Welcome to My World

Senin, 20 Agustus 2012

Fanfiction - My Love Story [Part 2 - End]



Title : My Love Story
Author : Siti Fajriani (Shin Hyemi)
Genre : Romance
Cast  : Yesung, Shin Hyemi, Jung Hara

Happy reading...

*****

“Yak! Mau sampai kapan kau hanya diam seperti itu, Hyemi-ya?’ Tanya Hara yang menghampiriku di kamar.

Aku hanya diam sambil menatap hampa keluar jendela.

“Aku tahu apa yang kau rasakan, aku juga pernah merasakannya.” Ceritanya dan ikut duduk di sampingku di atas tempat tidur.


“Apa yang kau tahu?! Kau tidak tahu apapun yang aku rasakan Hara-ya. Kau begitu populer dan kau bisa mendapatkan apa yang kau mau. Kau tidak tahu kehilangan yang aku rasakan saat ini!” Bentakku padanya, aku sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun. Aku sedang ingin sendiri!

“Yak! Kau belum mengenalku Hyemi-ya. Apa kau pikir menjadi populer itu menyenangkan, hah? Semua orang yang berada di dekatku hanya pembohong, menjadi sosok yang lain agar aku melihat mereka. Mereka semua menggunakan topeng agar terlihat menarik! Hanya kau... kau yang begitu tulus padaku.” Jelasnya dengan sedikit berteriak, membalasku.

Aku diam  tidak menggubrisnya.

“Semua namja terlihat manis di depanku tanpa mau menunjukkan sosok mereka yang asli. Pembohong! Itu lah yang menyebabkanku sampai saat ini tetap sendiri, aku hanya ingin mendapatkan namja yang tulus mencintaiku. Apa kau tahu aku pernah menangis karena namja?” Dia menatapku sedih.

Aku membalas tatapannya, kali ini menatapnya dengan tatapan penasaran. Aku sama sekali tidak pernah mengetahui kalau dia pernah menangis karena namja.

“Apa maksudmu Hara-ya?” Tanyaku.

“Aku menangis saat aku harus kehilangan orang yang begitu aku cintai, hanya karena aku populer. Dia tidak ingin menyukaiku karena tidak ingin membuat orang cemburu akan sosoknya. Dia satu-satunya namja yang mencintaiku tapi tidak mau mendapatkanku bahkan sampai di akhir hidupnya dia tetap mencintaiku. Kau tahu kalau aku sangat mencintai Lee Hyukjae?! Bahkan sampai sekarang, walaupun aku tidak bisa melihatnya lagi, aku tetap mencintainya.”

Aku memeluk Hara erat. Aku membiarkannya menangis dalam pelukanku. Aku sama sekali tidak mengetahui tentang hal ini. Dia sama sekali tidak pernah menceritakannya padaku.

Dia menyimpannya begitu lama. 3 tahun!
Lee Hyukjae adalah teman satu kelas kami, dan dia meninggal saat kami duduk di bangku kelas 2 SMA karena kecelakaan.

“Hara-ya... mianhae... aku...” Tangisku juga ikut pecah melihatnya yang seperti ini. Aku sama sekali tidak pernah melihatnya yang menangis seperti ini. Karena biasanya dia yang selalu tersenyum dan tertawa. Dia yang selalu menghiburku saat aku sedih. Dia orang yang selalu ceria. Aku benar-benar tidak menyangka dia menyimpan semua ini dariku.

Ini pasti sangat berat untuknya. Aku salut  padanya yang  mampu bertahan sampai saat ini. Ini lebih menyedihkan sekaligus menyakitkan dibandingkan dengan kisah kusendiri.

Hari ini, karena Hara aku akan belajar bagaimana merelakan sesuatu yang begitu berharga pergi. Aku harus dewasa!

Aku melepaskan pelukanku dengan Hara dan mengahapus air mataku, aku tersenyum menatapnya yang juga melakukan hal yang sama denganku.

Hidup kami masih panjang, dan akan lebih banyak halangan rumit nantinya yang akan kami hadapi. Kalau hanya karena ini membuat kami lemah maka nantinya kami akan jatuh dan tidak dapat bertahan. Aku tidak ingin itu terjadi.

Untuk Yesung-sunbaenim, aku senang, karena setidaknya cinta yang aku rasakan padanya tidak bertepuk sebelah tangan. Bahagia rasanya mengetahui dia juga merasakan hal yang sama sepertiku.

*****

Hari itu akhirnya tiba...
Kenapa waktu begitu cepat berlalu...
Aku masih belum siap untuk semua ini. Bagaimana aku bisa bertunangan dengan namja yang belum aku kenal. Baiklah, walaupun bukan hari ini aku akan bertunangan dengannya. Hari ini aku hanya akan bertemu dan mencoba saling mengenal.

Tapi aku tahu bagaimana sifat kedua orang tuaku. Mereka pasti sudah menetapkan tanggal pertunangan itu. Aku yakin tidak akan lebih dari satu bulan. Kalau perlu dalam bulan ini juga. Benar-benar sangat terburu-buru. Tidak, benar-benar sangat di perhitungkan. Mereka pasti sudah merencanakan hal ini dari dulu.

Niga animyeon andwae
Neo eobsin nan andwae
Na ireoke haru handareul tto illyeoneul
Na apado joha

Aku menjawab panggilan di handphoneku, Hara-ah.

“Yoeboseyo...”

“Hyemi-ya, bagaimana? Apa kau sudah bertemu dengan namja itu?” Tanyanya yang terdengar sangat girang.

“Aniyo, keluarganya belum datang. Mungkin sebentar lagi.” Jawabku dengan malas.

Chingu-ku ini, harusnya dia tahu betapa tertekannya aku dengan hal ini. Kenapa dia malah terdengar begitu bahagia. Membuatku kesal saja.

“Kau tahu? Aku iri padamu, aku juga ingin orang tuaku menjodohkanku dengan anak teman mereka. Seperti di drama-drama yang sering kita tonton. Pasti akan seru.” Ceritanya yang mulai kembali kedunia khayalannya.

Aku mendnegus kesal. Bagaimana aku bisa bahagia, kalau orang yang aku cintai baru saja menyatakan perasaannya dan aku sama sekali tidak bisa membalasnya. Rasanya aku ingin memberontak dan protes untuk ini semua. Tapi aku sama sekali tidak mampu untuk melakukan itu semua. Aku lemah!

“Yak! Bagaimana aku bisa bahagia. Kau tahu kan Yesung-sunbaenim menyatakan cintanya padaku. Kau tahu juga kan itu pertama kalinya orang yang kusuka juga menyukaiku. Bagaimana aku bisa melepaskannya begitu saja. Seandainya aku bisa selingkuh mungkin aku akan selingkuh dengan Yesung-sunbaenim.” Seruku dengan sedikit kesal. “Ah, kalau tidak nantinya aku akan membuat kontrak dengan namja itu. Aku yakin namja itu juga terpaksa untuk menyutujui pertunangan ini. Aku akan mengajaknya untuk membuat kontrak pertunangan. Jadi dengan begitu aku akan bisa bersama dengan Yesung-sunbaenim.” Ujarku dengan senyum senang. Khayalanku sudah tingkat akut sepertinya. Semua karena Hara, tapi apa mungkin hal itu bisa terjadi?
Seandainya...

“Apa kau gila mau melakukan itu, hah?!” Teriaknya tidak percaya.

Bodoh, chingu-ku yang bodoh!
Apa dia pikir aku memiliki keberanian untuk melakukan itu. Harusnya dia tahu itu hanya akan jadi khayalanku saja. Tapi, tidak ada salahnyakan untuk di coba.

“Aku akan mencobanya. Untuk kali ini sepertinya aku harus menentang kedua orang tuaku, Hara-ya. Aku tidak mungkin melepaskan Yesung-sunbaenim.” Ucapku lirih.

