Title : My Love Story
Author : Siti Fajriani (Shin Hyemi)
Genre : Romance
Cast : Yesung, Shin Hyemi, Jung
Hara
Happy reading...
*****
“Yak! Mau sampai kapan kau hanya diam
seperti itu, Hyemi-ya?’ Tanya Hara yang menghampiriku di kamar.
Aku hanya diam sambil menatap hampa
keluar jendela.
“Aku tahu apa yang kau rasakan, aku
juga pernah merasakannya.” Ceritanya dan ikut duduk di sampingku di atas tempat
tidur.
“Apa yang kau tahu?! Kau tidak tahu
apapun yang aku rasakan Hara-ya. Kau begitu populer dan kau bisa mendapatkan
apa yang kau mau. Kau tidak tahu kehilangan yang aku rasakan saat ini!”
Bentakku padanya, aku sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun. Aku sedang
ingin sendiri!
“Yak! Kau belum mengenalku Hyemi-ya.
Apa kau pikir menjadi populer itu menyenangkan, hah? Semua orang yang berada di
dekatku hanya pembohong, menjadi sosok yang lain agar aku melihat mereka. Mereka semua menggunakan topeng agar terlihat menarik! Hanya kau... kau yang
begitu tulus padaku.” Jelasnya dengan sedikit berteriak, membalasku.
Aku diam tidak menggubrisnya.
“Semua namja terlihat manis di depanku
tanpa mau menunjukkan sosok mereka yang asli. Pembohong! Itu lah yang
menyebabkanku sampai saat ini tetap sendiri, aku hanya ingin mendapatkan namja
yang tulus mencintaiku. Apa kau tahu aku pernah menangis karena namja?” Dia
menatapku sedih.
Aku membalas tatapannya, kali ini
menatapnya dengan tatapan penasaran. Aku sama sekali tidak pernah mengetahui
kalau dia pernah menangis karena namja.
“Apa maksudmu Hara-ya?” Tanyaku.
“Aku menangis saat aku harus kehilangan
orang yang begitu aku cintai, hanya karena aku populer. Dia tidak ingin
menyukaiku karena tidak ingin membuat orang cemburu akan sosoknya. Dia
satu-satunya namja yang mencintaiku tapi tidak mau mendapatkanku bahkan sampai
di akhir hidupnya dia tetap mencintaiku. Kau tahu kalau aku sangat mencintai Lee Hyukjae?! Bahkan sampai sekarang, walaupun aku tidak bisa melihatnya lagi, aku
tetap mencintainya.”
Aku memeluk Hara erat. Aku
membiarkannya menangis dalam pelukanku. Aku sama sekali tidak mengetahui
tentang hal ini. Dia sama sekali tidak pernah menceritakannya padaku.
Dia menyimpannya begitu lama. 3 tahun!
Lee Hyukjae adalah teman satu kelas kami,
dan dia meninggal saat kami duduk di bangku kelas 2 SMA karena kecelakaan.
“Hara-ya... mianhae... aku...” Tangisku
juga ikut pecah melihatnya yang seperti ini. Aku sama sekali tidak pernah
melihatnya yang menangis seperti ini. Karena biasanya dia yang selalu tersenyum
dan tertawa. Dia yang selalu menghiburku saat aku sedih. Dia orang yang selalu
ceria. Aku benar-benar tidak menyangka dia menyimpan semua ini dariku.
Ini pasti sangat berat untuknya. Aku
salut padanya yang mampu bertahan sampai saat ini. Ini lebih
menyedihkan sekaligus menyakitkan dibandingkan dengan kisah kusendiri.
Hari ini, karena Hara aku akan
belajar bagaimana merelakan sesuatu yang begitu berharga pergi. Aku harus
dewasa!
Aku melepaskan pelukanku dengan Hara
dan mengahapus air mataku, aku tersenyum menatapnya yang juga melakukan hal
yang sama denganku.
Hidup kami masih panjang, dan akan
lebih banyak halangan rumit nantinya yang akan kami hadapi. Kalau hanya karena
ini membuat kami lemah maka nantinya kami akan jatuh dan tidak dapat bertahan.
Aku tidak ingin itu terjadi.
Untuk Yesung-sunbaenim, aku senang,
karena setidaknya cinta yang aku rasakan padanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Bahagia rasanya mengetahui dia juga merasakan hal yang sama sepertiku.
*****
Hari itu akhirnya tiba...
Kenapa waktu begitu cepat berlalu...
Aku masih belum siap untuk semua ini.
Bagaimana aku bisa bertunangan dengan namja yang belum aku kenal. Baiklah,
walaupun bukan hari ini aku akan bertunangan dengannya. Hari ini aku hanya akan
bertemu dan mencoba saling mengenal.
Tapi aku tahu bagaimana sifat kedua
orang tuaku. Mereka pasti sudah menetapkan tanggal pertunangan itu. Aku yakin
tidak akan lebih dari satu bulan. Kalau perlu dalam bulan ini juga. Benar-benar
sangat terburu-buru. Tidak, benar-benar sangat di perhitungkan. Mereka pasti
sudah merencanakan hal ini dari dulu.
Niga animyeon andwae
Neo eobsin nan andwae
Na ireoke haru
handareul tto illyeoneul
Na apado joha
Aku menjawab panggilan di handphoneku,
Hara-ah.
“Yoeboseyo...”
“Hyemi-ya, bagaimana? Apa kau sudah
bertemu dengan namja itu?” Tanyanya yang terdengar sangat girang.
“Aniyo, keluarganya belum datang.
Mungkin sebentar lagi.” Jawabku dengan malas.
Chingu-ku ini, harusnya dia tahu betapa
tertekannya aku dengan hal ini. Kenapa dia malah terdengar begitu bahagia.
Membuatku kesal saja.
“Kau tahu? Aku iri padamu, aku juga
ingin orang tuaku menjodohkanku dengan anak teman mereka. Seperti di
drama-drama yang sering kita tonton. Pasti akan seru.” Ceritanya yang mulai
kembali kedunia khayalannya.
Aku mendnegus kesal. Bagaimana aku bisa
bahagia, kalau orang yang aku cintai baru saja menyatakan perasaannya dan aku
sama sekali tidak bisa membalasnya. Rasanya aku ingin memberontak dan protes
untuk ini semua. Tapi aku sama sekali tidak mampu untuk melakukan itu semua.
Aku lemah!
“Yak! Bagaimana aku bisa bahagia. Kau
tahu kan Yesung-sunbaenim menyatakan cintanya padaku. Kau tahu juga kan itu
pertama kalinya orang yang kusuka juga menyukaiku. Bagaimana aku bisa
melepaskannya begitu saja. Seandainya aku bisa selingkuh mungkin aku akan
selingkuh dengan Yesung-sunbaenim.” Seruku dengan sedikit kesal. “Ah, kalau
tidak nantinya aku akan membuat kontrak dengan namja itu. Aku yakin namja itu
juga terpaksa untuk menyutujui pertunangan ini. Aku akan mengajaknya untuk
membuat kontrak pertunangan. Jadi dengan begitu aku akan bisa bersama dengan
Yesung-sunbaenim.” Ujarku dengan senyum senang. Khayalanku sudah tingkat akut
sepertinya. Semua karena Hara, tapi apa mungkin hal itu bisa terjadi?
Seandainya...
“Apa kau gila mau melakukan itu, hah?!”
Teriaknya tidak percaya.
Bodoh, chingu-ku yang bodoh!
Apa dia pikir aku memiliki keberanian
untuk melakukan itu. Harusnya dia tahu itu hanya akan jadi khayalanku saja.
Tapi, tidak ada salahnyakan untuk di coba.
“Aku akan mencobanya. Untuk kali ini
sepertinya aku harus menentang kedua orang tuaku, Hara-ya. Aku tidak mungkin
melepaskan Yesung-sunbaenim.” Ucapku lirih.
“Kau... kau serius Hyemi-ya?” Tanyanya
tidak percaya.
“Kita lihat saja nanti.” Ucapku penuh
misteri. Aku bahkan tidak tahu apa yang aku lakukan ini benar. Aku masih...
“Hyemi-ya... ayo keluar mereka sudah
datang.” Ujar Eomma dari luar kamarku.
“Hara-ya...”
“Wae? Mereka sudah datang?”
“Ne.. sampai ketemu besok di dorm.”
Ujarku lemah.
“Kau harus menceritakan semuanya
padaku, saat namja itu sudah pulang dari rumahmu. Aku tidak mau menunggu
ceritamu besok.” Tekannya pada ucapannya.
Aku tersenyum kecil. “Ne... tenang
saja, aku pasti cerita.” Ujarku dan langsung mengakhiri ceirta singkat kami.
Aku melempar handphone-ku ke tempat
tidur dan menatap diriku di cermin dengan sedikit menyunggingkan senyum
manisku. Aku juga tidak ingin terlehat begitu menyedihkan nantinnya. Setidaknya
untuk kali ini aku harus berpura-pura untuk membuat kedua orang tuaku tersenyum
senang padaku.
Aku memberanikan diri keluar dari
kamarku. Sudah dari tadi jantungku terus berdetak dengan sangat kencang. Aku
sendiri bingung ada apa sesungguhnya dengan jantungku. Debarannya membuatku
tidak nyaman.
Aku berjalan menuju ruang tamu dengan
pelan. Sempat kulihat lirikan nakal dari dongsaeng-ku, yang sedang asyik game
di laptop-ku, Shin NeulAh.
Aku dapat melihat Ahjumma dan Ahjussi
yang duduk menghadap kearah kedua orang tuaku, dengan senyum bahagia mereka.
Sementara namja itu duduk membelakangiku.
Aku menghampiri mereka dengan senyum
manisku. Kali ini aku akan mencoba untuk menerima takdirku. “Annyeong
haseyo...” Sapaku.
Ahjumma dan Ahjussi itu langsung
menyambutku dengan senyum bahagia mereka begitu juga dengan kedua orang tuaku.
Mataku teralih kearah namja yang membelakangiku. Dia berbalik dan menatapku...
Mataku bertemu dengan matanya, membuat
tubuhku menegang. Tidak percaya dengan apa yang saat ini aku lihat.
“Kau...”
*****
Yesung’s side :
Aku sudah hampir gila saat tahu
ternyata yeoja yang aku sukai tidak menyukaiku. Aku gila saat mengucapkan
kata-kata itu dan aku semakin gila saat melihatnya yang hanya diam menatapku.
Aku mencintainya...
Walaupun aku baru satu minggu
mengenalnya. Aku mencintainya!
Tidakkah itu gila?!
Ah, itu pasti sangat mengagetkannya
sampai dia hanya diam. Ataukah dia berpikir aku gila?
Kenapa hanya diam dan menatapku seperti
itu? Apa aku begitu terlihat gila dan bodoh dimatamu, Hyemi-ya?
Apa salah jika aku mencintaimu?
Kenapa hanya diam, tidak bisakah kau
mengeluarkan sebuah kata-kata. Walaupun kau menolakku, aku ingin mendengarnya
langsung dari bibirmu.
Seminggu tidak melihatmu membuatku
benar-benar gila, Hyemi-ya...
Apa kau tahu apa yang aku rasakan? aku
begitu mencintaimu...
Sakit!
Sangat sakit saat melihatmu yang hanya diam
seperti itu. Apa kau tahu aku tidak memiliki kesempatan lagi untuk bisa
bersamamu. Kau tahu, kemarin adalah saat terakhir aku bisa bersamamu.
Seandainya saja kau menjawab dan
membalas cinta itu. Aku bisa tidak akan ada di ruangan ini. Ruang tamu yang
indah dan luas ini benar-benar terasa sangat menyesakkan bagiku.
........
Aku duduk di bangku taman di rumah
keluarga Shin. Menatapi dan terus menatapi yeoja yang sedang asyik duduk di
ayunannya.
Aku benar-benar frustasi saat tahu
orang tuaku akan menjodohkanku dengan seorang yeoja teman Eomma dan Appa.
Padahal saat itu aku sedang jatuh cinta dengan seorang yeoja yang tidak sengaja
aku temui di taman.
Entah kenapa ada sesuatu yang membuatku
begitu tertarik akan sosoknya. Secara perlahan aku menyukai dan mencintai semua
yang ada pada sosoknya.
Tuhan...
Maaf karena aku telah marah padamu.
Sekarang rasanya untuk mengucapkan rasa terima kasih tidaklah cukup.
Pada akhirnya kau menyatukanku
dengannya. Terima kasih...
“Yesung-sunbaenim... kalau saja aku
tahu kau yang akan di jodohkan denganku. Aku pasti akan langsung menyetujui.”
Kulihat dia tersenyum begitu manis, sangat manis.
Aku menatapnya dengan penuh cinta.
Ya... seandainya aku juga tahu, aku akan meminta orang tuaku untuk mempercepat
pertemuan keluarga itu. Sehingga tidak perlu membuatku merasakan gila dan
frustasi seperti sebelumnya.
Tiga hari lagi aku akan bertunangan
dengannya. Membayangkannya benar-benar membuatku bahagia. Bagaimana bisa ini
jadi begitu indah. Aku bahkan belum dapat menemukan kata-kata yang cocok untuk
mewakili perasaan bahagia yang aku rasakan. lebih dari sebuah kata bahagia!
“Hyemi-ya... cobalah untuk memanggilku
dengan sebutan Oppa. Kenapa selalu memanggilku dengan sebutan Sunbaenim? Aku
tidak suka mendengarnya.” Ucapku memintanya.
Dia berhenti bermain ayunannya dan
menatapku serius. Tatapan yang sangat aku sukai, karena itu berarti dia akan
mengatakan yang sejujurnya apa yang dirasakannya. Aku jadi semakin menyukainya
karena dia tidak malu untuk mengatakan apa yang dirasakannya.
“Aku malu untuk memanggilmu dengan
sebutan itu.” Ucapnya pelan, lalu kembali bermain ayunan sambil menatap langit.
Sikapnya yang terkadang malu-malu itu
benar-benar membuatku gemas.
“Yak! Sebentar lagi kita akan
bertunangan, Hyemi-ya.” Protesku padanya.
Dia masih tetap asyik dengan menatap
langit tanpa memperdulikan ucapanku.
Apa dia begitu malu? Aish...
“Yak! Kalian berdua!” Teriak chingu
Hyemi, Jung Hara. Yang langsung menghampiri kami dan duduk di depanku.
“Oppa, Kim-ahjumma mencarimu.” Ucapnya
memberitahuku.
Aku menatap Hyemi yang masih asyik
dengan khayalannya menatap langit.
Aku mendengus kesal. “Kau dengar?
Hara saja memanggilku dengan sebutan Oppa. Kenapa kau tetap tidak mau, hah?”
Hara menatapku dengan bingung, tentu
saja dia tidak akan mengerti masalah kami.
“Kau ini sangat menyebalkan, Hyemi-ya.”
Aku langsung beranjak dari dudukku dan berjalan meninggalkan mereka berdua.
“Yak Oppa! Wae?” Tanya Hara semakin
bingung.
Apa dia tidak tahu kalau aku sedang
kesal. Tapi sebenarnya tidak juga karena ini merupakan bagian dari taktikku.
Lihatlah sebentar lagi dia akan memanggilku dengan sebutan Oppa. Aku langsung
mengeluarkan senyum sinisku.
“Op.. Oppa...”
Aku langsung tersenyum penuh
kemenangan. Lihatkan apa yang aku bilang. Dia tidak akan pernah bisa
membiarkanku marah padanya.
Aku tetap berjalan seolah tidak
mendengar ucapannya.
“Yak! Oppa, kalau kau tidak berbalik
aku tidak akan pernah mau memanggilmu dengan sebutan itu.” Teriaknya yang mulai
kesal.
Aku tetap berjalan. “Aku tidak akan
memaksamu lagi memanggilku dengan sebutan itu karena nanti kau harus
memanggilku dengan sebutan Yeobo-ya!” Aku balas berteriak kepadanya.
“Jagi-ya...” Tambahku.
Aku yakin dia pasti shock dengan
permintaanku kali ini.
Hah, aku puas membuatnya menjadi malu
seperti itu. Apa lagi di depan Hara-ah. Aku bisa membayangkan pipinya yang
sudah memerah karena ucapanku tadi.
Jagi-ya? Terdengar sangat manis untuk
memanggilnya. Aku jadi tidak sabar mendengarnya memanggil dengan sebutan
Yeobo-ah.
Aku bisa menjamin tidak akan lama lagi
dia akan memanggilku dengan sebutan itu.
*****
Shin Hyemi’s side :
Yeobo-ya?
Apa dia gila memintaku memanggilnya
dengan sebutan itu. Memanggilnya Oppa saja sudah membuat pipiku bersemu merah
karena malu.
“Aish... aku benar-benar iri dengan
kalian berdua.” Ucap Hara aku menatap Hara dengan tatapan membunuh.
Yak! Aku malu!
“Aku masih ingat saat kau menangis
karena Yesung-oppa. Saat itu kau benar-benar terlihat seperti orang gila
Hyemi-ya. Sebesar itukah cintamu untuknya? Lalu kenapa malu untuk
memanggilnya dengan sebutan Yeobo-ah?” Seru Hara dengan volume suara yang
sengaja dikeras-keraskan.
Aku menatapnya semakin kesal.
“Apakah itu benar, Hara-ya? Dia menangis
karena aku?” Kudengar suara Yesung-sunbaenim mendekat.
Aku melihatnya yang berjalan kearah
kami.
Hara babo!
Kau ingin membuatku mati karena malu,
hah!
“Wah... gomawo Hyemi-ya karena sudah
mau menangis untukku. Aku pikir saat itu kau tidak menyukaiku dan menganggap
aku gila. Ternyata kau begitu mencintaiku.” Senyum Yesung-sunbae bahagia.
“Dia sampai ingin membatalkan
perjodohan ini hanya karena kau, Oppa.” Ucap Hara lagi. Aku menatapnya
shock. Apa dia ingin membongkar semuanya?
Aish...
“Seandainya saja kau melihatnya saat
menangis, dia benar-benar sangat jelek.” Hara ertawa puas. “Oppa, jangan
pernah meninggalkannya. Aku yakin dia bisa mati tanpamu.”
Aku menatap Hara dengan sangat kesal
karena sudah mempermalukan di depan Yesung-sunbaenim, sampai rasanya aku ingin
menangis.
Aku langsung beranjak dari tempat
menyebalkan ini. Aku tidak tahu kenapa aku jadi menangis seperti ini, padahal
aku tidak meminta air mata ini untuk keluar, namun dia keluar begitu saja.
Apa aku terlalu cengeng?
Aku hanya malu karena dia membongkar
semua yang aku rasakan pada Yesung-sunbaenim.
“Yak! Hyemi-ya, kau mau kemana?”
Aku tetap berjalan tidak memperdulikan
teriakkan Yesung-sunbaenim dan Hara yang memanggilku untuk kembali.
Apa mereka pikir semudah itu untuk
memaafkan kesalahan terbesar mereka?
Aku marah!
Sepertinya, aku akan sering merasakan
kesal dengan dua orang menyebalkan itu yang jika sudah bergabung hanya akan
membuatku kesal saja. Sepertinya aku harus banyak belajar bersabar untuk
menghadapi dua orang menyebalkan sekaligus yang aku sayang itu...
Akhirnya aku bisa menemukan kisah
cintaku, mungkin ini semua bisa menjadi sebuah ide yang bagus untukku menulis.
Kisah
cintaku...
*****
The End
Please leave your
comments
Gomawo
SF_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar