Title : You are
the One
Author : Siti
Fajriani (Shin Hyemi)
Genre : Romance
Cast : Lee
Donghae, Park Hana, Lee Hyukjae, Kim Heechul, Park Yoora
Happy reading....
*****
Part 1
Park Hana’s side
:
20 Januari 2009, 09:10 pm
Aku berdiri di balkon itu...
Sudah lama sekali rasanya aku tidak
berdiri disini...
Aku berdiri dengan menyandarkan tanganku
pada pagar besi balkon. Menatap malam yang dingin sekaligus indah dengan taburan
bintang-bintang di setiap sudut langit.
Aku terdiam mengamati sebuah pemandangan
yang membuat hatiku ngilu...
Di jalan itu...
Di depan rumah itu...
Kali ini aku tak mampu lagi untuk
membendung air mataku...
*****
“Oppa... ayo kita bermain di rumahku.”
Ajakku padanya yang sedang sibuk dengan tugas sekolahnya.
“Tunggu sebentar, karena aku harus
mengerjakan tugasku dulu. Nanti Appaku akan marah kalau aku tidak
menyelesaikannya.” Katanya tanpa menoleh kearahku.
“Aniyo, kau selalu saja sibuk dengan
tugas-tugasmu. Aku benci padamu.” Aku langsung berlari keluar dari kamarnya.
“Hana-ya tunggu aku.” Teriaknya dari
belakangku.
Dia mengejarku yang berlari keluar dari
rumahnya.
Aku tetap berlari menuju rumahku tanpa
memperdulikannya yang berteriak di belakangku memanggil-manggil namaku.
“Aishh... kau ini kenapa selalu saja
merajuk, hah? Kalau aku sudah menyelesaikan tugasku, aku pasti akan mau
menemanimu bermain.” Katanya yang sudah berdiri di depanku yang berhenti tepat
di pintu masuk rumahku.
Aku menatapnya cemberut karena masih
kesal. “Kau jahat.” Ucapku kesal.
“Ah, mianhae Hana-ya, aku....”
“Donghae-ya...” terdengar suara teriakan
dari arah rumahnya.
Kami berdua langsung menoleh kearah
rumahnya yang sudah berdiri seorang Ahjussi di depan pintu rumahnya dengan
wajah marah, Appanya Donghae-oppa, Mr.Lee.
Wajah Donghae-oppa langsung berubah
cemas, dan aku juga jadi ikut cemas menatapnya. Aku tahu pasti Appanya akan
marah padanya karena tugas sekolahnya yang belum dia selesaikan tadi.
“Aku harus segera pulang.” Ucapnya lemah
sambil menundukkan kepala.
Aku menatapnya sedih dan merasa bersalah
karena aku yang mengajaknya untuk bermain.
Aku menatap
punggungnya yang sudah menjauh dariku. Appanya masih tetap berdiri di depan
pintu menunggunya.
Aku tahu Appanya pasti akan marah
padanya, jadi aku langsung mengejar Donghae-oppa yang kini sudah sampai di
depan pintu rumahnya dengan wajah yang masih
tertunduk karena merasa takut akan dimarahkan oleh Appanya.
“Ahjjusi... jangan marah padanya karena
tadi aku yang memintanya bermain.” Ucapku memohon pada Appanya.
Appanya hanya terdiam dan menatapku
lembut. “Aniyo, aku tidak marah padanya hanya saja seharusnya dia menolak
permintaanmu.”
“Ne, dia datang padaku karena ingin
menolak ajakanku karena aku marah dia mengejarku.” Aku menjelaskan permasalahan
yang terjadi sebenarnya. “Dan seharusnya, Ahjjusi marah padaku bukan pada
Oppa.” Lanjutku.
“Bagaimana mungkin aku marah pada anak
yang begitu baik sepertimu, Hana-ya.” Kata Mr.Lee lembut kearahku.
Aku tersenyum menatap Mr.Lee. “Jadi,
tolong jangan marah pada Oppa, Ajjushi.” Pintaku lagi.
“Ah, ne... aku tidak akan marah padanya.
Sekarang lebih baik kalau kau pulang saja dulu, nanti Appa dan Eommamu
mencari.” Mr.Lee menyuruhku untuk pulang kerumah.
“Ne, aku akan pulang. Tapi nanti aku bisa
bermain lagi dengan Oppa, kan?” Tanyaku dengan penuh harap.
“Ne, tentu saja. Tapi setelah dia
menyelesaikan semua tugasnya.” Dia berjanji.
“Baiklah aku pulang.” Ujarku dengan
riang, aku menatap Donghae-oppa yang sekarang sudah menegakkan kepalanya dan
sedang menatapku sambil tersenyum, seolah mengucapkan terima kasih karena aku
sudah menyelamatkannya dari kemarahan Appanya. “Dag, Oppa...” Aku tersenyum
menatapnya dan berjalan pergi menjauh tidak lupa untuk melambaikan tanganku
kearahnya. “Ahjjusi, jangan marah lagi pada Donghae-oppa.” Teriakku dari jauh.
Mr.Lee hanya tersenyum menatapku.
Saat aku menutup pintu rumah aku langsung
mengintip ke jendela rumahku untuk melihat apa Mr.Lee memarahi Donghae-oppa
atau tidak. Aku menghela nafas lega kerena ternyata Mr.Lee tidak memarahinya
dan aku masih terus melihat mereka sampai mereka hilang memasuki rumah.
.......
“Hwaaa...” Teriakku kencang.
Gelap, aku benci gelap...
Oppa kau dimana cepat datang, batinku
sambil menangis ketakutan. Aku sangat membenci kegelapan, aku benci jika
listrik di rumahku mati karena ada kerusakan dan ini sudah cukup sering
terjadi.
Aku meringkuk di sudut kamarku sambil
memeluk lututku erat. Oppa cepat datang...
Aku mendengar suara derap langkah kaki
yang menaiki anak tangga.
KREKK...
Apa itu dia, aku benar-benar merasa
takut. Semoga itu bukan hantu...
Tangisku sudah pecah dari tadi... kali
ini tinggal isakan...
Aku melihat sebuah cahaya dan itu tepat
menyorot ke arahku.
“Hana-ya...” panggilnya, suara yang
selalu membuat hatiku tenang.
Dia datang Donghae-oppa ku datang, aku
tersenyum senang menatap kearahnya.
“Oppa...” Panggilku dengan sedikit isakan
tangis yang masih ada.
Dia langsung berlari menghampiriku dengan
cepat.
“Mianhae, aku terlambat. Apa kau
baik-baik saja?” Tanyanya cemas sambil memelukku yang duduk dengan erat.
“Ne, aku baik-baik saja Oppa, tapi kenapa
kau lama sekali aku takut.” ucapku.
“Mianhae, tadi aku sibuk mencari senter
ini.” Tunjuknya pada senter yang sekarang di genggamnya erat. “Ayo, kita ke
balkon.” Ajaknya.
Aku mengikutinya dengan terus memegang
tangannya erat, aku takut kalau dia pergi dariku. Kami duduk di ubin balkon
dengan bersandar di besi-besi penyangganya. Dengan tangannya yang masih terus menggenggam tanganku.
“Kemana Appa dan Eomma mu, Hana-ya?”
Tanyanya membuka pembicaraan.
“Mereka sedang pergi begitu juga dengan
Ahjumma yang menjagaku.” Ceritaku.
“Apa kau masih takut sekarang?”
“Aniyo, karena sudah ada Oppa di
sampingku.” Aku tersenyum menatapnya.
Dia membalas senyumku dengan senyum
manisnya yang sangat aku suka.
“Hana-ya, untuk mengurangi rasa takutmu
kau hanya perlu keluar dari kamarmu dan berdiri di balkon ini.” Dia langsung
memperagakannya dan berdiri dengan menghadap kearah jalanan yang berada di
bawah kami.
Aku langsung ikut berdiri mengikuti apa
yang dia lakukan.
“Lihat lampu-lampu di jalan itu dan
rumahku, kau pasti akan merasa damai.” Ucapnya mencoba meyakinkanku.
“Kenapa aku harus melakukan itu? Kan kau
selalu ada untukku, Oppa.” Aku menatapnya bingung.
“Hana-ya, aku tidak tahu apa aku akan
bersamamu selamanya...”
“Yak! Oppa, kau akan selalu bersamaku
sampai kapanpun. Aku akan menjadi istrimu nanti di masa depan.” Aku menatapnya
kesal.
“Ne, aku tahu itu kalau kau akan menjadi
istriku. Tapi bagaimana kalau listriknya mati saat aku sedang tidak ada di
rumah?” Tanyanya memikirkan kemungkinan yang terjadi.
“Memangnya kau akan pergi kemana?”
Tanyaku penasaran.
“Hmm... kerja? Atau aku harus ikut wajib
militer?” Dia memberi contoh.
Aku mengangguk-angguk setuju. “Benar,
lalu bagaimana?”
“Aish.. kau ini.” Dia langsung
mengacak-acak rambutku dengan gemas. “Kau harus melakukan apa yang aku suruh
tadi.” Lanjutnya.
Aku langsung memperagakannya, berdiri di
depan balkon dan menatap lampu-lampu jalanan dan lampu yang ada di taman depan
rumahnya. Aku merasa cahaya lampu-lampu itu membuatku merasakan damai dan
menerangi kegelapan yang tadi aku rasakan. Lalu aku mengalihkan pandanganku
menatap langit, indah dan damai.
“Kau benar Oppa. Ini membuatku jadi tidak
takut lagi dengan dengan gelap.” Ucapku sambil tersenyum senang.
Tidak ada jawaban darinya, aku langsung menoleh kesamping ke
arahnya tadi berdiri, namun kosong. Aku langsung panik dan melihat ke belakangku
yang gelap.
“Oppa... kau dimana?!” Teriakku. “Oppa...
jangan tinggalkan aku?” Kini aku mulai menangis lagi, entah kenapa aku selalu
begitu mudah untuk menangis apa lagi jika berhubungan dengannya.
“Oppa... hiks...”
“Aish... kenapa kau menangis, dasar
babo!” Dia langsung datang menghampiriku dan menghapus air mataku yang
mengalir, lalu menggenggam tanganku kembali.
“Kau...hiks.. kau, kenapa meninggalkanku
sendiri, Oppa?” Tangisku. “Aku takut kalau kau pergi meninggalkanku. Jangan
pernah lakukan itu lagi, Oppa.” Pintaku.
“Ne, aku tidak akan meninggalkanmu lagi.”
“Yakso...?” Tanyaku ingin memastikan.
“Ne, tentu saja.”
Aku tersenyum menatapnya dan mempererat
genggaman tangannya...
“Ah, lampunya sudah hidup kembali, kalau
begitu aku harus pulang sebelum Appa mencariku dan memarahiku.” Dia langsung
melepaskan genggaman tangan kami.
“Dag Oppa... hati-hati...” Aku melambai
kearahnya yang sekarang mulai menjauh dariku dan menuruni tangga dengan cepat.
Aku masih berdiri di tepi balkon dan
melihat kebawah.
“Dag... Hana-ya...” Dia menatapku keatas.
Aku kembali melambaikan tangan kearahnya
dan dia membalas lambaian tanganku lalu berlari memasuki rumahnya. Saat sampai
di depan pintu dia kembali melambaikan tangannya, kebiasaan yang selalu kami
lakukan saat dia pulang habis bermain atau belajar di rumahku.
*****
Lee Donghae’s
Side :
20 Januari
2009, 09:10 pm
Aku mengantarkan
yeojachinguku pulang kerumahnya setelah seharian kami jalan-jalan mengelilingi
kota Seoul. Karena jarang-jarang aku bisa kencan dengannya mengingat jadwalku
yang begitu padat dengan berbagai macam show Super Junior, dan acara lainnya.
Makanya aku sangat senang kami bisa kencan seperti ini, sudah lama sekali
rasanya aku tidak bertemu dengannya.
Aku menoleh kearah yeojachinguku yang
sudah berdiri di depanku dengan tersenyum manisnya. “Oppa, gomawo atas
kencannya.” Ucapnya dengan malu-malu.
Aku membalas senyumnya. “Ne, kapan-kapan
kita kencan lagi ya, aku benar-benar rindu padamu, Yoora-ya.” Kataku pelan.
“Dag, Oppa... aku masuk dulu.” Pamitnya.
Aku tersenyum senang dan melambaikan
tanganku kearahnya yang mulai menjauh...
Deg!
Aku merasakan darahku berdesir, dan
merasa ada seseorang yang sedang memperhatikanku. Aku mencoba melihat
kesekelilingku dengan normal, aku tidak ingin orang memperhatikanku itu tahu
kalau aku mencarinya.
Pandanganku beralih keatas balkon rumah
yeojachingku...
Deg!
Aku kembali merasakan ada sesuatu yang
aneh saat aku melihat seorang yeoja yang sedang berdiri di balkon itu. Ya,
berdiri di balkon itu dengan tatapan yang terasa menghujam kearahku, marah.
Tuhan...
Itukah dia?
Orang yang dulu menghilang dari hidupku?
Orang yang dulu selalu membuatku hampir
gila karena mencarinya?
Orang yang...
Aku terdiam saat melihat yeojachinguku
berdiri di atas balkon bersama yeoja itu
dengan sedikit berbicara. Lalu dia mengalihkan pandangan ke arahhku dengan
tersenyum senang dia melambai kearahku. “Oppa, saranghae...” Teriaknya dari
atas balkon.
Aku terdiam tak membalasnya. Tapi pada
akhirnya aku membalas lambaian tangannya dan tersenyum kaku melihatnya, lalu
dengan sesegera mungkin aku memasuki rumahku untuk bertemu dengan Eomma yang
pasti sudah menungguku dan untuk menghilangkan perasaan aneh yang tiba-tiba
datang.
Aku memasuki rumah dan melihat Eomma yang
sedang duduk santai sambil menonton TV. Setelah berbicara lama akhirnya aku
memutuskan untuk pulang kembali ke dorm, walaupun Eomma melarangku karena sudah
larut malam. Tapi aku beralasan kalau besok pagi aku ada jadwal. Dengan berat
hati akhirnya Eomma mengizinkanku untuk kembali ke dorm.
Saat sampai di depan pintu mobilku aku kembali
melihat kearah balkon rumah yeojachinguku. Sudah sepi, walaupun lampunya masih
tetap menyala.
Yeojachinguku memang selalu berdiri dan
melambaikan tangannya kearahku dari atas balkon setiap aku mengantarkannya
pulang.
.......
November, 2001
“Hana-ya, ada apa?” Tanyaku cemas
melihatnya yang sedari tadi hanya terdiam dan tidak memperdulikan makanannya.
Dia langsung menatapku dan tersenyum.
“Tidak ada apa-apa...” Jawabnya singkat.
Walaupun dia mencoba untuk terlihat
biasa-biasa tapi aku yakin ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku. Terlihat
jelas di wajahnya yang sedih, aku tahu karena aku sudah mengenalnya sejak dari
kami kecil dulu.
“Ayo, makan itu...” Aku mengingatkannya,
karena dia masih terus diam tanpa menyentuh makanannya.
“Ne...” Jawabnya malas.
Aku tidak ingin memaksanya untuk
bercerita karena aku yakin jika dia siap dia akan mengatakannya langsung
kepadaku.
“Oppa, kalau suatu hari aku pergi, apakah
kau akan hidup dengan baik?” Tanyanya tiba-tiba.
Aku menatapnya bingung, merasa aneh
dengan pertanyaannya yang tidak seperti biasanya.
“Tentu saja aku akan hidup dengan baik,
memangnya kau siapa sampai harus membuat hidupku susah.” Aku mencoba
menggodanya agar dia berteriak-teriak marah karena ucapanku seperti biasanya
saat menjahilinya.
Tapi aku salah dia malah tersenyum
kearahku. “Ah, aku senang mendengar ucapanmu, Oppa.”
Aku menatapnya semakin bingung, ada apa
dengan yeoja ini. Apa dia salah minum obat, hah!
“Yak! Kenapa kau jadi begitu aneh, Hana-ya!”
Teriakku kesal karena tidak dapat mengerti apa maksudnya.
“Apanya yang aneh, aku hanya bertanya hal
wajar.” Jawabnya santai. “Dan aku senang karena jawabanmu, Oppa.” Dia masih
terus tersenyum. “Oppa, apa kau tidak akan menungguku?” Tanya lagi.
Aku benar-benar kesal dengan
pertanyaan-pertanyaan aneh yang di lontarkannya padaku dan aku balas menjawab asal
semua pertanyaannya itu.
“Aniyo, aku tidak akan menunggumu. Aku
akan mencari yeoja lain yang lebih cantik darimu. Kau tahu aku sangat dikagumi
di sekolah ini.” Ucapku bangga.
Dia tersenyum namun dapat kulihat raut
sedih yang coba dia sembunyikan dariku. Aku menang, batinku senang karena dapat
membuatnya merasa sedih.
“Cepat selesaikan makanmu, sebentar lagi
kita masuk.” Aku mencoba untuk membuatnya lupa dengan jawabanku tadi.
“Aku masih ingin lama-lama disini. Oppa,
kau pergilah nanti kau terlambat masuk.” Dia menyuruhku meninggalkannya.
“Ah, ya aku lupa kalau hari ini kan kau
hanya olahraga. Kalau begitu aku duluan.” Aku langsung berdiri dari dudukku
karena sudah dari tadi aku menghabiskan makan siangku. Kami memang berbeda
kelas.
Dia tersenyum tipis ke arahku masih terus
memperhatikanku.
“Nanti tunggu aku di parkiran seperti
biasanya ya.” Aku mengingatkannya.
“Hmm... Oppa hari ini aku akan pulang
sendiri, karena nanti Eomma akan menjemputku.” Jawabnya.
Aku menatapnya sejenaknya, dan menghela
napas. “ Baiklah, besok kan kita akan bersama lagi, atau bahkan nanti saat aku
pulang dari sekolah dan ke rumahmu.” Aku tersenyum memikirkannya.
“Dag... Oppa...” Dia melambaikan
tangannya kearahku dengan tersenyum manis, manis sekali. Membuatku hampir ingin
membolos palajaran...
.......
20 januari 2009,
11:45 pm
Aku sudah sampai di dorm, dan dengan
lelah aku langsung masuk ke kamar untuk istirahat. Aku menghempaskan tubuhku ke
tempat tidurku menatap langit-langit kamar dengan sedih. Untungnya hari ini
Teuki-hyung sedang tidak ada di dorm karena ada jadwal siaran di sukira. Kalau dia ada pasti akan sangat cemas
melihatku yang seperti ini.
Aku selalu ingat saat itu, setelah sikap
aneh chinguku yang cukup membuatku bingung, akhirnya keesokan harinya semua
terjawab sudah...
Tanpa terasa air mataku jatuh perlahan...
Kenapa...kenapa kau pergi meninggalkanku
Hana-ya, tanpa memberitahuku kemana kau pergi. Kau tahu, kau sudah membuatku
seperti orang gila karena kebingungan mencarimu. Meninggalkanku sendirian,
dengan rumah yang kosong saat aku datang menjemputmu untuk ke sekolah.
Kau... benar-benar jahat dan itu sudah
kelewatan. Kau tahu, sekarang aku benar-benar membencimu...
Aku menghapus air mataku dan langsung
bangun dari tidurku dan menuju kamar mandi untuk mencuci muka serta
bersih-bersih, karena besok aku akan sibuk dengan jadwal-jadwal latihan serta
syuting. Mungkin dengan begini akan mudah untukku melupakan masa lalu itu...
*****
Park Hana’s side
:
20 januari 2009,
09:20 pm
Aku menoleh kebelakang melihat Yoora
datang menghampiriku. Dengan cepat aku langsung menghapus air mataku yang
mengalir perlahan.
“Eonni...” Sapanya sambil tersenyum manis
melihatku.
“Apa yang kau lakukan disini?” Tanyaku
sinis.
Dia menatapku bingung. “Ah, mianhae,
Eonni. Aku hanya ingin melambaikan tangan kepada namja itu, dia adalah
namjachinguku.” Dia tersenyum kembali dan melihat namja yang sedang berdiri di
samping mobilnya. “Oppa, saranghae...” Teriaknya dari atas balkon sambil
melambaikan tangannya.
Aku menatapnya tajam...
Namja itu membalas lambaian tangannya dan
tersenyum membalasnya lalu masuk kerumah
yang ada di belakangnya. Tepat berada di depan rumahku...
Bahkan lambaian tangan itu bukan milikku
lagi sekarang, batinku sedih.
Yoora menatapku sejenak. “Mianhae Eonni,
karena masuk kamarmu tanpa izin. Sekarang aku akan keluar.” Ucapnya terdengar
merasa bersalah.
Aku menatapnya sinis. “Apa kau sering
melakukan hal itu di sini?” Tanyaku ingin tahu.
Dia terlihat sangat gugup. “Ne...”
Jawabnya pelan sambil menunduk.
“Kenapa harus di kamarku?!” Tanyaku
setengah berteriak.
“Mianhae Eonni, aku tidak bermaksud
lancang. Dulu sebelum rumah ini di renovasi aku memang tidur di...”
“Mwo?!” Kali ini aku berteriak kepadanya,
aku tahu dengan jelas maksud dari ucapannya. “Seharusnya kalian meminta izinku lebih dulu
untuk masuk kedalam kamar ini! Ini milikku! Dan aku tidak ingin ada orang lain
yang masuk kemari dengan sesuka hatinya!” Aku melampiaskan rasa marahku.
Dia hanya tertunduk. “ Mianhae...
Eonni...”
“Sekarang keluar dari kamar ini dan
jangan pernah lagi untuk masuk tanpa izinku kemari.” Ucapku pelan namun tegas.
Dia langsung membungkuk dan kembali
mengucapkan kata maaf, lalu menghilang di balik pintu.
Dia... aku benci pada yeoja itu, yeoja
jahat yang sudah merusak hidupku. Dia sama saja seperti Eommanya yang merusak
hidup Eommaku dengan mendekati Appa agar menikahinya.
Tuhan...
Kenapa aku harus merasakan sakit lagi,
aku benci kalau aku harus di sini...
Melihat dia dan keluarganya yang perusak
itu tersenyum bahagia membuat hatiku sakit. Dan sekarang dia mendekati namja
yang kusuka, bahkan apa katanya tadi, namjachinguku?
Itu tidak mungkin...
Aku benar-benar merasa sakit di hatiku...
Kalau bukan karena Eommanya yang
mendekati Appa dan membuat kedua orang tuaku bercerai. Aku yakin saat ini aku
yang akan mengatakan namja itu adalah namjachinguku, bukan dia...
Tangisku kembali pecah, aku bersandar di
pagar balkon. Dinginnya malam membuat hatiku
semakin terasa sakit.
Dia... merampas semuanya dariku...
Aku benci adik tiriku itu, aku bahkan
tidak ingin menyebutnya adik tiri. Melihat senyumnya saja membuatku ingin
muntah.
Eomma, apa seperti ini sakit yang kau
rasa saat melihat Appa dengan yeoja lain?
Eomma, kenapa aku harus merasakan ini
juga?
Aku... sakit...
*****
23 januari 2009,
10:35 am
Sudah empat hari
aku di Seoul setelah tujuh tahun lebih aku meninggalkan kota kelahiranku ini.
Dengan membawa luka yang telah ditorehkan keluarga perusak itu kepadaku dan
Eomma.
Sebenarnya kalau bukan karena Appa yang
memaksaku datang karena dia sangat merindukanku. Aku pastikan aku tidak akan
pernah kembali lagi ke negara ini. Semua hanya meninggalkan luka di hatiku. Apa
lagi di rumah ini, di setiap sudutnya yang memiliki kenangan indahku bersama
Eomma dan Appa.
Di tambah lagi dengan adanya seorang yeoja
yang semakin merusak keinginanku untuk kembali lagi kemari nantinya.
Dulu, selalu Appa yang datang ke Jerman
untuk melihatku dan Eomma kalau dia rindu padaku. Tapi karena sekarang Appa
sibuk dengan bisnisnya jadi terpaksa aku yang datang ke rumah ini. Tadinya aku
juga ingin bertemu dengan chinguku atau tepatnya namja yang ku sukai,
Donghae-oppa. Tapi melihat situasi yang sekarang ini apa aku masih bisa
bersamanya lagi seperti dulu.
Aku tidak tahu bagaimana reaksinya saat
melihatku nanti. Yang pasti aku benar-benar merindukannya. Tujuh tahun bukanlah
waktu yang sebentar, aku bahkan sudah hampir ingin menyerah untuk hidup ini.
Kalau bukan karena Eomma yang menguatkanku.
Melihat keluargaku yang hancur...
Melihat karena aku tidak dapat melihat
senyum, tawa dan merasakan genggaman tangan namja yang begitu aku cintai...
Meninggalkannya tanpa aku dapat
menyampaikan alasannya...
Ini semua membuatku sakit...
Sangat sakit...
.......
23 januari 2009,
01:35 pm
Aku disini dan hanya duduk dengan bosan
di balkon rumahku. Sambil menngingat kenanganku dengan Donghae-oppa.
Disini, di balkon ini, kami sering
bersama...
Belajar...
Bermain...
Tertawa bahkan menangis...
Aku bahkan masih dapat merasakan
hangatnya genggaman tangan saat dia mencoba menenangkanku saat sedih...
Aku ingin bercerita padanya tentang apa
yang terjadi di keluargaku. Tapi aku tak mampu, aku malu melihat keluarganya
yang begitu bahagia. Dan untuk pertama kalinya aku iri padanya. Padahal dulu
kami selalu berbagi, bahkan orang tua. Karena orang tuanya sudah menganggapku sebagai
anaknya dan begitu juga sebaliknya dengan orang tuaku yang sudah menganggap dia
sebagai anak mereka sendiri...
Kami selalu bersama-sama...
Dimanapun kami berada, kami selalu
mencoba untuk bersama bahkan di sekolah pun kami selalu bersama walaupun berbeda
kelas dan aku selalu senang karena dia ada di dekatku.
aku rindu, aku rindu tertawa bersama
dengannya...
senyum manis itu, aku rindu itu...
Aku ingin, sangat ingin menemuinya. Tapi
aku tidak tahu bagaimana caranya. Karena saat ini dia bukan dia yang dulu aku
kenal. Karena saat ini dia adalah seorang bintang terkenal. Seorang anggota
dari grup musik boyband terkenal, Super Junior.
Aku baru tahu saat aku pulang kemari. Dan
aku tahu saat aku bertanya kepada Appa tentang sahabat kecil sekaligus cintaku
itu. Aku mencari sebanyak-banyaknya informasi tentang dia. Ternyata dia masih
seperti dulu. Selalu jahil pada orang-orang disekelilingnya, tidak pernah bisa
kalau harus makan sendirian, menyukai seafood, takut dengan kegelapan padahal
dulu selalu mencoba menenangkanku kalau gelap, dan satu berita yang membuat
hatiku ikut sakit saat aku membaca berita tentang kematian Appanya.
Tuhan...
Bagaimana dia bisa menjalani hidup ini
tanpa ada Appanya. Pasti dia sangat sedih karena hal itu. Mianhae karena aku
tidak ada saat kau harus merasakan sakit karena kehilangan itu, mianhae Oppa.
Aku keluar dari kamarku dan melihat Appa
yang sudah pulang untuk makan siang dirumah dan sedang asyik bermain dengan
adik tiri perempuanku yang paling kecil, yang berumur enam tahun, Park Minjoo.
Aku akui dia memang gadis kecil yang manis tapi saat melihatnya yang tersenyum
bersama Appa seperti itu membuatku sangat membencinya.
Itu adalah tempatkku, dasar pencuri!
“Hana-ah, kamu mau kemana?” Tanya seorang
Ahjumma yang merupakan ibu tiriku.
Aku tidak menjawabnya dan hanya melangkah
berjalan menuju pintu. “Appa, hari ini aku akan pulang malam. Karena aku akan
bertemu dengan teman-temanku.” Pamitku pada Appa, tanpa menggubris Ahjumma yang
bertanya padaku.
Jangan harap kalau aku akan menyukaimu,
batinku.
Hari ini, bagaimana pun caranya aku harus
bertemu dengan Donghae-oppa. Aku sudah tidak bisa menunggu lagi, karena aku
benar-benar sudah merindukannya.
Aku berjalan menuju rumahnya dan menekan
bel dengan berharap ada seseorang yang dapat membukakannya untukku.
Seorang Ahjumma yang sudah sangatku kenal
membukakan pintu untukku.
“Eomma...” Aku tersenyum ramah
menatapnya. Bagiku dia sudah seperti Eommaku sendiri, dan aku memang sudah
terbiasa memanggilnya Eomma, karena permintaannya juga.
Dia menatapku bingung. Aku yakin dia
pasti sudah lupa denganku, bayangkan saja sudah
tujuh tahun dia tidak melihatku.
“Eomma, apa Eomma lupa padaku?” Tanyaku
sambil menunjuk diriku. “Ini aku Park Hana.”
Dia mencoba mengingatku dan lama-lama dia
tersenyum menatapku. “Park Hana.” Dia langsung memelukku erat.
Aku membalas pelukannya. Aku merindukan
Ahjumma ini, terlebih aku merindukan namja itu, anaknya Donghae-oppa.
Dia melepaskan pelukannya dan langsung
menyuruhku untuk masuk kedalam rumahnya yang masih sama seperti dulu.
“Sayang sekali kau tidak bisa melihat
Appa.” Ucapnya pelan, namun terdengar sangat sedih saat kami sudah berada di
ruang keluarganya.
“Eomma, aku turut berduka cita untuk itu.
Maaf, karena aku tidak bisa datang diacara pemakaman Appa.” Aku juga sedih.
“Ne, Eomma tahu kenapa kau tidak bisa
datang. Apa masalah itu begitu berat sampai kau harus pergi meninggalkan Eomma
di sini?” Tanyanya.
Aku tahu maksud pertanyaan itu, tentu
saja aku sedih karena perceraian orang tuaku.
“Kau tahu Hana-ya, Donghae sangat sedih
karena kau pergi meninggalkannya. Di tambah lagi saat Appa meninggal. Untung
dia mempunyai teman-teman yang sangat baik yang selalu mendukungnya dan juga
yeoja itu.” Ceritanya.
Aku terdiam. Yeoja itu? Apakah gadis
perusak itu? Yoora?!
Aku benci membahas tentang yeoja perusak
itu. Aku langsung mengalihkan pembicaraan, menjadikan Donghae-oppa sebagai
topik utama ceritaku dan mencoba mengenyahkan pikiran Eomma tentang yeoja itu.
“Eomma, bisakah aku meminta alamat dorm
Donghae-oppa? Aku sangat ingin bertemu dengannya?” Pintaku setelah kami banyak
bercerita.
“Ne, tentu saja. Dia pasti sangat senang
karena bertemu denganmu lagi.”
Dia langsung menuliskan sebuah alamat di
selembar kertas lalu memberikannya kepadaku.
“Gamsahamnida... sebaiknya aku segera
menemuinya, Eomma.” Aku mencoba untuk pamit pergi.
“Ne, hati-hati di jalan.”Dia tersenyum
menatapku.
Aku berbalik dan langsung tersenyum
senang...
Aku datang Oppa...
.......
23 januari 2009,
03:20 pm
Aku sudah berdiri di depan pintu dorm
Super Junior, tempat Donghae-oppa tinggal. Aku menekan belnya sekali...
Tidak ada jawaban...
Apakah mereka sedang tidak ada?
Kembali aku menekan bel...
Kali ini terdengar suara derap langkah
seseorang yang tergesa-gesa menuju pintu.
Seorang namja yang kukenal melalui
majalah muncul. Aku tahu dia Eunhyuk-oppa, teman dekat Donghae-oppa. Mereka itu
sudah seperti ‘couple’.
Aku tersenyum ramah menatapnya yang
terlihat sangat bingung dengan kedatanganku.
“Annyeong haseyo.” Ucapku pelan.
“Annyeong haseyo.” Balasnya dengan ragu.
“Ada yang bisa aku bantu?” Tanyanya.
“Apakah Donghae-oppa ada? Aku adalah
chingunya.” Aku masih terus tersenyum menatapnya.
“Ah... aniyo, dia sedang tidak ada di
dorm. Dia ada jadwal syuting.” Jawabnya. “Oh, aku lupa. Ayo silakan masuk.”
Kali ini dia tersenyum menatapku.
“Aniyo...” Aku menolaknya. “Aku pikir dia
ada di dorm. Ya sudah aku pulang saja.” Aku tersenyum tipis menatapnya, kecewa.
“Adakah pesan yang ingin kau sampaikan?
biar nanti aku yang sampaikan padanya kalau dia sudah pulang.” Tawarnya.
“Aku akan datang lagi besok. Annyeong...”
Aku langsung membungkuk, kemudian berbalik dan berjalan dengan malas.
Kenapa dia tidak ada? Apa dia begitu
sibuk? Kenapa saat itu dia ada waktu dengan yeoja itu?
Aku mendengus kesal!
Padahal aku hanya ingin melihat senyumnya
yang menyambutku datang. Aku juga ingin meminta maaf karena pergi begitu saja
tanpa mengatakan apa-apa padanya.
Hah... aku benar-benar sudah tidak sabar
melihat senyumnya...
*****
Lee Donghae’ side
:
23 januari 2009,
07:45 pm
Aku memasuki dorm dengan semangat karena
aku ingin tidur, hari ini benar-benar melelahkan setelah seharian aku harus
syuting sebuah drama.
“Donghae-ya...” Eunhyuk datang dan
mengejutkanku saat aku baru masuk ke dalam dorm. Apa yang sedang dia lakukan di
sini?
Aku menatapnya bingung, karena melihatnya
yang begitu ceria. Apa dia habis menonton yadong sampai membuatnya jadi begitu
senang.
“Mwo?” Tanyaku penasaran.
“Aish... kau ini, memiliki chingu
secantik itu tapi tidak pernah mengatakannya padaku.” Ucapnya sambil
tersenyum-senyum tidak jelas.
Chingu? Chingu siapa? Apa yeojachinguku?
Pikirku sambil menterka-terka. Tidak mungkin yeojachinguku, mereka kan sudah
kenal dia, lalu siapa?
“Hmm... Hyuk-ah, aku benar-benar tidak
tahu apa yang kau bicarakan.” Jujurku.
“Kau masih malu-malu.” Godanya.
Aku menatapnya kesal bukankah dia yang
saat ini terlihat begitu malu-malu? Aish... chinguku satu ini...
“Aku benar-benar tidak mengerti Hyuk-ah.
Bisakah kau berbicara yang jelas.” Pintaku. “Siapa namanya? Sampai-sampai dia
mengaku kalau dia adalah chinguku. Semua chinguku sudah aku kenalkan padamu.
Jadi yang ini chingu yang mana?” Tanyaku beruntun.
“Aigo... aku lupa menanyakan namanya.
Yang pasti dia seorang yeoja yang sangat manis. Aish... senyumnya...” Dia
sepertinya sangat menyukai yeoja itu dan membuatku jadi benar-benar penasaran.
“Hyuk-ah, kita bicarakan saja nanti ya
hari ini aku benar-benar lelah, jadi aku ingin istirahat dulu sekarang.”
Pintaku dan langsung meninggalkannya yang masih berdiri sambil tersenyum-senyum
tidak jelas.
Aku hanya dapat menggeleng pasrah melihat
kelakuan chinguku itu...
Tapi siapa yeoja itu? Dia bahkan sudah
membuat Eunhyuk jadi sampai seperti itu. Apa pesonanya dahsyat sekali membuat
orang langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.
Aku tidak tahu
dan aku tidak peduli yang aku pedulikan adalah aku harus isirahat hari ini
karena besok jadwalku akan banyak dan padat.
.......
24 januari
2009, 07:45 pm
“Donghae-ya...” Kali ini Heechul-hyung
datang menyambutku saat pulang ke dorm dengan senyum manisnya.
Ada apa lagi kali ini?
“Ada apa Hyung? Sepertinya hari ini kau
sangat bahagia.” Ujarku dan langsung berjalan menghampiri sofa ruang tamu.
Heechul-hyung datang menghampiriku dan
ikut duduk disebelahku.
Aku menoleh kearahnya yang ternyata dia
sedang menatapku.
“Mwo?” Tanyaku jadi panik karena di tatap
seperti itu. “Hyung, kau kenapa? Apa tadi ada benda keras yang jatuh dan
mengenai kepalamu saat kau syuting?” Tanyaku cemas.
Dia melotot kearahku.
“Aku hanya bercanda.” Ucapku cepat
sebelum dia marah padaku.
Dia langsung bersikap normal tapi masih
terus menatapku.
“Aigo... ada apa Hyung?” Tanyaku jadi
kesal.
“Kau, sebagai dongsaeng yang baik kenapa
kau tidak pernah cerita padaku kalau kau memiliki chingu yang begitu
mempesona.” Jelasnya.
Aku menatapnya bingung. Sepertinya ini
sudah pernah terjadi, aku merasa de javu.
“Aish... apa dia yeojachingumu yang
baru?” Tanyanya lagi karena tadi aku tidak menjawab pertanyaannya.
Aku tersadar. Tidak, ini bukan de javu.
Aku memang pernah mengalaminya. Yak! Saat Eunhyuk menyambutku pulang. Apa kali
ini yeoja itu lagi? Apa dia adalah fansku? Kenapa dia datang lagi? Apa begitu
inginnya untuk bertemu denganku? Siapa yeoja misterius itu?
“Donghae-ya...”
Tiba-tiba pintu dorm terbuka dan
muncullah ‘couple’ku dengan senyum sumringahnya.
“Hei Eunhyuk-sshi! Kenapa kau tiba-tiba
datang kemari, hah?” Tanya Heechul-hyung galak. Hyungku satu ini memang suka
memanggil orang dengan formal kecuali padaku dan U-know Yunho.
“Aishh... Hyung ini. Kita kan super
junior, jadi apa salahnya kalau aku kemari.” Dia tersenyum dan langsung
menghampiriku yang sedang duduk, sekarang dia duduk di sampingku juga.
“Apakah yeoja manis itu datang lagi hari
ini? Karena kemarin dia mengatakan akan datang lagi.” Dia bertanya kepadaku.
Belum sempat aku menjawabnya, tiba-tiba
Heechul-hyung langsung bicara...
“Hah, apa kau juga sudah bertemu dengan
yeoja cantik itu, Hyuk-sshi?” Tanyanya penasaran.
“Ne, apa Hyung juga?” Eunhyuk balik
bertanya.
“Ne...” Jawab Heechul-hyung dengan senyum
mengembang.
“Dia sangat manis kan, Hyung?” Eunhyuk
meminta pendapat.
“Bagiku dia sangat cantik, Hyuk-sshi.”
Pendapat Heechul-hyung
Dan aku pun terjepit di antara dua orang
aneh ini, yang membicarakan seorang yeoja yang tidak aku kenal siapa tapi malah
mencariku.
Sudah jam berapa ini, lebih baik kalau
aku menghubungi yeojachinguku saja. Dari pada aku harus mendengarkan cerita
mereka berdua yang tidak aku mengerti sama sekali.
“Yak! Kau mau kemana Hae-ya?” Tanya
Eunhyuk langsung saat aku hendak berdiri.
“Aku tidak tahu apa yang kalian katakan,
dan aku juga harus menghubungi yeojachinguku. Dia pasti sedang menunggu telpon
dariku.” Kataku dengan yakin.
“Masa kau lupa kalau kau punya chingu
secantik itu.” Heechul-hyung menatapku tidak percaya.
“Aku benar-benar tidak ingat, Hyung. Aku
yakin dia pasti ELF.” Aku mencoba meyakinkan mereka.
“Kau harus bertemu dengannya. Aku yakin
dia bukan ELF seperti katamu.” Balas Eunhyuk.
“Dan dia bilang besok dia akan datang
lagi kemari.” Heechul-hyung mengingatkan.
Aku menatapnya tidak percaya. Siapa yeoja
itu? Aish... sepertinya dia sangat tergila-gila kepadaku, aku tersenyum bangga.
“Kenapa kau senyum-senyum, Hae-ya?” Tanya
Eunhyuk-ah cemas.
“Aniyo, aku kangen pada yeojachinguku.
Dag...” Aku langsung beranjak dari dudukku dan langsung masuk ke dalam kamarku.
Yeoja misterius itu, aku akan menemuinya
besok. Untungnya besok jadwalku sedang kosong siangnya. Siapa dia sampai
membuat Eunhyuk dan Heechul-hyung jadi begitu menyukainya, sampai mereka jadi
jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihatnya. Apa kalau aku melihatnya
aku akan jatuh cinta juga?
......
24 januari
2009, 02:25 pm
Aku sedang sibuk dengan laptop saat aku
mendengar bunyi bel. Aku langsung meminta Eunhyuk untuk membukakan pintu karena
aku masih sibuk dengan permainan game yang ada di laptopku.
Lalu dia kembali dengan cepat dan
langsung mengguncang-guncang bahuku.
“Mwo?” Teriakku kesal karena ulahnya aku
jadi kalah main game.
“Dia datang, yeoja manis itu datang.”
Ucapnya antusias.
“Kenapa tidak kau suruh masuk, Hyuk-ah?”
Tanyaku bingung.
“Dia ingin berbicara denganmu di luar,
sepertinya sangat rahasia sekali.” Kata Eunhyuk. “Hati-hati Hae-ya, aku jadi
cemas melihatnya.”
Aku bingung dengan perubahan sikap
chinguku ini. Dia senang karena yeoja itu datang tapi tetap bersikap
berhati-hati. Aku langsung beranjak dari dudukku dan mematikan laptopku
langsung. Aku jadi penasaran dengan yeoja itu.
Aku berjalan mendekati pintu, aku keluar
dan melihat seorang yeoja yang sedang membelakangiku.
Deg!
Darahku kembali berdesir...
Ada apa ini...
Yeoja itu berbalik menghadapku dengan tersenyum...
Apakah aku sedang mimpi...
*****
Park Hana’s side
:
24 januari
2009, 02:25 pm
Hari ini adalah hari ketiga aku datang ke
dorm Super Junior yang sekaligus dorm Donghae-oppa ku.
Seperti biasa aku kembali menekan
belnya...
Hari ini aku berharap dia ada. Setelah
dua hari yang lalu aku gagal bertemu dengannya...
Kira-kira hari ini siapa lagi yang akan
membukakan pintu untukku.
Pintu terbuka dengan cepat dan aku
kembali kecewa karena bukan Donghae-oppa yang membukakannya, namun Eunhyuk-oppa
dengan senyum manisnya.
Dan seperti biasa juga aku bertanya apa
Donghae-oppa ada di dorm, dan kali ini aku dapat tersenyum senang karena
Donghae-oppa memang ada di dorm. Aku meminta Eunhyuk-oppa untuk memanggilnya
keluar sebelum dia memintaku untuk masuk ke dalam.
Aku menunggu di luar dorm dengan perasaan
cemas yang bercampur dengan senang. Senyum itu... aku akan melihatnya lagi
sekarang...
Sebentar lagi...
Aku mendengar suara langkah kaki dan aku
langsung membalikkan badanku kearahnya...
Senyumku mengembang saat aku melihatnya berdiri di depanku setelah tujuh
tahun kami tidak pernah bertemu.
Aku masih terus tersenyum manatapnya
lama. Melihat dari ekspresinya aku tahu dia sangat terkejut dengan kedatangnku.
Apa dia juga sudah lupa dengan wajahku?
“Oppa, apa kau masih ingat denganku? Ini
aku Park Hana.” Aku mencoba membuatnya ingat kembali padaku, seperti yang
kulakukan pada Eommanya.
“Kenapa kau kembali?”
Deg!
Aku terdiam...
Senyumku langsung hilang...
Apa itu yang seharusnya dia ucapkan saat
melihat kedatanganku pertama kali setelah lama tidak bertemu?
Harusnya... harusnya dia mengatakan, aku
merindukanmu Hana-ya atau kenapa kau pergi, kau membuatku gila...
Tapi kenapa kalimat itu yang pertama kali
dia ucapkannya kapadaku saat bertemu untuk pertama kalinya setelah berpisah
lama.
Aku hanya dapat diam, tidak mampu
berkata...
“Kenapa kau kembali setelah lama
menghilang? Aku pikir kau sudah lupa padaku!” Ucapnya sinis.
Hatiku... hatiku sangat sakit mendengar
kata-kata yang keluar dari mulutnya. Apa dia begitu marah padaku?
Aku...
“Oppa, apa kau marah padaku?” Tanyaku
pelan.
“Marah? Tentu saja aku marah. Benci?
Tentu saja aku benci. Kau meninggalkanku begitu saja setelah tujuh tahun lebih,
lalu kau datang kembali seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Kenapa kau berpikir
itu mudah, hah!” Teriaknya padaku meluapkan semua kemarahannya kepadaku.
“Mianhae Oppa, saat itu aku memang
benar-benar tidak bisa menjelaskan masalahku padamu.” Ucapku mencoba meredakan
marahnya.
“Lalu apa sekarang kau ingin
menjelaskannya padaku?” Tanyanya.
Aku hanya menganggukkan kepala.
“Aku tidak butuh penjelasanmu. Bagiku
semua sudah jelas tanpa harus di jelaskan. Aku sudah melakukan semua
permintaanmu dan aku sudah hidup bahagia. Kenapa kau kembali dan ingin
merusaknya lagi?”
“Aniyo, aku...”
Ya, aku ingin merusaknya, batinku.
Bagaimanapun juga aku tidak akan
membiarkanmu dengan yeoja itu, dia pencuri karena dia telah merebut tempatku,
dia sama seperti ibunya yang merebut tempat Eomma. Mungkin Eomma bisa
mengikhlaskannya tapi tidak untukku.
“Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi.”
Ucapnya pelan tanpa melihat kearahku.
Aku menatapnya tidak percaya. Tangisku
sudah ingin pecah, namun sebisa mungkin aku menahannya. Jangan menangis,
pintaku.
“Oppa, apa kau tidak merindukanku?”
Tanyaku dengan suara yang sudah serak karena menahan tangisku.
Dia hanya terdiam tidak menjawab
pertanyaanku.
“Oppa, apa kau hidup bahagia tanpaku?”
Dia kembali diam.
Aku sudah tidak mampu untuk dapat berdiri
lagi. Aku langsung jatuh berlutut di lantai dengan air mata yang mulai jatuh
membasahi kedua pipiku.
“Oppa, apa kau sudah menemukan yeoja
cantik untuk menggantikanku?” Aku masih terus bertanya padanya yang masih tetap
berdiri tidak memperdulikanku. Walaupun aku tahu jawaban dari pertanyaanku itu.
Tentu saja aku sudah tahu!
“Apa kau benar-benar tidak menungguku?
Kenapa... hiks... kena...”
Tangisku benar-benar pecah kali ini...
Tuhan...
Kenapa ini terasa begitu menyakitkan? Aku
benci rasa sakit ini...
Tolong hilangkan rasa sakit ini, beri aku
kekuatan agar dapat berdiri dengan tegar...
Dia masih terus diam, membuat hatiku jadi
semakin sakit karenanya...
Sebisa mungkin aku mencoba untuk berdiri
dan langsung menghapus air mataku.
“Sepertinya kau benar-benar hidup bahagia
Oppa. Pasti yeoja itu menjagamu dengan baik.” Kataku masih dengan suara yang
berat.
Aku mecoba untuk tegar...
Apa aku benar-benar tidak bisa
mendapatkannya lagi?
Apa aku harus menyerah seperti yang di
lakukan Eomma...
“Aku... merindukanmu, Oppa.”
“Mianhae, tapi aku tidak. Sejak
kepergianmu, aku sudah menata ulang hidupku kembali. Kau yang memintaku untuk
tidak meninggalkanmu, tapi kenapa kau yang meninggalkanku, hah!” dia masih
berteriak.
Jangan berteriak seperti itu, bukankah
dulu kau selalu berbicara pelan padaku dengan wajah bahagia dan senyum yang
selalu mengiasi wajahmu. Kenapa sekarang berteriak.
“Pulanglah, aku tidak ingin melihatmu
lagi.”
Aku terdiam tubuhku terasa membeku. Dia
mengusirku? Sebegitu bencinya dia padaku?
Aku sudah tidak memiliki keberanian lagi
untuk menatap wajahnya. Mungkin, aku harus mengikhlaskannya, walaupun itu
sulit...
Aku berbalik dan melangkah pergi dengan
pelan, seiring dengan kepergianku air mata mulai kembali membasahi kedua
pipiku.
Sakit...
*****
Lee donghae’s
side :
24 januari
2009, 02:45 pm
“Hae-ya... ada apa? Kenapa kau menangis?”
Tanya Eunhyuk yang cemas melihatku saat kembali masuk ke dalam.
Aku tidak menggubrisnya, hanya menghapus
air mataku dan duduk dengan lemas di sofa.
Eunhyuk masih terus mengikutiku dari
belakang.
“Aishh... bicaralah, kau membuatku
panik.” Pintanya memaksa. “Siapa yeoja itu? Kenapa dia sampai membuatmu
menangis seperti ini?” Tanyanya lagi masih dengan sejuta rasa penasaran.
Kenapa aku bisa berkata begitu? Aku
benar-benar membuatnya sakit. Mianhae Hana-ya, aku tidak bermaksud kasar. Aku
hanya kesal...
Aku juga merindukanmu...
Sangat merindukanmu, tapi tidak serindu
saat pertama kali kau pergi meninggalkanku. Karena sudah banyak hal yang dapat
mengurangi rasa rinduku padamu. Kenapa kau kembali? Kenapa kau kembali di saat
semua kehidupanku sudah tertata dengan rapi? Aku tidak ingin menyakitimu?
Walaupun kau pergi, dan itu sudah lama
berlalu tapi kau tetap selalu aku ingat. Kenapa kembali?
Kita tidak akan mungkin menjadi seperti
dulu lagi, semuanya sudah berubah. Dan tidak semudah itu untuk merubahnya kembali
lagi menjadi seperti dulu...
“Hae-ya...” Panggil Eunhyuk menyadarkanku
dari lamunan.
Aku menatapnya lama.
“Ceritalah, aku akan mendengarkan
semuanya.”
Aku menghapus air mataku yang masih
keluar dan dengan perlahan aku mulai menceritakan kepadanya dari awal tentang
semua yang terjadi di antara aku dan Hana.
“Lalu, apa hubungannya dengan
yeojachingumu, Hae-ya?” Tanya memotong ceritaku.
“Aku rasa mereka saudara tiri.” Jawabku
pelan.
Ya, tentu saja mereka saudara tiri. Jadi,
yeoja yang aku lihat saat di balkon itu adalah...
Tuhan, mereka saudara tiri...
Kenapa aku baru menyadarinya, saat Yoora
bercerita tentang keluarganya. Ahjjusi yang di ceritakannya pasti adalah
Appanya dan sekaligus Appa Hana. Setiap aku datang ke rumahnya aku memang tidak
pernah bertemu dengan Appanya. Aku pikir Yoora tetangga baruku...
Babo! Kenapa aku baru menyadarinya...
“Hae-ya, kau harus menemuinya dan minta
maaf, pasti saat ini dia sangat sedih sekali.”
“Hyuk-ah, aku ingin istirahat dulu. Aku
benar-benar masih bingung dengan semua ini.” Aku langsung beranjak dari sofa
dan berjalan menuju kamarku, meninggalkan Eunhyuk yang masih ingin mendengar
ceritaku...
Mianhae Hana-ya...
Ini juga sangat menyakitkan untukku...
Kita tidak akan mungkin bisa bersama
lagi, karena aku sudah memiliki orang lain dihatiku, Yoora-ya...
*****
Park Hana’s side
:
24 januari
2009, 08:55 pm
“Oppa,
kalau suatu hari aku pergi, apakah kau akan hidup dengan baik?”
“Tentu saja aku akan hidup dengan baik,
memangnya kau siapa sampai harus membuat hidupku susah.”
“Oppa, apa kau tidak akan menungguku?”
“Aniyo, aku tidak akan menunggumu. Aku akan
mencari yeoja lain yang lebih cantik darimu. Kau tahu aku sangat di kagumi di
di sekolah ini.”
Air mataku kembali mengalir di sudut-sudut
mataku...
Ternyata kau benar-benar hidup bahagia
Oppa, dan mendapatkan yeoja lain. Tapi, apa dia terlihat lebih cantik dariku di
matamu?
Aku tahu pilihanmu tidak akan pernah
salah, tapi kenapa di mataku dia adalah yeoja yang jelek dan jahat? Aku
membencinya Oppa, tidak bisakah kau meninggalkannya dan kembali kepadaku?
Aku tahu sebelumnya kita memang bukan
sepasang kekasih tapi harusnya kau tahu Oppa kalau kita di takdirkan untuk
selalu bersama. Bukankah aku yang akan menjadi istrimu nanti? Kau bilang aku
yang akan menjadi istrimu, lalu kenapa kau tidak menunggguku, Oppa. Apa aku
pergi begitu lama?
Butuh waktu yang lama bagiku untuk dapat
kembali menjadi seperti aku yang dulu lagi. Perceraian kedua orang tuaku
benar-benar membuatku gila. Kehidupan yang selalu bahagia, di kelilingi orang
yang di sayang, rasa sayang dan perhatian yang selalu terpusat kepadaku. Lalu
tiba-tiba semuanya hilang. Kebahagianku hilang, aku benci dengan orang yang
selalu bahagia dan tersenyum di depanku. Aku benci mereka...
Setelah aku dapat menerima semuanya,
kenapa aku harus merasakan sakit lagi karena harus kehilanganmu, Oppa. Apa aku
terlalu banyak berharap padamu?
Aku tahu kesalahanku, tapi tidak bisakah
kau memaafkanku sekali ini saja karena sudah menghilang dari hidupmu. Tolong
kali ini saja, maafkan aku...
Aku sudah sangat merasakan dingin di
tubuhku. Sudah dari tadi aku duduk di ayunan taman ini. Sejak pulang dari
dormnya...
Aku tidak tahu harus kemana lagi, kali
ini aku benar-benar merasa sendirian...
Tidak ada Eomma, Appa, Chingu, dan kau
Oppa...
Aku sendiri...
Kedinginan...
Di taman ini...
.......
24 januari
2009, 09:57 pm
Aku benci harus pulang ke rumah yang dulu
sangat aku cintai ini. Di rumah ini, saat ini di penuhi dengan orang jahat yang
bermuka dua. Mereka semua pencuri, karena mencuri kebahagian keluargaku.
Aku membuka pintu dengan malas, dan
langsung dapat melihat Appa dengan pencuri-pencuri itu sedang berkumpul. Aku
menatap sinis ke arah yeoja yang sedang bermain dengan adiknya itu. Kau sama
seperti ibumu! Kalian sama saja!
“Hana-ya, dari mana saja? Kenapa baru
pulang?” Tanya Appa saat melihatku masuk.
“Ini sudah malam, cepatlah makan nanti
kau akan sakit.” Kata Ahjumma yang itu mencoba mencari perhatian.
Semua orang juga tahu ini sudah malam,
apa kau pikir aku buta? Ucapku dalam hati dengan manatapnya sinis.
“Aku dari rumah chinguku, Appa.” Jawabku dengan senyum manis kearah Appaku. “Aku
sangat lelah, aku ingin istirahat.” Aku langsung melangkah menuju tangga untuk
sampai ke kamarku.
Aku tahu mereka semua menatapku aneh,
tapi aku tidak memperdulikan tatapan mereka. Kenapa aku harus peduli kepada
pencuri-pencuri itu.
Aku menyandarkan tanganku di pagar besi balkon kamarku
sambil menatap jalanan dan rumah yang ada di depanku saat ini dengan sedih.
Oppa, aku merindukanmu...
Apa aku harus mengikhlaskanmu dengan
yeoja pencuri itu?
Tentu saja tidak, mungkin tadi kau sangat
terkejut melihat kedatanganku secara tiba-tiba.
Aku yakin kau juga sangat merindukanku,
kita selalu memiliki rasa yang sama, tapi kenapa kau tidak menungguku, Oppa?
Apa yeoja itu menggodamu? Dia kan sama
seperti Eommanya.
Aku mencoba untuk membesarkan hatiku, aku
tidak ingin menangis lagi kalaupun aku menangis aku ingin aku menangis bahagia
karena aku mendapatkanmu. Aku akan mendapatkanmu, Oppa!
Aku tidak akan membiarkanmu dengan yeoja
pencuri itu!
Aku akan merebutmu seperti ibunya yang
merebut tempat Eomma!
Aku akan membalaskan rasa sakit itu...
Aku akan tetap bertahan sampai aku
benar-benar lelah dan menyerah...
Aku yang akan menjadi pendampingmu,
istrimu seperti janji kita dulu....
*****
Lee Donghae’s
side :
26 januari 2009,
01:17 pm
Aku datang ke rumah itu, ke rumah
yeojachinguku karena hari ini dia mengajakku untuk kencan dan juga bertepatan
pada hari jadi kami yang kedua. Aku tidak menyangka kami sudah pacaran selama
ini. Aku memarkir mobilku di depan rumahnya dan sekilas melirik kearah atas
balkon yang ternyata kosong.
Sudah dua hari sejak masalah itu terjadi.
Dia masih juga datang ke dorm, meminta maaf atas semua yang sudah dia lakukan
padaku. Sejujurnya tidak sulit bagiku untuk memaafkannya, hanya saja aku benci
harus merasakan perasaan seperti dulu lagi. Sekarang sudah ada Yoora, aku
sayang padanya dan aku tidak ingin menyakitinya. Dia yang selalu ada, mengisi
hari-hariku saat aku terpuruk dulu dan dia yang sudah menggantikan sosok Hana
di hatiku secara perlahan.
Sampai sosok itu sudah mulai memudar di
ingatanku. Namun tetap ada...
Dan sekarang dia kembali, membuatku menjadi ingat semua
tentangnya seperti dulu.
Sekarang dia kembali dan memintaku
menjadikannya seperti sosok yang dulu di hatiku, aku tidak bisa mengubah
semuanya semudah itu. Semua butuh proses dan aku juga yakin kalau hanya Yoora
yang akan menjadi takdirku. Sejak Hana pergi meninggalkanku aku tahu dia bukan
lagi takdir yang di berikan Tuhan untukku.
“Oppa... apa kau sudah lama menunggu?”
Tanya yeojachinguku menghampiriku dengan senyum manis yang selalu menghiasi
wajahnya.
“Aniyo, aku juga baru datang. Apakah kita
bisa langsung pergi?” Tanyaku.
Dia hanya mengganggukkan kepala.
“Ayo, aku harus minta izin pada orang
tuamu.”
“Appa sedang tidak ada di rumah dan Eomma
sedang pergi. Yang ada hanya Eonni saja.” Katanya memberitahuku.
“Apa kita perlu meminta izinnya?” Tanyaku
berbasa-basi.
“Sepertinya tidak perlu. Sudah ayo kita
pergi.” Ajaknya dengan antusias.
“Yoora-ya, kenapa kau tidak pernah
bercerita tentang Eonnimu?” Tanyaku membuka pembicaraan saat kami sedang ada di
perjalanan menuju cafe tempat biasa kami kencan.
“Aku sudah pernah menceritakannya padamu,
Oppa.” Katanya.
“Oh ya, kenapa aku tidak ingat.” Aku
benar-benar tidak ingat kalau dia pernah bercerita tentang Eonninya. “Bisakah
kau bercerita lagi padaku?” aku memintanya.
“Dia baru kembali dari Jerman setelah
tujuh tahun pergi, dan ini baru pertama kalinya aku bertemu dengannya.”
Aku menatapnya bingung, sebenarnya aku
sudah tahu semuanya, aku hanya ingin tahu dari versinya saja tentang Hana.
“Kau pasti bingungkan Oppa. Dia
sebenarnya adalah saudara tiriku dari pihak Appa karena Eomma menikah lagi
dengan Appa.” Dia menjelaskan.
“Apa dia baik padamu?” Tanyaku ingin
tahu.
“Aniyo, aku tahu bagaimana perasaannya
tentang perceraian kedua orang tuanya. Dia sangat membenci aku dan eomma serta
Minjoo yang tidak tahu apa-apa. Tapi jujur aku sayang padanya, aku ingin dia
menjadi Eonniku sendiri. Kami saling berbagi cerita dan bermain bersama, aku
ingin itu tapi sepertinya sangat sulit untuk terjadi. Mengingat dia yang tidak
menerima kehadiran kami.” Ceritanya dengan sedih.
Aigoo, seharusnya aku tahu apa yang dia
rasakan. pasti sangat sakit...
Aku meraih handphoneku yang berdering di
dashboard, sebuah pesan...
Saranghae, isi pesan itu...
Hana-ya berhentilah membuat semua ini
menjadi tambah sulit. Dulu mungkin aku akan senang saat mendapatkan pesan itu,
tapi sekarang...
Kau hanya membuatku sulit...
Berhentilah sebelum semuanya menjadi luka
lebih dalam lagi dan hanya akan menyakiti kita...
“Siapa Oppa?” Tanya Yoora, mengagetkan
aku.
“Hmm, Teuki-hyung.” Jawabku berbohong.
“Kenapa? Apa hari ini ada jadwal?” Tanya
cemas.
“Aniyo, dia hanya menanyakan dimana aku berada.”
Dia hanya mengangguk-angguk lalu kembali
menatap kedepan...
*****
Park Hana’s side
:
26 januari 2009,
01:17 pm
Aku mendengus kesal melihat kedatangan
Donghae-oppa saat ingin menjemput Yoora ke rumahku, melalui jendela kamarku.
Omo! Dua tahun mereka bersama? Aku masih
tidak percaya dengan pendengaranku sendiri saat tadi pagi aku tidak sengaja
mencuri dengar pembicaraan mereka di dapur...
“Eomma,
apa yang harus aku kenakan hari ini?”
“Ada
apa sampai kau terlihat begitu bahagia?”
“Aku
ada kencan dengan Oppa dan hari ini adalah hari jadi kami yang ke dua. Aku
benar-benar tidak menyangka kalau kami sudah berpacaran selama dua tahun.”
“Aishh,
pasti kau sangat senang sekarang ini. Chukkae... pakailah pakaian mencerminkan
dirimu sendiri.”
“Baiklah
Eomma, doa kan agar semuanya berjalan sukses hari ini.”
Apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku
sudah tidak ada kesempatan lagi. Apakah itu benar? Dia menolakku?
Ya, dia menolakku...
Bagaimanapun aku mencoba, dia tetap akan
menolakku. Aku tahu bagaimana dia mencintai seseorang. Seperti saat bersamaku
dulu. Babo! Kenapa dulu aku tidak mengambil kesempatan untuk menjadi
yeojachingunya. Kenapa kami hanya bersahabat saja tanpa adanya sebuah ikatan.
Aku tahu dia menyukaiku dan kami sama-sama saling menyukai.
Saat bersamaku dia tidak pernah dekat
dengan yeoja manapun karena dia tidak ingin membuatku cemburu. Sama sepertiku
yang juga tidak ingin membuatnya
cemburu.
Aku memang pergi terlalu lama dan
sekarang aku benar-benar sudah terlambat...
Eomma, sepertinya aku harus kembali
padamu. Maaf karena aku tidak membawa kabar gembira untukku...
Aku masih terus memperhatikan
Donghae-oppa dan Yoora. Sebenarnya mereka cukup cocok untuk menjadi sepasang
kekasih. Tapi pikiranku menolak pendapatku itu mentah-mentah. Karena hanya aku
yang cocok untuk menjadi pasangannya, tidak ada yang lain!
Mungkin aku egois, sangat egois. Tapi apa
salah kalau aku menginginkan orang yang aku sukai untuk menjadi milikku?
Kenyataan itu benar-benar membuatku sedih
dan terluka...
Aku butuh tempat yang tenang, untuk
membuat hatiku damai. Walaupun tidak untuk selamanya tapi setidaknya saat ini
aku bisa tenang...
“Hana-ya, mau pergi kemana?” Tanya
Ahjumma, Eomma tiriku yang ternyata sudah pulang dari berbelanja.
“Kemanapun aku pergi. Apa pedulinya
padamu!” Teriakku, untuk melepaskan marahku pada anaknya yang sudah mencuri
Donghae-oppaku.
“Aku peduli padamu, aku sayang padamu.”
Aku mendengus kesal. “Oh ya? Dan aku
tidak akan pernah bisa menyukaimu karena kau telah merusak hidupku dan Eomma.”
Aku masih berteriak dan aku menekankan ucapanku padanya agar dia mengerti
tentang apa yang kurasakan.
“Hana-ya!”
Aku tidak memperdulikan panggilannya, aku
hanya berjalan menjauh meninggalkannya...
Aku benar-benar tidak tahan jika masih
harus tinggal dirumah yang sudah seperti neraka bagiku...
*****
Lee Donghae’s
side :
26 januari 2009,
10:45 pm
Aku mengantar
yeojachinguku pulang. Sebenarnya ini sudah lewat jam biasa aku mengantarnya.
Tadi kami begitu asyik sampai lupa dengan waktu. Setelah seharian
berjalan-jalan, makan dan nonton. Aku merasa benar-benar lelah...
Aigoo... pasti orang tuanya sangat marah
karena aku membawa anak mereka pulang malam, walaupun sebenarnya ini tidak
terlalu malam mengingat Seoul yang seperti bukan kota mati, walaupun sudah
tengah malam.
“Sepertinya, aku akan di tegur hari ini.”
Aku menatap yeojachinguku sedih.
Tidak biasanya orang tuanya berdiri di
luar seperti saat ini, saat aku mengantar anak mereka pulang.
“Semoga saja tidak.” Ucapnya pelan.
Lalu sama-sama kami turun dari mobil dan
melihat Eommanya datang menghampiri kami dengan cemas.
Ada apa ini, aku melihat Mr.Park menaiki
mobilnya dan langsung pergi.
Apakah ada pertengkaran disini?
“Yoora-ya...” Ibunya menangis meghampiri
kami.
“Eomma, ada apa?” Tanya Yoora panik dan
langsung memeluk Eommanya.
“Hana-ya, dia belum pulang sampai
sekarang. Tadi dia pergi dan dia marah pada Eomma. Bagaimana ini kalau terjadi
sesuatu padanya.” Cerita Eommanya.
Hana-ya...
Aishh... kenapa lagi dengan yeoja itu,
kenapa selalu membuat orang cemas. Apa dia ada di dorm saat ini.
“Tenanglah Eomma, semoga saja tidak
terjadi apa-apa padanya.” Yoora mencoba menenangkan.
“Bagaimana kalau kita mencarinya
sekarang.” Aku menawarkan.
“Aniyo Oppa, biar aku saja yang
mencarinya. Kau harus istirahat besok kau kan ada jadwal.” Dia menolak. “Ah,
Oppa aku harus masuk dulu. Pulanglah terima kasih untuk hari ini.” Dia langsung
berjalan meninggalkanku dan masuk ke dalam rumah dengan masih terus menenangkan
ibunya.
Aku langsung menghubungi Eunhyuk...
Mungkin dia ada di dorm dan sedang
bermain dengan Eunhyuk atau Heechul-hyung...
Aku semakin panik dan cemas karena
ternyata satu harian ini dia tidak ada datang ke dorm. Kemana kau Hana-ya?
Kenapa pergi dan menghilang lagi?
Aku benar-benar panik karena tidak tahu
harus melakukan apa lagi. Aku tidak tahu harus menghubungi siapa lagi karena
dulu dia tidak memiliki teman dekat kecuali aku. Kami memang selalu
bersama-sama kemanapun kami pergi.
Apa kau pergi karena aku? Mianhae karena
aku benar-benar tidak bisa seperti dulu lagi. Aku tahu ini menyakitkan untukmu
dan ini juga menyakitkan untukku. Kau tidak tahu betapa seringnya aku menangis
karena masalah ini.
Kemana aku harus mencarimu? Dimana kau
saat ini...
Aku mencoba mengingat tempat yang di
datanginya saat dia sedang sedih...
Dimana? Dimana?
Ah... aku tahu...
Taman, taman yang berada di dekat
lingkungan rumah kami. Aku selalu menemukannya saat dia sedang sedih dan duduk
di ayunan dan aku yang selalu mendorong ayunan itu untuknya. Ya, dia pasti di
sana, semoga...
Aku langsung bergegas dan berlari menuju
taman yang jaraknya memang tidak jauh dari rumahku dan rumahnya.
Aku menyapu pandanganku saat sampai di
taman mencoba menangkap sosoknya yang sedang duduk di ayunan.
Ah, itu dia...
Masih tetap seperti dulu, duduk di bangku
ayunan itu saat dia merasa sedih dan biasanya untuk mengurangi rasa sedihnya
aku akan mendorongkan ayunan itu untuknya dan mendengarkan semua ceritanya
kepadaku. Tapi untuk kali ini aku tidak bisa melakukannya lagi, mianhae...
Aku langsung berjalan menghampirinya.
“Hana-ya, di sini dingin. Ayo pulang.”
Aku mengajaknya.
Dia mengangkat kepalanya dan menatapku
lama...
“Oppa, apa aku benar-benar terlambat?”
Tanyanya dengan mata yang sembab.
Dia pasti menangis dari tadi, membuat
matanya merah dan bengkak seperti itu. Kenapa kau seperti ini, Hana-ya?
*****
Park Hana’s side
:
26 januari 2009,
10:45 pm
Oppa...
Dulu kau yang selalu mendorongkan ayunan
ini untukku, saat aku sedih...
Kenapa waktu terasa begitu cepat berlalu?
Aku merindukanmu Oppa...
Tidak bisakah kau menemaniku seperti dulu
lagi. Selalu ada di sampingku...
Air mataku terus mengalir tanpa henti. Biarkan,
apa lagi yang perlu aku pertahankan. Aku sudah terlambat tanpa memulai semuanya
dari awal. Aku yang meninggalkannya,
kenapa aku memaksanya menjadi milikku, setelah aku jahat padanya.
Aku pantas mendapatkannya, tapi...
Aku belum siap...
Ini terasa begitu mendadak...
Aku hanya menundukkan kepala, aku tidak
sanggup menegakkannya lagi dan mengakui kalau aku kalah.
Aku selalu menang untuk mendapatkan
hatinya kenapa sekarang aku harus kalah mendapatkannya. Dan aku juga tidak
ingin pulang, aku benci berada di rumah itu dan melihat wajah-wajah yang
tersenyum senang. Sementara aku menangis.
Tidak ada yang peduli kepadaku...
Eomma, aku benci disini...
Aku ingin pulang ke tempatmu...
Kenapa memaksaku untuk pulang kemari, ini
bukan lagi rumah kita yang dulu. Ini tempat yang tidak aku kenal, aku tersesat,
sendirian, ketakutan. Dunia saat ini terasa begitu gelap untukku...
Aku mendengar suara langkah kaki yang cepat
dan berhenti tepat di depanku.
“Hana-ya, di sini dingin. Ayo pulang.”
Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya
lama, Donghae-oppa berdiri di depanku.
“Oppa, apa aku benar-benar terlambat?”
Tanyaku dengan air mata yang mengalir karena aku tidak mampu untuk menahannya
seperti tadi.
Aku masih sulit untuk menerima ini semua.
“Kenapa kau tidak pulang? Semua orang
sibuk mencarimu.” Katanya pelan mencoba mengalihkan pembiacaraan.
“Apa kalau aku pulang kau akan menjadi
milikku?” Tanyaku yang masih memaksanya seperti anak kecil.
“Hana-ya, kau bukan anak-anak lagi jadi
bersikaplah dewasa. Ini juga sulit untukku.” Katanya dengan tegas.
“Dan ini sangat sulit untukku.” Ujarku
pelan. “Pulanglah Oppa, kau hanya membuatku jadi ingin cepat mati jika kau
terus berdiri di depanku seperti ini.” Aku mengalihkan pandanganku ke arah
lapangan basket yang ada di taman. Begitu sepi...
“Hana-ya!” Bentaknya. “Kau harus pulang,
semua orang cemas padamu, Appa dan Eommamu sangat cemas” Lanjutnya dengan
pelan.
Aku tersenyum sinis manatapnya. “Eomma?
Dia bukan Eommaku dia pencuri! Dia merebut kebahagianku, kalau dia tidak
merebutnya pasti saat ini aku masih
bersamamu Oppa, seperti dulu...”
Plak!!
Aku memegang pipiku yang terasa sakit
tapi tidak sesakit pada hatiku.
Tamparan itu... kenapa kau menamparku?
Apa ada yang salah dengan ucapanku?
“Mianhae...” Ucapnya yang langsung
berlutut di depanku dan memelukku. “Mianhae, kita tidak bisa seperti dulu lagi.
Aku sudah memiliki Yoora, aku menyayanginya dan aku tidak ingin membuatnya
sedih hanya karena keegoisanmu, Hana-ya.”Dia menangis sambil memelukku.
“Kumohon jangan seperti ini.”
“Apa kau mencintainya? Apa dia begitu
berarti untukmu? Apa yang dia lakukan sampai kau begitu menyayanginya? Apa
hebatnya dia dari pada aku?” Tanyaku di sela tangisku yang semakin jadi.
“Dia selalu ada di saat aku sedih karena
harus kehilangan Appa. Dia mendukungku dan membantuku untuk bangkit. Dimana kau
saat itu, Hana-ya? Di saat aku memerlukan bantuanmu dan perhatianmu, dimana kau
saat itu?”
Aku terdiam...
Apa yang harus aku jawab, kalau semua itu
benar adanya. Aku memintanya untuk tidak pergi meninggalkanku tapi malah aku
yang meninggalkannya pergi.
Aku melepaskan pelukannya dan menatapnya
lama.
“Oppa, aku membencinya dan aku
benar-benar ingin membunuhnya. Agar kau tidak dapat melihatnya lagi.”Ucapku
dengan senyum sinisku.
Aku langsung berdiri dan berjalan
meninggalkanya yang masih berlutut di tanah rerumputan.
“Hana-ya...” Dia memohon kepadaku.
Aku menghentikan langkahku dan berbalik
menatapnya. “Mwo? Kau ingin aku merestui hubungan kalian berdua?” Tanyaku
sinis. “Dia sama seperti ibunya, mereka sama-sama pencuri. Aku benci mereka.”
Teriakku melepaskan semua kesedihanku. “Aku benci jika harus melihat mereka
tersenyum.” Lanjutku. “Aku benci karena aku sendirian dengan semua orang yang
tertawa mengelilingiku. Tidak ada yang peduli padaku, kenapa aku harus peduli
pada kalian semua, hah?” Tangisku kembali pecah.
Donghae-oppa menghampiriku dan memelukku,
membuat tangisku tidak dapat berhenti.
“Aku menyayangimu, Hana-ya. Jadi jangan
seperti ini, melihatmu seperti ini juga membuatku terluka.”
“Kalau begitu putuslah dengannya kalau
kau ingin melihatku tersenyum kembali.” Pintaku memohon.
“Aku tidak bisa, aku tidak bisa melakukan
itu. Mianhae...” Ucapnya pelan, lalu melepaskan pelukannya dariku.”Ayo kita
pulang, Appa sangat cemas karena mencarimu.”
Aku hanya mengikutinya dari belakang
dengan malas...
Aku benar-benar sudah terlambat...
“Mianhae...”Ucapnya saat kami sampai di
depan rumahku. “Rapikan rambut serta wajahmu, jangan membuat Appamu sedih.
Tersenyumlah seperti dulu. Aku pulang...”
“Apa kita masih bisa menjadi teman?”
Tanyaku menghentikan langkahnya.
Dia berbalik dan menatapku lama, kemudian
melanjutkan berjalan meninggalkanku sendiri, tanpa senyum...
Dia menyuruhku untuk tersenyum tapi
kenapa malah dia yang tidak tersenyum kepadaku. Setelah semua berakhir dengan
begitu menyedihkan kenapa masih
memintaku untuk tersenyum. Aku bahkan sudah lupa caranya untuk tersenyum
dengan manis sejak aku meninggalkannya dulu.
Apakah permintaanku terlalu sulit untuk
dia terima? Chingu? Apa susahnya hanya menjawab iya atau tidak...
Sebelum aku berjalan memasuki beranda
rumah. Appa langsung menyambut kedatanganku dengan cemas.
“Hana-ya, dari mana saja kau? Kau ingin
membuat Appa cepat mati hah?” Ujarnya yang langsung memelukku dengan erat.
“Mianhae Appa, karena sudah membuatmu
cemas.”
“Jangan pernah ulangi itu lagi.”
Pintanya.
Tentu saja, kenapa aku harus
mengulanginya lagi, batinku.
“Appa, bisakah kau mencarikan tiket untuk
ke Jerman yang berangkat besok pagi. Aku ingin pulang.” Aku langsung mengakui
keinginanku.
“Aigoo... Kenapa begitu tiba-tiba?”
Tanyanya yang terkejut mendengar ucapanku.
“Aku rindu pada Eomma, kasihan Eomma di sana
sendirian tidak ada yang menjaganya.” Aku memberikan alasan.
“Apa kau tidak kasihan kepada Appa?”
“Aishh, Appa kan sudah ada yang menjaga
kenapa aku harus khawatir?” Aku balik bertanya.
“Apa karena kau tidak suka dengan Eomma
serta dongsaeng tirimu?”
Aku hanya diam. Ya tentu saja salah satu
alasannya karena mereka. Aku benci melihat mereka tersenyum.
“Cobalah untuk menyukai mereka, mereka
semua sayang padamu.” Appa memintaku.
“Appa...” aku memohon meminta
pengertiannya.
“Ne, baiklah Appa akan mencarikan tiket
untukmu.” Katanya menyerah.
Aku langsung mengajaknya untuk masuk
karena aku sudah benar-benar merasakan kedinginan...
.......
26 januari 2009,
11:20 pm
Sudah dapat dipastikan kalau aku akan
kembali ke Jerman besok. Appa sudah mendapatkan tiket untukku jam penerbangan
pagi.
Sekarang tinggal waktuku untuk berkemas...
Apa aku terlalu jahat dengan keluarga
tiriku. Melihat ibu tiriku menangis membuatku sedih. Aku benci merasakan ini,
kenapa dia menangis karena cemas padaku. Apakah itu tulus? Ya, aku tahu
itu tulus dan aku benci mengetahui kalau itu tulus. Membuatku jadi merasa
bersalah karena aku membenci mereka.
Apa yang harus aku lakukan? Menerima
mereka tidak semudah membalikkan telapak tangan.
“Yoora-ya,
apa Eonnimu sudah pulang? Eomma sangat cemas, dia pasti sangat sedih karena
perceraian Appa dan Eommanya.”
“Eomma,
tenanglah... Eonni sudah pulang dan sekarang dia sedang istirahat.”
“Eomma
tahu bagaimana sulitnya dia menerima ini semua, kalau bukan karena jalan yang
sudah di tentukan Tuhan, Eomma tidak akan mau merusak keluarga orang lain.”
Tangis itu, kenapa begitu tulus...
Rasa bersalah yang begitu besar membuatku
benar-benar ingin menghilang dari semua ini. Memang seharusnya aku tidak
kembali kemari, karena di sini bukan tempatku lagi...
Seperti dulu...
.......
26 januari 2009,
11:30 pm
Aishh...
Kenapa di sini masih tetap seperti dulu,
hah...
Gelap, aku benci gelap!
Aku mencoba mencari handphoneku untuk
menerangiku dengan panik, mencarinya di sela-sela kegelapan karena listrik di
rumahku mati. Menyebalkan kenapa harus di saat seperti ini, di saat aku sibuk dengan
membereskan barang-barangku.
Aku terdiam sejenak...
Menatap balkon kamarku yang kubuka yang
terlihat cukup terang karena bulan bersinar indah malam ini.
Aku melangkah dengan pelan menghampiri
balkon kamarku. Melihat cahaya lampu jalanan dan rumah yang berada tepat di
depan rumahku. Membuatku menjadi tenang. Perlahan air mataku kembali mengalir
pelan.
Oppa... aku takut dengan kegelapan ini. Tapi
karena ucapanmu, aku jadi berani. Hanya dengan melihat cahaya di sekitarku
membuatku menjadi tenang, apa lagi saat aku menatap langit. Aku tidak menyangka
kau yang begitu takut dengan gelap menjadi bersikap berani karena malu di
depanku.
“Eonni...” Panggil Yoora dengan senter di
tangannya.
“Ne...” Aku langsung menghapus air mataku
dengan cepat dan berbalik menatapnya yang berdiri di depan pintu kamarku.
“Boleh aku masuk?” Tanyanya.
Aku tersenyum kecil mengingat ucapanku
dulu yang melarangnya masuk tanpa izin dariku.
“Ne, silahkan...” Aku memberikan izin.
“Eonni, kenapa di sini sangat berantakan?
Apa Eonni sedang kesal?” Tanyanya yang bingung dengan keadaan kamarku yang
berantakan.
“Besok aku akan kembali ke Jerman.”
Jawabku.
Kali ini, sebelum aku pergi aku akan
mencoba untuk bersikap ramah padanya.
“Kenapa... kenapa begitu mendadak? Apakah
karena aku dan Eomma?” Tanyanya yang sedikit terkejut mendengar ucapanku.
“Aniyo, aku hanya rindu pada Eomma di
Jerman.” Aku beralasan. “Ah, dari mana saja tadi? Aishh... apa kau habis
berkencan?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Ne Eonni, untuk merayakan hari jadi kami
yang kedua.” Ucapnya pelan.
“Chukkae...” Aku tersenyum menatapnya,
kali ini benar-benar senyum yang tulus. Karena aku sudah mengikhlaskan
hubungannya dengan Donghae-oppa. Aku tidak ingin memaksakannya lagi.
Dia tersenyum tipis membalas ucapanku.
“Ah, kenapa tadi kau kemari Yoora-ya? Apa
ada yang ingin kau sampaikan?” Tanyaku.
“Ah, ne... tadi Appa menyuruhku kemari
karena kata Appa Eonni takut dengan gelap. Makanya aku membawakan senter ini.”
Tunjuknya pada senter yang di pegangnya dari tadi yang masih terus menyala
untuk menerangi kami.
“Gomawo...”
“Cheonman.” Balasnya. “Eonni...”
Aku menatapnya yang terlihat ragu untuk
melanjutkan ucapannya.
“Mwo?” Tanyaku penasaran.
“Aniyo...” Ucapnya cepat.
“Mwo? Kau membuatku penasaran Yoora-ya.”
Aku tersenyum dan mencoba memaksanya.
“Hmm... bisakah kita menjadi... saudara
seperti antara eonni dan dongsaeng?” Tanyanya ragu.
Aku terdiam sejenak, apa salahnya untuk
menjadi baik setelah membuatnya sedih. Lagi pula aku tidak akan bertemu lagi
dengannya setelah besok pagi kepergianku kembali ke Jerman.
Aku tersenyum menatapnya dan langsung
memelukknya. “Tentu saja, kenapa tidak.”
Aku merasa dia sangat terkejut dengan
pelukanku terlebih dengan sikap ramahku kepadanya, tapi dia tetap membalas
pelukanku.
“Eonni, apakah aku sedang bermimpi?”
Tanyanya tidak percaya.
“Aniyo, kau tidak bermimpi. Mianhae...
karena sejak datang kemari aku tidak pernah bersikap ramah padamu.” Aku
melepaskan pelukanku padanya.
Aku melihatnya menangis, lalu cepat-cepat
dia menghapusnya.
“Mulai besok, kalau kau ingin melambaikan
tangan kepada namjachingumu dari balkon ini. Lakukanlah, aku memberikanmu
izin.”
“Gomawo Eonni.” Dia tersenyum menatapku.
“Ini sudah sangat malam, tidurlah lagi.”
Aku menyuruhnya.
“Ne... ini senternya Eonni.” Dia
menyerahkannya kepadaku.
“Aniyo. Sebentar lagi pasti listriknya
akan menyala.” Aku menolaknya. “Bawalah untukmu Yoora-ya.”
“Bukankah Eonni takut dengan gelap?”
“Ne, tapi sekarang tidak lagi. Seseorang
membantuku untuk tidak takut dengan gelap, tapi dia sendiri sangat takut dengan
gelap.” Aku tersenyum mengingat Donghae-oppa.
Rasanya air mataku ingin keluar lagi...
“Cepatlah tidur...” Perintahku.
“Ne...” Dia langsung berbalik dan pergi.
“Selamat malam Eonni.”
“Selamat malam Dongsaeng.” Balasku.
Aku kembali menatap kearah jalanan dan
rumah yang ada di depanku...
Air mataku kembali mengalir...
Mulai saat ini...
Lambaian tangan itu...
Senyum itu...
Tawa itu...
Dan namja itu...
Bukan milikku lagi...
Semuanya bukan milikku lagi seperti
dulu...
Sekarang dia milik dongsaengku, Yoora-ya...
Semoga kalian bahagia...
*****
Park Yoora’s side
:
27 januari 2009,
11:50 am
Aku langsung
keluar dari kamar Hana-eonni karena sepertinya dia sedang ingin sendiri...
Tuhan...
Apakah senyumnya tulus...
Eonni, mianhae karena sudah membuatmu
jadi terluka begitu dalam...
Oppa, kenapa kau tidak mengatakan kalau
kau mengenal Eonni. Kenapa membuatku menjadi merasa sangat bersalah?
Apa dulu aku hanya pelarian bagimu?
Kenapa membuatku begitu mencintaimu? Lalu apa yang sekarang harus aku lakukan?
Melihat Eonni yang sedih seperti itu juga membuatku jadi sedih.
Eonni, apa kau benar-benar senang dengan hubunganku dengan
Donghae-oppa?
Flashback_
“Hana-ah,
di sini dingin. Ayo pulang.”
“Oppa, apa aku benar-benar terlambat?”
“Kenapa
kau tidak pulang? Semua orang sibuk mencarimu.”
“Apa
kalau aku pulang kau akan menjadi milikku?”
“Hana-ah,
kau bukan anak-anak lagi bersikaplah dewasa. Ini juga sulit untukku.”
“Dan
ini sangat sulit untukku. Pulang lah Oppa, kau hanya membuatku jadi ingin cepat
mati jika kau terus berdiri di depanku seperti itu.”
Apa yang terjadi diantara mereka? Apa
mereka saling mengenal?
“Hana-ah!
Kau harus pulang, semua orang cemas padamu, Appa dan Eommamu sangat cemas.”
“Eomma? Dia bukan Eommaku dia pencuri. Dia
merebut kebahagianku, kalau dia tidak merebutnya pasti saat ini aku masih bersamamu Oppa, seperti dulu...”
Plak!!
Aku terkejut dengan apa yang dilakukan
Donghae-oppa. Kenapa dia menampar Hana-eonni? Apa karena kata-katanya yang
mengatakan Eomma sebagai pencuri? Ini benar-benar membuatku bingung, tentang
apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka.
“Mianhae, kita tidak bisa seperti dulu lagi.
Aku sudah memiliki Yoora-ah, aku menyayanginya dan aku tidak ingin membuatnya
sedih hanya karena keegoisanmu, Hana-ah. Aku mohon jangan seperti ini.”
Kenapa namaku dibawa-bawa? Apa mereka
pernah saling...
Aku tak sanggup untuk melanjutkan
kata-kataku...
Apa itu mungkin? Kenapa aku tidak tahu?
“Apa
kau mencintainya? Apa dia begitu berarti
untukmu? Apa yang dia lakukan sampai kau begitu menyayanginya? Apa hebatnya dia
dari pada aku?”
“Dia
selalu ada di saat aku sedih karena harus kehilangan Appa. Dia mendukungku dan
membantuku untuk bangkit. Dimana kau saat itu, Hana-ah? Di saat aku memerlukan
bantuanmu dan perhatianmu, dimana kau saat itu?”
Mereka benar-benar...
Tuhan...
“Oppa, aku membencinya dan aku benar-benar
ingin membunuhnya. Agar kau tidak dapat melihatnya lagi.”
“Hana-ah...”
“Mwo? Kau ingin aku merestui hubungan kalian
berdua? Dia sama seperti ibunya, mereka sama-sama pencuri. Aku benci mereka.
Aku benci jika harus melihat mereka tersenyum. Aku benci karena aku sendirian
dengan semua orang yang tertawa mengelilingiku. Tidak ada yang peduli padaku,
kenapa aku harus peduli pada kalian semua, hah?”
Aku... aku pencuri? Aku pencuri? Mianhae...
Eonni, aku benar-benar tidak mengetahui ini semua...
“Aku menyayangimu, Hana-ah. Jadi jangan
seperti ini, melihatmu seperti ini juga membuatku terluka.”
“Kalau
begitu putuslah dengannya kalau kau ingin melihatku tersenyum kembali.”
Aku langsung berlari meninggalkan mereka, aku tidak sanggup
melihat mereka lagi, pelukan-pelukan itu! Kata-kata itu! Apa kau begitu
mencintaiku Oppa?
Flashback end_
Kenapa tadi aku harus mengikuti
Donghae-oppa yang pergi ke taman, kalau saja aku tidak mengikutinya aku tidak
akan merasa sakit seperti ini. Dan aku akan hidup dalam ketidaktahuan yang
membuatku semakin sakit. Kenapa aku harus berada di posisi seperti ini?
Kalau saja aku mengetahui ini dari awal
tentang mereka aku pasti tidak akan pernah mau memulai menyukaimu Donghae-oppa,
atau menerima cintamu. Eonni, maafkan aku? Aku benar-benar sudah terlanjur
mencintainya...
*****
Lee Donghae’s
side :
27 januari 2009,
00:45 am
Aku berjalan memasuki dorm dengan
malas...
Aku benar-benar lelah hari ini, lebih
lelah dari pada aku harus syuting sampai malam...
“Hae-ah, kenapa kau tidak menyapaku,
hah?” Tanya Eunhyuk yang marah karena aku tidak menyapanya saat masuk kedalam.
Aku menatapnya sedih...
“Hae-ah, ada apa denganmu? Kenapa kau
seperti habis menangis?” Tanyanya yang langsung jadi cemas.
“Aku, mencintainya tapi aku juga
menyayangi Yoora-ah. Bagaimana ini aku
sudah membuatnya menangis? Dia menangis karena aku. Hyuk-ah apa yang harus aku
lakukan.” Aku tidak bisa menahan tangisku lagi. Dan aku langsung menangis di
dalam pelukkan Eunhyuk-ah yang bersedia mendengarkan curhatku.
“Tenanglah dulu, kau membuatku jadi
bingung harus melakukan apa.” Ucapnya mencoba membuatku tenang.
“Hyuk-ah, aku mencintainya tapi aku marah
padanya karena dia meninggalkanku begitu saja dan pergi. Aku tahu dia terluka
karena perceraian kedua orang tuanya, tapi seharusnya dia tidak pergi begitu
saja harusnya dia bercerita padaku dan kami bisa selalu bersama. Dan sekarang
sudah terlalu rumit untuk memulai ulang semuanya.” Aku masih terus berbicara
membuat Eunhyuk-ah bingung mengatasiku.
“Hae-ah, kalau kau berjodoh dengannya kau
pasti akan bisa bersamanya. Jangan seperti ini, bagaimana kalau ada fans yang
melihatnya?” Kata Eunhyuk-ah lagi masih mencoba membuatku tenang, tapi sama
sekali tidak berhasil.
Tiba-tiba pintu dorm terbuka...
“Hae-ah ada apa?” Tanya Yesung-hyung
dengan cemas melihatku yang menangis. “Kau apakan dia Hyuk-ah?” Tanyanya galak
pada Eunhyuk-ah.
“Anio, aku... aku tidak melakukan
apa-apa.” Kata Eunhyuk-ah cepat langsung melepaskan pelukanku dan mendorongku.
Yesung-hyung masih menatapnya tidak
percaya.
“Bukan karena dia Hyung, aku hanya sedih
karena aku harus kehilangan yeoja yang
kucintai.” Aku langsung mengatakan masalah yang sebenarnya.
“Apa kau putus dengan Yoora-ah?” Tanya cemas.
“Anio, hanya saja aku menyukai yeoja lain
yang dulunya sangat aku sukai dan sekarang dia kembali lagi setelah lama
menghilang.” Jelasku lagi agar Hyungku ini mengerti permasalahan yang
sebenarnya terjadi.
“Aigoo, kenapa masalahnya begitu rumit?”
Dia sepertinya juga bingung dengan masalahku ini.
“Apa yang harus aku lakukan Hyung,
Hyuk-ah?” Aku meminta pendapat mereka.
Yesung-hyung langsung menghapus air
mataku dan menuntunku untuk duduk di sofa. Sementara Eunhyuk-ah ke dapur dan
mengambilkan air minum untukku. Mereka mencoba membuatku untuk tenang. Dan aku
juga sudah cukup merasa tenang.
Setelah itu aku langsung menceritakan
dari awal bagaimana kisahku dengan Hana-ah kepada Eunhyuk-ah dan Yesung-hyung.
Mereka mendengarkan ceritaku dengan baik dan memberikan komentar-komentar yang
cukup membuatku jadi lebih baik.walaupun mereka kurang yakin juga dengan
komentar mereka sendiri.
*****
Park Hana’s side
:
27 januari 2009,
09:50 am
Aishh... kenapa namja ini? Aku pikir
setelah semua yang terjadi tadi malam akan membuatnya menjadi lebih baik kenapa
dia jadi semakin bersikap seolah tidak mengenalku!
Bahkan untuk menjadi chinguku pun dia
tidak mau. Aishh... sombong sekali dia apa karena Super Junior sudah sangat
terkenal sampai membuatnya jadi seperti itu. Namja itu... baiklah kalau itu mau
mu!
Aku langsung mematikan handphoneku dengan
kesal karena Donghae-oppa tidak mau menjawab panggilan dariku. Apa dia sangat
sibuk hari ini? Atau karena dia memang marah?
Padahal hari ini aku akan kembali ke
Jerman dan aku mungkin tidak akan pernah kembali lagi kemari. Seoul, aku akan
merindukanmu nantinya...
Aku ingin melihat senyum itu untuk yang
terakhir kalinya...
Kau namja yang menyebalkan aku benci
padamu...
Tidak, Donghae-oppa aku mencintaimu...
batinku.
“Hana, ayo cepat pesawat sebentar lagi
akan take off.” Appa menyadarkan ku dari lamunan.
“Ne..” Aku mengikuti langkah Appa dari
belakang menunggu pesawat yang akan take off sebentar lagi.
Appa menemaniku untuk pulang ke Jerman
karena Appa ingin bertemu dengan Eomma. Katanya ada hal yang ingin di
bicarakan. Sekalian Appa ingin bertemu dengan rekan bisnisnya di Jerman.
Eomma tiriku di rumah karena harus
menemani magnaeku yang sedang sakit. Sementara dongsaengku, Yoora-ah sedang
kuliah karena hari ini dia ada ujian di kampusnya. Sebenarnya dia dan Eomma
tiriku sangat ingin mengantarku ke bandara tapi apa boleh buat mereka tidak
bisa.
Jadilah hanya aku dan Appa saja...
Sesuai permintaanku pada Appa, untuk
mencarikan aku tiket pagi untuk pulang ke Jerman. Aku mendapatkannya tapi entah
kenapa aku masih sulit harus meninggalkan negara ini. Apa karena aku masih
tidak ikhlas dengan hubungan Yoora-ah dan Donghae-oppa, mungkin.
Tapi aku akan mencoba untuk mengikhlaskan
hubungan mereka. Seiring berjalannya waktu aku yakin aku akan dapat dengan
mudah untuk mengikhlaskan hubungan mereka.
“Hwaiting...” Aku memberikan semangat
pada diriku sendiri untuk dapat mampu menghadapi ini semua. “Ini adalah yang
terbaik yang diberikan uhan untukku.” Tambahku lagi mencoba membesarkan hati.
*****
To
be continued...
Please
laeve your commentS
Gomawo
SF
Tidak ada komentar:
Posting Komentar