“Kau... kau serius Hyemi-ya?” Tanyanya tidak percaya.

“Kita lihat saja nanti.” Ucapku penuh misteri. Aku bahkan tidak tahu apa yang aku lakukan ini benar. Aku masih...

“Hyemi-ya... ayo keluar mereka sudah datang.” Ujar Eomma dari luar kamarku.

“Hara-ya...”

“Wae? Mereka sudah datang?”

“Ne.. sampai ketemu besok di dorm.” Ujarku lemah.

“Kau harus menceritakan semuanya padaku, saat namja itu sudah pulang dari rumahmu. Aku tidak mau menunggu ceritamu besok.” Tekannya pada ucapannya.

Aku tersenyum kecil. “Ne... tenang saja, aku pasti cerita.” Ujarku dan langsung mengakhiri ceirta singkat kami.

Aku melempar handphone-ku ke tempat tidur dan menatap diriku di cermin dengan sedikit menyunggingkan senyum manisku. Aku juga tidak ingin terlehat begitu menyedihkan nantinnya. Setidaknya untuk kali ini aku harus berpura-pura untuk membuat kedua orang tuaku tersenyum senang padaku.

Aku memberanikan diri keluar dari kamarku. Sudah dari tadi jantungku terus berdetak dengan sangat kencang. Aku sendiri bingung ada apa sesungguhnya dengan jantungku. Debarannya membuatku tidak nyaman.

Aku berjalan menuju ruang tamu dengan pelan. Sempat kulihat lirikan nakal dari dongsaeng-ku, yang sedang asyik game di laptop-ku, Shin NeulAh.

Aku dapat melihat Ahjumma dan Ahjussi yang duduk menghadap kearah kedua orang tuaku, dengan senyum bahagia mereka. Sementara namja itu duduk membelakangiku.

Aku menghampiri mereka dengan senyum manisku. Kali ini aku akan mencoba untuk menerima takdirku. “Annyeong haseyo...” Sapaku.

Ahjumma dan Ahjussi itu langsung menyambutku dengan senyum bahagia mereka begitu juga dengan kedua orang tuaku. Mataku teralih kearah namja yang membelakangiku. Dia berbalik dan menatapku...

Mataku bertemu dengan matanya, membuat tubuhku menegang. Tidak percaya dengan apa yang saat ini aku lihat.

“Kau...”

*****

Yesung’s side :

Aku sudah hampir gila saat tahu ternyata yeoja yang aku sukai tidak menyukaiku. Aku gila saat mengucapkan kata-kata itu dan aku semakin gila saat melihatnya yang hanya diam menatapku.

Aku mencintainya...
Walaupun aku baru satu minggu mengenalnya. Aku mencintainya!
Tidakkah itu gila?!

Ah, itu pasti sangat mengagetkannya sampai dia hanya diam. Ataukah dia berpikir aku gila?

Kenapa hanya diam dan menatapku seperti itu? Apa aku begitu terlihat gila dan bodoh dimatamu, Hyemi-ya?
Apa salah jika aku mencintaimu?
Kenapa hanya diam, tidak bisakah kau mengeluarkan sebuah kata-kata. Walaupun kau menolakku, aku ingin mendengarnya langsung dari bibirmu.

Seminggu tidak melihatmu membuatku benar-benar gila, Hyemi-ya...

Apa kau tahu apa yang aku rasakan? aku begitu mencintaimu...

Sakit!
Sangat sakit saat melihatmu yang hanya diam seperti itu. Apa kau tahu aku tidak memiliki kesempatan lagi untuk bisa bersamamu. Kau tahu, kemarin adalah saat terakhir aku bisa bersamamu.

Seandainya saja kau menjawab dan membalas cinta itu. Aku bisa tidak akan ada di ruangan ini. Ruang tamu yang indah dan luas ini benar-benar terasa sangat menyesakkan bagiku.
........
Aku duduk di bangku taman di rumah keluarga Shin. Menatapi dan terus menatapi yeoja yang sedang asyik duduk di ayunannya.

Aku benar-benar frustasi saat tahu orang tuaku akan menjodohkanku dengan seorang yeoja teman Eomma dan Appa. Padahal saat itu aku sedang jatuh cinta dengan seorang yeoja yang tidak sengaja aku temui di taman.

Entah kenapa ada sesuatu yang membuatku begitu tertarik akan sosoknya. Secara perlahan aku menyukai dan mencintai semua yang ada  pada sosoknya.

Tuhan...
Maaf karena aku telah marah padamu. Sekarang rasanya untuk mengucapkan rasa terima kasih tidaklah cukup.

Pada akhirnya kau menyatukanku dengannya. Terima kasih...

“Yesung-sunbaenim... kalau saja aku tahu kau yang akan di jodohkan denganku. Aku pasti akan langsung menyetujui.” Kulihat dia tersenyum begitu manis, sangat manis.

Aku menatapnya dengan penuh cinta. Ya... seandainya aku juga tahu, aku akan meminta orang tuaku untuk mempercepat pertemuan keluarga itu. Sehingga tidak perlu membuatku merasakan gila dan frustasi seperti sebelumnya.

Tiga hari lagi aku akan bertunangan dengannya. Membayangkannya benar-benar membuatku bahagia. Bagaimana bisa ini jadi begitu indah. Aku bahkan belum dapat menemukan kata-kata yang cocok untuk mewakili perasaan bahagia yang aku rasakan. lebih dari sebuah kata bahagia!

“Hyemi-ya... cobalah untuk memanggilku dengan sebutan Oppa. Kenapa selalu memanggilku dengan sebutan Sunbaenim? Aku tidak suka mendengarnya.” Ucapku memintanya.

Dia berhenti bermain ayunannya dan menatapku serius. Tatapan yang sangat aku sukai, karena itu berarti dia akan mengatakan yang sejujurnya apa yang dirasakannya. Aku jadi semakin menyukainya karena dia tidak malu untuk mengatakan apa yang dirasakannya.

“Aku malu untuk memanggilmu dengan sebutan itu.” Ucapnya pelan, lalu kembali bermain ayunan sambil menatap langit.

Sikapnya yang terkadang malu-malu itu benar-benar membuatku gemas.

“Yak! Sebentar lagi kita akan bertunangan, Hyemi-ya.” Protesku padanya.

Dia masih tetap asyik dengan menatap langit tanpa memperdulikan ucapanku.

Apa dia begitu malu? Aish...

“Yak! Kalian berdua!” Teriak chingu Hyemi, Jung Hara. Yang langsung menghampiri kami dan duduk di depanku.

“Oppa, Kim-ahjumma mencarimu.” Ucapnya memberitahuku.

Aku menatap Hyemi yang masih asyik dengan khayalannya menatap langit.

Aku mendengus kesal. “Kau dengar? Hara saja memanggilku dengan sebutan Oppa. Kenapa kau tetap tidak mau, hah?”

Hara menatapku dengan bingung, tentu saja dia tidak akan mengerti masalah kami.

“Kau ini sangat menyebalkan, Hyemi-ya.” Aku langsung beranjak dari dudukku dan berjalan meninggalkan mereka berdua.

“Yak Oppa! Wae?” Tanya Hara semakin bingung.

Apa dia tidak tahu kalau aku sedang kesal. Tapi sebenarnya tidak juga karena ini merupakan bagian dari taktikku. Lihatlah sebentar lagi dia akan memanggilku dengan sebutan Oppa. Aku langsung mengeluarkan senyum sinisku.

“Op.. Oppa...”

Aku langsung tersenyum penuh kemenangan. Lihatkan apa yang aku bilang. Dia tidak akan pernah bisa membiarkanku marah padanya.

Aku tetap berjalan seolah tidak mendengar ucapannya.

“Yak! Oppa, kalau kau tidak berbalik aku tidak akan pernah mau memanggilmu dengan sebutan itu.” Teriaknya yang mulai kesal.

Aku tetap berjalan. “Aku tidak akan memaksamu lagi memanggilku dengan sebutan itu karena nanti kau harus memanggilku dengan sebutan Yeobo-ya!” Aku balas berteriak kepadanya. “Jagi-ya...” Tambahku.

Aku yakin dia pasti shock dengan permintaanku kali ini.

Hah, aku puas membuatnya menjadi malu seperti itu. Apa lagi di depan Hara-ah. Aku bisa membayangkan pipinya yang sudah memerah karena ucapanku tadi.

Jagi-ya? Terdengar sangat manis untuk memanggilnya. Aku jadi tidak sabar mendengarnya memanggil dengan sebutan Yeobo-ah.

Aku bisa menjamin tidak akan lama lagi dia akan memanggilku dengan sebutan itu.

*****

Shin Hyemi’s side :

Yeobo-ya?
Apa dia gila memintaku memanggilnya dengan sebutan itu. Memanggilnya Oppa saja sudah membuat pipiku bersemu merah karena malu.

“Aish... aku benar-benar iri dengan kalian berdua.” Ucap Hara aku menatap Hara dengan tatapan membunuh.

Yak! Aku malu!

“Aku masih ingat saat kau menangis karena Yesung-oppa. Saat itu kau benar-benar terlihat seperti orang gila Hyemi-ya. Sebesar  itukah cintamu untuknya? Lalu kenapa malu untuk memanggilnya dengan sebutan Yeobo-ah?” Seru Hara dengan volume suara yang sengaja dikeras-keraskan.

Aku menatapnya semakin kesal.

“Apakah itu benar, Hara-ya? Dia menangis karena aku?” Kudengar suara Yesung-sunbaenim mendekat.

Aku melihatnya yang berjalan kearah kami.

Hara babo!
Kau ingin membuatku mati karena malu, hah!

“Wah... gomawo Hyemi-ya karena sudah mau menangis untukku. Aku pikir saat itu kau tidak menyukaiku dan menganggap aku gila. Ternyata kau begitu mencintaiku.” Senyum Yesung-sunbae bahagia.

“Dia sampai ingin membatalkan perjodohan ini hanya karena kau, Oppa.” Ucap Hara lagi. Aku menatapnya shock. Apa dia ingin membongkar semuanya?
Aish...

“Seandainya saja kau melihatnya saat menangis, dia benar-benar sangat jelek.” Hara ertawa puas. “Oppa, jangan pernah meninggalkannya. Aku yakin dia bisa mati tanpamu.”

Aku menatap Hara dengan sangat kesal karena sudah mempermalukan di depan Yesung-sunbaenim, sampai rasanya aku ingin menangis.

Aku langsung beranjak dari tempat menyebalkan ini. Aku tidak tahu kenapa aku jadi menangis seperti ini, padahal aku tidak meminta air mata ini untuk keluar, namun dia keluar begitu saja.
Apa aku terlalu cengeng?

Aku hanya malu karena dia membongkar semua yang aku rasakan pada Yesung-sunbaenim.

“Yak! Hyemi-ya, kau mau kemana?”

Aku tetap berjalan tidak memperdulikan teriakkan Yesung-sunbaenim dan Hara yang memanggilku untuk kembali.

Apa mereka pikir semudah itu untuk memaafkan kesalahan terbesar mereka?
Aku marah!

Sepertinya, aku akan sering merasakan kesal dengan dua orang menyebalkan itu yang jika sudah bergabung hanya akan membuatku kesal saja. Sepertinya aku harus banyak belajar bersabar untuk menghadapi dua orang menyebalkan sekaligus yang aku sayang itu...

Akhirnya aku bisa menemukan kisah cintaku, mungkin ini semua bisa menjadi sebuah ide yang bagus untukku menulis.
Kisah cintaku...

*****

The End
Please leave your comments
Gomawo
SF_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar