Tittle
: Faith Full In Love
Author
: Siti Fajriani (Shin Hyemi)
Genre : Romance
Cast
: Kim Jongwoon, Shin Hyemi
Happy
reading...
*****
Shin
Hyemi’s side :
Aku
mencintainya...
Sangat!
Seberapapun
dia menyakitiku dan tetap acuh padaku, aku tetap mencintainya...
*****
“Aku
tidak tahu, mungkin tengah malam, hari ini aku akan lembur di kantor. Dan tidak
perlu menungguku” Jawabnya tanpa menoleh kearahku, sibuk dengan sepatu yang di
kenakannya.
Aku
berdiri mematung di belakangnya. Tidak tahu apa lagi yang harus aku katakan.
“Annyeong...”
Ucapnya, kembali tanpa menoleh kearahku yang tepat di belakangnya.
“Hati-hati...”
Aku menatap kepergiannya dengan sedih.
Dia
adalah Kim Jongwoon, suamiku. Kami baru menikah tiga minggu yang lalu. Sebuah
pernikahan yang megah dan mewah. Namun...
Aku
rasa kalian dapat melihatnya sendiri. Dia mengacuhkanku, istrinya!
Ya...
Dia
memang tidak mencintaiku, aku sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba dia datang
padaku dan melamarku. Apa itu tulus? Aku tidak tahu. Yang kutahu, itu lah dia,
yang hanya diam dan menjawab jika aku bertanya. Sama sekali tidak berniat untuk
membuka pembicaraan diantara kami. Diam dan sunyi. Itulah gambaran rumah tangga
kami.
Pasti
kalian penasaran kenapa aku menerimanya, kan?
Aku
menerimanya karena aku mencintainya, terus mengaguminya sejak aku SMA sampai
saat ini. Aku terus mencintainya dan tidak akan pernah bosan untuk itu. Aku
rasa aku sudah menyukainya selama hampir 10 tahun. Bukankah itu adalah waktu
yang lama? Bagaimana mungkin aku menolaknya.
Aku
bahkan sama sekali tidak bisa membuka hatiku untuk orang lain. Hanya dia yang
ada di hatiku, selamanya. Aku selalu menjaga hati ini untuknya.
Aku
bahkan sudah hampir gila tidak percaya dengan apa yang dia lakukan saat dia
melamarku ketika aku pulang dari kantor penerbitan tempatku bekerja.
Setiap
mengingat tentang itu, rasanya hidup terasa begitu indah, sampai aku tidak bisa
mengungkapkannya dengan kata-kata. Membuatku melupakan sikap dinginnya
kepadaku.
Aku
menatap rintik-rintik hujan yang turun melalui jendela kamarku.
Pernikahan
ini... sungguh membuatku bingung...
Dia
datang dengan begitu tiba-tiba dan melamarku dengan begitu romantis, lalu pada
akhirnya dia mengacuhkanku...
Ada
apa dengannya?
Kenapa
melakukan itu semua padaku?
Kenapa
datang padaku dan melamarku jika pada akhirnya kau mengacuhkanku! Kenapa?
Apa
kau tidak tahu bagaimana sakitnya saat melihatmu yang diam dan hanya sibuk
dengan tumpukan kertas-kertas kantor itu?
Ada
apa denganmu, Kim Jongwoon-oppa?
Apa
aku telah melakukan kesalahan?
Kau
tahu?
Rasa
cintaku semakin besar untukmu...
Tidakkah
kau bisa merasakan hal itu?
Orang-orang
bahkan tahu betapa aku mencintaimu, tapi kenapa kau seolah tidak tahu dan
acuh...
Cinta
ini...
Menyakitkan...
*****
Aku
duduk menunggunya di ruang tamu sambil sibuk dengan laptopku, mengerjakan tugas
kantorku yang menumpuk dan lusa harus aku serahkan.
Aku
biasanya mengedit sebuah cerita yang masuk dan menyeleksinya apakah cerita itu
bagus atau tidak untuk diterbitkan. Itu lah pekerjaanku sehari-hari. Ya, aku adalah
seorang editor.
“Aku
pulang...”
Aku
langsung beranjak dari dudukku untuk membantunya membawakan tas, seperti
biasanya.
“Tidak
perlu, aku bisa sendiri. Kerjakan saja tugas-tugas kantormu. Aku bisa melakukan
sendiri.” Dia berlalu di depanku dan langsung masuk menuju kamar.
Aku
hanya bisa mendesah sedih melihat sikap dinginnya kepadaku.
Rasanya
aku ingin menangis setiap kali melihat dia mengacuhkanku seperti itu. Aku ada,
kenapa tidak bisa melihat kalau aku ada, Oppa?
*****
Aku
membuka mataku perlahan...
Sepertinya
tadi malam aku tertidur di ruang tamu, tapi kenapa aku bisa ada di kamar?
Aku
tersenyum tipis. Pasti Jongwoon-oppa yang menggendongku sampai kemari.
Membayangkannya saja sudah membuatku senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
Ah...
Aku
menatap kearah jendela yang sudah terbuka dengan sinar matahari yang sudah
tinggi.
Omo!
Aku
terlambat bangun!
Aku
langsung bangun dari tidurku dengan cepat dan tertegun melihat Jongwoon-oppa di
depan lemari. “Oppa...” Aku melihat Jongwoon-oppa yang sibuk dengan koper dan
baju-bajunya. “Apa yang... sedang kau lakukan?” Tanyaku cemas.
Apa
dia ingin pergi meninggalkanku?
Tidak!
“Aku
harus ke Jeju, Appa memintaku untuk mengecek perusahaan yang ada disana.”
Ujarnya sibuk memasukkan bajunya ke dalam koper.
“Kenapa
tidak membangunkanku? Harusnya aku yang melakukan itu.” Aku langsung berdiri
dan menghampirinya.
“Tidak
perlu, kau istirahat saja. Hari ini kan hari minggu. Biar aku saja yang
melakukannya.” Kembali dia mencegahku.
“Berapa
lama kau akan pergi, Oppa?”
“Satu
minggu.”
“Oh...”
Gumamku dan langsung beranjak menuju kamar mandi.
Aku
berdiri di depan cermin, sambil memegang dadaku yang terasa sakit, sangat
sakit!
Setiap
kali berbicara dia tidak pernah mau menatapku. Apa ada yang salah dengan diriku?
Kenapa tidak menatapku? Bukankah kau mencintaiku, Oppa? Kalau kau tidak
mencintaiku, kau tidak akan mungkin melamarku, kan?
Apa...
Ada
sesuatu yang memaksamu untuk melakukan itu? Apa ada orang yang memaksamu untuk
menikahiku, Oppa?
Aku
memukul kepalaku berkali-kali, mencoba membuang pikiran itu.
“Hyemi-ya...
apa yang kau pikirkan, babo! Itu tidak mungkin. Dia mungkin hanya butuh
penyesuaian dengan ini semua.” Aku tersenyum yakin menatap pantulan diriku di
cermin. “Hyemi-ya, Fighting!”
*****
Sudah
tiga hari dia pergi dan sama sekali tidak pernah mencoba menghubungiku. Padahal
aku selalu mencoba menghubunginya, kenapa tidak membalas telponku? Dan kenapa
handphone-mu tidak kau aktifkan, Oppa?
Apa
kau tidak tahu kalau aku mencemaskanmu, hah?
Aku
juga merindukanmu, Oppa...
Apa
kau tidak merindukanku?
Aku
iri setiap kali mendengar kisah romantis dari teman-temanku tentang suami atau
kekasih mereka yang begitu perhatian pada mereka. kenapa kau tidak seperti itu?
Kenapa kau begitu berbeda, Oppa?
Apa
kau tahu aku selalu berbohong tentangmu setiap kali teman-temanku bertanya
tentangmu. Aku selalu mengatakan kau orang yang romantis, penuh kasih sayang,
peduli padaku, dan selalu yang terbaik. Kenapa tidak bisa menjadi seperti itu.
Ah,
sepertinya aku harus bermimpi dulu untuk melihatmu yang seperti itu.
Kenapa
hidupku begitu menyedihkan...
Dua
hari yang lalu aku harus berhenti dari pekerjaanku sebagai editor, karena
sebelumnya aku memang hanya menggantikan editor yang sedang cuti melahirkan.
Tapi apa mereka tidak melihat betapa bagusnya kerjaku dari pada editor mereka
itu.
Menyebalkan!
Jongwoon-oppa...
Seharusnya
sekarang kau sedang menghiburku melalui hendphone-mu dan memberikan semangat
untuk istrimu yang menyedihkan ini.
Kau
jahat, Oppa!
Membiarkanku
menangis sendirian...
Kapan
kau akan pulang dan menghiburku? Aku merindukanmu, Oppa...
*****
Aku
berjalan menuju telpon yang berdering dengan cepat, sambil berharap kalau itu
adalah Jongwoon-oppa.
“Yeoboseyo...
Oppa...” Sapaku dengan girang pada seseorang di seberang sana, yang aku yakini
adalah Jongwoon-oppa.
“Aish,
kau merindukan suami itu, hah?” Goda mertuaku.
Aku
mendesah, ternyata aku salah...
“Tenang
saja Hyemi-ya, hari ini dia akan pulang, kau tidak perlu cemas.” Ujar Appa.
“Ne,
Appa. Ah, kenapa Appa menelpon?”
“Ah,
Hyemi-ya... bisakah kau datang ke kantor sekarang juga? Appa ingin
memperkenalkanmu dengan rekan bisnis Appa yang memiliki perusahaan penerbitan.
Mungkin kau bisa bekerja di sana nantinya. Dia sedang mencari seorang editor.”
Aku
terdiam mendengar kata-kata mertuaku. Dia memang sudah tahu tentang pemecatanku
itu. “Ne Appa, aku akan segera kesana.” Ujarku dengan senang.
“Baiklah,
Appa tunggu.”
“Ne...”
Aku
langsung meletakkan kembali telpon tersebut dan melangkah dengan senang menuju
kamarku untuk bersiap-siap. Jika aku diterima setidaknya aku tidak akan merasa
bosan dan sedih karena harus selalu sendirian.
Semoga
aku mendapatkan pekerjaan itu...
***
Aku
berada di salah satu bilik kamar mandi sambil membersihkan bajuku yang basah
karena tumpahan air yang tidak sengaja aku jatuhkan karena senang. Akhirnya aku
mendapatkan pekerjaan lagi. Walaupun mungkin bukan karena usahaku sendiri untuk
mendapatkan pekerjaan ini. Tapi aku berjanji akan melakukan pekerjaanku dengan sangat
baik.
Aku
hendak keluar saat aku mendengar seorang yeoja menyebutkan nama Jongwoon-oppa.
“Kemana
Jongwoon-ssi, bos kita itu? Sudah lama aku tidak melihatnya.” Kata seorang
yeoja.
“Kau
tidak tahu? Dia kan sedang pergi ke pulau Jeju untuk mengurus perusahaan yang ada
di sana.”
Kenapa bawahan-bawahan suka sekali bergosip
tentang bos mereka?
Ah,
aku tahu. Pasti karena suamiku itu tampan dan sangat memikat, makanya mereka
membicarakannya. Aku tersenyum bangga.
“Pantas
saja aku tidak melihat yeoja itu datang ke kantor kita.”
Senyumku
perlahan menghilang. Yeoja itu? Siapa dia?
“Owh,
Park Kyuri? Tentu saja dia juga ikut ke Jeju. Bukankah di sana mereka lebih
puas untuk bersama tanpa harus ketahuan dengan istrinya.”
Park?
Park Kyuri?
Ada
sesuatu yang terasa begitu menyakitkan di dada, rasa sakit yang langsung
menyeruak keluar. Aku memegang dadaku, mencoba untuk mengurangi rasa sakit itu.
“Tapi
apa kau benar-benar yakin kalau bos kita itu berselingkuh?”
“Aku
yakin, sangat yakin. Aku pernah melihat mereka berpegangan tangan dan saat aku
masuk mereka langsung melepaskan tangan mereka, dan suasana menjadi aneh.”
“Jadi
kenapa dia bisa menikah jika dia menyukai orang lain?”
“Aku
mendengar cerita yang mengatakan kalau dia terpaksa menikahi istrinya itu,
karena istrinya itu begitu mencintainya. Bahkan aku dengar istrinya itu hampir
ingin bunuh diri saat dia ingin di jodohkan dengan orang lain.”
Aku
sudah tidak sanggup untuk menahan air mataku yang mengalir begitu saja. Rasa
sakit itu, semakin sakit.
Dia
selingnkuh dariku. Dan kenapa harus dengan sahabatku sendiri, Park Kyuri!
Park
Kyuri... kau tahukan bagaimana aku mencintainya? Kenapa... kenapa kalian...
Kilasan
kejadian bebarapa bulan lalu terlintas di otakku.
Kebodohanku
saat aku ingin kabur bahkan sampai mencoba untuk bunuh diri karena menolak permintaan
kedua orang tuaku yang ingin menjodohkanku. Bagaimanapun juga, aku tidak bisa
jika itu bukan Jongwoon-oppa. Aku mencintainya, sangat. Aku lebih suka hidup
sendiri dari pada aku harus menjalani hidupku dengan orang lain yang hanya akan
menyakiti orang itu.
“Aku
rasa istrinya itu terlalu terobsesi dengan Jongwoon-ssi. Memaksa orang untuk
mencintainya. Apa dia gila?”
*****
Aku
duduk sambil terus menangis di balkon kamarku, menangisi kebodohanku, menangisi
kisah cinta menyedihkan ini. Benar-benar menyedihkan!
Sudah
berjam-jam aku terus duduk di balkon ini tanpa peduli dengan air hujan yang
terus jatuh membasahi tubuh mungilku yang sudah gemetar karena kedinginan.
Benar...
Ini
bukan cinta!
Ini
obsesi gilaku!
Aku
memukul-mukul kepalaku sambil meneriakkan kata babo. “Hyemi-ya babo... babo...
babo...”
Aku
hanya membuatnya terpuruk jika terus bersamaku. Tapi aku tidak bisa
melepaskannya...
Aku
tidak bisa...
Aku
membutuhkannya untuk selalu ada disampingku, tidak peduli jika dia hanya diam
dan mengacuhkan. Aku membutuhkannya...
Apa
yang harus aku lakukan...
Aku
membutuhkannya...
Tapi
aku juga melukainya di saat yang bersamaan, membuatnya sedih karena harus
berpisah dari orang yang dia sayangi. Apa aku harus merelakannya pergi?
Aku
tidak bisa...
Bagaimana
ini...
Aku...
Aku
membuatnya sedih dan tidak bahagia jika terus tetap memaksanya untuk bersama
denganku...
Apa
yang harus aku lakukan?
Tuhan...
Apa
yang harus aku lakukan?
Kenapa
begitu menyakitkan takdir yang Engkau buat...
“Hyemi-ya...”
Aku
merasakan sakit di dadaku saat mendengar suara indahnya memanggilku dengan
sebutan itu. Ini pertama kalinya aku mendengar dia memanggilku dengan tidak
formal seperti biasanya.
“Apa
yang kau lakukan, hah? Kau bisa sakit jika seperti itu.” Dia langsung menghampiriku
dan menutup tubuhku yang sudah basah menggunakan handuk. Dan membawaku masuk ke
kamar.
Aku
hanya mampu menundukkan kepalaku agar dia tidak melihat aku yang menangis.
Tangisku semakin jadi, melihatnya yang untuk pertama kalinya begitu perhatian
kepadaku.
“Cepatlah
ganti bajumu, aku tidak ingin kau
sakit.” Ucapnya dengan lembut.
Dan
ini pertama kalinya juga dia begitu perhatian dan berbicara dengan begitu
lembut.
“Seberapapun
kau menyukai hujan, tapi jangan pernah membiarkan hujan membasahi tubuhmu.
Eomma bilang kau akan sakit jika sedikit saja terkena hujan. Kenapa begitu
bodoh, hah? Cepat masuk, aku akan mencarikan baju untukmu.”
Aku
terdiam di depan pintu kamar mandi yang sudah dibukanya untukku.
Oppa,
kenapa kau membuatku jadi semakin sulit untuk melepaskanmu. Kenapa hari ini kau
begitu berbeda? Apa kau begitu bahagia karena bisa bersama dengan Kyuri selama
di Jeju?
“Yak!
Hyemi-ya, kenapa kau hanya diam saja, kau ingin sakit, hah?!” Teriaknya kesal.
Sudah
lama sekali aku tidak mendengar suara teriakan itu. Dulu setiap kali aku
memperhatikanmu, kau sering sekali berteriak pada teman-temanmu yang
mengganggumu saat bernyanyi.
Aku
berbalik dan menatapnya yang sibuk mencarikan bajuku di lemari.
“Oppa...”
Terdengar suaraku yang parau.
Dia
langsung berhenti dan menatapku heran.
“Pergilah...
aku akan mencoba untuk hidup tanpamu... jangan pernah lagi memaksakan dirimu
untuk menjalani ini semua. Aku rasa Kyuri memang lebih baik dariku. Jauh...
lebih baik.” Tangisku kembali pecah.
Aku
melihatnya yang terdiam.
Aku
menundukkan kepalaku lagi, aku tidak mampu jika harus menatap wajahnya yang
begitu aku cintai.
Aku
menghapus air mataku dan mencoba untuk membesarkan hati, walaupun aku akui rasa
sakit itu semakin terasa sakit. Apa lagi aku harus mengucapkan kata-kata yang
sangat tidak ingin aku ucapkan.
“Aku
akan mengurus perceraian kita dan... menjelaskannya pada orang tuaku. Kau tidak
perlu cemas, Oppa. Aku yakin mereka akan mengerti dengan ini semua.” Aku
mencoba memaksakan sedikit senyumku.
Dia
menatap mataku tajam.
“Kenapa
menatapku seperti itu, cukup katakan terima kasih itu sudah lebih baik.” Aku
berjalan kearahnya dan mengambil baju yang ada di tangannya.
Aku
tersenyum sedih melihat baju yang sekarang ada di tanganku. Dia memilihkan
sebuah kaos untukku. Itu adalah kaos kesukaanku, dengan warna sapphire blue
kesukaanku.
“Terima
kasih atas bajunya, pilihan yang bagus. Kau tahu Oppa, ini adalah baju
kesukaanku. Kau lihatkan betapa seringnya aku memakai baju ini dalam seminggu.”
Aku berbalik. “Setelah hujan reda, kau bisa pergi. Semoga kalian bahagia.” Aku
berjalan dengan cepat menuju kamar mandi sampai langkahku terhenti karena
sebuah tangan yang melingkar erat di pinggangku. Tangannya.
“Bodoh!
Apa yang kau lakukan, hah? Kau ingin melepas orang yang begitu kau cintai,
hah?!” Serunya dengan sedikit berteriak.
Aku
hanya diam dan terus menatap tangannya yang melingkar indah di pinggangku.
“Aku
merindukanmu, bodoh! Kenapa kau mengucapkan kata bodoh-bodoh itu. Kau ini
benar-benar bodoh. Mana sambutanmu itu? Bukankah kau selalu menungguku pulang?
Dan tersenyum senang saat melihatku. Kenapa kau jadi seperti ini, hah?”
“Oppa...
berhenti bersikap baik padaku. Kau membuatku jadi semakin ingin memaksamu untuk
selalu di sampingku.” Pintaku memohon.
“Kalau
begitu aku akan selalu bersikap manis padamu. Agar kau selalu menginginkanku
untuk di sampingmu. Hyemi-ya... saranghae.”
Aku
melepaskan tangannya yang memelukku dan langsung menatapnya dengan pandangan
tidak percaya. Apa yang dia katakan, hah?
Apa
ini mimpi?
Sudah
sangat lama sekali aku ingin mendengarnya mengucapkan kata sederhana itu. Satu
kata yang dapat mengubah segalanya di hidupku.
“Aku
sedang tidak ingin bercanda, Oppa.” Ucapku serius, walau ada rasa bahagia saat
mendengarnya mengucapkan kata itu.
“Aku
serius, apa kau pikir aku tidak gila selama di Jeju tanpa melihatmu?”
Aku
memegang kepalaku yang terasa berat dan sakit. Ada apa denganku?
“Aku
benar-benar mencintaimu, Hyemi-ya. Maaf karena telah mengacuhkanmu selama ini...”
Mendadak
semua benda yang ada di sekitarku terasa berputar sampai tiba-tiba semuanya
menjadi gelap...
*****
Aku
mencoba untuk membuka mataku dengan perlahan. Menatap langit-langit kamarku
dengan malas.
Huh...
Hanya
mimpi...
Tapi
kenapa terasa begitu nyata?
Kenapa
kata yang diucapkannya terasa begitu nyata. Sangat indah dan membuatku merasa
begitu bahagia. Tapi aku sadar itu terlalu indah untuk menjadi sebuah
kenyataan. Itu pasti hanya mimpiku.
Aku
bangun dari tidurku dengan perlahan sambil memegang kepalaku yang terasa berat dan pusing.
Ada
apa denganku?
“Hyemi-ya...
kau sudah sadar...” Kulihat orang yang begitu kucintai masuk ke dalam kamar
dengan tergesa-gesa dan sebuah senyum lega tersungging indah di bibirnya.
Aku
menatap kearahnya dengan bingung, tidak percaya dengan apa yang aku lihat.
Apakah
aku sedang bermimpi?
Bukankah
ada mimpi dalam mimpi? Seperti film yang pernah aku tonton, Inception. Yang
diperankan oleh Leonardo de Caprio.
Dia
duduk di samping tempat tidur dan menatapku dengan senang.
“Syukurlah
kau sudah sadar, aku sudah menghubungi Appa dan Eomma. Mungkin sebentar lagi
mereka akan datang. Kau tahu, kau membuatku panik dan bingung dengan apa yang
harus aku lakukan. Jadi, aku menghubungi Eomma dan mereka langsung cemas.”
Aku
hanya diam menatapnya dengan tidak percaya. Tidak memperdulikan lagi apa yang
dia ucapkan padaku. Semua seolah ter-mute, dengan tatapanku yang menatapnya
kagum.
Dia
berbicara padaku dengan begitu banyak, ini benar-benar sangat jarang terjadi.
Ini... terasa begitu indah, melihat wajahnya dari dekat dengan senyuman
manisnya serta suara riangnya yang bercerita.
“Hyemi-ya...
Hyemi-ya...”
Suara
indahnya yang memanggil-manggil namaku, membuatku langsung sadar dari
lamunanku.
Aku
memberanikan diriku dengan menggerakkan tanganku menuju wajahnya. Menyentuh
wajah indahnya dengan lembut. Ini pertama kalinya aku menyentuh wajah tampannya
yang begitu menggemaskan.
“Ini
terlalu indah untuk sebuah kenyataan...” Gumamku pelan.
Tangannya
langsung memegang tanganku yang menyentuh pipinya.
“Aku
merindukanmu, Hyemi-ya...” Ucapnya pelan.
Aku
terdiam, sentuhan tangannya dan kata-kata itu terasa begitu nyata. Mimpikah
ini?
Tidak!
Ini
bukan mimpi...
Tapi...
Aku
melepaskan genggaman tangannya dan langsung memegang dadaku. Ada rasa sakit di
sana.
“Kyuri...
Park Kyuri, bukan kah kau mencintainya, Oppa?” Tanyaku pelan. Aku hanya
menundukkan kepalaku, mencoba menahan tangisku.
“Apa
yang kau bicarakan, Hyemi-ya? Kenapa kau begitu aneh hari ini? Dan ada apa dengan
Kyuri. Aku tidak ada hubungan apapun dengan...”
“Lalu
kenapa dia sering ke kantormu, Oppa?” Potongku langsung. Aku ingin
menyelesaikan ini semua hari ini. Dan kalaupun kami berpisah, aku akan menerima
ini semua.
Ternyata
ini bukan mimpi...
Melainkan
kenyataan, dan aku harus menerimanya dengan ikhlas...
Dia
diam menatapku, tanpa bisa aku artikan tatapan itu...
“Dari
mana kau mendapatkan berita murahan itu?”
“Tadi
aku ke kantormu, dan bawahanmu mengatakan itu semua, Oppa. Dan itu membuatku
malu jika aku harus datang ke kantormu lagi.” Jawabku, tanpa menatapnya.
“Kenapa
kau bisa mempercayai berita murahan itu, hah?!” Tanyanya dengan sedikit
menaikan nada bicaranya.
“Kenapa
aku harus tidak percaya dengan berita itu. Jika buktinya sudah sangat jelas.
Kau selalu mengacuhkanku, tidak pernah mau berbicara padaku, selalu menghindar
dariku, tidak pernah peduli dan... semua sudah begitu jelas, Oppa. Apa kau
ingin menyangkal itu semua, huh?”
Dia
kembali diam...
Aku
menatapnya yang mengalihkan pandangannya ke arah jendela.
Aku
benar, bukan?
Itu
semua benar?
Kau
berselingkuh dengan sahabatku sendiri...
Setetes
butiran bening air mata jatuh secara perlahan melalui sudut mataku.
“Jangan
menangis...” Dia menatapku dengan sedih dan langsung menghapus air mataku dengan
jari tangannya yang kecil.
“Kenapa
kau melakukan ini semua padaku, Oppa. Kenapa melamarku jika kau menyukai orang
lain. Tahukah kau betapa menyakitkannya saat mengetahui itu semua. Aku
terluka...”
Dia
langsung memeluk tubuhku membenamkan wajahku dalam dadanya yang bidang,
membiarkan aku menangis dalam pelukan hangatnya.
“Bisakah
kau mendengarkan penjelasanku dulu untuk itu semua?” Tanyanya pelan.
Aku
tidak menjawab pertanyaannya dan masih terus menangis, membiarkan semua air
mataku keluar. Ini pertama kalinya dia memelukku dan membiarkanku menangis dalam
pelukan hangatnya.
“Aku
bersumpah, aku tidak ada hubungan apapun dengan Kyuri. Dia itu sahabatmu Hyemi-ya
dan aku juga menganggapnya seperti sahabat.” Jelasnya dengan menekankan
ucapannya pada kata ‘sahabat’.
“Aku
akan jujur, sebelumnya aku memang tidak mencintaimu. Aku senang karena kau
terus mengagumiku sampai saat ini, kau tahu... itu benar-benar membuatku terkejut,
bagaimana mungkin kau tetap mencintaiku dan malah ingin melakukan hal bodoh
karena ingin dijodohkan. Apa kau gila, sampai ingin bunuh diri hanya karena
itu.” Dia mengelus lembut kepalaku. “Kyuri dan orang tuamu memintaku untuk
melamarmu dan mencoba untuk menyukaimu. Tadinya aku tidak mau, tapi melihatmu
yang begitu mencintaiku. Aku ingin mencobanya.”
Aku
terdiam, mencoba menghapus air mataku. Terima kasih karena sudah mencobanya.
“Dan
kau tahu Hyemi-ya? Seminggu tanpamu membuatku begitu merindukanmu dan sekarang
aku sedih karena melihatmu yang sakit seperti ini karena aku. Maafkan aku Hyemi-ya...
maafkan aku...” Dia mengecup lembut puncak
kepalaku.
“Aku
selalu diam karena aku bingung untuk berbicara apa padamu. Tapi sejak pergi
meninggalkanmu ke Jeju, aku bersumpah untuk selalu bercerita denganmu. Aku
tidak ingin kehilangan keceriaanmu. Aku tahu kau orang yang ceria. Pasti sangat
menyiksakan selama tinggal bersamaku, karena kau selalu kesepian karena tidak
ada teman cerita.”
Aku
melepaskan pelukanku darinya, dan menatapnya sedih. “Lalu kenapa Kyuri selalu
datang ke kantormu, Oppa?” Tanyaku. Dia belum menjelaskan untuk hal itu.
“Dia
memarahiku dan selalu memarahiku karena aku tidak peduli padamu. Dan memohon
agar aku memberikan perhatianku untukmu serta mencoba untuk menyukaimu.” Dia
menatapku sedih, penuh permintaan maaf. “Terima kasih karena sudah berbohong
untukku di depan teman-temanmu.” Dia tersenyum menatapku.
Aku
hanya diam menatapnya. Bukan karena aku tidak percaya padanya tapi karena aku
sangat percaya padanya. Aku tahu apa yang dia katakan itu jujur dan tulus. Dan
itu membuatku benar-benar bahagia.
“Terima
kasih karena sudah mau mencoba untuk mencintaiku. Apakah sekarang kau
benar-benar mencintaiku, Oppa?” Tanyaku.
“Apa
kau masih meragukan cintaku padamu, Ny.Shin Hyemi? Ah, bukan Ny.Kim?” Dia
tersenyum penuh arti menatapku.
Aku
mendengar bunyi bel. Sepertinya orang tuaku sudah datang.
“Appa
dan Eomma sudah datang, ayo keluar.” Ajakku padanya.
“Tidak!”
Dia langsung mencegahku saat aku ingin turun dari tempat tidur. “Kau masih
sakit, biar aku saja yang menyambut mereka. Apa kau meragukanku? Aku ini adalah
menantu yang baik.” Dia langsung berdiri dan keluar dari kamar yang sebelumnya
meninggalkan sebuah senyuman manis untukku. Indah...
Aku
masih terus tersenyum melihatnya yang sudah menghilang dari balik pintu kamar.
Ini
nyata dan dia benar-benar mencintaiku. Terima kasih karena sudah mau mencoba
untuk mencintaiku, Kim Jongwoon-oppa.
Ny.
Kim?
Aku
sudah memiliki nama baru ternyata.
Itu
terdengar begitu indah...
Saranghae
Oppa....
*****
The end
Please leave your comments
Gomawo
SF_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar