Welcome to My World

Selasa, 21 Agustus 2012

Fanfiction - Faith Full In Love

Tittle : Faith Full In Love
Author : Siti Fajriani (Shin Hyemi)
Genre : Romance
Cast : Kim Jongwoon, Shin Hyemi
Happy reading...

*****

Shin Hyemi’s side :

Aku mencintainya...
Sangat!
Seberapapun dia menyakitiku dan tetap acuh padaku, aku tetap mencintainya...

*****


“Oppa, kau akan pulang jam berapa?” Tanyaku saat melihatnya yang berjalan pergi menuju pintu.

“Aku tidak tahu, mungkin tengah malam, hari ini aku akan lembur di kantor. Dan tidak perlu menungguku” Jawabnya tanpa menoleh kearahku, sibuk dengan sepatu yang di kenakannya.

Aku berdiri mematung di belakangnya. Tidak tahu apa lagi yang harus aku katakan.

“Annyeong...” Ucapnya, kembali tanpa menoleh kearahku yang tepat di belakangnya.

“Hati-hati...” Aku menatap kepergiannya dengan sedih.

Dia adalah Kim Jongwoon, suamiku. Kami baru menikah tiga minggu yang lalu. Sebuah pernikahan yang megah dan mewah. Namun...

Aku rasa kalian dapat melihatnya sendiri. Dia mengacuhkanku, istrinya!

Ya...
Dia memang tidak mencintaiku, aku sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba dia datang padaku dan melamarku. Apa itu tulus? Aku tidak tahu. Yang kutahu, itu lah dia, yang hanya diam dan menjawab jika aku bertanya. Sama sekali tidak berniat untuk membuka pembicaraan diantara kami. Diam dan sunyi. Itulah gambaran rumah tangga kami.

Pasti kalian penasaran kenapa aku menerimanya, kan?

Aku menerimanya karena aku mencintainya, terus mengaguminya sejak aku SMA sampai saat ini. Aku terus mencintainya dan tidak akan pernah bosan untuk itu. Aku rasa aku sudah menyukainya selama hampir 10 tahun. Bukankah itu adalah waktu yang lama? Bagaimana mungkin aku menolaknya.

Aku bahkan sama sekali tidak bisa membuka hatiku untuk orang lain. Hanya dia yang ada di hatiku, selamanya. Aku selalu menjaga hati ini untuknya.

Aku bahkan sudah hampir gila tidak percaya dengan apa yang dia lakukan saat dia melamarku ketika aku pulang dari kantor penerbitan tempatku bekerja.

Setiap mengingat tentang itu, rasanya hidup terasa begitu indah, sampai aku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Membuatku melupakan sikap dinginnya kepadaku.

Aku menatap rintik-rintik hujan yang turun melalui jendela kamarku.

Pernikahan ini... sungguh membuatku bingung...

Dia datang dengan begitu tiba-tiba dan melamarku dengan begitu romantis, lalu pada akhirnya dia mengacuhkanku...

Ada apa dengannya?
Kenapa melakukan itu semua padaku?
Kenapa datang padaku dan melamarku jika pada akhirnya kau mengacuhkanku! Kenapa?

Apa kau tidak tahu bagaimana sakitnya saat melihatmu yang diam dan hanya sibuk dengan tumpukan kertas-kertas kantor itu?
Ada apa denganmu, Kim Jongwoon-oppa?
Apa aku telah melakukan kesalahan?

Kau tahu?
Rasa cintaku semakin besar untukmu...
Tidakkah kau bisa merasakan hal itu?

Orang-orang bahkan tahu betapa aku mencintaimu, tapi kenapa kau seolah tidak tahu dan acuh...

Cinta ini...
Menyakitkan...

*****

Aku duduk menunggunya di ruang tamu sambil sibuk dengan laptopku, mengerjakan tugas kantorku yang menumpuk dan lusa harus aku serahkan.

Aku biasanya mengedit sebuah cerita yang masuk dan menyeleksinya apakah cerita itu bagus atau tidak untuk diterbitkan. Itu lah pekerjaanku sehari-hari. Ya, aku adalah seorang editor.

“Aku pulang...”

Aku langsung beranjak dari dudukku untuk membantunya membawakan tas, seperti biasanya.

“Tidak perlu, aku bisa sendiri. Kerjakan saja tugas-tugas kantormu. Aku bisa melakukan sendiri.” Dia berlalu di depanku dan langsung masuk menuju kamar.

Aku hanya bisa mendesah sedih melihat sikap dinginnya kepadaku.

Rasanya aku ingin menangis setiap kali melihat dia mengacuhkanku seperti itu. Aku ada, kenapa tidak bisa melihat kalau aku ada, Oppa?

*****

Aku membuka mataku perlahan...
Sepertinya tadi malam aku tertidur di ruang tamu, tapi kenapa aku bisa ada di kamar?
Aku tersenyum tipis. Pasti Jongwoon-oppa yang menggendongku sampai kemari. Membayangkannya saja sudah membuatku senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Ah...

Aku menatap kearah jendela yang sudah terbuka dengan sinar matahari yang sudah tinggi.

Omo!
Aku terlambat bangun!

Aku langsung bangun dari tidurku dengan cepat dan tertegun melihat Jongwoon-oppa di depan lemari. “Oppa...” Aku melihat Jongwoon-oppa yang sibuk dengan koper dan baju-bajunya. “Apa yang... sedang kau lakukan?” Tanyaku cemas.

Apa dia ingin pergi meninggalkanku?
Tidak!

“Aku harus ke Jeju, Appa memintaku untuk mengecek perusahaan yang ada disana.” Ujarnya sibuk memasukkan bajunya ke dalam koper.

“Kenapa tidak membangunkanku? Harusnya aku yang melakukan itu.” Aku langsung berdiri dan menghampirinya.

“Tidak perlu, kau istirahat saja. Hari ini kan hari minggu. Biar aku saja yang melakukannya.” Kembali dia mencegahku.

“Berapa lama kau akan pergi, Oppa?”

“Satu minggu.”

“Oh...” Gumamku dan langsung beranjak menuju kamar mandi.

Aku berdiri di depan cermin, sambil memegang dadaku yang terasa sakit, sangat sakit!

Setiap kali berbicara dia tidak pernah mau menatapku. Apa ada yang salah dengan diriku? Kenapa tidak menatapku? Bukankah kau mencintaiku, Oppa? Kalau kau tidak mencintaiku, kau tidak akan mungkin melamarku, kan?

Apa...
Ada sesuatu yang memaksamu untuk melakukan itu? Apa ada orang yang memaksamu untuk menikahiku, Oppa?

Aku memukul kepalaku berkali-kali, mencoba membuang pikiran itu.

“Hyemi-ya... apa yang kau pikirkan, babo! Itu tidak mungkin. Dia mungkin hanya butuh penyesuaian dengan ini semua.” Aku tersenyum yakin menatap pantulan diriku di cermin. “Hyemi-ya, Fighting!”

*****

Sudah tiga hari dia pergi dan sama sekali tidak pernah mencoba menghubungiku. Padahal aku selalu mencoba menghubunginya, kenapa tidak membalas telponku? Dan kenapa handphone-mu tidak kau aktifkan, Oppa?

Apa kau tidak tahu kalau aku mencemaskanmu, hah?
Aku juga merindukanmu, Oppa...
Apa kau tidak merindukanku?

Aku iri setiap kali mendengar kisah romantis dari teman-temanku tentang suami atau kekasih mereka yang begitu perhatian pada mereka. kenapa kau tidak seperti itu? Kenapa kau begitu berbeda, Oppa?

Apa kau tahu aku selalu berbohong tentangmu setiap kali teman-temanku bertanya tentangmu. Aku selalu mengatakan kau orang yang romantis, penuh kasih sayang, peduli padaku, dan selalu yang terbaik. Kenapa tidak bisa menjadi seperti itu.

Ah, sepertinya aku harus bermimpi dulu untuk melihatmu yang seperti itu.

Kenapa hidupku begitu menyedihkan...

Dua hari yang lalu aku harus berhenti dari pekerjaanku sebagai editor, karena sebelumnya aku memang hanya menggantikan editor yang sedang cuti melahirkan. Tapi apa mereka tidak melihat betapa bagusnya kerjaku dari pada editor mereka itu.

Menyebalkan!

Jongwoon-oppa...
Seharusnya sekarang kau sedang menghiburku melalui hendphone-mu dan memberikan semangat untuk istrimu yang menyedihkan ini.

Kau jahat, Oppa!
Membiarkanku menangis sendirian...
Kapan kau akan pulang dan menghiburku? Aku merindukanmu, Oppa...

*****

Aku berjalan menuju telpon yang berdering dengan cepat, sambil berharap kalau itu adalah Jongwoon-oppa.

“Yeoboseyo... Oppa...” Sapaku dengan girang pada seseorang di seberang sana, yang aku yakini adalah Jongwoon-oppa.

“Aish, kau merindukan suami itu, hah?” Goda mertuaku.

Aku mendesah, ternyata aku salah...

“Tenang saja Hyemi-ya, hari ini dia akan pulang, kau tidak perlu cemas.” Ujar Appa.

“Ne, Appa. Ah, kenapa Appa menelpon?”

“Ah, Hyemi-ya... bisakah kau datang ke kantor sekarang juga? Appa ingin memperkenalkanmu dengan rekan bisnis Appa yang memiliki perusahaan penerbitan. Mungkin kau bisa bekerja di sana nantinya. Dia sedang mencari seorang editor.”

Aku terdiam mendengar kata-kata mertuaku. Dia memang sudah tahu tentang pemecatanku itu. “Ne Appa, aku akan segera kesana.” Ujarku dengan senang.

“Baiklah, Appa tunggu.”

“Ne...”

Aku langsung meletakkan kembali telpon tersebut dan melangkah dengan senang menuju kamarku untuk bersiap-siap. Jika aku diterima setidaknya aku tidak akan merasa bosan dan sedih karena harus selalu sendirian.

Semoga aku mendapatkan pekerjaan itu...

***

Aku berada di salah satu bilik kamar mandi sambil membersihkan bajuku yang basah karena tumpahan air yang tidak sengaja aku jatuhkan karena senang. Akhirnya aku mendapatkan pekerjaan lagi. Walaupun mungkin bukan karena usahaku sendiri untuk mendapatkan pekerjaan ini. Tapi aku berjanji akan melakukan pekerjaanku dengan sangat baik.

Aku hendak keluar saat aku mendengar seorang yeoja menyebutkan nama Jongwoon-oppa.

“Kemana Jongwoon-ssi, bos kita itu? Sudah lama aku tidak melihatnya.” Kata seorang yeoja.

“Kau tidak tahu? Dia kan sedang pergi ke pulau Jeju untuk mengurus perusahaan yang ada di sana.”

 Kenapa bawahan-bawahan suka sekali bergosip tentang bos mereka?
Ah, aku tahu. Pasti karena suamiku itu tampan dan sangat memikat, makanya mereka membicarakannya. Aku tersenyum bangga.

“Pantas saja aku tidak melihat yeoja itu datang ke kantor kita.”

Senyumku perlahan menghilang. Yeoja itu? Siapa dia?

“Owh, Park Kyuri? Tentu saja dia juga ikut ke Jeju. Bukankah di sana mereka lebih puas untuk bersama tanpa harus ketahuan dengan istrinya.”

Park? Park Kyuri?
Ada sesuatu yang terasa begitu menyakitkan di dada, rasa sakit yang langsung menyeruak keluar. Aku memegang dadaku, mencoba untuk mengurangi rasa sakit itu.

“Tapi apa kau benar-benar yakin kalau bos kita itu berselingkuh?”

“Aku yakin, sangat yakin. Aku pernah melihat mereka berpegangan tangan dan saat aku masuk mereka langsung melepaskan tangan mereka, dan suasana menjadi aneh.”

“Jadi kenapa dia bisa menikah jika dia menyukai orang lain?”

“Aku mendengar cerita yang mengatakan kalau dia terpaksa menikahi istrinya itu, karena istrinya itu begitu mencintainya. Bahkan aku dengar istrinya itu hampir ingin bunuh diri saat dia ingin di jodohkan dengan orang lain.”

Aku sudah tidak sanggup untuk menahan air mataku yang mengalir begitu saja. Rasa sakit itu, semakin sakit.

Dia selingnkuh dariku. Dan kenapa harus dengan sahabatku sendiri, Park Kyuri!
Park Kyuri... kau tahukan bagaimana aku mencintainya? Kenapa... kenapa kalian...

Kilasan kejadian bebarapa bulan lalu terlintas di otakku.

Kebodohanku saat aku ingin kabur bahkan sampai mencoba untuk bunuh diri karena menolak permintaan kedua orang tuaku yang ingin menjodohkanku. Bagaimanapun juga, aku tidak bisa jika itu bukan Jongwoon-oppa. Aku mencintainya, sangat. Aku lebih suka hidup sendiri dari pada aku harus menjalani hidupku dengan orang lain yang hanya akan menyakiti orang itu.

“Aku rasa istrinya itu terlalu terobsesi dengan Jongwoon-ssi. Memaksa orang untuk mencintainya. Apa dia gila?”

*****

Aku duduk sambil terus menangis di balkon kamarku, menangisi kebodohanku, menangisi kisah cinta menyedihkan ini. Benar-benar menyedihkan!

Sudah berjam-jam aku terus duduk di balkon ini tanpa peduli dengan air hujan yang terus jatuh membasahi tubuh mungilku yang sudah gemetar karena kedinginan.

Benar...
Ini bukan cinta!
Ini obsesi gilaku!

Aku memukul-mukul kepalaku sambil meneriakkan kata babo. “Hyemi-ya babo... babo... babo...”

Aku hanya membuatnya terpuruk jika terus bersamaku. Tapi aku tidak bisa melepaskannya...
Aku tidak bisa...

Aku membutuhkannya untuk selalu ada disampingku, tidak peduli jika dia hanya diam dan mengacuhkan. Aku membutuhkannya...

Apa yang harus aku lakukan...
Aku membutuhkannya...
Tapi aku juga melukainya di saat yang bersamaan, membuatnya sedih karena harus berpisah dari orang yang dia sayangi. Apa aku harus merelakannya pergi?

Aku tidak bisa...
Bagaimana ini...

Aku...
Aku membuatnya sedih dan tidak bahagia jika terus tetap memaksanya untuk bersama denganku...

Apa yang harus aku lakukan?

Tuhan...
Apa yang harus aku lakukan?
Kenapa begitu menyakitkan takdir yang Engkau buat...

“Hyemi-ya...”

Aku merasakan sakit di dadaku saat mendengar suara indahnya memanggilku dengan sebutan itu. Ini pertama kalinya aku mendengar dia memanggilku dengan tidak formal seperti biasanya.

“Apa yang kau lakukan, hah? Kau bisa sakit jika seperti itu.” Dia langsung menghampiriku dan menutup tubuhku yang sudah basah menggunakan handuk. Dan membawaku masuk ke kamar.

Aku hanya mampu menundukkan kepalaku agar dia tidak melihat aku yang menangis. Tangisku semakin jadi, melihatnya yang untuk pertama kalinya begitu perhatian kepadaku.

“Cepatlah ganti bajumu, aku tidak  ingin kau sakit.” Ucapnya dengan lembut.

Dan ini pertama kalinya juga dia begitu perhatian dan berbicara dengan begitu lembut.

“Seberapapun kau menyukai hujan, tapi jangan pernah membiarkan hujan membasahi tubuhmu. Eomma bilang kau akan sakit jika sedikit saja terkena hujan. Kenapa begitu bodoh, hah? Cepat masuk, aku akan mencarikan baju untukmu.”

Aku terdiam di depan pintu kamar mandi yang sudah dibukanya untukku.

Oppa, kenapa kau membuatku jadi semakin sulit untuk melepaskanmu. Kenapa hari ini kau begitu berbeda? Apa kau begitu bahagia karena bisa bersama dengan Kyuri selama di Jeju?

“Yak! Hyemi-ya, kenapa kau hanya diam saja, kau ingin sakit, hah?!” Teriaknya kesal.

Sudah lama sekali aku tidak mendengar suara teriakan itu. Dulu setiap kali aku memperhatikanmu, kau sering sekali berteriak pada teman-temanmu yang mengganggumu saat bernyanyi.

Aku berbalik dan menatapnya yang sibuk mencarikan bajuku di lemari.

“Oppa...” Terdengar suaraku yang parau.

Dia langsung berhenti dan menatapku heran.

“Pergilah... aku akan mencoba untuk hidup tanpamu... jangan pernah lagi memaksakan dirimu untuk menjalani ini semua. Aku rasa Kyuri memang lebih baik dariku. Jauh... lebih baik.”  Tangisku kembali pecah.

Aku melihatnya yang terdiam.

Aku menundukkan kepalaku lagi, aku tidak mampu jika harus menatap wajahnya yang begitu aku cintai.

Aku menghapus air mataku dan mencoba untuk membesarkan hati, walaupun aku akui rasa sakit itu semakin terasa sakit. Apa lagi aku harus mengucapkan kata-kata yang sangat tidak ingin aku ucapkan.

“Aku akan mengurus perceraian kita dan... menjelaskannya pada orang tuaku. Kau tidak perlu cemas, Oppa. Aku yakin mereka akan mengerti dengan ini semua.” Aku mencoba memaksakan sedikit senyumku.

Dia menatap mataku tajam.

“Kenapa menatapku seperti itu, cukup katakan terima kasih itu sudah lebih baik.” Aku berjalan kearahnya dan mengambil baju yang ada di tangannya.

Aku tersenyum sedih melihat baju yang sekarang ada di tanganku. Dia memilihkan sebuah kaos untukku. Itu adalah kaos kesukaanku, dengan warna sapphire blue kesukaanku.

“Terima kasih atas bajunya, pilihan yang bagus. Kau tahu Oppa, ini adalah baju kesukaanku. Kau lihatkan betapa seringnya aku memakai baju ini dalam seminggu.” Aku berbalik. “Setelah hujan reda, kau bisa pergi. Semoga kalian bahagia.” Aku berjalan dengan cepat menuju kamar mandi sampai langkahku terhenti karena sebuah tangan yang melingkar erat di pinggangku. Tangannya.

“Bodoh! Apa yang kau lakukan, hah? Kau ingin melepas orang yang begitu kau cintai, hah?!” Serunya dengan sedikit berteriak.

Aku hanya diam dan terus menatap tangannya yang melingkar indah di pinggangku.

“Aku merindukanmu, bodoh! Kenapa kau mengucapkan kata bodoh-bodoh itu. Kau ini benar-benar bodoh. Mana sambutanmu itu? Bukankah kau selalu menungguku pulang? Dan tersenyum senang saat melihatku. Kenapa kau jadi seperti ini, hah?”

“Oppa... berhenti bersikap baik padaku. Kau membuatku jadi semakin ingin memaksamu untuk selalu di sampingku.” Pintaku memohon.

“Kalau begitu aku akan selalu bersikap manis padamu. Agar kau selalu menginginkanku untuk di sampingmu. Hyemi-ya... saranghae.”

Aku melepaskan tangannya yang memelukku dan langsung menatapnya dengan pandangan tidak percaya. Apa yang dia katakan, hah?

Apa ini mimpi?

Sudah sangat lama sekali aku ingin mendengarnya mengucapkan kata sederhana itu. Satu kata yang dapat mengubah segalanya di hidupku.

“Aku sedang tidak ingin bercanda, Oppa.” Ucapku serius, walau ada rasa bahagia saat mendengarnya mengucapkan kata itu.

“Aku serius, apa kau pikir aku tidak gila selama di Jeju tanpa melihatmu?”

Aku memegang kepalaku yang terasa berat dan sakit. Ada apa denganku?

“Aku benar-benar mencintaimu, Hyemi-ya. Maaf karena telah mengacuhkanmu selama ini...”

Mendadak semua benda yang ada di sekitarku terasa berputar sampai tiba-tiba semuanya menjadi gelap...

*****

Aku mencoba untuk membuka mataku dengan perlahan. Menatap langit-langit kamarku dengan malas.

Huh...
Hanya mimpi...

Tapi kenapa terasa begitu nyata?

Kenapa kata yang diucapkannya terasa begitu nyata. Sangat indah dan membuatku merasa begitu bahagia. Tapi aku sadar itu terlalu indah untuk menjadi sebuah kenyataan. Itu pasti hanya mimpiku.

Aku bangun dari tidurku dengan perlahan sambil memegang kepalaku yang terasa  berat dan pusing.

Ada apa denganku?

“Hyemi-ya... kau sudah sadar...” Kulihat orang yang begitu kucintai masuk ke dalam kamar dengan tergesa-gesa dan sebuah senyum lega tersungging indah di bibirnya.

Aku menatap kearahnya dengan bingung, tidak percaya dengan apa yang aku lihat.
Apakah aku sedang bermimpi?
Bukankah ada mimpi dalam mimpi? Seperti film yang pernah aku tonton, Inception. Yang diperankan oleh Leonardo de Caprio.

Dia duduk di samping tempat tidur dan menatapku dengan senang.

“Syukurlah kau sudah sadar, aku sudah menghubungi Appa dan Eomma. Mungkin sebentar lagi mereka akan datang. Kau tahu, kau membuatku panik dan bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Jadi, aku menghubungi Eomma dan mereka langsung cemas.”

Aku hanya diam menatapnya dengan tidak percaya. Tidak memperdulikan lagi apa yang dia ucapkan padaku. Semua seolah ter-mute, dengan tatapanku yang menatapnya kagum.

Dia berbicara padaku dengan begitu banyak, ini benar-benar sangat jarang terjadi. Ini... terasa begitu indah, melihat wajahnya dari dekat dengan senyuman manisnya serta suara riangnya yang bercerita.

“Hyemi-ya... Hyemi-ya...”

Suara indahnya yang memanggil-manggil namaku, membuatku langsung sadar dari lamunanku.

Aku memberanikan diriku dengan menggerakkan tanganku menuju wajahnya. Menyentuh wajah indahnya dengan lembut. Ini pertama kalinya aku menyentuh wajah tampannya yang begitu menggemaskan.

“Ini terlalu indah untuk sebuah kenyataan...” Gumamku pelan.

Tangannya langsung memegang tanganku yang menyentuh pipinya.

“Aku merindukanmu, Hyemi-ya...” Ucapnya pelan.

Aku terdiam, sentuhan tangannya dan kata-kata itu terasa begitu nyata. Mimpikah ini?

Tidak!
Ini bukan mimpi...
Tapi...

Aku melepaskan genggaman tangannya dan langsung memegang dadaku. Ada rasa sakit di sana.

“Kyuri... Park Kyuri, bukan kah kau mencintainya, Oppa?” Tanyaku pelan. Aku hanya menundukkan kepalaku, mencoba menahan tangisku.

“Apa yang kau bicarakan, Hyemi-ya? Kenapa kau begitu aneh hari ini? Dan ada apa dengan Kyuri. Aku tidak ada hubungan apapun dengan...”

“Lalu kenapa dia sering ke kantormu, Oppa?” Potongku langsung. Aku ingin menyelesaikan ini semua hari ini. Dan kalaupun kami berpisah, aku akan menerima ini semua.

Ternyata ini bukan mimpi...
Melainkan kenyataan, dan aku harus menerimanya dengan ikhlas...

Dia diam menatapku, tanpa bisa aku artikan tatapan itu...

“Dari mana kau mendapatkan berita murahan itu?”

“Tadi aku ke kantormu, dan bawahanmu mengatakan itu semua, Oppa. Dan itu membuatku malu jika aku harus datang ke kantormu lagi.” Jawabku, tanpa menatapnya.

“Kenapa kau bisa mempercayai berita murahan itu, hah?!” Tanyanya dengan sedikit menaikan nada bicaranya.

“Kenapa aku harus tidak percaya dengan berita itu. Jika buktinya sudah sangat jelas. Kau selalu mengacuhkanku, tidak pernah mau berbicara padaku, selalu menghindar dariku, tidak pernah peduli dan... semua sudah begitu jelas, Oppa. Apa kau ingin menyangkal itu semua, huh?”

Dia kembali diam...

Aku menatapnya yang mengalihkan pandangannya ke arah jendela.

Aku benar, bukan?
Itu semua benar?
Kau berselingkuh dengan sahabatku sendiri...

Setetes butiran bening air mata jatuh secara perlahan melalui sudut mataku.

“Jangan menangis...” Dia menatapku dengan sedih dan langsung menghapus air mataku dengan jari tangannya yang kecil.

“Kenapa kau melakukan ini semua padaku, Oppa. Kenapa melamarku jika kau menyukai orang lain. Tahukah kau betapa menyakitkannya saat mengetahui itu semua. Aku terluka...”

Dia langsung memeluk tubuhku membenamkan wajahku dalam dadanya yang bidang, membiarkan aku menangis dalam pelukan hangatnya.

“Bisakah kau mendengarkan penjelasanku dulu untuk itu semua?” Tanyanya pelan.

Aku tidak menjawab pertanyaannya dan masih terus menangis, membiarkan semua air mataku keluar. Ini pertama kalinya dia memelukku dan membiarkanku menangis dalam pelukan hangatnya.

“Aku bersumpah, aku tidak ada hubungan apapun dengan Kyuri. Dia itu sahabatmu Hyemi-ya dan aku juga menganggapnya seperti sahabat.” Jelasnya dengan menekankan ucapannya pada kata ‘sahabat’.

“Aku akan jujur, sebelumnya aku memang tidak mencintaimu. Aku senang karena kau terus mengagumiku sampai saat ini, kau tahu... itu benar-benar membuatku terkejut, bagaimana mungkin kau tetap mencintaiku dan malah ingin melakukan hal bodoh karena ingin dijodohkan. Apa kau gila, sampai ingin bunuh diri hanya karena itu.” Dia mengelus lembut kepalaku. “Kyuri dan orang tuamu memintaku untuk melamarmu dan mencoba untuk menyukaimu. Tadinya aku tidak mau, tapi melihatmu yang begitu mencintaiku. Aku ingin mencobanya.”

Aku terdiam, mencoba menghapus air mataku. Terima kasih karena sudah mencobanya.

“Dan kau tahu Hyemi-ya? Seminggu tanpamu membuatku begitu merindukanmu dan sekarang aku sedih karena melihatmu yang sakit seperti ini karena aku. Maafkan aku Hyemi-ya... maafkan aku...”  Dia mengecup lembut puncak kepalaku.

“Aku selalu diam karena aku bingung untuk berbicara apa padamu. Tapi sejak pergi meninggalkanmu ke Jeju, aku bersumpah untuk selalu bercerita denganmu. Aku tidak ingin kehilangan keceriaanmu. Aku tahu kau orang yang ceria. Pasti sangat menyiksakan selama tinggal bersamaku, karena kau selalu kesepian karena tidak ada teman cerita.”

Aku melepaskan pelukanku darinya, dan menatapnya sedih. “Lalu kenapa Kyuri selalu datang ke kantormu, Oppa?” Tanyaku. Dia belum menjelaskan untuk hal itu.

“Dia memarahiku dan selalu memarahiku karena aku tidak peduli padamu. Dan memohon agar aku memberikan perhatianku untukmu serta mencoba untuk menyukaimu.” Dia menatapku sedih, penuh permintaan maaf. “Terima kasih karena sudah berbohong untukku di depan teman-temanmu.” Dia tersenyum menatapku.

Aku hanya diam menatapnya. Bukan karena aku tidak percaya padanya tapi karena aku sangat percaya padanya. Aku tahu apa yang dia katakan itu jujur dan tulus. Dan itu membuatku benar-benar bahagia.

“Terima kasih karena sudah mau mencoba untuk mencintaiku. Apakah sekarang kau benar-benar mencintaiku, Oppa?” Tanyaku.

“Apa kau masih meragukan cintaku padamu, Ny.Shin Hyemi? Ah, bukan Ny.Kim?” Dia tersenyum penuh arti menatapku.

Aku mendengar bunyi bel. Sepertinya orang tuaku sudah datang.

“Appa dan Eomma sudah datang, ayo keluar.” Ajakku padanya.

“Tidak!” Dia langsung mencegahku saat aku ingin turun dari tempat tidur. “Kau masih sakit, biar aku saja yang menyambut mereka. Apa kau meragukanku? Aku ini adalah menantu yang baik.” Dia langsung berdiri dan keluar dari kamar yang sebelumnya meninggalkan sebuah senyuman manis untukku. Indah...

Aku masih terus tersenyum melihatnya yang sudah menghilang dari balik pintu kamar.

Ini nyata dan dia benar-benar mencintaiku. Terima kasih karena sudah mau mencoba untuk mencintaiku,  Kim Jongwoon-oppa.

Ny. Kim?
Aku sudah memiliki nama baru ternyata.

Itu terdengar begitu indah...

Saranghae Oppa....

*****

The end
Please leave your comments
Gomawo
SF_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar