Title : As Long as You
are Happy
Author : Siti Fajriani (Shin
Hyemi)
Genre : Romance, sad
ending
Cast : Kim Heechul, Kim
Jihyun, Jung Hyein, Kim Dongyoo
Happy
reading...
*****
Kim Jihyun’s side :
Aku
menatap kesal kearah handphoneku. Aish, kemana namja ini kenapa dari tadi tidak
mengangkat handphonenya. Apa yang sedang dilakukannya, hah?
Menyebalkan!
Aku
kembali menekan tombol ‘call’ pada nama itu, Kim Heechul.
Kembali
terdengar suara operator, mail box!
Sial!
Aku
menatap jam dengan cemas, ini sudah jam 11 malam. Dan sejak dari tadi pagi dia
tidak menjawab telponku. Membuatku cemas dengan keadaannya.
Tidak
masuk kampus, dorm yang kosong!
Apa-apa
ini? Dia ingin mengetest tingkat kecemasanku, hah?
Tidakkah
dia tahu aku sangat cemas sekarang.
Aish,
chinguku itu...
Kalau
bertemu dengannya aku akan memarahinya habis-habisan. Tidak akan aku maafkan
kesalahannya kali ini. Tidak akan!
Aku
langsung melempar handphoneku ketempat tidur dengan kesal dan langsung berjalan
menuju toilet, sepertinya membasuh wajahku dengan air yang dingin dan segar
dapat sedikit mengurangi rasa cemasku tentang chinguku itu.
Aku
menatap wajah basahku dicermin, dan menghela napas perlahan untuk mengurangi
kecemasanku.
Aku
memegang dadaku dan merasakan suatu perasaan aneh yang membuatku tidak nyaman.
Aku
mendesah kesal, sama sekali tidak bisa mengurangi rasa cemasku terhadap
chinguku itu.
“Kim
Heechul! Apa yang sedang kau lakukan, hah? Kenapa tidak menjawab telponku.
Tahukah kau aku mencemaskanmu?!” Teriakku frustasi.
Aku
sudah mencoba mencarinya dimana-mana, dan bertanya pada teman-teman bandnya
tapi tidak ada yang tahu dimana dia berada. Satu hari ini dia benar-benar menghilang!
Rasanya
aku ingin kembali keluar dan mencarinya. Tapi itu tidak mungkin, mengingat saat
ini sudah sangat larut dan aku juga tidak ingin dimarahi oleh Appa dan Eommaku.
Eotteokhe?
Aish.
Yeoja itu!
Aku
semakin cemas, mengingat sebelumnya Heechul-ah mengatakan akan menyatakan
cintanya pada seorang yeoja yang disukainya dikelas musik.
Aish,
jangan-jangan yeoja itu menolaknya dan karena hal itu dia jadi bersedih dan
menyendiri. Makanya dia menghilang saat ini. Aku menarik kesimpulanku sendiri.
Baiklah,
jika itu yang terjadi. Aku tidak perlu mencemaskannya. Yak! Jika itu yang
terjadi. Bagaimana jika bukan itu yang terjadi. Bagaimana jika dia frustasi dan
mencoba untuk mengakhiri hidupnya...
Andwae!
Aish,
tingkat khayalanku sudah semakin tinggi sepertinya, ini pasti karena dampak aku
terlalu sering menonton drama menyedihkan sampai membuatku jadi berpikir
seperti itu.
Ne,
tentu saja itu tidak akan mungkin terjadi. Aku mengenalnya dengan sangat baik.
Dia bukan tipe namja yang lemah!
Buktinya
sampai sekarang dia masih tetap bertahan walaupun hidup sendiri di dormnya
tanpa kedua orang tuanya yang begitu sibuk diluar negeri dengan bisnis
keluarganya.
Dia
tidak lemah!
Jadi,
berhenti mencemaskannya Jihyun-ah!
Ini
sudah sangat larut, lebih baik aku istirahat. Besok aku masih punya banyak
waktu untuk bertemu dan memarahinya dengan puas.
Aku
kembali membasuh wajahku dengan air. Dapat kurasakan dinginnya air menyentuh
kulit wajahku, sedikit menyegarkan dari pada sebelumnya.
Aku
langsung membersihkan wajahku dan berjalan pelan menuju tempat tidur. Ah, aku
sangat lelah setelah seharian mencarinya. Sepertinya tidur dapat membuatku
merasa lebih baik.
Aku
merebahkan tubuh mungilku di tempat tidurku. Menarik selimut menutupi seluruh
badanku sampai bahu. Menatap langit-langit kamar sejenak lalu memejamkan
mataku, dengan tidak lupa mengucapkan doa...
*****
Oh
shit!
Aku
menatap wajahku di cermin sedih melihat penampilanku. Dengan lingkaran hitam di
bawah mataku. Aku benar-benar tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Semua
karena namja itu! Chinguku itu!
Menyebalkan!
Kalau
saja dia bukan chinguku sekaligus orang terdekatku. Aku tidak akan merasakan
cemas sampai seperti ini.
Kau
harus membayar ini semua Kim Heechul! Aku menatap dendam kearah cermin yang
memantulkan bayangan diriku.
“Jihyun-ah,
kau sudah siap?” Kudengar teriakkan Oppaku dari lantai bawah.
“Ne...”
Balasku cepat.
Aku
langsung beranjak dari cermin dan mengambil tasku dimeja. Keluar dari kamarku
dengan malas karena aku merasa lelah setelah tadi malam tidak bisa tidur dengan
nyenyak.
Aku
meraih handphoneku dari saku mantelku dan kembali mencoba menghubungi chinguku
itu.
Apa
kali ini dia sudah mengaktifkan handphonenya.
“Aish...
dia benar-benar sudah kelewatan kali ini.” Gerutuku karena masih tetap tidak
ada jawaban selain suara operator yang membuatku kesal setiap mendengarnya.
“Waeyo?”
Tanya Oppaku, Kim Dongyoo, saat melihatku turun dari tangga dengan kesal.
“Aniyo,
aku hanya sedang kesal Oppa.” Jawabku masih dengan kesal.
“Cepat
ambil roti itu, aku sudah terlambat ke kampus.” Perintahnya.
Aku
menatap Oppaku kesal. Selalu seperti itu. Membuatku tidak pernah menikmati
makan nasi goreng buatan Eomma karena dia selalu terlambat. Kalau saja aku
memiliki mobil sendiri. Aku benar-benar tidak akan membutuhkannya.
“Aish,
kenapa melamun. Palli!” Dia mengingatkanku.
“Ne...”
Jawabku malas.
Hari
ini Oppaku semakin membuat moodku buruk. Aku mengambil beberapa roti dan
langsung mengolesi selai coklat kesukaanku di atasnya dengan asal. Aku tidak
ingin dimarahi dengan Oppaku yang cerewet itu.
“Eomma,
aku berangkat. Annyeong...” Pamitku pada Eomma yang masih sibuk di dapur
sementara Appa sudah berangkat ke kantor sejak dari tadi.
“Ne...
hati-hati dijalan.” Balas Eomma dari dapur.
Aku
langsung keluar dari rumah dan menghampiri mobil yang sudah terparkir di halaman
depan rumah. Membuka pintunya dengan malas dan langsung menaikinya yang
langsung dihujani tatapan tajam dari Dongyoo-oppa.
“Kau
ini selalu saja membuatku terlambat.” Keluhnya.
Aku
hanya diam dan menatap ke arah roti yang ada di tanganku. Mencoba untuk tidak
peduli dengan ucapan Dongyoo-oppa yang nantinya hanya akan membuatku menjadi
kesal saja.
Mobil
langsung melaju melewati jalanan kota
Seoul menuju kampus kami. Aku memakan rotiku dalam diam dan cemas.
Bagaimanapun
juga aku masih terus memikirkan chinguku itu. Aku takut terjadi sesuatu
padanya.
Sebaiknya
aku kembali ke dormnya saja. Mungkin dia memang sedang sedih dan membutuhkan
hiburan.
Aku
yakin yeoja itu pasti sudah menolak cintanya, buktinya dia menghilang dan sama
sekali tidak berani menunjukkan wajahnya. Karena aku mengenal sosoknya yang
begitu narsis dan sangat percaya diri. Kalau dia berhasil mendapatkan yeoja itu.
Dia pasti sudah datang kemarin dan langsung memamerkannya padaku dan chingu yang
lainnya.
Sebaiknya
aku membolos saja hari ini. Lagi pula mata kuliah hari membosankan. Tapi aku
harus hati-hati!
Aku
melirik kearah Dongyoo-oppa yang mengendarai mobil dalam diam. Aku harus
berhati-hati dari namja menyeramkan ini. Kalau dia sampai tahu aku bolos dia
pasti akan langsung mengadu pada Appa dan Eomma yang membuatku harus dihukum.
“Waeyo?”
Tanyanya yang mengagetkanku.
“A...aniyo.”
Jawabku dengan tersenyum paksa. Semoga saja Oppaku ini tidak curiga dengan rencana
pembolosanku kali ini.
Dia
melirikku dengan tajam, lalu kembali menatap jalanan. “Kau sungguh mencurigakan
Jihyun-ah.” Ucapnya tanpa menoleh ke arahku.
Aku
hanya diam dan ikut menatap ke depan
sambil memakan rotiku perlahan. Kalau aku menjawab pertanyaannya hanya akan
memperlihatkan kepanikanku yang akan membuatnya semakin curiga padaku. Aku
memang tidak terlalu ahli dalam berbohong.
*****
Aku
menatap pintu dorm Heechul-ah dalam diam. Sudah beberapa kali aku memencet
belnya namun tidak ada jawaban.
Setelah
sampai di kampus aku langsung turun dari mobil Dongyoo-oppa dan menglihang
secepatnya dari hadapannya dengan bersembunyi. Setelah melihatnya menjauh aku
langsung berlari menuju halte bus terdekat, hingga sampailah aku di depan dorm
chinguku, Kim Heechul.
Aku
kembali memencet belnya, kali ini dengan putus asa. Karena sepertinya chinguku
itu memang tidak ada didorm. Apa dia pergi ke tempat orang tuanya di London?
Aish,
kenapa dia tidak memberi kabar padaku. Aku benar-benar marah kali ini!
Aku
berbalik sambil menghela napas sedih. Sebelum aku melangkahkan kaki pergi, aku
mendengar suara pintu dibuka. Dengan cepat aku kembali berbalik dan mendapati
sosok chinguku yang membuatku menatapnya dengan shock!
Bruk!
Aku
langsung menghampirinya dan mencoba membantunya berdiri. Aku dapat merasakan
suhu tubuhnya yang panas. Ada apa dengannya?
Melihatnya
yang seperti ini langsung membuat marahku hilang, menguap entah kemana.
Semuanya benar-benar hilang tergantikan dengan rasa cemas, sangat cemas!
“Kau
datang Jihyun-ah.” Ucapnya pelan namun terdengar senang.
Aku
tidak membalas ucapannya, hanya membantunya untuk berdiri. Sepertinya tubuhnya
sangat lemah saat ini.
Aku
langsung membantunya menuju kamarnya dan membaringkan tubuhnya di atas tempat
tidurnya.
Aku
sedih melihatnya yang terlihat sangat lemah karena sakit seperti ini. Pasti dia
sangat berusaha untuk dapat membukakan pintu untukku tadi.
Aish,
lihatlah wajahnya yang tampan sekaligus cantik sampai tidak terlihat karena
pucatnya dia. Aku memegang dahinya mencoba mengecek suhu tubuhnya lagi. Benar,
dia demam.
Apa
karena ini dia tidak menjawab
panggilanku?
Aku
langsung menuju dapur dan menyiapkan sebuah mangkuk yang berisi air dan sebuah
handuk kecil dari lemari bajunya.
Aku
mencoba untuk mengurangi panasnya dengan menggompres dahinya.
“Aku
lapar Jihyun-ah.” Ucapnya sangat pelan, bahkan seperti sebuah gumaman.
Aku
menatapnya dengan sedih. Apa ini semua akibat yeoja itu yang sudah menolaknya?
Kenapa dia begitu mencintai yeoja itu? Tidakkah dia bisa melihat aku di sini,
yang selalu ada untuknya setiap saat. Yang selalu peduli dan mencemaskannya.
Tidakkah dia bisa melihat itu semua, hah? Aku di sini Kim Heechul! Aku di sini!
Aku
mencoba sebisa mungkin untuk meredam air mataku yang ingin keluar. “Ne... aku
akan memasak untukmu. Tunggulah disini.” Ucapku pelan, langsung
meninggalkannya.
Aku
berjalan dengan lemas menuju dapurnya dan langsung menyiapkan bahan-bahan yang
ada untuk membuatkannya bubur.
Tangisku
sudah tidak bisa kutahan lagi, air mataku turun tanpa aku pinta mengalir pelan
melewati kedua pipiku. Aku membungkam mulutku dengan tanganku mencoba untuk
meredam suara isakan tangisku.
Aku
sakit, melihatmu yang seperti ini Kim Heechul. Tahukah kau itu? Aku
mencintaimu, jauh sebelum kau mengatakan mencintai yeoja itu. Aku mencintaimu
sejak pertama kali kau duduk di sebelahku saat di kelas bahasa inggris. Aku
mencintaimu saat pertama kali kau tersenyum padaku. Aku mencintaimu sejak
pertama kali kau mengulurkan tanganmu dan memperkenalkan dirimu padaku. Aku
mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu. Aku sudah mencintaimu dalam diamku. Tidak bisakah kau merasakan cintaku
ini?
Kenapa
kau hanya menganggapku sebagai seorang teman? Kenapa kau sama sekali tidak
pernah mencoba untuk melihat ke arahku dan mulai mencoba menyukaiku? Kenapa
hanya melihat pada yeoja yang sama sekali tidak pernah melihat padamu? Kenapa
Kim Heechul? Kenapa?
Aku
menghapus air mataku cepat, dan mencoba untuk menenangkan diriku dari isakan
tangisku. Aku langsung menuju toilet membasuh wajahku dengan air untuk dapat
menghilangkan jejak air mata di wajahku. Sambil sedikit memolesi wajahku dengan
bedak yang kubawa. Aku hanya tidak ingin dia melihatku seperti ini.
Aku
kembali ke dapur dan menyiapkan bubur yang sudah masak di atas piring. Lalu, meletakkannya
diatas nampan dengan segelas air putih hangat dan satu butir obat yang aku
ambil dari kotak obat di dapurnya untuk dapat mengurangi demam serta kepalanya
yang pusing.
Aku
menghela napas dalam-dalam sebelum memasuki kamarnya dan meletakkan nampan yang
kubawa di meja kecil di samping tempat tidurnya.
“Heechul-ah,
ayo bangun. Aku sudah menyiapkan makanan untukmu.” Aku mencoba membangunkannya
dengan pelan.
Kulihat
ia perlahan membuka matanya. Dia benar-benar sangat lemah. Baru dua hari tidak
melihat senyuman serta tawanya sudah membuatku sangat kehilangan. Aku rindu
mendengarkan lelucon bodoh darinya, aku rindu mendengarkan ucapannya yang
begitu percaya diri akan sosoknya. Aku merindukannya...
Aku
membantunya untuk bersandar di kepala ranjang.
“Bisa
tolong suapi aku?” Pintanya dengan manja.
Aku
tersenyum kecil mendengar permintaannya, dan menurutinya. “Tapi, setelah itu
kau harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padamu. Kau benar-benar
membuatku cemas.” Ucapku pelan.
“Ne...”
Jawabnya senang. “Mianhae Jihyun-ah, sudah membuatmu cemas.” Katanya lagi dengan
rasa bersalah.
“Jangan
pernah ulangi itu lagi.” Pintaku sedih.
Dia
hanya tersenyum seraya mengangguk setuju. Aku membalas senyumnya dan langsung
menyuapinya dengan bubur yang telah kubuat.
*****
Aku
berlari dengan sekuat tenaga melewati koridor-koridor kampus. Aku harus
menemukan yeoja itu. Aku harus menemuinya. Aku harus!
Dia
harus tahu kalau ada seorang namja yang begitu mencintainya. Yang rela
menunggunya di taman dengan tidak memperdulikan hujan deras yang mengguyur
tubuhnya selama tiga jam lebih. Dia harus tahu kalau ada namja yang begitu
mengagumi sosoknya sampai membuat namja itu rela membolos hanya untuk dapat
mengetahui kebiasaannya. Dia harus tahu kalau ada namja yang begitu menyukainya
sampai namja itu rela melakukan apa yang sangat dibencinya agar yeoja itu dapat
melihat ke arahnya. Dia harus tahu!
Aku
berhenti tepat di depan ruang musik, dengan napas yang memburu. Setelah menaiki
tangga sampai di lantai 4 gedung kampus ini.
Aku
menatap yeoja itu, Jung Hyein. Yang sedang memainkan grand piano dengan alunan
musik lembut.
Aku
masih terus menatapnya dengan tajam. Yeoja itu, kenapa ia begitu jahat sampai
membuat chinguku, bukan! orang yang kucintai rela menunggunya di tengah
derasnya hujan. Bagaimana dia bisa begitu jahat, tidakkah dia bisa melihat
orang yang terluka karenanya.
“Hyein-sshi...”
Panggilku langsung. Aku tidak ingin membuat orang yang kucintai itu kembali
terluka lagi hanya karena yeoja di depanku ini.
Dia
berhenti memainkan pianonya dan menatapku heran.
“Ne,
waeyo Jihyun-ah?” Tanyanya dengan senyum manisnya.
Kami
memang sudah saling kenal. Hanya saja saat ini aku sedang tidak ingin
menganggapnya sebagai orang yang kukenal. Aku kecewa pada sosoknya.
Aku
tahu dia mungkin memang orang yang lebih pantas untuk Heechul-ah mengingat dia
adalah wanita yang cantik dan pintar di kampus ini. Dan aku juga tahu kalau dia
adalah tipe wanita idaman Heechul-ah dengan kakinya yang jenjang itu.
Tidak
sepertiku!
Aku
berjalan menghampirinya dan menatapnya dengan serius.
“Apa
kau mencintai Heechul-ah?” Tanyaku langsung pada inti masalahnya.
Kulihat
dia terkejut dengan pertanyaan yang kulontarkan.
“Kenapa
kau bertanya seperti itu Jihyun-ah?” Dia balik bertanya.
Aku
menatapnya dengan tajam. “Karena kau telah menyakiti chinguku!” Seruku dengan
sedikit berteriak. “Kau tahu dia rela menunggumu kemarin, tidak peduli dengan
derasnya hujan yang membasahi tubuhnya. Hanya karena keyakinan yang menurutku
bodoh kalau kau akan datang saat itu.” Jelasku dengan marah. “Dia menunggumu,
Hyein-sshi! Dia menunggumu!” Bentakku.
Aku
sudah tidak mampu untuk meredam amarahku. Aku kesal melihatnya yang mengabaikan
orang yang begitu penting dalam hidupku begitu saja. Aku benci!
Dapat
kulihat dia sangat shock dengan apa yang baru saja aku katakan. “Mianhaeyo
Jihyun-ah, aku tidak bermaksud melakukan itu. Aku benar-benar lupa karena aku
juga sedang sedih saat itu. Appaku masuk rumah sakit karena kecelakaan.”
Jelasnya dengan air mata yang mulai mengalir perlahan.
Aku
terdiam, amarahku kembali hilang untuk yang kedua kalinya, menguap entah
kemana. Setelah mendengar penjelasannya. Apa aku masih pantas untuk marah dan
membentaknya yang sama sekali tidak memiliki pilihan?
“Apa
kau tahu dia begitu mencintaimu?” Tanyaku pelan, aku mendongakkan kepalaku ke atas
mencoba untuk menahan air mataku yang memaksa ingin keluar.
“Ne,
aku tahu dan aku juga mencintainya, Jihyun-ah.” Jawabnya dengan sedih.
Aku
terdiam, mulutku seolah terkunci sangat rapat membuatku sama sekali tidak dapat
mengeluarkan kata-kata. Ucapannya benar-benar mengunci mulutku.
Setetes
air mataku jatuh melalui sudut mataku dan secepat mungkin aku menyekanya dengan
tanganku.
Aku
memberanikan diri membuka mulutku untuk mengeluarkan kata-kata, yang sebisa
mungkin kutahan untuk tidak terdengar isakan tertahanku.
“Saat
ini... dia... menunggumu.” Ucapku dengan berat, sangat berat.
Bagaimana
bisa aku menyerahkan orang yang kucintai untuk yeoja lain. Ini bukanlah hal
yang mudah. Bukan...
Dia
menatapku meminta kepastian.
Aku
memaksakan senyum terukir diwajahku. “Dia menunggumu, Hyein-ah... saat ini dia
sedang sakit. Jagalah dia.” Pintaku tulus.
Dia
tersenyum sedih mendengar ucapanku. “Omo! Jinjjayo?”
“Ne...”
“Gomawo
Jihyun-ah, kau sudah memberitahuku. Aku akan langsung menemuinya. Gomawo...”
dia langsung mengambil tasnya dengan cepat dan keluar dari ruangan dengan
senyum bahagianya.
Aku
terdiam, kali ini tangisku kembali pecah, tidak mampu untuk kutahan. Apa lagi
yang harus aku pertahankan dari sesuatu yang memang dari awal tidak pernah
berpihak padaku. Apa lagi? Cinta ini, sungguh menyedihkan...
Aku
merasakan lemas di kedua lututku. Aku terjatuh ke lantai dan menangis sepuasku.
Melepaskan rasa sakit yang menyelimuti hatiku. Sangat sakit! Sampai membuatku
tidak tahan merasakannya.
Kali
ini aku akan benar-benar melepaskannya. Karena memang tidak ada lagi yang bisa
diharapkan untukku dan dia selain sebuah persahabatan.
Ya,
persahabatan...
*****
“Dari
mana saja kau Jihyun-ah, kenapa tadi kau membolos, hah?” Kudengar suara
Dongyoo-oppa.
Aku
melihatnya yang berdiri di ambang pintu dengan tatapan sedihku.
Aku
hanya duduk diam di atas tempat tidurku sambil memeluk kedua lututku dengan
kedua tanganku, aku sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaannya. Aku
sudah tidak memperdulikan lagi jika dia ingin mengadukan tindakanku tadi pada
Appa dan Eomma.
“Jihyun-ah,
waeyo?” Dia langsung menghampiriku dan ikut duduk di sisiku.
Aku
menatapnya dengan sedih, kembali butiran air mataku mengalir melalui
sudut-sudut mataku.
“Jihyun-ah...”
Aku
langsung memeluk tubuh Dongyoo-oppa dengan erat mencoba untuk menenangkan
tangisku yang semakin menjadi. Kurasakan tangannya megusap-usap punggungku
dengan pelan.
“Oppa...aku...aku
mencintainya Oppa...” Ucapku terbata-bata dengan isak tangis yang membuat
dadaku terasa sangat sesak.
“Apa
ini mengenai Heechul-ah?” Tanyanya yang memang tahu kalau aku menyukai chinguku
itu.
Dia
adalah oppa sekaligus sahabatku yang selalu mau mendengarkan cerita dan
keluhanku. Dia adalah orang yang sangat mengenalku. Dia adalah orang yang
selalu mengingatkanku dan memarahiku jika aku salah. Dia adalah orang yang
selalu ada untukku selain, Heechul-ah.
Aku
menganggukkan kepalaku dalam pelukan hangatnya.
“Apa
kau sedih melihatnya dengan yeoja lain?” Tanyanya.
Aku
kembali menganggukkan kepalaku.
“Apa
dia bahagia dengan yeoja itu?”
Aku
hanya menganggukkan kepalaku lagi.
“Lalu
kenapa kau sedih melihatnya bahagia?”
Aku
terdiam dalam pelukan Dongyoo-oppa.
Benar,
kenapa aku harus sedih? Bukahkah seharusnya aku senang melihatnya bahagia?
Bukankah kabahagiannya adalah kebahagiaanku juga?
“Sebenarnya
aku sangat tidak ingin mengatakan kata-kata membosankan dan sangat klasik ini.
Tapi Jihyun-ah kau harus tahu, bahwa cinta tidak harus saling memiliki.” Jelas
Dongyoo-oppa pelan dan langsung melepaskan pelukannya dariku.
Dia
menatapku dengan senyuman hangatnya yang selalu dapat membuat hatiku merasa
lebih baik.
“Ternyata
Dongsaengku sudah besar.” Dia tersenyum menatapku dan menghapus air mataku
dengan jari-jari tangannya.
Aku
hanya menatapnya dengan bingung.
“Kau
tahu Jihyun-ah, mungkin dia memang bukan jodohmu.” Ucapnya memberitahuku.
Aku
menatapnya dengan sedih. Aku tahu itu. Kalau dia jodohku mungkin saat ini dia sudah
bersamaku, bukan malah dengan yeoja lain.
“Kau
harus bersabar Jihyun-ah, karena nantinya Tuhan pasti akan mengirimkan seorang
pangeran berkuda putih yang akan menghampirimu dengan membawakan seluruh
cintanya untukmu. Kau hanya perlu bersabar.” Dia menasehatiku dengan mengelus
kepalaku lembut, penuh sayang.
Aku
menghapus jejak-jejak air mata di wajahku dan tersenyum senang mendengar
ucapannya. Walaupun aku tidak tahu itu kapan, tapi setelah mendengar
Dongyoo-oppa mengatakannya, itu membuatku merasa lebih tenang.
“Oppa,
gomawo...” Aku tersenyum menatapnya.
Dia
membalas senyumanku. “Ne, cheonma Jihyun-ah. Kau hanya perlu bersabar.” Dia
kembali menasehatiku lagi.
Tuhan,
aku tidak tahu kapan kau akan mengirimkan seorang pangeran baik hati di kehidupanku.
Tapi sekarang aku yakin, kau tidak akan mungkin membuatku terus hidup dalam
kesedihan.
Walaupun
harus kuakui, aku belum sepenuhnya bisa menghilangkan rasa sakit ini. Tapi aku
yakin bahwa aku mampu melewati ini semua. Aku akan terus berjuang.
“Jihyun-ah...”
Panggil Dongyoo-oppa sambil mengeluarkan senyuman manisnya.
Aku
melihatnya dengan aneh, dan langsung dapat merasakan sesuatu yang tidak beres.
“Appa...
Eomma... Jihyun-ah bolos kuliah...!!”
Aku
menatap Dongyoo-oppa shock, sepertinya aku akan menderita lagi sekarang dengan
hukuman kedua orang tuaku...
Aish...
Aku
pikir dia tidak akan mengadu karena aku sedang sedih...
Dasar
Dongyoo-oppa...
*****
The
End
Please leave your comments
Gomawo
SF_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar