terbesit di hatiku. Apa aku terlalu kasar?
Ah...
Aku merindukannya...tapi rasa kesalku mengalahkan rasa
rinduku padanya. Aku rasa sekarang dia sudah tahu kalau aku sedang kesal
dengannya. Semoga saja!
Teleponku kembali berdering. Aku menatapnya malas, aku
yakin itu dia. Pasti dia mencoba menghubungiku lagi. Tidak akan aku angkat. Aku
marah!
Aku kembali menuju ruang tv, mencoba kembali menonton drama
yang tadi aku tonton, karena satu jam lagi aku harus bersiap-siap untuk bertemu
dengannya. Tapi deringan telepon itu benar-benar mengganggu telingaku,
berkali-kali dan tidak berhenti juga.
Dengan malas aku mengangkat telepon itu.
“Berhenti....”
“Yak!! Kenapa kau tidak mengangkat telponmu, hah?! Dan
kenapa handphonemu tidak aktif, hah?!” Teriak Eomma dari seberang sana.
Aku terdiam, membeku. Ternyata Eomma yang menelponku, aku
bisa mati.
“Mian...”
“Kau tahu Appa sedang ada di rumah sakit sekarang! Cepat
kemari!”
“MWO?!” Teriakku shock. Ada apa dengan Appa?
“Cepatlah kemari, tadi Appa kecelakaan. Semua sudah
berkumpul di sini.” Suara Eomma mulai melemah.
“Ne...” Jawabku juga dengan lemah.
Tuhan...
Semoga Appa baik-baik saja, bagaimana ini...
Aku langsung berlari
menuju kamarku dan mempersiapkan diriku secepat yang aku bisa.
*****
Aku duduk sambil
terus berdoa tentang keselamatan Appa, karena Appa sedang menjalani operasinya.
Bisa di katakan keadaan Appa cukup parah. Sementara Eomma sibuk mondar-mandir
di depanku sambil mulutnya terus berkomat-kamit mengucapkan doa, dan
Dongsaengku, Shin Neul Ah sudah tertidur dari tadi dipangkuanku karena lelah.
“Ah, Hyemi-ah...” aku langsung menoleh kearah Eomma yang
menatapku.
“Ne?”
“Dimana Yesung-ah?”
Ow... ow...
Aku melupakannya, karena paniknnya aku tadi. Seharusnya aku
sudah menghubunginya dari tadi dan mengabari orang tuanya juga. Babo! Kenapa
aku bisa lupa dengannya.
“Dia sedang...”
Aku terdiam dan langsung melihat kearah jam tanganku, jam 7
malam. Eotteohke?
“Eomma... bisa aku pergi sebentar?” Tanyaku pada Eomma
meminta izin.
“Waeyo? Kau mau kemana Hyemi-ah?” Tanya Eomma menatapku
penasaran.
“Aku melupakan sesuatu Eomma, sesuatu yang penting.” Ucapku
dengan panik.
“Mana yang lebih penting dari Appamu, hah?” Tanya Eomma
memintaku untuk memilih.
Aku terdiam tidak mampu untuk menjawab lagi. Appa sangat
penting untukku dan Yesung-oppa juga begitu. Apa dia masih menungguku di taman?
Semoga saja tidak, kumohon...
Apa lagi sekarang hujan turun, lagi pula ini sudah tiga jam
dari janji kami. Tidak mungkin dia msih menungguku, tapi aku tahu dia pasti
menungguku. Bagaimana ini, dan kenapa operasinya sangat lama sekali. Bagaimana
dengan keadaan Appa dan Yesung-oppa sekarang?
Seorang dokter keluar dari ruang operasi Appa, Eomma
langsung menghampirinya dengan cepat menanyakan keadaan Appa. Aku mencoba membangunkan
Dongsaengku yang tertidur .
Akhirnya aku bisa bernapas lega karena keadaan Appa sudah
cukup membaik dari sebelumnya.
“Eomma...” Aku meminta izin Eomma lagi.
“Pergilah, setelah itu kau harus kembali lagi dengan tunanganmu.
Arraseo?” Ucap Eomma.
“Ne, Arraseo... aku akan segera kembali.” Ucapku sambil
menyambar tasku dan langsung pergi.
Aku menatap hujan yang turun dengan derasnya. Semoga dia
tidak menungguku, hujan ini terlalu deras untuknya. Kalau dia menungguku, dia
bisa sakit. Bodoh, jangan sampai kau menungguku!
*****
Aku langsung meminta sahabatnya untuk datang ke dorm
membantuku untuk membawanya masuk ke dormnya serta untuk menggantikan bajunya
yang basah.
Tunanganku yang bodoh ini, dia menungguku begitu lama di
bawah derasnya hujan. Harusnya dia pergi dari taman itu karena hujan yang
turun. Tapi dia malah tetap menungguku sampai dia menggigil kedinginan, aku
yakin dia pasti akan sakit untuk beberapa hari ke depan.
“Teuki-oppa, bisa tolong gantikan bajunya. Aku akan
menyiapkan makanan dulu.” Aku meminta tolong pada sahabatnya, Leeteuk-oppa.
“Ne, tapi kalau aku boleh tahu, kenapa dia sampai bisa
sebasah ini?” Tanya Teuki-oppa.
“Jangan tanya aku Oppa. Dia itu terlalu bodoh, menungguku
di tengah hujan. Babo!” Aku menatap Yesung-oppa yang tidur dengan kesal
sekaligus sedih dan langsung berjalan menuju dapur untuk membuatkannya sup.
Sebelumnya aku sudah memberitahukan Eomma kalau aku harus
merawat Yesung-oppa yang sedang sakit, sebelum Eomma mencemaskan keadaanku.
Aku kembali ke kamarnya sambil membawa sebuah mangkuk kecil
dan handuk untuk mengompresnya, mengurangi suhu panasnya.
“Gomawo Oppa, sudah mau membantuku.” Ucapku pada Teuki-oppa
yang duduk di kursi belajar Yesung-oppa.
“Kau tidak perlu sungkan padaku Hyemi-ah, kau sudah seperti
dongsaengku sendiri. Lagi pula aku sudah menganggap Yesung-ah saudaraku
sendiri. Kalian adalah keluargaku.” Dia tersenyum menatapku.
Aku membalas senyumannya.
“Maaf jika aku terlalu lancang. Tapi sebenarnya ada masalah
apa kau dengannya?”
Aku langsung menceritakan masalahku pada Teuki-oppa sambil
mengompres dahi Yesung-oppa. Dia benar-benar membuatku cemas. Apa aku harus
membawanya ke rumah sakit juga?
“Apa kau tahu yeoja itu siapa?” Tanyanya padaku setelah aku
selesai menceritakan masalah kami dari awal.
Aku hanya menggelengkan kepalaku lemah. Ini terlalu bodoh
untuk diceritakan, memperlihatkan aku yang begitu cemburuan, tapi itulah sosok
aku yang sebenarnya.
“Dia itu yeojachingu Jongjin-ah.”
“MWO?!” Teriakku shock.
“Mereka memang dekat, aku yakin dia kemaren menemui
Yesung-ah untuk membantunya membuat kejutan ulang tahun untuk Jongjin-ah. Dia
memang selalu seperti itu jika ingin memberikan kejutan untuk Jongjin-ah.”
Jelas Teuki-oppa padaku.
Aku terdiam...
Semua terasa begitu menyesakkan...
Bodoh!
Kau yang begitu bodoh, Hyemi-ah!
Cemburu tidak jelas!
Lihatlah apa yang sudah terjadi!
Kau membuat orang yang kau cintai sampai sakit seperti ini.
Bodoh! Bodoh! Bodoh!
“Mianhae...” Ucapku pelan.
“Hyemi-ah, aku rasa kalian harus menyelesaikan masalah
kalian sendiri. Aku harap kau bisa lebih memahaminya lagi. Kalian itu saling
mencintai, aku tidak ingin melihat kalian yang bertengkar seperti ini.” Ujar
Teuki-oppa pelan. “Aku yakin dia tahu kau marah padanya, hanya saja dia ingin
mencari waktu yang tepat untuk membicarakan masalah kalian. Beberapa hari yang
lalu dia benar-benar terlihat sangat sedih. Pasti karena masalah ini.” Tambahnya
lagi.
“Ne...” Aku tahu semua kesalahanku. Untuk selanjutnya aku
janji akan mencoba untuk menjadi lebih baik lagi dengan hubungan ini. Aku juga
ingin memperjuangkannya menjadi lebih baik lagi. Tidak cemburu lagi seperti
tadi. Ah.... Hyemi-ah babo!!!
*****
Yesung’s side :
Aku terbangun dari tidurku, membuka mataku perlahan menatap
langit-langit kamar, sepertinya ini kamarku, tapi kenapa aku bisa ada di sini?
Aku mencoba menggerakkan tubuhku dan langsung merasakan sakit di kepala serta
tubuhku. Sepertinya aku sakit karena harus berhujan-hujan. Ah, sudah jam berapa
sekarang.
Aku menoleh ke samping mencoba untuk melihat jam yang ada
di meja kecil di samping tempat tidurku. Tapi aku malah tertegun melihat yeoja
yang begitu kucintai terlelap di sampingku sambil melipat tangannya di pinggir
tempat tidurku. Pasti dia yang merawatku dan membawaku pulang ke dorm.
Tapi kenapa dia datang terlambat dari janjinya? Aku tahu
dia pelupa tapi melihat sikapnya yang dingin belakangan ini, aku yakin dia
pasti selalu mengingat tentangku. Aku juga tahu dia marah padaku. Tadinya aku
ingin meminta maaf padanya. Tapi malah berakhir seperti ini. Ah... aku begitu
merindukannya...
Aku pikir dengan mendiamkannya akan membuatnya mencoba
untuk menghubungiku atau jika tidak dia harus mengatakan apa masalahnya
denganku bukannya hanya diam, bahkan mematikan handphone selama beberapa hari.
Benar-benar masih kekanak-kanakkan tunanganku ini.
Sebelumnya aku pikir dia adalah yeoja yang dewasa ternyata
tidak. Walalupun terlihat dewasa dia masih memiliki sifat yang
kekanak-kanakkan. Harusnya dia mengatakan padaku apa yang dia rasakan bukannya
malah diam dan menyimpannya. Berbagi cerita denganku misalnya, mengatakan
secara langsung apa yang terjadi. Sehingga tidak membuatku bingung seperti ini.
Dia pasti sangat marah karena aku tidak pernah
menghubunginya. Padahal selama beberapa hari itu aku ingin membuatnya menyadari
apa yang harus dia lakukan dan ingin dia meredakan marahnya kepadaku.
Aku mencoba untuk bangun dengan perlahan agar tidak
membuatnya terbangun karenaku. Tapi sepertinya tidak sesuai dengan yang aku
harapkan karena dia ternyata bangun.
“Oppa...” Ucapnya dengan pelan sambil mencoba untuk
mengembalikan kesadarannya sepenuhnya. “Kau sudah bangun.”
“Maaf... membangunkanmu, kau pasti lelah.” Ujarku sambil
duduk bersandar di kepala ranjang.
“Kau pasti lapar, Oppa. Tunggu di sini, aku akan segera
kembali membawakanmu sarapan.” Belum sempat aku protes untuk menolaknya dia
sudah berjalan pergi meninggalkanku.
Sebenarnya aku memang lapar, karena dari kemarin aku tidak
ada makan. sepertinya aku pingsan sekaligus tertidur dengan lama, bahkan tanpa
terasa sudah pagi.
Tidak lama kemudian dia kembali sambil membawa nampan di
tangannya. Dia langsung duduk di samping tempat tidurku. Tidak biasanya dia
hanya diam seperti ini. Biasanya dia akan sangat marah padaku karena melakukan
hal bodoh yang menyebabkan aku sakit, seperti saat aku menunggunya di tengah
hujan kemaren. Walaupu marah dia akan tetap peduli dan perhatian kepadaku.
Hmmm, Pasti ada sesuatu yang terjadi sampai membuatnya jadi seperti ini.
Dia menyuapiku dalam diamnya, aku terus memperhatikannya
yang benar-benar terlihat aneh. Dia bahkan sama sekali tidak ingin melihat
kearahku. Mengalihkan pandangannya selain aku. Dan dia pasti benar-benar sangat
marah padaku, buktinya dia tidak memakai cincin tunangan kami.
“Hyemi-ah...” Panggilku pelan.
Dia langsung membungkam mulutku dengan sesuap bubur yang
disuapinya. Aku kembali diam. Diam ini benar-benar membuatku gila...
Hyemi-ah, ayo katakan sesuatu, katakan apapun itu, jangan
hanya diam saja. Berteriaklah atau marah jika itu perlu. Kau tahu ini
menyiksaku.
“Hyemi-ah...” Aku memanggilnya kembali.
Dia hanya menunduk dan diam, sibuk dengan buburku, seolah
tidak mendengar panggilanku padanya.
“Hyemi-ah... mianhae...” Ucapku lagi, walaupun sebenarnya
aku masih tidak mengerti dimana salahku. Tapi aku juga merasa bersalah padanya,
karena tidak peduli padanya. Aku tidak menghubunginya dari telepon rumah atau
tidak datang padanya. Aku minta maaf karena ketidakpedulianku yang bodoh itu.
Dia mengangkat kepalanya dan menyuapiku kembali. Aku
menatapnya sedih, setetes air mata mengalir dari mata indahnya, yang langsung
membuat hatiku sakit melihatnya menangis seperti ini.
“Hyemi-ah... jangan menangis. Aku benar-benar meminta
maaf.” Aku mencoba untuk menghentikan tangisnya yang malah membuat tangisannya
semakin jadi karena ucapanku itu.
Dia menundukan kepalanya mencoba untuk menyembunyikan
tangisnya dariku.
Hatiku semakin sakit melihatnya yang seperti ini. Aku
mendekat kearahnya dan memegang dagunya untuk menatap mataku yang dari tadi
selalu dihindarinya. Air matanya masih terus keluar, dia menatapku dengan
sedih. Akhirnya dia mau juga menatapku.
“Jangan menangis seperti ini, kau tahu ini membuatku juga
sakit.” Ucapku pelan, sambil menggenggam kedua tangannya erat.
“Oppa... mianhae...” Ucapnya dengan suaranya yang parau.
Aku langsung memeluknya dengan erat, membiarkannya menangis
di dalam pelukanku, mengeluarkan semua kesedihannya padaku.
“Oppa... mianhae...” Dia terus mengulangi kata-kata itu
padaku.
Aku mengusap punggungnya pelan, mencoba untuk mengurangi
tangisnya. “Kau sama sekali tidak salah Hyemi-ah, aku yang salah karena tidak
peduli padamu.” Aku mengakui kesalahanku.
Dia menggelengkan kepalanya cepat, seolah tidak setuju
dengan pengakuanku.
Dia melepaskan pelukannya dariku, menundukkan kepalanya
masih tidak ingin melihat mataku.
“Aku yang salah, karena telah... Oppa mianhae, karena aku
tidak percaya padamu. Aku marah karena melihatmu yang dekat dengan yeoja itu
dan kau sama sekali tidak peduli denganku. Kau tahukan betapa menyebalkannya
sikapmu yang seperti itu. Tidak peduli seolah kau tidak memiliki yeojachingu,
kau malah asyik mengobrol dengan yeoja itu.” Aku tersenyum senang melihatnya
yang sudah kembali karena begitu banyak yang dia ceritakan, aku merindukan omelannya
yang polos dan jujur itu.
Tapi siapa yang dia maksud dengan ‘yeoja itu’?
“Yeoja itu? Maksudmu siapa Hyemi-ah?” Tanyaku padanya.
Dia masih tetap menundukkan kepalanya dariku. “Yeojachingu
Jongjin-ah...” Ucapnya dengan pelan, hanya berupa gumaman.
Aku yakin dia pasti malu untuk mengakuinya padaku, buktinya
dari tadi dia hanya menundukkan kepalanya. Pasti dia sudah salahpaham dengan itu semua. Beberapa hari ini aku
memang disibukkan dengan yeojachingu dongsaengku itu, karena dia ingin
memberikan kejutan untuk dongsaengku yang seminggu lagi akan ulang tahun.
Karena kesibukan itu juga yang membuatku jadi semakin malas untuk menghubungi
yeojachinguku tercinta ini. Di tambah lagi aku tahu dia sedang marah tanpa
sebab padaku. Jadi dia marah padaku karena masalah ini ternyata.
“Tenyata kau bisa cemburu juga, Hyemi-ah.” Godaku padanya.
Aku senang melihatnya yang jujur seperti ini, akhirnya dia
mau juga untuk terbuka denganku. Sebenarnya dia tidak terlalu tertutup padaku.
Hanya saja hampir satu tahun hubungan kami, aku mengenalnya yang tidak terlalu
terbuka dengan apa yang dia rasakan terhadapku. Dia menyimpannya, namun masih
tetap terlihat dari luar bagaimana perasaannya padaku.
Dia langsung menatapku dengan galak, setelah mendengar
ucapanku yang menggodanya.
Ini adalah pertengkaran kami yang cukup lama biasanya hanya
bertahan beberapa jam, bahkan tidak sampai satu harian.
Mungkin dengan begini kami akan bisa saling memahami dan
belajar dari kesalahan.
“Cobalah untuk membuka hatimu padaku, Hyemi-ah. Katakan apa
yang kau rasakan, jadi semuanya bisa menjadi jelas dan kita tidak perlu harus
bertengkar karena masalah yang tidak penting seperti ini lagi nantinya.” Ucapku
pelan, mencoba untuk menasehatinya. Ini juga untuk pengalamanku agar hubungan
kami bisa menjadi lebih baik lagi.
“Ne Oppa... tapi kita harus bersama-sama melakukannya,
jangan hanya aku saja.” Ucapnya pelan.
Aku tersenyum senang mendengar ucapannya. “Tentu saja, aku
juga tidak ingin melihatmu menangis lagi seperti tadi. Kau tahu, itu terlihat
sangat jelek.” Aku kembali mengodanya. Padahal melihatnya yang menangis seperti
tadi membuat hatiku menjadi sakit. Jangan menangis lagi, tapi kalau ingin
menangis jangan pernah menangis sendiri, karena bahu dan dadaku selalu ada
sebagai sandaran untuk melepaskan semua kesedihan itu.
“Kau menyebalkan Oppa, cepat makan ini. Aku tidak ingin
menyuapimu lagi. Aku marah!” Serunya, yang langsung menyodorkan nampan sarapan
ke pangkuanku.
Ah, melihatnya yang cemberut seperti itu sebenarnya sangat
lucu, apa lagi saat dia mengembungkan pipinya. Aish... membuatku ingin
mencubitnya saja.
Ah, cincinnya...
“Kenapa melepas cincin tunangan kita? Kau letakkan dimana
cincin itu, Hyemi-ah?” Tanyaku langsung sebelum aku melupakan hal itu.
“Omo!” Dia langsung
beranjak dari duduknya dan menatapku dengan panik.
“Wae?” Tanyaku langsung, apa dia lupa dimana meletakkan
cincin tunangan kami? Awas saja kalau sampai seperti itu.
“Appa masih di rumah sakit, aku harus segera pergi.”
“Memangnya Appa sakit apa?” Tanyaku langsung sebelum dia
benar-benar pergi meninggalkanku.
“Kemarin Appa kecelakaan, aku harus pergi sekarang.”
Ucapnya masih dengan panik.
“Tunggu, aku juga akan ikut denganmu.” Aku mencegahnya
untuk pergi. Aku jadi tahu kenapa dia tidak datang kemaren pasti karena alasan
ini.
“Tapi kau kan masih sakit, Oppa.” Dia melarangku.
“Aku juga ingin menjadi calon menantu yang baik, tunggu
dulu, aku akan siap-siap.” Aku langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk
bersiap-siap.
“Bagaimana kalau sakitmu semakin parah, Oppa?” Tanyanya
saat aku keluar dari kamar mandi.
“Kau adalah obat untukku.” Ucapku sambil mengerlingkan
sebelah mataku kearahnya.
Dapat kulihat dia langsung salah tingkah, dan mengalihkan
pandangannya dariku.
“Aku tunggu di luar, cepatlah.” Ucapnya dengan cepat dan
langsung meninggalkanku sendiri di kamar.
Lihatlah betapa lucunya dia jika dia terlihat malu-malu,
aku yakin pipinya pasti sudah merah. Padahal dia hanya mendengar ucapanku yang
biasa saja. Bagaimana kalau aku mengeluarkan semua sisi keromantisanku. Apa
yang akan terjadi jika hanya dengan begini dia langsung pergi.
Ah, cincin itu..
Baiklah aku bisa menanyakannya nanti, yang penting sekarang
aku harus ke rumah sakit untuk menjenguk calon mertuaku. Lagi pula aku yakin,
dia pasti akan membutuhkan waktu banyak untuk mencari cincin itu, karena lupa
meletakkannya dimana. Aku selalu ingat bagaimana sifat ceroboh dan pelupanya
itu.
Aish...
Shin Hyemi, kau benar-benar membuatku gila.
Aku mencintaimu, selalu...
*****
The end...
Please laeve your comment...
Gomawo
SF_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar