Welcome to My World

Senin, 20 Agustus 2012

Fanfiction - As Long As You are Happy


Title : As Long as You are Happy
Author : Siti Fajriani (Shin Hyemi)
Genre : Romance, sad ending
Cast : Kim Heechul, Kim Jihyun, Jung Hyein, Kim Dongyoo

Happy reading...

*****

Kim Jihyun’s side :

Aku menatap kesal kearah handphoneku. Aish, kemana namja ini kenapa dari tadi tidak mengangkat handphonenya. Apa yang sedang dilakukannya, hah?
Menyebalkan!

Aku kembali menekan tombol ‘call’ pada nama itu, Kim Heechul.

Kembali terdengar suara operator, mail box!
Sial!


Aku menatap jam dengan cemas, ini sudah jam 11 malam. Dan sejak dari tadi pagi dia tidak menjawab telponku. Membuatku cemas dengan keadaannya.

Tidak masuk kampus, dorm yang kosong!
Apa-apa ini? Dia ingin mengetest tingkat kecemasanku, hah?
Tidakkah dia tahu aku sangat cemas sekarang.

Aish, chinguku itu...
Kalau bertemu dengannya aku akan memarahinya habis-habisan. Tidak akan aku maafkan kesalahannya kali ini. Tidak akan!

Aku langsung melempar handphoneku ketempat tidur dengan kesal dan langsung berjalan menuju toilet, sepertinya membasuh wajahku dengan air yang dingin dan segar dapat sedikit mengurangi rasa cemasku tentang chinguku itu.

Aku menatap wajah basahku dicermin, dan menghela napas perlahan untuk mengurangi kecemasanku.

Aku memegang dadaku dan merasakan suatu perasaan aneh yang membuatku tidak nyaman.

Aku mendesah kesal, sama sekali tidak bisa mengurangi rasa cemasku terhadap chinguku itu.

“Kim Heechul! Apa yang sedang kau lakukan, hah? Kenapa tidak menjawab telponku. Tahukah kau aku mencemaskanmu?!” Teriakku frustasi.

Aku sudah mencoba mencarinya dimana-mana, dan bertanya pada teman-teman bandnya tapi tidak ada yang tahu dimana dia berada. Satu hari ini dia benar-benar menghilang!

Rasanya aku ingin kembali keluar dan mencarinya. Tapi itu tidak mungkin, mengingat saat ini sudah sangat larut dan aku juga tidak ingin dimarahi oleh Appa dan Eommaku.
Eotteokhe?

Aish. Yeoja itu!

Aku semakin cemas, mengingat sebelumnya Heechul-ah mengatakan akan menyatakan cintanya pada seorang yeoja yang disukainya dikelas musik.

Aish, jangan-jangan yeoja itu menolaknya dan karena hal itu dia jadi bersedih dan menyendiri. Makanya dia menghilang saat ini. Aku menarik kesimpulanku sendiri.

Baiklah, jika itu yang terjadi. Aku tidak perlu mencemaskannya. Yak! Jika itu yang terjadi. Bagaimana jika bukan itu yang terjadi. Bagaimana jika dia frustasi dan mencoba untuk mengakhiri hidupnya...

Andwae!

Aish, tingkat khayalanku sudah semakin tinggi sepertinya, ini pasti karena dampak aku terlalu sering menonton drama menyedihkan sampai membuatku jadi berpikir seperti itu.

Ne, tentu saja itu tidak akan mungkin terjadi. Aku mengenalnya dengan sangat baik. Dia bukan tipe namja yang lemah!
Buktinya sampai sekarang dia masih tetap bertahan walaupun hidup sendiri di dormnya tanpa kedua orang tuanya yang begitu sibuk diluar negeri dengan bisnis keluarganya.

Dia tidak lemah!
Jadi, berhenti mencemaskannya Jihyun-ah!

Ini sudah sangat larut, lebih baik aku istirahat. Besok aku masih punya banyak waktu untuk bertemu dan memarahinya dengan puas.

Aku kembali membasuh wajahku dengan air. Dapat kurasakan dinginnya air menyentuh kulit wajahku, sedikit menyegarkan dari pada sebelumnya.

Aku langsung membersihkan wajahku dan berjalan pelan menuju tempat tidur. Ah, aku sangat lelah setelah seharian mencarinya. Sepertinya tidur dapat membuatku merasa lebih baik.

Aku merebahkan tubuh mungilku di tempat tidurku. Menarik selimut menutupi seluruh badanku sampai bahu. Menatap langit-langit kamar sejenak lalu memejamkan mataku, dengan tidak lupa mengucapkan doa...

*****

Oh shit!
Aku menatap wajahku di cermin sedih melihat penampilanku. Dengan lingkaran hitam di bawah mataku. Aku benar-benar tidak bisa tidur dengan nyenyak.

Semua karena namja itu! Chinguku itu!
Menyebalkan!

Kalau saja dia bukan chinguku sekaligus orang terdekatku. Aku tidak akan merasakan cemas sampai seperti ini.

Kau harus membayar ini semua Kim Heechul! Aku menatap dendam kearah cermin yang memantulkan bayangan diriku.

“Jihyun-ah, kau sudah siap?” Kudengar teriakkan Oppaku dari lantai bawah.

“Ne...” Balasku cepat.

Aku langsung beranjak dari cermin dan mengambil tasku dimeja. Keluar dari kamarku dengan malas karena aku merasa lelah setelah tadi malam tidak bisa tidur dengan nyenyak.

Aku meraih handphoneku dari saku mantelku dan kembali mencoba menghubungi chinguku itu.
Apa kali ini dia sudah mengaktifkan handphonenya.

“Aish... dia benar-benar sudah kelewatan kali ini.” Gerutuku karena masih tetap tidak ada jawaban selain suara operator yang membuatku kesal setiap mendengarnya.

“Waeyo?” Tanya Oppaku, Kim Dongyoo, saat melihatku turun dari tangga dengan kesal.

“Aniyo, aku hanya sedang kesal Oppa.” Jawabku masih dengan kesal.

“Cepat ambil roti itu, aku sudah terlambat ke kampus.” Perintahnya.

Aku menatap Oppaku kesal. Selalu seperti itu. Membuatku tidak pernah menikmati makan nasi goreng buatan Eomma karena dia selalu terlambat. Kalau saja aku memiliki mobil sendiri. Aku benar-benar tidak akan membutuhkannya.

“Aish, kenapa melamun. Palli!” Dia mengingatkanku.

“Ne...” Jawabku malas.

Hari ini Oppaku semakin membuat moodku buruk. Aku mengambil beberapa roti dan langsung mengolesi selai coklat kesukaanku di atasnya dengan asal. Aku tidak ingin dimarahi dengan Oppaku yang cerewet itu.

“Eomma, aku berangkat. Annyeong...” Pamitku pada Eomma yang masih sibuk di dapur sementara Appa sudah berangkat ke kantor sejak dari tadi.

“Ne... hati-hati dijalan.” Balas Eomma dari dapur.

Aku langsung keluar dari rumah dan menghampiri mobil yang sudah terparkir di halaman depan rumah. Membuka pintunya dengan malas dan langsung menaikinya yang langsung dihujani tatapan tajam dari Dongyoo-oppa.

“Kau ini selalu saja membuatku terlambat.” Keluhnya.

Aku hanya diam dan menatap ke arah roti yang ada di tanganku. Mencoba untuk tidak peduli dengan ucapan Dongyoo-oppa yang nantinya hanya akan membuatku menjadi kesal saja.

Mobil langsung melaju melewati  jalanan kota Seoul menuju kampus kami. Aku memakan rotiku dalam diam dan cemas.

Bagaimanapun juga aku masih terus memikirkan chinguku itu. Aku takut terjadi sesuatu padanya.

Sebaiknya aku kembali ke dormnya saja. Mungkin dia memang sedang sedih dan membutuhkan hiburan.

Aku yakin yeoja itu pasti sudah menolak cintanya, buktinya dia menghilang dan sama sekali tidak berani menunjukkan wajahnya. Karena aku mengenal sosoknya yang begitu narsis dan sangat percaya diri. Kalau dia berhasil mendapatkan yeoja itu. Dia pasti sudah datang kemarin dan langsung memamerkannya padaku dan chingu yang lainnya.

Sebaiknya aku membolos saja hari ini. Lagi pula mata kuliah hari membosankan. Tapi aku harus hati-hati!

Aku melirik kearah Dongyoo-oppa yang mengendarai mobil dalam diam. Aku harus berhati-hati dari namja menyeramkan ini. Kalau dia sampai tahu aku bolos dia pasti akan langsung mengadu pada Appa dan Eomma yang membuatku harus dihukum.

“Waeyo?” Tanyanya yang mengagetkanku.

“A...aniyo.” Jawabku dengan tersenyum paksa. Semoga saja Oppaku ini tidak curiga dengan rencana pembolosanku kali ini.

Dia melirikku dengan tajam, lalu kembali menatap jalanan. “Kau sungguh mencurigakan Jihyun-ah.” Ucapnya tanpa menoleh ke arahku.

Aku hanya diam dan ikut  menatap ke depan sambil memakan rotiku perlahan. Kalau aku menjawab pertanyaannya hanya akan memperlihatkan kepanikanku yang akan membuatnya semakin curiga padaku. Aku memang tidak terlalu ahli dalam berbohong.

*****

Aku menatap pintu dorm Heechul-ah dalam diam. Sudah beberapa kali aku memencet belnya namun tidak ada jawaban.

Setelah sampai di kampus aku langsung turun dari mobil Dongyoo-oppa dan menglihang secepatnya dari hadapannya dengan bersembunyi. Setelah melihatnya menjauh aku langsung berlari menuju halte bus terdekat, hingga sampailah aku di depan dorm chinguku, Kim Heechul.

Aku kembali memencet belnya, kali ini dengan putus asa. Karena sepertinya chinguku itu memang tidak ada didorm. Apa dia pergi ke tempat orang tuanya di London?

Aish, kenapa dia tidak memberi kabar padaku. Aku benar-benar marah kali ini!

Aku berbalik sambil menghela napas sedih. Sebelum aku melangkahkan kaki pergi, aku mendengar suara pintu dibuka. Dengan cepat aku kembali berbalik dan mendapati sosok chinguku yang membuatku menatapnya dengan shock!

Bruk!

Aku langsung menghampirinya dan mencoba membantunya berdiri. Aku dapat merasakan suhu tubuhnya yang panas. Ada apa dengannya?

Melihatnya yang seperti ini langsung membuat marahku hilang, menguap entah kemana. Semuanya benar-benar hilang tergantikan dengan rasa cemas, sangat cemas!

“Kau datang Jihyun-ah.” Ucapnya pelan namun terdengar senang.

Aku tidak membalas ucapannya, hanya membantunya untuk berdiri. Sepertinya tubuhnya sangat lemah saat ini.

Aku langsung membantunya menuju kamarnya dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.

Aku sedih melihatnya yang terlihat sangat lemah karena sakit seperti ini. Pasti dia sangat berusaha untuk dapat membukakan pintu untukku tadi.
Aish, lihatlah wajahnya yang tampan sekaligus cantik sampai tidak terlihat karena pucatnya dia. Aku memegang dahinya mencoba mengecek suhu tubuhnya lagi. Benar, dia demam.

Apa karena ini dia tidak  menjawab panggilanku?

Aku langsung menuju dapur dan menyiapkan sebuah mangkuk yang berisi air dan sebuah handuk kecil dari lemari bajunya.

Aku mencoba untuk mengurangi panasnya dengan menggompres dahinya.

“Aku lapar Jihyun-ah.” Ucapnya sangat pelan, bahkan seperti sebuah gumaman.

Aku menatapnya dengan sedih. Apa ini semua akibat yeoja itu yang sudah menolaknya? Kenapa dia begitu mencintai yeoja itu? Tidakkah dia bisa melihat aku di sini, yang selalu ada untuknya setiap saat. Yang selalu peduli dan mencemaskannya. Tidakkah dia bisa melihat itu semua, hah? Aku di sini Kim Heechul! Aku di sini!

Aku mencoba sebisa mungkin untuk meredam air mataku yang ingin keluar. “Ne... aku akan memasak untukmu. Tunggulah disini.” Ucapku pelan, langsung meninggalkannya.

Aku berjalan dengan lemas menuju dapurnya dan langsung menyiapkan bahan-bahan yang ada untuk membuatkannya bubur.

Tangisku sudah tidak bisa kutahan lagi, air mataku turun tanpa aku pinta mengalir pelan melewati kedua pipiku. Aku membungkam mulutku dengan tanganku mencoba untuk meredam suara isakan tangisku.

Aku sakit, melihatmu yang seperti ini Kim Heechul. Tahukah kau itu? Aku mencintaimu, jauh sebelum kau mengatakan mencintai yeoja itu. Aku mencintaimu sejak pertama kali kau duduk di sebelahku saat di kelas bahasa inggris. Aku mencintaimu saat pertama kali kau tersenyum padaku. Aku mencintaimu sejak pertama kali kau mengulurkan tanganmu dan memperkenalkan dirimu padaku. Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu. Aku sudah mencintaimu dalam diamku. Tidak bisakah kau merasakan cintaku ini?

Kenapa kau hanya menganggapku sebagai seorang teman? Kenapa kau sama sekali tidak pernah mencoba untuk melihat ke arahku dan mulai mencoba menyukaiku? Kenapa hanya melihat pada yeoja yang sama sekali tidak pernah melihat padamu? Kenapa Kim Heechul? Kenapa?

Aku menghapus air mataku cepat, dan mencoba untuk menenangkan diriku dari isakan tangisku. Aku langsung menuju toilet membasuh wajahku dengan air untuk dapat menghilangkan jejak air mata di wajahku. Sambil sedikit memolesi wajahku dengan bedak yang kubawa. Aku hanya tidak ingin dia melihatku seperti ini.

Aku kembali ke dapur dan menyiapkan bubur yang sudah masak di atas piring. Lalu, meletakkannya diatas nampan dengan segelas air putih hangat dan satu butir obat yang aku ambil dari kotak obat di dapurnya untuk dapat mengurangi demam serta kepalanya yang pusing.

Aku menghela napas dalam-dalam sebelum memasuki kamarnya dan meletakkan nampan yang kubawa di meja kecil di samping tempat tidurnya.

“Heechul-ah, ayo bangun. Aku sudah menyiapkan makanan untukmu.” Aku mencoba membangunkannya dengan pelan.

Kulihat ia perlahan membuka matanya. Dia benar-benar sangat lemah. Baru dua hari tidak melihat senyuman serta tawanya sudah membuatku sangat kehilangan. Aku rindu mendengarkan lelucon bodoh darinya, aku rindu mendengarkan ucapannya yang begitu percaya diri akan sosoknya. Aku merindukannya...

Aku membantunya untuk bersandar di kepala ranjang.

“Bisa tolong suapi aku?” Pintanya dengan manja.

Aku tersenyum kecil mendengar permintaannya, dan menurutinya. “Tapi, setelah itu kau harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padamu. Kau benar-benar membuatku cemas.” Ucapku pelan.

“Ne...” Jawabnya senang. “Mianhae Jihyun-ah, sudah membuatmu cemas.” Katanya lagi dengan rasa bersalah.

“Jangan pernah ulangi itu lagi.” Pintaku sedih.

Dia hanya tersenyum seraya mengangguk setuju. Aku membalas senyumnya dan langsung menyuapinya dengan bubur yang telah kubuat.

*****

Aku berlari dengan sekuat tenaga melewati koridor-koridor kampus. Aku harus menemukan yeoja itu. Aku harus menemuinya. Aku harus!

Dia harus tahu kalau ada seorang namja yang begitu mencintainya. Yang rela menunggunya di taman dengan tidak memperdulikan hujan deras yang mengguyur tubuhnya selama tiga jam lebih. Dia harus tahu kalau ada namja yang begitu mengagumi sosoknya sampai membuat namja itu rela membolos hanya untuk dapat mengetahui kebiasaannya. Dia harus tahu kalau ada namja yang begitu menyukainya sampai namja itu rela melakukan apa yang sangat dibencinya agar yeoja itu dapat melihat ke arahnya. Dia harus tahu!

Aku berhenti tepat di depan ruang musik, dengan napas yang memburu. Setelah menaiki tangga sampai di lantai 4 gedung kampus ini.

Aku menatap yeoja itu, Jung Hyein. Yang sedang memainkan grand piano dengan alunan musik lembut.

Aku masih terus menatapnya dengan tajam. Yeoja itu, kenapa ia begitu jahat sampai membuat chinguku, bukan! orang yang kucintai rela menunggunya di tengah derasnya hujan. Bagaimana dia bisa begitu jahat, tidakkah dia bisa melihat orang yang terluka karenanya.

“Hyein-sshi...” Panggilku langsung. Aku tidak ingin membuat orang yang kucintai itu kembali terluka lagi hanya karena yeoja di depanku ini.

Dia berhenti memainkan pianonya dan menatapku heran.

“Ne, waeyo Jihyun-ah?” Tanyanya dengan senyum manisnya.

Kami memang sudah saling kenal. Hanya saja saat ini aku sedang tidak ingin menganggapnya sebagai orang yang kukenal. Aku kecewa pada sosoknya.

Aku tahu dia mungkin memang orang yang lebih pantas untuk Heechul-ah mengingat dia adalah wanita yang cantik dan pintar di kampus ini. Dan aku juga tahu kalau dia adalah tipe wanita idaman Heechul-ah dengan kakinya yang jenjang itu.

Tidak sepertiku!

Aku berjalan menghampirinya dan menatapnya dengan serius.

“Apa kau mencintai Heechul-ah?” Tanyaku langsung pada inti masalahnya.

Kulihat dia terkejut dengan pertanyaan yang kulontarkan.

“Kenapa kau bertanya seperti itu Jihyun-ah?” Dia balik bertanya.

Aku menatapnya dengan tajam. “Karena kau telah menyakiti chinguku!” Seruku dengan sedikit berteriak. “Kau tahu dia rela menunggumu kemarin, tidak peduli dengan derasnya hujan yang membasahi tubuhnya. Hanya karena keyakinan yang menurutku bodoh kalau kau akan datang saat itu.” Jelasku dengan marah. “Dia menunggumu, Hyein-sshi! Dia menunggumu!” Bentakku.

Aku sudah tidak mampu untuk meredam amarahku. Aku kesal melihatnya yang mengabaikan orang yang begitu penting dalam hidupku begitu saja. Aku benci!

Dapat kulihat dia sangat shock dengan apa yang baru saja aku katakan. “Mianhaeyo Jihyun-ah, aku tidak bermaksud melakukan itu. Aku benar-benar lupa karena aku juga sedang sedih saat itu. Appaku masuk rumah sakit karena kecelakaan.” Jelasnya dengan air mata yang mulai mengalir perlahan.

Aku terdiam, amarahku kembali hilang untuk yang kedua kalinya, menguap entah kemana. Setelah mendengar penjelasannya. Apa aku masih pantas untuk marah dan membentaknya yang sama sekali tidak memiliki pilihan?

“Apa kau tahu dia begitu mencintaimu?” Tanyaku pelan, aku mendongakkan kepalaku ke atas mencoba untuk menahan air mataku yang memaksa ingin keluar.

“Ne, aku tahu dan aku juga mencintainya, Jihyun-ah.” Jawabnya dengan sedih.

Aku terdiam, mulutku seolah terkunci sangat rapat membuatku sama sekali tidak dapat mengeluarkan kata-kata. Ucapannya benar-benar mengunci mulutku.

Setetes air mataku jatuh melalui sudut mataku dan secepat mungkin aku menyekanya dengan tanganku.

Aku memberanikan diri membuka mulutku untuk mengeluarkan kata-kata, yang sebisa mungkin kutahan untuk tidak terdengar isakan tertahanku.

“Saat ini... dia... menunggumu.” Ucapku dengan berat, sangat berat.

Bagaimana bisa aku menyerahkan orang yang kucintai untuk yeoja lain. Ini bukanlah hal yang mudah. Bukan...

Dia menatapku meminta kepastian.

Aku memaksakan senyum terukir diwajahku. “Dia menunggumu, Hyein-ah... saat ini dia sedang sakit. Jagalah dia.” Pintaku tulus.

Dia tersenyum sedih mendengar ucapanku. “Omo! Jinjjayo?”

“Ne...”

“Gomawo Jihyun-ah, kau sudah memberitahuku. Aku akan langsung menemuinya. Gomawo...” dia langsung mengambil tasnya dengan cepat dan keluar dari ruangan dengan senyum bahagianya.

Aku terdiam, kali ini tangisku kembali pecah, tidak mampu untuk kutahan. Apa lagi yang harus aku pertahankan dari sesuatu yang memang dari awal tidak pernah berpihak padaku. Apa lagi? Cinta ini, sungguh menyedihkan...

Aku merasakan lemas di kedua lututku. Aku terjatuh ke lantai dan menangis sepuasku. Melepaskan rasa sakit yang menyelimuti hatiku. Sangat sakit! Sampai membuatku tidak tahan merasakannya.

Kali ini aku akan benar-benar melepaskannya. Karena memang tidak ada lagi yang bisa diharapkan untukku dan dia selain sebuah persahabatan.

Ya, persahabatan...

*****

“Dari mana saja kau Jihyun-ah, kenapa tadi kau membolos, hah?” Kudengar suara Dongyoo-oppa.

Aku melihatnya yang berdiri di ambang pintu dengan tatapan sedihku.

Aku hanya duduk diam di atas tempat tidurku sambil memeluk kedua lututku dengan kedua tanganku, aku sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaannya. Aku sudah tidak memperdulikan lagi jika dia ingin mengadukan tindakanku tadi pada Appa dan Eomma.

“Jihyun-ah, waeyo?” Dia langsung menghampiriku dan ikut duduk di sisiku.

Aku menatapnya dengan sedih, kembali butiran air mataku mengalir melalui sudut-sudut mataku.

“Jihyun-ah...”

Aku langsung memeluk tubuh Dongyoo-oppa dengan erat mencoba untuk menenangkan tangisku yang semakin menjadi. Kurasakan tangannya megusap-usap punggungku dengan pelan.

“Oppa...aku...aku mencintainya Oppa...” Ucapku terbata-bata dengan isak tangis yang membuat dadaku terasa sangat sesak.

“Apa ini mengenai Heechul-ah?” Tanyanya yang memang tahu kalau aku menyukai chinguku itu.

Dia adalah oppa sekaligus sahabatku yang selalu mau mendengarkan cerita dan keluhanku. Dia adalah orang yang sangat mengenalku. Dia adalah orang yang selalu mengingatkanku dan memarahiku jika aku salah. Dia adalah orang yang selalu ada untukku selain, Heechul-ah.

Aku menganggukkan kepalaku dalam pelukan hangatnya.

“Apa kau sedih melihatnya dengan yeoja lain?” Tanyanya.

Aku kembali menganggukkan kepalaku.

“Apa dia bahagia dengan yeoja itu?”

Aku hanya menganggukkan kepalaku lagi.

“Lalu kenapa kau sedih melihatnya bahagia?”

Aku terdiam dalam pelukan Dongyoo-oppa.

Benar, kenapa aku harus sedih? Bukahkah seharusnya aku senang melihatnya bahagia? Bukankah kabahagiannya adalah kebahagiaanku juga?

“Sebenarnya aku sangat tidak ingin mengatakan kata-kata membosankan dan sangat klasik ini. Tapi Jihyun-ah kau harus tahu, bahwa cinta tidak harus saling memiliki.” Jelas Dongyoo-oppa pelan dan langsung melepaskan pelukannya dariku.

Dia menatapku dengan senyuman hangatnya yang selalu dapat membuat hatiku merasa lebih baik.

“Ternyata Dongsaengku sudah besar.” Dia tersenyum menatapku dan menghapus air mataku dengan jari-jari tangannya.

Aku hanya menatapnya dengan bingung.

“Kau tahu Jihyun-ah, mungkin dia memang bukan jodohmu.” Ucapnya memberitahuku.

Aku menatapnya dengan sedih. Aku tahu itu. Kalau dia jodohku mungkin saat ini dia sudah bersamaku, bukan malah dengan yeoja lain.

“Kau harus bersabar Jihyun-ah, karena nantinya Tuhan pasti akan mengirimkan seorang pangeran berkuda putih yang akan menghampirimu dengan membawakan seluruh cintanya untukmu. Kau hanya perlu bersabar.” Dia menasehatiku dengan mengelus kepalaku lembut, penuh sayang.

Aku menghapus jejak-jejak air mata di wajahku dan tersenyum senang mendengar ucapannya. Walaupun aku tidak tahu itu kapan, tapi setelah mendengar Dongyoo-oppa mengatakannya, itu membuatku merasa lebih tenang.

“Oppa, gomawo...” Aku tersenyum menatapnya.

Dia membalas senyumanku. “Ne, cheonma Jihyun-ah. Kau hanya perlu bersabar.” Dia kembali menasehatiku lagi.

Tuhan, aku tidak tahu kapan kau akan mengirimkan seorang pangeran baik hati di kehidupanku. Tapi sekarang aku yakin, kau tidak akan mungkin membuatku terus hidup dalam kesedihan.

Walaupun harus kuakui, aku belum sepenuhnya bisa menghilangkan rasa sakit ini. Tapi aku yakin bahwa aku mampu melewati ini semua. Aku akan terus berjuang.

“Jihyun-ah...” Panggil Dongyoo-oppa sambil mengeluarkan senyuman manisnya.

Aku melihatnya dengan aneh, dan langsung dapat merasakan sesuatu yang tidak beres.

“Appa... Eomma... Jihyun-ah bolos kuliah...!!”

Aku menatap Dongyoo-oppa shock, sepertinya aku akan menderita lagi sekarang dengan hukuman kedua orang tuaku...

Aish...
Aku pikir dia tidak akan mengadu karena aku sedang sedih...
Dasar Dongyoo-oppa...

*****

The End
Please leave your comments
Gomawo
SF_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar