Welcome to My World

Selasa, 21 Agustus 2012

Fanfiction - You are The One [Part 1]

Title : You are the One
Author : Siti Fajriani (Shin Hyemi)
Genre : Romance
Cast : Lee Donghae, Park Hana, Lee Hyukjae, Kim Heechul, Park Yoora

Happy reading....

*****

Part 1
Park Hana’s side :
20 Januari  2009, 09:10 pm

Aku berdiri di balkon itu...
Sudah lama sekali rasanya aku tidak berdiri disini...
Aku berdiri dengan menyandarkan tanganku pada pagar besi balkon. Menatap malam yang dingin sekaligus indah dengan taburan bintang-bintang di setiap sudut langit.
Aku terdiam mengamati sebuah pemandangan yang membuat hatiku ngilu...
Di jalan itu...
Di depan rumah itu...
Kali ini aku tak mampu lagi untuk membendung air mataku...

*****


Desember, 1997

“Oppa... ayo kita bermain di rumahku.” Ajakku padanya yang sedang sibuk dengan tugas sekolahnya.
“Tunggu sebentar, karena aku harus mengerjakan tugasku dulu. Nanti Appaku akan marah kalau aku tidak menyelesaikannya.” Katanya tanpa menoleh kearahku.
“Aniyo, kau selalu saja sibuk dengan tugas-tugasmu. Aku benci padamu.” Aku langsung berlari keluar dari kamarnya.
“Hana-ya tunggu aku.” Teriaknya dari belakangku.
Dia mengejarku yang berlari keluar dari rumahnya.
Aku tetap berlari menuju rumahku tanpa memperdulikannya yang berteriak di belakangku memanggil-manggil namaku.
“Aishh... kau ini kenapa selalu saja merajuk, hah? Kalau aku sudah menyelesaikan tugasku, aku pasti akan mau menemanimu bermain.” Katanya yang sudah berdiri di depanku yang berhenti tepat di pintu masuk rumahku.
Aku menatapnya cemberut karena masih kesal. “Kau jahat.” Ucapku kesal.
“Ah, mianhae  Hana-ya, aku....”
“Donghae-ya...” terdengar suara teriakan dari arah rumahnya.
Kami berdua langsung menoleh kearah rumahnya yang sudah berdiri seorang Ahjussi di depan pintu rumahnya dengan wajah marah, Appanya Donghae-oppa, Mr.Lee.
Wajah Donghae-oppa langsung berubah cemas, dan aku juga jadi ikut cemas menatapnya. Aku tahu pasti Appanya akan marah padanya karena tugas sekolahnya yang belum dia selesaikan tadi.
“Aku harus segera pulang.” Ucapnya lemah sambil menundukkan kepala.
Aku menatapnya sedih dan merasa bersalah karena aku yang mengajaknya untuk bermain.
                Aku menatap punggungnya yang sudah menjauh dariku. Appanya masih tetap berdiri di depan pintu menunggunya.
Aku tahu Appanya pasti akan marah padanya, jadi aku langsung mengejar Donghae-oppa yang kini sudah sampai di depan pintu rumahnya dengan wajah yang masih  tertunduk karena merasa takut akan dimarahkan oleh Appanya.
“Ahjjusi... jangan marah padanya karena tadi aku yang memintanya bermain.” Ucapku memohon pada Appanya.
Appanya hanya terdiam dan menatapku lembut. “Aniyo, aku tidak marah padanya hanya saja seharusnya dia menolak permintaanmu.”
“Ne, dia datang padaku karena ingin menolak ajakanku karena aku marah dia mengejarku.” Aku menjelaskan permasalahan yang terjadi sebenarnya. “Dan seharusnya, Ahjjusi marah padaku bukan pada Oppa.” Lanjutku.
“Bagaimana mungkin aku marah pada anak yang begitu baik sepertimu, Hana-ya.” Kata Mr.Lee lembut kearahku.
Aku tersenyum menatap Mr.Lee. “Jadi, tolong jangan marah pada Oppa, Ajjushi.” Pintaku lagi.
“Ah, ne... aku tidak akan marah padanya. Sekarang lebih baik kalau kau pulang saja dulu, nanti Appa dan Eommamu mencari.” Mr.Lee menyuruhku untuk pulang kerumah.
“Ne, aku akan pulang. Tapi nanti aku bisa bermain lagi dengan Oppa, kan?” Tanyaku dengan penuh harap.
“Ne, tentu saja. Tapi setelah dia menyelesaikan semua tugasnya.” Dia berjanji.
“Baiklah aku pulang.” Ujarku dengan riang, aku menatap Donghae-oppa yang sekarang sudah menegakkan kepalanya dan sedang menatapku sambil tersenyum, seolah mengucapkan terima kasih karena aku sudah menyelamatkannya dari kemarahan Appanya. “Dag, Oppa...” Aku tersenyum menatapnya dan berjalan pergi menjauh tidak lupa untuk melambaikan tanganku kearahnya. “Ahjjusi, jangan marah lagi pada Donghae-oppa.” Teriakku dari jauh.
Mr.Lee hanya tersenyum menatapku.
Saat aku menutup pintu rumah aku langsung mengintip ke jendela rumahku untuk melihat apa Mr.Lee memarahi Donghae-oppa atau tidak. Aku menghela nafas lega kerena ternyata Mr.Lee tidak memarahinya dan aku masih terus melihat mereka sampai mereka hilang memasuki rumah.
.......
“Hwaaa...” Teriakku kencang.
Gelap, aku benci gelap...
Oppa kau dimana cepat datang, batinku sambil menangis ketakutan. Aku sangat membenci kegelapan, aku benci jika listrik di rumahku mati karena ada kerusakan dan ini sudah cukup sering terjadi.
Aku meringkuk di sudut kamarku sambil memeluk lututku erat. Oppa cepat datang...
Aku mendengar suara derap langkah kaki yang menaiki anak tangga.
KREKK...
Apa itu dia, aku benar-benar merasa takut. Semoga itu bukan hantu...
Tangisku sudah pecah dari tadi... kali ini tinggal isakan...
Aku melihat sebuah cahaya dan itu tepat menyorot ke arahku.
“Hana-ya...” panggilnya, suara yang selalu membuat hatiku tenang.
Dia datang Donghae-oppa ku datang, aku tersenyum senang menatap kearahnya.
“Oppa...” Panggilku dengan sedikit isakan tangis yang masih ada.
Dia langsung berlari menghampiriku dengan cepat.
“Mianhae, aku terlambat. Apa kau baik-baik saja?” Tanyanya cemas sambil memelukku yang duduk dengan erat.
“Ne, aku baik-baik saja Oppa, tapi kenapa kau lama  sekali aku takut.” ucapku.
“Mianhae, tadi aku sibuk mencari senter ini.” Tunjuknya pada senter yang sekarang di genggamnya erat. “Ayo, kita ke balkon.”  Ajaknya.
Aku mengikutinya dengan terus memegang tangannya erat, aku takut kalau dia pergi dariku. Kami duduk di ubin balkon dengan bersandar di besi-besi penyangganya. Dengan tangannya  yang masih terus menggenggam tanganku.
“Kemana Appa dan Eomma mu, Hana-ya?” Tanyanya membuka pembicaraan.
“Mereka sedang pergi begitu juga dengan Ahjumma yang menjagaku.” Ceritaku.
“Apa kau masih takut sekarang?”
“Aniyo, karena sudah ada Oppa di sampingku.” Aku tersenyum menatapnya.
Dia membalas senyumku dengan senyum manisnya yang sangat aku suka.
“Hana-ya, untuk mengurangi rasa takutmu kau hanya perlu keluar dari kamarmu dan berdiri di balkon ini.” Dia langsung memperagakannya dan berdiri dengan menghadap kearah jalanan yang berada di bawah kami.
Aku langsung ikut berdiri mengikuti apa yang dia lakukan.
“Lihat lampu-lampu di jalan itu dan rumahku, kau pasti akan merasa damai.” Ucapnya mencoba meyakinkanku.
“Kenapa aku harus melakukan itu? Kan kau selalu ada untukku, Oppa.” Aku menatapnya bingung.
“Hana-ya, aku tidak tahu apa aku akan bersamamu selamanya...”
“Yak! Oppa, kau akan selalu bersamaku sampai kapanpun. Aku akan menjadi istrimu nanti di masa depan.” Aku menatapnya kesal.
“Ne, aku tahu itu kalau kau akan menjadi istriku. Tapi bagaimana kalau listriknya mati saat aku sedang tidak ada di rumah?” Tanyanya memikirkan kemungkinan yang terjadi.
“Memangnya kau akan pergi kemana?” Tanyaku penasaran.
“Hmm... kerja? Atau aku harus ikut wajib militer?” Dia memberi contoh.
Aku mengangguk-angguk setuju. “Benar, lalu bagaimana?”
“Aish.. kau ini.” Dia langsung mengacak-acak rambutku dengan gemas. “Kau harus melakukan apa yang aku suruh tadi.” Lanjutnya.
Aku langsung memperagakannya, berdiri di depan balkon dan menatap lampu-lampu jalanan dan lampu yang ada di taman depan rumahnya. Aku merasa cahaya lampu-lampu itu membuatku merasakan damai dan menerangi kegelapan yang tadi aku rasakan. Lalu aku mengalihkan pandanganku menatap langit, indah dan damai.
“Kau benar Oppa. Ini membuatku jadi tidak takut lagi dengan dengan gelap.” Ucapku sambil tersenyum senang.
Tidak ada jawaban  darinya, aku langsung menoleh kesamping ke arahnya tadi berdiri, namun kosong. Aku langsung panik dan melihat ke belakangku yang gelap.
“Oppa... kau dimana?!” Teriakku. “Oppa... jangan tinggalkan aku?” Kini aku mulai menangis lagi, entah kenapa aku selalu begitu mudah untuk menangis apa lagi jika berhubungan dengannya.
“Oppa... hiks...”
“Aish... kenapa kau menangis, dasar babo!” Dia langsung datang menghampiriku dan menghapus air mataku yang mengalir, lalu menggenggam tanganku kembali.
“Kau...hiks.. kau, kenapa meninggalkanku sendiri, Oppa?” Tangisku. “Aku takut kalau kau pergi meninggalkanku. Jangan pernah lakukan itu lagi, Oppa.” Pintaku.
“Ne, aku tidak akan meninggalkanmu lagi.”
“Yakso...?” Tanyaku ingin memastikan.
“Ne, tentu saja.”
Aku tersenyum menatapnya dan mempererat genggaman tangannya...
“Ah, lampunya sudah hidup kembali, kalau begitu aku harus pulang sebelum Appa mencariku dan memarahiku.” Dia langsung melepaskan genggaman tangan kami.
“Dag Oppa... hati-hati...” Aku melambai kearahnya yang sekarang mulai menjauh dariku dan menuruni tangga dengan cepat.
Aku masih berdiri di tepi balkon dan melihat kebawah.
“Dag... Hana-ya...” Dia menatapku keatas.
Aku kembali melambaikan tangan kearahnya dan dia membalas lambaian tanganku lalu berlari memasuki rumahnya. Saat sampai di depan pintu dia kembali melambaikan tangannya, kebiasaan yang selalu kami lakukan saat dia pulang habis bermain atau belajar di rumahku.

*****

Lee Donghae’s Side :
20  Januari  2009, 09:10 pm

                Aku mengantarkan yeojachinguku pulang kerumahnya setelah seharian kami jalan-jalan mengelilingi kota Seoul. Karena jarang-jarang aku bisa kencan dengannya mengingat jadwalku yang begitu padat dengan berbagai macam show Super Junior, dan acara lainnya. Makanya aku sangat senang kami bisa kencan seperti ini, sudah lama sekali rasanya aku tidak bertemu dengannya.
Aku menoleh kearah yeojachinguku yang sudah berdiri di depanku dengan tersenyum manisnya. “Oppa, gomawo atas kencannya.” Ucapnya dengan malu-malu.
Aku membalas senyumnya. “Ne, kapan-kapan kita kencan lagi ya, aku benar-benar rindu padamu, Yoora-ya.” Kataku pelan.
“Dag, Oppa... aku masuk dulu.” Pamitnya.
Aku tersenyum senang dan melambaikan tanganku kearahnya yang mulai menjauh...
Deg!
Aku merasakan darahku berdesir, dan merasa ada seseorang yang sedang memperhatikanku. Aku mencoba melihat kesekelilingku dengan normal, aku tidak ingin orang memperhatikanku itu tahu kalau aku mencarinya.
Pandanganku beralih keatas balkon rumah yeojachingku...
Deg!
Aku kembali merasakan ada sesuatu yang aneh saat aku melihat seorang yeoja yang sedang berdiri di balkon itu. Ya, berdiri di balkon itu dengan tatapan yang terasa menghujam kearahku, marah.
Tuhan...
Itukah dia?
Orang yang dulu menghilang dari hidupku?
Orang yang dulu selalu membuatku hampir gila karena mencarinya?
Orang yang...
Aku terdiam saat melihat yeojachinguku berdiri di atas balkon bersama  yeoja itu dengan sedikit berbicara. Lalu dia mengalihkan pandangan ke arahhku dengan tersenyum senang dia melambai kearahku. “Oppa, saranghae...” Teriaknya dari atas balkon.
Aku terdiam tak membalasnya. Tapi pada akhirnya aku membalas lambaian tangannya dan tersenyum kaku melihatnya, lalu dengan sesegera mungkin aku memasuki rumahku untuk bertemu dengan Eomma yang pasti sudah menungguku dan untuk menghilangkan perasaan aneh yang tiba-tiba datang.
Aku memasuki rumah dan melihat Eomma yang sedang duduk santai sambil menonton TV. Setelah berbicara lama akhirnya aku memutuskan untuk pulang kembali ke dorm, walaupun Eomma melarangku karena sudah larut malam. Tapi aku beralasan kalau besok pagi aku ada jadwal. Dengan berat hati akhirnya Eomma mengizinkanku untuk kembali ke dorm.
Saat sampai di depan pintu mobilku aku kembali melihat kearah balkon rumah yeojachinguku. Sudah sepi, walaupun lampunya masih tetap menyala.
Yeojachinguku memang selalu berdiri dan melambaikan tangannya kearahku dari atas balkon setiap aku mengantarkannya pulang.
.......         
November, 2001

“Hana-ya, ada apa?” Tanyaku cemas melihatnya yang sedari tadi hanya terdiam dan tidak memperdulikan makanannya.
Dia langsung menatapku dan tersenyum. “Tidak ada apa-apa...” Jawabnya singkat.
Walaupun dia mencoba untuk terlihat biasa-biasa tapi aku yakin ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku. Terlihat jelas di wajahnya yang sedih, aku tahu karena aku sudah mengenalnya sejak dari kami kecil dulu.
“Ayo, makan itu...” Aku mengingatkannya, karena dia masih terus diam tanpa menyentuh makanannya.
“Ne...” Jawabnya malas.
Aku tidak ingin memaksanya untuk bercerita karena aku yakin jika dia siap dia akan mengatakannya langsung kepadaku.
“Oppa, kalau suatu hari aku pergi, apakah kau akan hidup dengan baik?” Tanyanya tiba-tiba.
Aku menatapnya bingung, merasa aneh dengan pertanyaannya yang tidak seperti biasanya.
“Tentu saja aku akan hidup dengan baik, memangnya kau siapa sampai harus membuat hidupku susah.” Aku mencoba menggodanya agar dia berteriak-teriak marah karena ucapanku seperti biasanya saat menjahilinya.
Tapi aku salah dia malah tersenyum kearahku. “Ah, aku senang mendengar ucapanmu, Oppa.”
Aku menatapnya semakin bingung, ada apa dengan yeoja ini. Apa dia salah minum obat, hah!
“Yak! Kenapa kau jadi begitu aneh, Hana-ya!” Teriakku kesal karena tidak dapat mengerti apa maksudnya.
“Apanya yang aneh, aku hanya bertanya hal wajar.” Jawabnya santai. “Dan aku senang karena jawabanmu, Oppa.” Dia masih terus tersenyum. “Oppa, apa kau tidak akan menungguku?” Tanya lagi.
Aku benar-benar kesal dengan pertanyaan-pertanyaan aneh yang di lontarkannya padaku dan aku balas menjawab asal semua pertanyaannya itu.
“Aniyo, aku tidak akan menunggumu. Aku akan mencari yeoja lain yang lebih cantik darimu. Kau tahu aku sangat dikagumi di sekolah ini.” Ucapku bangga.
Dia tersenyum namun dapat kulihat raut sedih yang coba dia sembunyikan dariku. Aku menang, batinku senang karena dapat membuatnya merasa sedih.
“Cepat selesaikan makanmu, sebentar lagi kita masuk.” Aku mencoba untuk membuatnya lupa dengan jawabanku tadi.
“Aku masih ingin lama-lama disini. Oppa, kau pergilah nanti kau terlambat masuk.” Dia menyuruhku meninggalkannya.
“Ah, ya aku lupa kalau hari ini kan kau hanya olahraga. Kalau begitu aku duluan.” Aku langsung berdiri dari dudukku karena sudah dari tadi aku menghabiskan makan siangku. Kami memang berbeda kelas.
Dia tersenyum tipis ke arahku masih terus memperhatikanku.
“Nanti tunggu aku di parkiran seperti biasanya ya.” Aku mengingatkannya.
“Hmm... Oppa hari ini aku akan pulang sendiri, karena nanti Eomma akan menjemputku.” Jawabnya.
Aku menatapnya sejenaknya, dan menghela napas. “ Baiklah, besok kan kita akan bersama lagi, atau bahkan nanti saat aku pulang dari sekolah dan ke rumahmu.” Aku tersenyum memikirkannya.
“Dag... Oppa...” Dia melambaikan tangannya kearahku dengan tersenyum manis, manis sekali. Membuatku hampir ingin membolos palajaran...
.......
20 januari 2009, 11:45 pm
Aku sudah sampai di dorm, dan dengan lelah aku langsung masuk ke kamar untuk istirahat. Aku menghempaskan tubuhku ke tempat tidurku menatap langit-langit kamar dengan sedih. Untungnya hari ini Teuki-hyung sedang tidak ada di dorm karena ada jadwal siaran di  sukira. Kalau dia ada pasti akan sangat cemas melihatku yang seperti ini.
Aku selalu ingat saat itu, setelah sikap aneh chinguku yang cukup membuatku bingung, akhirnya keesokan harinya semua terjawab sudah...
Tanpa terasa air mataku jatuh perlahan...
Kenapa...kenapa kau pergi meninggalkanku Hana-ya, tanpa memberitahuku kemana kau pergi. Kau tahu, kau sudah membuatku seperti orang gila karena kebingungan mencarimu. Meninggalkanku sendirian, dengan rumah yang kosong saat aku datang menjemputmu untuk ke sekolah.
Kau... benar-benar jahat dan itu sudah kelewatan. Kau tahu, sekarang aku benar-benar membencimu...
Aku menghapus air mataku dan langsung bangun dari tidurku dan menuju kamar mandi untuk mencuci muka serta bersih-bersih, karena besok aku akan sibuk dengan jadwal-jadwal latihan serta syuting. Mungkin dengan begini akan mudah untukku melupakan masa lalu itu...

                                                                                *****

Park Hana’s side :
20 januari 2009, 09:20 pm

Aku menoleh kebelakang melihat Yoora datang menghampiriku. Dengan cepat aku langsung menghapus air mataku yang mengalir perlahan.
“Eonni...” Sapanya sambil tersenyum manis melihatku.
“Apa yang kau lakukan disini?” Tanyaku sinis.
Dia menatapku bingung. “Ah, mianhae, Eonni. Aku hanya ingin melambaikan tangan kepada namja itu, dia adalah namjachinguku.” Dia tersenyum kembali dan melihat namja yang sedang berdiri di samping mobilnya. “Oppa, saranghae...” Teriaknya dari atas balkon sambil melambaikan tangannya.
Aku menatapnya tajam...
Namja itu membalas lambaian tangannya dan tersenyum membalasnya lalu masuk  kerumah yang ada di belakangnya. Tepat berada di depan rumahku...
Bahkan lambaian tangan itu bukan milikku lagi sekarang, batinku sedih.
Yoora menatapku sejenak. “Mianhae Eonni, karena masuk kamarmu tanpa izin. Sekarang aku akan keluar.” Ucapnya terdengar merasa bersalah.
Aku menatapnya sinis. “Apa kau sering melakukan hal itu di sini?” Tanyaku ingin tahu.
Dia terlihat sangat gugup. “Ne...” Jawabnya pelan sambil menunduk.
“Kenapa harus di kamarku?!” Tanyaku setengah berteriak.
“Mianhae Eonni, aku tidak bermaksud lancang. Dulu sebelum rumah ini di renovasi aku memang tidur di...”
“Mwo?!” Kali ini aku berteriak kepadanya, aku tahu dengan jelas maksud dari ucapannya.  “Seharusnya kalian meminta izinku lebih dulu untuk masuk kedalam kamar ini! Ini milikku! Dan aku tidak ingin ada orang lain yang masuk kemari dengan sesuka hatinya!” Aku melampiaskan rasa marahku.
Dia hanya tertunduk. “ Mianhae... Eonni...”
“Sekarang keluar dari kamar ini dan jangan pernah lagi untuk masuk tanpa izinku kemari.” Ucapku pelan namun tegas.
Dia langsung membungkuk dan kembali mengucapkan kata maaf, lalu menghilang di balik pintu.
Dia... aku benci pada yeoja itu, yeoja jahat yang sudah merusak hidupku. Dia sama saja seperti Eommanya yang merusak hidup Eommaku dengan mendekati Appa agar menikahinya.
Tuhan...
Kenapa aku harus merasakan sakit lagi, aku benci kalau aku harus di sini...
Melihat dia dan keluarganya yang perusak itu tersenyum bahagia membuat hatiku sakit. Dan sekarang dia mendekati namja yang kusuka, bahkan apa katanya tadi, namjachinguku?
Itu tidak mungkin...
Aku benar-benar merasa sakit di hatiku...
Kalau bukan karena Eommanya yang mendekati Appa dan membuat kedua orang tuaku bercerai. Aku yakin saat ini aku yang akan mengatakan namja itu adalah namjachinguku, bukan dia...
Tangisku kembali pecah, aku bersandar di pagar balkon. Dinginnya malam membuat hatiku  semakin terasa sakit.
Dia... merampas semuanya dariku...
Aku benci adik tiriku itu, aku bahkan tidak ingin menyebutnya adik tiri. Melihat senyumnya saja membuatku ingin muntah.
Eomma, apa seperti ini sakit yang kau rasa saat melihat Appa dengan yeoja lain?
Eomma, kenapa aku harus merasakan ini juga?
Aku... sakit...

*****

23 januari 2009, 10:35 am

                Sudah empat hari aku di Seoul setelah tujuh tahun lebih aku meninggalkan kota kelahiranku ini. Dengan membawa luka yang telah ditorehkan keluarga perusak itu kepadaku dan Eomma.
Sebenarnya kalau bukan karena Appa yang memaksaku datang karena dia sangat merindukanku. Aku pastikan aku tidak akan pernah kembali lagi ke negara ini. Semua hanya meninggalkan luka di hatiku. Apa lagi di rumah ini, di setiap sudutnya yang memiliki kenangan indahku bersama Eomma dan Appa.
Di tambah lagi dengan adanya seorang yeoja yang semakin merusak keinginanku untuk kembali lagi kemari nantinya.
Dulu, selalu Appa yang datang ke Jerman untuk melihatku dan Eomma kalau dia rindu padaku. Tapi karena sekarang Appa sibuk dengan bisnisnya jadi terpaksa aku yang datang ke rumah ini. Tadinya aku juga ingin bertemu dengan chinguku atau tepatnya namja yang ku sukai, Donghae-oppa. Tapi melihat situasi yang sekarang ini apa aku masih bisa bersamanya lagi seperti dulu.
Aku tidak tahu bagaimana reaksinya saat melihatku nanti. Yang pasti aku benar-benar merindukannya. Tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar, aku bahkan sudah hampir ingin menyerah untuk hidup ini. Kalau bukan karena Eomma yang menguatkanku.
Melihat keluargaku yang hancur...
Melihat karena aku tidak dapat melihat senyum, tawa dan merasakan genggaman tangan namja yang begitu aku cintai...
Meninggalkannya tanpa aku dapat menyampaikan alasannya...
Ini semua membuatku sakit...
Sangat sakit...
.......
23 januari 2009, 01:35 pm

Aku disini dan hanya duduk dengan bosan di balkon rumahku. Sambil menngingat kenanganku dengan Donghae-oppa.
Disini, di balkon ini, kami sering bersama...
Belajar...
Bermain...
Tertawa bahkan menangis...
Aku bahkan masih dapat merasakan hangatnya genggaman tangan saat dia mencoba menenangkanku saat sedih...
Aku ingin bercerita padanya tentang apa yang terjadi di keluargaku. Tapi aku tak mampu, aku malu melihat keluarganya yang begitu bahagia. Dan untuk pertama kalinya aku iri padanya. Padahal dulu kami selalu berbagi, bahkan orang tua. Karena orang tuanya sudah menganggapku sebagai anaknya dan begitu juga sebaliknya dengan orang tuaku yang sudah menganggap dia sebagai anak mereka sendiri...
Kami selalu bersama-sama...
Dimanapun kami berada, kami selalu mencoba untuk bersama bahkan di sekolah pun kami selalu bersama walaupun berbeda kelas dan aku selalu senang karena dia ada di dekatku.
aku rindu, aku rindu tertawa bersama dengannya...
senyum manis itu, aku rindu itu...
Aku ingin, sangat ingin menemuinya. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Karena saat ini dia bukan dia yang dulu aku kenal. Karena saat ini dia adalah seorang bintang terkenal. Seorang anggota dari grup musik boyband terkenal, Super Junior.
Aku baru tahu saat aku pulang kemari. Dan aku tahu saat aku bertanya kepada Appa tentang sahabat kecil sekaligus cintaku itu. Aku mencari sebanyak-banyaknya informasi tentang dia. Ternyata dia masih seperti dulu. Selalu jahil pada orang-orang disekelilingnya, tidak pernah bisa kalau harus makan sendirian, menyukai seafood, takut dengan kegelapan padahal dulu selalu mencoba menenangkanku kalau gelap, dan satu berita yang membuat hatiku ikut sakit saat aku membaca berita tentang kematian Appanya.
Tuhan...
Bagaimana dia bisa menjalani hidup ini tanpa ada Appanya. Pasti dia sangat sedih karena hal itu. Mianhae karena aku tidak ada saat kau harus merasakan sakit karena kehilangan itu, mianhae Oppa.
Aku keluar dari kamarku dan melihat Appa yang sudah pulang untuk makan siang dirumah dan sedang asyik bermain dengan adik tiri perempuanku yang paling kecil, yang berumur enam tahun, Park Minjoo. Aku akui dia memang gadis kecil yang manis tapi saat melihatnya yang tersenyum bersama Appa seperti itu membuatku sangat membencinya.
Itu adalah tempatkku, dasar pencuri!
“Hana-ah, kamu mau kemana?” Tanya seorang Ahjumma yang merupakan ibu tiriku.
Aku tidak menjawabnya dan hanya melangkah berjalan menuju pintu. “Appa, hari ini aku akan pulang malam. Karena aku akan bertemu dengan teman-temanku.” Pamitku pada Appa, tanpa menggubris Ahjumma yang bertanya padaku.
Jangan harap kalau aku akan menyukaimu, batinku.
Hari ini, bagaimana pun caranya aku harus bertemu dengan Donghae-oppa. Aku sudah tidak bisa menunggu lagi, karena aku benar-benar sudah merindukannya.
Aku berjalan menuju rumahnya dan menekan bel dengan berharap ada seseorang yang dapat membukakannya untukku.
Seorang Ahjumma yang sudah sangatku kenal membukakan pintu untukku.
“Eomma...” Aku tersenyum ramah menatapnya. Bagiku dia sudah seperti Eommaku sendiri, dan aku memang sudah terbiasa memanggilnya Eomma, karena permintaannya juga.
Dia menatapku bingung. Aku yakin dia pasti sudah lupa denganku, bayangkan saja sudah  tujuh tahun dia tidak melihatku.
“Eomma, apa Eomma lupa padaku?” Tanyaku sambil menunjuk diriku. “Ini aku Park Hana.”
Dia mencoba mengingatku dan lama-lama dia tersenyum menatapku. “Park Hana.” Dia langsung memelukku erat.
Aku membalas pelukannya. Aku merindukan Ahjumma ini, terlebih aku merindukan namja itu, anaknya Donghae-oppa.
Dia melepaskan pelukannya dan langsung menyuruhku untuk masuk kedalam rumahnya yang masih sama seperti dulu.
“Sayang sekali kau tidak bisa melihat Appa.” Ucapnya pelan, namun terdengar sangat sedih saat kami sudah berada di ruang keluarganya.
“Eomma, aku turut berduka cita untuk itu. Maaf, karena aku tidak bisa datang diacara pemakaman Appa.” Aku juga sedih.
“Ne, Eomma tahu kenapa kau tidak bisa datang. Apa masalah itu begitu berat sampai kau harus pergi meninggalkan Eomma di sini?” Tanyanya.
Aku tahu maksud pertanyaan itu, tentu saja aku sedih karena perceraian orang tuaku.
“Kau tahu Hana-ya, Donghae sangat sedih karena kau pergi meninggalkannya. Di tambah lagi saat Appa meninggal. Untung dia mempunyai teman-teman yang sangat baik yang selalu mendukungnya dan juga yeoja itu.” Ceritanya.
Aku terdiam. Yeoja itu? Apakah gadis perusak itu? Yoora?!
Aku benci membahas tentang yeoja perusak itu. Aku langsung mengalihkan pembicaraan, menjadikan Donghae-oppa sebagai topik utama ceritaku dan mencoba mengenyahkan pikiran Eomma tentang yeoja itu.
“Eomma, bisakah aku meminta alamat dorm Donghae-oppa? Aku sangat ingin bertemu dengannya?” Pintaku setelah kami banyak bercerita.
“Ne, tentu saja. Dia pasti sangat senang karena bertemu denganmu lagi.”
Dia langsung menuliskan sebuah alamat di selembar kertas lalu memberikannya kepadaku.
“Gamsahamnida... sebaiknya aku segera menemuinya, Eomma.” Aku mencoba untuk pamit pergi.
“Ne, hati-hati di jalan.”Dia tersenyum menatapku.
Aku berbalik dan langsung tersenyum senang...
Aku datang Oppa...
.......

23 januari 2009, 03:20 pm

Aku sudah berdiri di depan pintu dorm Super Junior, tempat Donghae-oppa tinggal. Aku menekan belnya sekali...
Tidak ada jawaban...
Apakah mereka  sedang tidak ada?
Kembali aku menekan bel...
Kali ini terdengar suara derap langkah seseorang yang tergesa-gesa menuju pintu.
Seorang namja yang kukenal melalui majalah muncul. Aku tahu dia Eunhyuk-oppa, teman dekat Donghae-oppa. Mereka itu sudah seperti ‘couple’.
Aku tersenyum ramah menatapnya yang terlihat sangat bingung dengan kedatanganku.
“Annyeong haseyo.” Ucapku pelan.
“Annyeong haseyo.” Balasnya dengan ragu. “Ada yang bisa aku bantu?” Tanyanya.
“Apakah Donghae-oppa ada? Aku adalah chingunya.” Aku masih terus tersenyum menatapnya.
“Ah... aniyo, dia sedang tidak ada di dorm. Dia ada jadwal syuting.” Jawabnya. “Oh, aku lupa. Ayo silakan masuk.” Kali ini dia tersenyum menatapku.
“Aniyo...” Aku menolaknya. “Aku pikir dia ada di dorm. Ya sudah aku pulang saja.” Aku tersenyum tipis menatapnya, kecewa.
“Adakah pesan yang ingin kau sampaikan? biar nanti aku yang sampaikan padanya kalau dia sudah pulang.” Tawarnya.
“Aku akan datang lagi besok. Annyeong...” Aku langsung membungkuk, kemudian berbalik dan berjalan dengan malas.
Kenapa dia tidak ada? Apa dia begitu sibuk? Kenapa saat itu dia ada waktu dengan yeoja itu?
Aku mendengus kesal!
Padahal aku hanya ingin melihat senyumnya yang menyambutku datang. Aku juga ingin meminta maaf karena pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa padanya.
Hah... aku benar-benar sudah tidak sabar melihat senyumnya...

                                                                                *****

Lee Donghae’ side :
23 januari 2009, 07:45 pm

Aku memasuki dorm dengan semangat karena aku ingin tidur, hari ini benar-benar melelahkan setelah seharian aku harus syuting sebuah drama.
“Donghae-ya...” Eunhyuk datang dan mengejutkanku saat aku baru masuk ke dalam dorm. Apa yang sedang dia lakukan di sini?
Aku menatapnya bingung, karena melihatnya yang begitu ceria. Apa dia habis menonton yadong sampai membuatnya jadi begitu senang.
“Mwo?” Tanyaku penasaran.
“Aish... kau ini, memiliki chingu secantik itu tapi tidak pernah mengatakannya padaku.” Ucapnya sambil tersenyum-senyum tidak jelas.
Chingu? Chingu siapa? Apa yeojachinguku? Pikirku sambil menterka-terka. Tidak mungkin yeojachinguku, mereka kan sudah kenal dia, lalu siapa?
“Hmm... Hyuk-ah, aku benar-benar tidak tahu apa yang kau bicarakan.” Jujurku.
“Kau masih malu-malu.” Godanya.
Aku menatapnya kesal bukankah dia yang saat ini terlihat begitu malu-malu? Aish... chinguku satu ini...
“Aku benar-benar tidak mengerti Hyuk-ah. Bisakah kau berbicara yang jelas.” Pintaku. “Siapa namanya? Sampai-sampai dia mengaku kalau dia adalah chinguku. Semua chinguku sudah aku kenalkan padamu. Jadi yang ini chingu yang mana?” Tanyaku beruntun.
“Aigo... aku lupa menanyakan namanya. Yang pasti dia seorang yeoja yang sangat manis. Aish... senyumnya...” Dia sepertinya sangat menyukai yeoja itu dan membuatku jadi benar-benar penasaran.
“Hyuk-ah, kita bicarakan saja nanti ya hari ini aku benar-benar lelah, jadi aku ingin istirahat dulu sekarang.” Pintaku dan langsung meninggalkannya yang masih berdiri sambil tersenyum-senyum tidak jelas.
Aku hanya dapat menggeleng pasrah melihat kelakuan chinguku itu...
Tapi siapa yeoja itu? Dia bahkan sudah membuat Eunhyuk jadi sampai seperti itu. Apa pesonanya dahsyat sekali membuat orang langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.
                Aku tidak tahu dan aku tidak peduli yang aku pedulikan adalah aku harus isirahat hari ini karena besok jadwalku akan banyak dan padat.
.......
24 januari 2009,  07:45 pm

“Donghae-ya...” Kali ini Heechul-hyung datang menyambutku saat pulang ke dorm dengan senyum manisnya.
Ada apa lagi kali ini?
“Ada apa Hyung? Sepertinya hari ini kau sangat bahagia.” Ujarku dan langsung berjalan menghampiri sofa ruang tamu.
Heechul-hyung datang menghampiriku dan ikut duduk disebelahku.
Aku menoleh kearahnya yang ternyata dia sedang menatapku.
“Mwo?” Tanyaku jadi panik karena di tatap seperti itu. “Hyung, kau kenapa? Apa tadi ada benda keras yang jatuh dan mengenai kepalamu saat kau syuting?” Tanyaku cemas.
Dia melotot kearahku.
“Aku hanya bercanda.” Ucapku cepat sebelum dia marah padaku.
Dia langsung bersikap normal tapi masih terus menatapku.
“Aigo... ada apa Hyung?” Tanyaku jadi kesal.
“Kau, sebagai dongsaeng yang baik kenapa kau tidak pernah cerita padaku kalau kau memiliki chingu yang begitu mempesona.” Jelasnya.
Aku menatapnya bingung. Sepertinya ini sudah pernah terjadi, aku merasa de javu.
“Aish... apa dia yeojachingumu yang baru?” Tanyanya lagi karena tadi aku tidak menjawab pertanyaannya.
Aku tersadar. Tidak, ini bukan de javu. Aku memang pernah mengalaminya. Yak! Saat Eunhyuk menyambutku pulang. Apa kali ini yeoja itu lagi? Apa dia adalah fansku? Kenapa dia datang lagi? Apa begitu inginnya untuk bertemu denganku? Siapa yeoja misterius itu?
“Donghae-ya...”
Tiba-tiba pintu dorm terbuka dan muncullah ‘couple’ku dengan senyum sumringahnya.
“Hei Eunhyuk-sshi! Kenapa kau tiba-tiba datang kemari, hah?” Tanya Heechul-hyung galak. Hyungku satu ini memang suka memanggil orang dengan formal kecuali padaku dan U-know Yunho.
“Aishh... Hyung ini. Kita kan super junior, jadi apa salahnya kalau aku kemari.” Dia tersenyum dan langsung menghampiriku yang sedang duduk, sekarang dia duduk di sampingku juga.
“Apakah yeoja manis itu datang lagi hari ini? Karena kemarin dia mengatakan akan datang lagi.” Dia bertanya kepadaku.
Belum sempat aku menjawabnya, tiba-tiba Heechul-hyung langsung bicara...
“Hah, apa kau juga sudah bertemu dengan yeoja cantik itu, Hyuk-sshi?” Tanyanya penasaran.
“Ne, apa Hyung juga?” Eunhyuk balik bertanya.
“Ne...” Jawab Heechul-hyung dengan senyum mengembang.
“Dia sangat manis kan, Hyung?” Eunhyuk meminta pendapat.
“Bagiku dia sangat cantik, Hyuk-sshi.” Pendapat Heechul-hyung
Dan aku pun terjepit di antara dua orang aneh ini, yang membicarakan seorang yeoja yang tidak aku kenal siapa tapi malah mencariku.
Sudah jam berapa ini, lebih baik kalau aku menghubungi yeojachinguku saja. Dari pada aku harus mendengarkan cerita mereka berdua yang tidak aku mengerti sama sekali.
“Yak! Kau mau kemana Hae-ya?” Tanya Eunhyuk langsung saat aku hendak berdiri.
“Aku tidak tahu apa yang kalian katakan, dan aku juga harus menghubungi yeojachinguku. Dia pasti sedang menunggu telpon dariku.” Kataku dengan yakin.
“Masa kau lupa kalau kau punya chingu secantik itu.” Heechul-hyung menatapku tidak percaya.
“Aku benar-benar tidak ingat, Hyung. Aku yakin dia pasti ELF.” Aku mencoba meyakinkan mereka.
“Kau harus bertemu dengannya. Aku yakin dia bukan ELF seperti katamu.” Balas Eunhyuk.
“Dan dia bilang besok dia akan datang lagi kemari.” Heechul-hyung mengingatkan.
Aku menatapnya tidak percaya. Siapa yeoja itu? Aish... sepertinya dia sangat tergila-gila kepadaku, aku tersenyum bangga.
“Kenapa kau senyum-senyum, Hae-ya?” Tanya Eunhyuk-ah cemas.
“Aniyo, aku kangen pada yeojachinguku. Dag...” Aku langsung beranjak dari dudukku dan langsung masuk ke dalam kamarku.
Yeoja misterius itu, aku akan menemuinya besok. Untungnya besok jadwalku sedang kosong siangnya. Siapa dia sampai membuat Eunhyuk dan Heechul-hyung jadi begitu menyukainya, sampai mereka jadi jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihatnya. Apa kalau aku melihatnya aku akan jatuh cinta juga?
......
24 januari 2009,  02:25 pm

Aku sedang sibuk dengan laptop saat aku mendengar bunyi bel. Aku langsung meminta Eunhyuk untuk membukakan pintu karena aku masih sibuk dengan permainan game yang ada di laptopku.
Lalu dia kembali dengan cepat dan langsung mengguncang-guncang bahuku.
“Mwo?” Teriakku kesal karena ulahnya aku jadi kalah main game.
“Dia datang, yeoja manis itu datang.” Ucapnya antusias.
“Kenapa tidak kau suruh masuk, Hyuk-ah?” Tanyaku bingung.
“Dia ingin berbicara denganmu di luar, sepertinya sangat rahasia sekali.” Kata Eunhyuk. “Hati-hati Hae-ya, aku jadi cemas melihatnya.”
Aku bingung dengan perubahan sikap chinguku ini. Dia senang karena yeoja itu datang tapi tetap bersikap berhati-hati. Aku langsung beranjak dari dudukku dan mematikan laptopku langsung. Aku jadi penasaran dengan yeoja itu.
Aku berjalan mendekati pintu, aku keluar dan melihat seorang yeoja yang sedang membelakangiku.
Deg!
Darahku kembali berdesir...
Ada apa ini...
Yeoja itu berbalik menghadapku dengan tersenyum...
Apakah aku sedang mimpi...

                                                                                *****

Park Hana’s side :
24 januari 2009,  02:25 pm

Hari ini adalah hari ketiga aku datang ke dorm Super Junior yang sekaligus dorm Donghae-oppa ku.
Seperti biasa aku kembali menekan belnya...
Hari ini aku berharap dia ada. Setelah dua hari yang lalu aku gagal bertemu dengannya...
Kira-kira hari ini siapa lagi yang akan membukakan pintu untukku.
Pintu terbuka dengan cepat dan aku kembali kecewa karena bukan Donghae-oppa yang membukakannya, namun Eunhyuk-oppa dengan senyum manisnya.
Dan seperti biasa juga aku bertanya apa Donghae-oppa ada di dorm, dan kali ini aku dapat tersenyum senang karena Donghae-oppa memang ada di dorm. Aku meminta Eunhyuk-oppa untuk memanggilnya keluar sebelum dia memintaku untuk masuk ke dalam.
Aku menunggu di luar dorm dengan perasaan cemas yang bercampur dengan senang. Senyum itu... aku akan melihatnya lagi sekarang...
Sebentar lagi...
Aku mendengar suara langkah kaki dan aku langsung membalikkan badanku kearahnya...
Senyumku mengembang saat aku  melihatnya berdiri di depanku setelah tujuh tahun kami tidak pernah bertemu.
Aku masih terus tersenyum manatapnya lama. Melihat dari ekspresinya aku tahu dia sangat terkejut dengan kedatangnku. Apa dia juga sudah lupa dengan wajahku?
“Oppa, apa kau masih ingat denganku? Ini aku Park Hana.” Aku mencoba membuatnya ingat kembali padaku, seperti yang kulakukan pada Eommanya.
“Kenapa kau kembali?”
Deg!
Aku terdiam...
Senyumku langsung hilang...
Apa itu yang seharusnya dia ucapkan saat melihat kedatanganku pertama kali setelah lama tidak bertemu?
Harusnya... harusnya dia mengatakan, aku merindukanmu Hana-ya atau kenapa kau pergi, kau membuatku gila...
Tapi kenapa kalimat itu yang pertama kali dia ucapkannya kapadaku saat bertemu untuk pertama kalinya setelah berpisah lama.
Aku hanya dapat diam, tidak mampu berkata...
“Kenapa kau kembali setelah lama menghilang? Aku pikir kau sudah lupa padaku!” Ucapnya sinis.
Hatiku... hatiku sangat sakit mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya. Apa dia begitu marah padaku?
Aku...
“Oppa, apa kau marah padaku?” Tanyaku pelan.
“Marah? Tentu saja aku marah. Benci? Tentu saja aku benci. Kau meninggalkanku begitu saja setelah tujuh tahun lebih, lalu kau datang kembali seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Kenapa kau berpikir itu mudah, hah!” Teriaknya padaku meluapkan semua kemarahannya kepadaku.
“Mianhae Oppa, saat itu aku memang benar-benar tidak bisa menjelaskan masalahku padamu.” Ucapku mencoba meredakan marahnya.
“Lalu apa sekarang kau ingin menjelaskannya padaku?” Tanyanya.
Aku hanya menganggukkan kepala.
“Aku tidak butuh penjelasanmu. Bagiku semua sudah jelas tanpa harus di jelaskan. Aku sudah melakukan semua permintaanmu dan aku sudah hidup bahagia. Kenapa kau kembali dan ingin merusaknya lagi?”
“Aniyo, aku...”
Ya, aku ingin merusaknya, batinku.
Bagaimanapun juga aku tidak akan membiarkanmu dengan yeoja itu, dia pencuri karena dia telah merebut tempatku, dia sama seperti ibunya yang merebut tempat Eomma. Mungkin Eomma bisa mengikhlaskannya tapi tidak untukku.
“Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi.” Ucapnya pelan tanpa melihat kearahku.
Aku menatapnya tidak percaya. Tangisku sudah ingin pecah, namun sebisa mungkin aku menahannya. Jangan menangis, pintaku.
“Oppa, apa kau tidak merindukanku?” Tanyaku dengan suara yang sudah serak karena menahan tangisku.
Dia hanya terdiam tidak menjawab pertanyaanku.
“Oppa, apa kau hidup bahagia tanpaku?”
Dia kembali diam.
Aku sudah tidak mampu untuk dapat berdiri lagi. Aku langsung jatuh berlutut di lantai dengan air mata yang mulai jatuh membasahi kedua pipiku.
“Oppa, apa kau sudah menemukan yeoja cantik untuk menggantikanku?” Aku masih terus bertanya padanya yang masih tetap berdiri tidak memperdulikanku. Walaupun aku tahu jawaban dari pertanyaanku itu. Tentu saja aku sudah tahu!
“Apa kau benar-benar tidak menungguku? Kenapa... hiks... kena...”
Tangisku benar-benar pecah kali ini...
Tuhan...
Kenapa ini terasa begitu menyakitkan? Aku benci rasa sakit ini...
Tolong hilangkan rasa sakit ini, beri aku kekuatan agar dapat berdiri dengan tegar...
Dia masih terus diam, membuat hatiku jadi semakin sakit karenanya...
Sebisa mungkin aku mencoba untuk berdiri dan langsung menghapus air mataku.
“Sepertinya kau benar-benar hidup bahagia Oppa. Pasti yeoja itu menjagamu dengan baik.” Kataku masih dengan suara yang berat.
 Aku mecoba untuk tegar...
Apa aku benar-benar tidak bisa mendapatkannya lagi?
Apa aku harus menyerah seperti yang di lakukan Eomma...
“Aku... merindukanmu, Oppa.”
“Mianhae, tapi aku tidak. Sejak kepergianmu, aku sudah menata ulang hidupku kembali. Kau yang memintaku untuk tidak meninggalkanmu, tapi kenapa kau yang meninggalkanku, hah!” dia masih berteriak.
Jangan berteriak seperti itu, bukankah dulu kau selalu berbicara pelan padaku dengan wajah bahagia dan senyum yang selalu mengiasi wajahmu. Kenapa sekarang berteriak.
“Pulanglah, aku tidak ingin melihatmu lagi.”
Aku terdiam tubuhku terasa membeku. Dia mengusirku? Sebegitu bencinya dia padaku?
Aku sudah tidak memiliki keberanian lagi untuk menatap wajahnya. Mungkin, aku harus mengikhlaskannya, walaupun itu sulit...
Aku berbalik dan melangkah pergi dengan pelan, seiring dengan kepergianku air mata mulai kembali membasahi kedua pipiku.
Sakit...

                                                                                                *****

Lee donghae’s side :
24 januari 2009,  02:45 pm

“Hae-ya... ada apa? Kenapa kau menangis?” Tanya Eunhyuk yang cemas melihatku saat kembali masuk ke dalam.
Aku tidak menggubrisnya, hanya menghapus air mataku dan duduk dengan lemas di sofa.
Eunhyuk masih terus mengikutiku dari belakang.
“Aishh... bicaralah, kau membuatku panik.” Pintanya memaksa. “Siapa yeoja itu? Kenapa dia sampai membuatmu menangis seperti ini?” Tanyanya lagi masih dengan sejuta rasa penasaran.
Kenapa aku bisa berkata begitu? Aku benar-benar membuatnya sakit. Mianhae Hana-ya, aku tidak bermaksud kasar. Aku hanya kesal...
Aku juga merindukanmu...
Sangat merindukanmu, tapi tidak serindu saat pertama kali kau pergi meninggalkanku. Karena sudah banyak hal yang dapat mengurangi rasa rinduku padamu. Kenapa kau kembali? Kenapa kau kembali di saat semua kehidupanku sudah tertata dengan rapi? Aku tidak ingin menyakitimu?
Walaupun kau pergi, dan itu sudah lama berlalu tapi kau tetap selalu aku ingat. Kenapa kembali?
Kita tidak akan mungkin menjadi seperti dulu lagi, semuanya sudah berubah. Dan tidak semudah itu untuk merubahnya kembali lagi menjadi seperti dulu...
“Hae-ya...” Panggil Eunhyuk menyadarkanku dari lamunan.
Aku menatapnya lama.
“Ceritalah, aku akan mendengarkan semuanya.”
Aku menghapus air mataku yang masih keluar dan dengan perlahan aku mulai menceritakan kepadanya dari awal tentang semua yang terjadi di antara aku dan Hana.
“Lalu, apa hubungannya dengan yeojachingumu, Hae-ya?” Tanya memotong ceritaku.
“Aku rasa mereka saudara tiri.” Jawabku pelan.
Ya, tentu saja mereka saudara tiri. Jadi, yeoja yang aku lihat saat di balkon itu adalah...
Tuhan, mereka saudara tiri...
Kenapa aku baru menyadarinya, saat Yoora bercerita tentang keluarganya. Ahjjusi yang di ceritakannya pasti adalah Appanya dan sekaligus Appa Hana. Setiap aku datang ke rumahnya aku memang tidak pernah bertemu dengan Appanya. Aku pikir Yoora tetangga baruku...
Babo! Kenapa aku baru menyadarinya...
“Hae-ya, kau harus menemuinya dan minta maaf, pasti saat ini dia sangat sedih sekali.”
“Hyuk-ah, aku ingin istirahat dulu. Aku benar-benar masih bingung dengan semua ini.” Aku langsung beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamarku, meninggalkan Eunhyuk yang masih ingin mendengar ceritaku...
Mianhae Hana-ya...
Ini juga sangat menyakitkan untukku...
Kita tidak akan mungkin bisa bersama lagi, karena aku sudah memiliki orang lain dihatiku, Yoora-ya...

                                                                                *****

Park Hana’s side :
24 januari 2009,  08:55 pm

“Oppa, kalau suatu hari aku pergi, apakah kau akan hidup dengan baik?”
 “Tentu saja aku akan hidup dengan baik, memangnya kau siapa sampai harus membuat hidupku susah.”
 “Oppa, apa kau tidak akan menungguku?”
 “Aniyo, aku tidak akan menunggumu. Aku akan mencari yeoja lain yang lebih cantik darimu. Kau tahu aku sangat di kagumi di di sekolah ini.”

Air mataku kembali mengalir di sudut-sudut mataku...
Ternyata kau benar-benar hidup bahagia Oppa, dan mendapatkan yeoja lain. Tapi, apa dia terlihat lebih cantik dariku di matamu?
Aku tahu pilihanmu tidak akan pernah salah, tapi kenapa di mataku dia adalah yeoja yang jelek dan jahat? Aku membencinya Oppa, tidak bisakah kau meninggalkannya dan kembali kepadaku?
Aku tahu sebelumnya kita memang bukan sepasang kekasih tapi harusnya kau tahu Oppa kalau kita di takdirkan untuk selalu bersama. Bukankah aku yang akan menjadi istrimu nanti? Kau bilang aku yang akan menjadi istrimu, lalu kenapa kau tidak menunggguku, Oppa. Apa aku pergi begitu lama?
Butuh waktu yang lama bagiku untuk dapat kembali menjadi seperti aku yang dulu lagi. Perceraian kedua orang tuaku benar-benar membuatku gila. Kehidupan yang selalu bahagia, di kelilingi orang yang di sayang, rasa sayang dan perhatian yang selalu terpusat kepadaku. Lalu tiba-tiba semuanya hilang. Kebahagianku hilang, aku benci dengan orang yang selalu bahagia dan tersenyum di depanku. Aku benci mereka...
Setelah aku dapat menerima semuanya, kenapa aku harus merasakan sakit lagi karena harus kehilanganmu, Oppa. Apa aku terlalu banyak berharap padamu?
Aku tahu kesalahanku, tapi tidak bisakah kau memaafkanku sekali ini saja karena sudah menghilang dari hidupmu. Tolong kali ini saja, maafkan aku...
Aku sudah sangat merasakan dingin di tubuhku. Sudah dari tadi aku duduk di ayunan taman ini. Sejak pulang dari dormnya...
Aku tidak tahu harus kemana lagi, kali ini aku benar-benar merasa sendirian...
Tidak ada Eomma, Appa, Chingu, dan kau Oppa...
Aku sendiri...
Kedinginan...
Di taman ini...
.......
24 januari 2009,  09:57 pm

Aku benci harus pulang ke rumah yang dulu sangat aku cintai ini. Di rumah ini, saat ini di penuhi dengan orang jahat yang bermuka dua. Mereka semua pencuri, karena mencuri kebahagian keluargaku.
Aku membuka pintu dengan malas, dan langsung dapat melihat Appa dengan pencuri-pencuri itu sedang berkumpul. Aku menatap sinis ke arah yeoja yang sedang bermain dengan adiknya itu. Kau sama seperti ibumu! Kalian sama saja!
“Hana-ya, dari mana saja? Kenapa baru pulang?” Tanya Appa saat melihatku masuk.
“Ini sudah malam, cepatlah makan nanti kau akan sakit.” Kata Ahjumma yang itu mencoba mencari perhatian.
Semua orang juga tahu ini sudah malam, apa kau pikir aku buta? Ucapku dalam hati dengan manatapnya sinis.
“Aku dari rumah chinguku, Appa.”  Jawabku dengan senyum manis kearah Appaku. “Aku sangat lelah, aku ingin istirahat.” Aku langsung melangkah menuju tangga untuk sampai ke kamarku.
Aku tahu mereka semua menatapku aneh, tapi aku tidak memperdulikan tatapan mereka. Kenapa aku harus peduli kepada pencuri-pencuri itu.
Aku menyandarkan tanganku               di pagar besi balkon kamarku sambil menatap jalanan dan rumah yang ada di depanku saat ini dengan sedih.
Oppa, aku merindukanmu...
Apa aku harus mengikhlaskanmu dengan yeoja pencuri itu?
Tentu saja tidak, mungkin tadi kau sangat terkejut melihat kedatanganku secara tiba-tiba.
Aku yakin kau juga sangat merindukanku, kita selalu memiliki rasa yang sama, tapi kenapa kau tidak menungguku, Oppa?
Apa yeoja itu menggodamu? Dia kan sama seperti Eommanya.
Aku mencoba untuk membesarkan hatiku, aku tidak ingin menangis lagi kalaupun aku menangis aku ingin aku menangis bahagia karena aku mendapatkanmu. Aku akan mendapatkanmu, Oppa!
Aku tidak akan membiarkanmu dengan yeoja pencuri itu!
Aku akan merebutmu seperti ibunya yang merebut tempat Eomma!
Aku akan membalaskan rasa sakit itu...
Aku akan tetap bertahan sampai aku benar-benar lelah dan menyerah...
Aku yang akan menjadi pendampingmu, istrimu seperti janji kita dulu....
                               
                                                                                *****

Lee Donghae’s side :
26  januari 2009,  01:17 pm

Aku datang ke rumah itu, ke rumah yeojachinguku karena hari ini dia mengajakku untuk kencan dan juga bertepatan pada hari jadi kami yang kedua. Aku tidak menyangka kami sudah pacaran selama ini. Aku memarkir mobilku di depan rumahnya dan sekilas melirik kearah atas balkon yang ternyata kosong.
Sudah dua hari sejak masalah itu terjadi. Dia masih juga datang ke dorm, meminta maaf atas semua yang sudah dia lakukan padaku. Sejujurnya tidak sulit bagiku untuk memaafkannya, hanya saja aku benci harus merasakan perasaan seperti dulu lagi. Sekarang sudah ada Yoora, aku sayang padanya dan aku tidak ingin menyakitinya. Dia yang selalu ada, mengisi hari-hariku saat aku terpuruk dulu dan dia yang sudah menggantikan sosok Hana di hatiku secara perlahan.
Sampai sosok itu sudah mulai memudar di ingatanku. Namun tetap ada...
Dan sekarang  dia kembali, membuatku menjadi ingat semua tentangnya seperti dulu.
Sekarang dia kembali dan memintaku menjadikannya seperti sosok yang dulu di hatiku, aku tidak bisa mengubah semuanya semudah itu. Semua butuh proses dan aku juga yakin kalau hanya Yoora yang akan menjadi takdirku. Sejak Hana pergi meninggalkanku aku tahu dia bukan lagi takdir yang di berikan Tuhan untukku.
“Oppa... apa kau sudah lama menunggu?” Tanya yeojachinguku menghampiriku dengan senyum manis yang selalu menghiasi wajahnya.
“Aniyo, aku juga baru datang. Apakah kita bisa langsung pergi?” Tanyaku.
Dia hanya mengganggukkan kepala.
“Ayo, aku harus minta izin pada orang tuamu.”
“Appa sedang tidak ada di rumah dan Eomma sedang pergi. Yang ada hanya Eonni saja.” Katanya memberitahuku.
“Apa kita perlu meminta izinnya?” Tanyaku berbasa-basi.
“Sepertinya tidak perlu. Sudah ayo kita pergi.” Ajaknya dengan antusias.
“Yoora-ya, kenapa kau tidak pernah bercerita tentang Eonnimu?” Tanyaku membuka pembicaraan saat kami sedang ada di perjalanan menuju cafe tempat biasa kami kencan.
“Aku sudah pernah menceritakannya padamu, Oppa.” Katanya.
“Oh ya, kenapa aku tidak ingat.” Aku benar-benar tidak ingat kalau dia pernah bercerita tentang Eonninya. “Bisakah kau bercerita lagi padaku?” aku memintanya.
“Dia baru kembali dari Jerman setelah tujuh tahun pergi, dan ini baru pertama kalinya aku bertemu dengannya.”
Aku menatapnya bingung, sebenarnya aku sudah tahu semuanya, aku hanya ingin tahu dari versinya saja tentang Hana.
“Kau pasti bingungkan Oppa. Dia sebenarnya adalah saudara tiriku dari pihak Appa karena Eomma menikah lagi dengan Appa.” Dia menjelaskan.
“Apa dia baik padamu?” Tanyaku ingin tahu.
“Aniyo, aku tahu bagaimana perasaannya tentang perceraian kedua orang tuanya. Dia sangat membenci aku dan eomma serta Minjoo yang tidak tahu apa-apa. Tapi jujur aku sayang padanya, aku ingin dia menjadi Eonniku sendiri. Kami saling berbagi cerita dan bermain bersama, aku ingin itu tapi sepertinya sangat sulit untuk terjadi. Mengingat dia yang tidak menerima kehadiran kami.” Ceritanya dengan sedih.
Aigoo, seharusnya aku tahu apa yang dia rasakan. pasti sangat sakit...
Aku meraih handphoneku yang berdering di dashboard, sebuah pesan...
Saranghae, isi pesan itu...
Hana-ya berhentilah membuat semua ini menjadi tambah sulit. Dulu mungkin aku akan senang saat mendapatkan pesan itu, tapi sekarang...
Kau hanya membuatku sulit...
Berhentilah sebelum semuanya menjadi luka lebih dalam lagi dan hanya akan menyakiti kita...
“Siapa Oppa?” Tanya Yoora, mengagetkan aku.
“Hmm, Teuki-hyung.” Jawabku berbohong.
“Kenapa? Apa hari ini ada jadwal?” Tanya cemas.
“Aniyo, dia hanya menanyakan dimana aku berada.”
Dia hanya mengangguk-angguk lalu kembali menatap kedepan...

                                                                                                *****

Park Hana’s side :
26  januari 2009,  01:17 pm

Aku mendengus kesal melihat kedatangan Donghae-oppa saat ingin menjemput Yoora ke rumahku, melalui jendela kamarku.
Omo! Dua tahun mereka bersama? Aku masih tidak percaya dengan pendengaranku sendiri saat tadi pagi aku tidak sengaja mencuri dengar pembicaraan mereka di dapur...
“Eomma, apa yang harus aku kenakan hari ini?”
“Ada apa sampai kau terlihat begitu bahagia?”
“Aku ada kencan dengan Oppa dan hari ini adalah hari jadi kami yang ke dua. Aku benar-benar tidak menyangka kalau kami sudah berpacaran selama dua tahun.”
“Aishh, pasti kau sangat senang sekarang ini. Chukkae... pakailah pakaian mencerminkan dirimu sendiri.”
“Baiklah Eomma, doa kan agar semuanya berjalan sukses hari ini.”

Apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku sudah tidak ada kesempatan lagi. Apakah itu benar? Dia menolakku?
Ya, dia menolakku...
Bagaimanapun aku mencoba, dia tetap akan menolakku. Aku tahu bagaimana dia mencintai seseorang. Seperti saat bersamaku dulu. Babo! Kenapa dulu aku tidak mengambil kesempatan untuk menjadi yeojachingunya. Kenapa kami hanya bersahabat saja tanpa adanya sebuah ikatan. Aku tahu dia menyukaiku dan kami sama-sama saling menyukai.
Saat bersamaku dia tidak pernah dekat dengan yeoja manapun karena dia tidak ingin membuatku cemburu. Sama sepertiku yang  juga tidak ingin membuatnya cemburu.
Aku memang pergi terlalu lama dan sekarang aku benar-benar sudah terlambat...
Eomma, sepertinya aku harus kembali padamu. Maaf karena aku tidak membawa kabar gembira untukku...
Aku masih terus memperhatikan Donghae-oppa dan Yoora. Sebenarnya mereka cukup cocok untuk menjadi sepasang kekasih. Tapi pikiranku menolak pendapatku itu mentah-mentah. Karena hanya aku yang cocok untuk menjadi pasangannya, tidak ada yang lain!
Mungkin aku egois, sangat egois. Tapi apa salah kalau aku menginginkan orang yang aku sukai untuk menjadi milikku?
Kenyataan itu benar-benar membuatku sedih dan terluka...
Aku butuh tempat yang tenang, untuk membuat hatiku damai. Walaupun tidak untuk selamanya tapi setidaknya saat ini aku bisa tenang...
“Hana-ya, mau pergi kemana?” Tanya Ahjumma, Eomma tiriku yang ternyata sudah pulang dari berbelanja.
“Kemanapun aku pergi. Apa pedulinya padamu!” Teriakku, untuk melepaskan marahku pada anaknya yang sudah mencuri Donghae-oppaku.
“Aku peduli padamu, aku sayang padamu.”
Aku mendengus kesal. “Oh ya? Dan aku tidak akan pernah bisa menyukaimu karena kau telah merusak hidupku dan Eomma.” Aku masih berteriak dan aku menekankan ucapanku padanya agar dia mengerti tentang apa yang kurasakan.
“Hana-ya!”
Aku tidak memperdulikan panggilannya, aku hanya berjalan menjauh meninggalkannya...
Aku benar-benar tidak tahan jika masih harus tinggal dirumah yang sudah seperti neraka bagiku...

                                                                                *****

Lee Donghae’s side :
26  januari 2009,  10:45 pm

                Aku mengantar yeojachinguku pulang. Sebenarnya ini sudah lewat jam biasa aku mengantarnya. Tadi kami begitu asyik sampai lupa dengan waktu. Setelah seharian berjalan-jalan, makan dan nonton. Aku merasa benar-benar lelah...
Aigoo... pasti orang tuanya sangat marah karena aku membawa anak mereka pulang malam, walaupun sebenarnya ini tidak terlalu malam mengingat Seoul yang seperti bukan kota mati, walaupun sudah tengah malam.
“Sepertinya, aku akan di tegur hari ini.” Aku menatap yeojachinguku sedih.
Tidak biasanya orang tuanya berdiri di luar seperti saat ini, saat aku mengantar anak mereka pulang.
“Semoga saja tidak.” Ucapnya pelan.
Lalu sama-sama kami turun dari mobil dan melihat Eommanya datang menghampiri kami dengan cemas.
Ada apa ini, aku melihat Mr.Park menaiki mobilnya dan langsung pergi.
Apakah ada pertengkaran disini?
“Yoora-ya...” Ibunya menangis meghampiri kami.
“Eomma, ada apa?” Tanya Yoora panik dan langsung memeluk Eommanya.
“Hana-ya, dia belum pulang sampai sekarang. Tadi dia pergi dan dia marah pada Eomma. Bagaimana ini kalau terjadi sesuatu padanya.” Cerita Eommanya.
Hana-ya...
Aishh... kenapa lagi dengan yeoja itu, kenapa selalu membuat orang cemas. Apa dia ada di dorm saat ini.
“Tenanglah Eomma, semoga saja tidak terjadi apa-apa padanya.” Yoora mencoba menenangkan.
“Bagaimana kalau kita mencarinya sekarang.” Aku menawarkan.
“Aniyo Oppa, biar aku saja yang mencarinya. Kau harus istirahat besok kau kan ada jadwal.” Dia menolak. “Ah, Oppa aku harus masuk dulu. Pulanglah terima kasih untuk hari ini.” Dia langsung berjalan meninggalkanku dan masuk ke dalam rumah dengan masih terus menenangkan ibunya.
Aku langsung menghubungi Eunhyuk...
Mungkin dia ada di dorm dan sedang bermain dengan Eunhyuk atau Heechul-hyung...
Aku semakin panik dan cemas karena ternyata satu harian ini dia tidak ada datang ke dorm. Kemana kau Hana-ya? Kenapa pergi dan menghilang lagi?
Aku benar-benar panik karena tidak tahu harus melakukan apa lagi. Aku tidak tahu harus menghubungi siapa lagi karena dulu dia tidak memiliki teman dekat kecuali aku. Kami memang selalu bersama-sama kemanapun kami pergi.
Apa kau pergi karena aku? Mianhae karena aku benar-benar tidak bisa seperti dulu lagi. Aku tahu ini menyakitkan untukmu dan ini juga menyakitkan untukku. Kau tidak tahu betapa seringnya aku menangis karena masalah ini.
Kemana aku harus mencarimu? Dimana kau saat ini...
Aku mencoba mengingat tempat yang di datanginya saat dia sedang sedih...
Dimana? Dimana?
Ah... aku tahu...
Taman, taman yang berada di dekat lingkungan rumah kami. Aku selalu menemukannya saat dia sedang sedih dan duduk di ayunan dan aku yang selalu mendorong ayunan itu untuknya. Ya, dia pasti di sana, semoga...
Aku langsung bergegas dan berlari menuju taman yang jaraknya memang tidak jauh dari rumahku dan rumahnya.
Aku menyapu pandanganku saat sampai di taman mencoba menangkap sosoknya yang sedang duduk di ayunan.
Ah, itu dia...
Masih tetap seperti dulu, duduk di bangku ayunan itu saat dia merasa sedih dan biasanya untuk mengurangi rasa sedihnya aku akan mendorongkan ayunan itu untuknya dan mendengarkan semua ceritanya kepadaku. Tapi untuk kali ini aku tidak bisa melakukannya lagi, mianhae...
Aku langsung berjalan menghampirinya.
“Hana-ya, di sini dingin. Ayo pulang.” Aku mengajaknya.
Dia mengangkat kepalanya dan menatapku lama...
“Oppa, apa aku benar-benar terlambat?” Tanyanya dengan mata yang sembab.
Dia pasti menangis dari tadi, membuat matanya merah dan bengkak seperti itu. Kenapa kau seperti ini, Hana-ya?

                                                                                *****

Park Hana’s side :
26  januari 2009,  10:45 pm

Oppa...
Dulu kau yang selalu mendorongkan ayunan ini untukku, saat aku sedih...
Kenapa waktu terasa begitu cepat berlalu?
Aku merindukanmu Oppa...
Tidak bisakah kau menemaniku seperti dulu lagi. Selalu ada di sampingku...
Air mataku terus mengalir tanpa henti. Biarkan, apa lagi yang perlu aku pertahankan. Aku sudah terlambat tanpa memulai semuanya dari awal. Aku yang meninggalkannya,  kenapa aku memaksanya menjadi milikku, setelah aku jahat padanya.
Aku pantas mendapatkannya, tapi...
Aku belum siap...
Ini terasa begitu mendadak...
Aku hanya menundukkan kepala, aku tidak sanggup menegakkannya lagi dan mengakui kalau aku kalah.
Aku selalu menang untuk mendapatkan hatinya kenapa sekarang aku harus kalah mendapatkannya. Dan aku juga tidak ingin pulang, aku benci berada di rumah itu dan melihat wajah-wajah yang tersenyum senang. Sementara aku menangis.
Tidak ada yang peduli kepadaku...
Eomma, aku benci disini...
Aku ingin pulang ke tempatmu...
Kenapa memaksaku untuk pulang kemari, ini bukan lagi rumah kita yang dulu. Ini tempat yang tidak aku kenal, aku tersesat, sendirian, ketakutan. Dunia saat ini terasa begitu gelap untukku...
Aku mendengar suara langkah kaki yang cepat dan berhenti tepat di depanku.
“Hana-ya, di sini dingin. Ayo pulang.”
Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya lama, Donghae-oppa berdiri di depanku.
“Oppa, apa aku benar-benar terlambat?” Tanyaku dengan air mata yang mengalir karena aku tidak mampu untuk menahannya seperti tadi.
 Aku masih sulit untuk menerima ini semua.
“Kenapa kau tidak pulang? Semua orang sibuk mencarimu.” Katanya pelan mencoba mengalihkan pembiacaraan.
“Apa kalau aku pulang kau akan menjadi milikku?” Tanyaku yang masih memaksanya seperti anak kecil.
“Hana-ya, kau bukan anak-anak lagi jadi bersikaplah dewasa. Ini juga sulit untukku.” Katanya dengan tegas.
“Dan ini sangat sulit untukku.” Ujarku pelan. “Pulanglah Oppa, kau hanya membuatku jadi ingin cepat mati jika kau terus berdiri di depanku seperti ini.” Aku mengalihkan pandanganku ke arah lapangan basket yang ada di taman. Begitu sepi...
“Hana-ya!” Bentaknya. “Kau harus pulang, semua orang cemas padamu, Appa dan Eommamu sangat cemas” Lanjutnya dengan pelan.
Aku tersenyum sinis manatapnya. “Eomma? Dia bukan Eommaku dia pencuri! Dia merebut kebahagianku, kalau dia tidak merebutnya pasti saat ini  aku masih bersamamu Oppa, seperti dulu...”
Plak!!
Aku memegang pipiku yang terasa sakit tapi tidak sesakit pada hatiku.
Tamparan itu... kenapa kau menamparku? Apa ada yang salah dengan ucapanku?
“Mianhae...” Ucapnya yang langsung berlutut di depanku dan memelukku. “Mianhae, kita tidak bisa seperti dulu lagi. Aku sudah memiliki Yoora, aku menyayanginya dan aku tidak ingin membuatnya sedih hanya karena keegoisanmu, Hana-ya.”Dia menangis sambil memelukku. “Kumohon jangan seperti ini.”
“Apa kau mencintainya? Apa dia begitu berarti untukmu? Apa yang dia lakukan sampai kau begitu menyayanginya? Apa hebatnya dia dari pada aku?” Tanyaku di sela tangisku yang semakin jadi.
“Dia selalu ada di saat aku sedih karena harus kehilangan Appa. Dia mendukungku dan membantuku untuk bangkit. Dimana kau saat itu, Hana-ya? Di saat aku memerlukan bantuanmu dan perhatianmu, dimana kau saat itu?”
Aku terdiam...
Apa yang harus aku jawab, kalau semua itu benar adanya. Aku memintanya untuk tidak pergi meninggalkanku tapi malah aku yang meninggalkannya pergi.
Aku melepaskan pelukannya dan menatapnya lama.
“Oppa, aku membencinya dan aku benar-benar ingin membunuhnya. Agar kau tidak dapat melihatnya lagi.”Ucapku dengan senyum sinisku.
Aku langsung berdiri dan berjalan meninggalkanya yang masih berlutut di tanah rerumputan.
“Hana-ya...” Dia memohon kepadaku.
Aku menghentikan langkahku dan berbalik menatapnya. “Mwo? Kau ingin aku merestui hubungan kalian berdua?” Tanyaku sinis. “Dia sama seperti ibunya, mereka sama-sama pencuri. Aku benci mereka.” Teriakku melepaskan semua kesedihanku. “Aku benci jika harus melihat mereka tersenyum.” Lanjutku. “Aku benci karena aku sendirian dengan semua orang yang tertawa mengelilingiku. Tidak ada yang peduli padaku, kenapa aku harus peduli pada kalian semua, hah?” Tangisku kembali pecah.
Donghae-oppa menghampiriku dan memelukku, membuat tangisku tidak dapat berhenti.
“Aku menyayangimu, Hana-ya. Jadi jangan seperti ini, melihatmu seperti ini juga membuatku terluka.”
“Kalau begitu putuslah dengannya kalau kau ingin melihatku tersenyum kembali.” Pintaku memohon.
“Aku tidak bisa, aku tidak bisa melakukan itu. Mianhae...” Ucapnya pelan, lalu melepaskan pelukannya dariku.”Ayo kita pulang, Appa sangat cemas karena mencarimu.”
Aku hanya mengikutinya dari belakang dengan malas...
Aku benar-benar sudah terlambat...
“Mianhae...”Ucapnya saat kami sampai di depan rumahku. “Rapikan rambut serta wajahmu, jangan membuat Appamu sedih. Tersenyumlah seperti dulu. Aku pulang...”
“Apa kita masih bisa menjadi teman?” Tanyaku menghentikan langkahnya.
Dia berbalik dan menatapku lama, kemudian melanjutkan berjalan meninggalkanku sendiri, tanpa senyum...
Dia menyuruhku untuk tersenyum tapi kenapa malah dia yang tidak tersenyum kepadaku. Setelah semua berakhir dengan begitu menyedihkan kenapa masih  memintaku untuk tersenyum. Aku bahkan sudah lupa caranya untuk tersenyum dengan manis sejak aku meninggalkannya dulu.
Apakah permintaanku terlalu sulit untuk dia terima? Chingu? Apa susahnya hanya menjawab iya atau tidak...
Sebelum aku berjalan memasuki beranda rumah. Appa langsung menyambut kedatanganku dengan cemas.
“Hana-ya, dari mana saja kau? Kau ingin membuat Appa cepat mati hah?” Ujarnya yang langsung memelukku dengan erat.
“Mianhae Appa, karena sudah membuatmu cemas.”
“Jangan pernah ulangi itu lagi.” Pintanya.
Tentu saja, kenapa aku harus mengulanginya lagi, batinku.
“Appa, bisakah kau mencarikan tiket untuk ke Jerman yang berangkat besok pagi. Aku ingin pulang.” Aku langsung mengakui keinginanku.
“Aigoo... Kenapa begitu tiba-tiba?” Tanyanya yang terkejut mendengar ucapanku.
“Aku rindu pada Eomma, kasihan Eomma di sana sendirian tidak ada yang menjaganya.” Aku memberikan alasan.
“Apa kau tidak kasihan kepada Appa?”
“Aishh, Appa kan sudah ada yang menjaga kenapa aku harus khawatir?” Aku balik bertanya.
“Apa karena kau tidak suka dengan Eomma serta dongsaeng tirimu?”
Aku hanya diam. Ya tentu saja salah satu alasannya karena mereka. Aku benci melihat mereka tersenyum.
“Cobalah untuk menyukai mereka, mereka semua sayang padamu.” Appa memintaku.
“Appa...” aku memohon meminta pengertiannya.
“Ne, baiklah Appa akan mencarikan tiket untukmu.” Katanya menyerah.
Aku langsung mengajaknya untuk masuk karena aku sudah benar-benar merasakan kedinginan...
.......
26  januari 2009,  11:20 pm

Sudah dapat dipastikan kalau aku akan kembali ke Jerman besok. Appa sudah mendapatkan tiket untukku jam penerbangan pagi.
Sekarang tinggal waktuku untuk berkemas...
Apa aku terlalu jahat dengan keluarga tiriku. Melihat ibu tiriku menangis membuatku sedih. Aku benci merasakan ini, kenapa dia menangis karena cemas padaku. Apakah itu tulus? Ya, aku tahu itu tulus dan aku benci mengetahui kalau itu tulus. Membuatku jadi merasa bersalah karena aku membenci mereka.
Apa yang harus aku lakukan? Menerima mereka tidak semudah membalikkan telapak tangan.
“Yoora-ya, apa Eonnimu sudah pulang? Eomma sangat cemas, dia pasti sangat sedih karena perceraian Appa dan Eommanya.”
“Eomma, tenanglah... Eonni sudah pulang dan sekarang dia sedang istirahat.”
“Eomma tahu bagaimana sulitnya dia menerima ini semua, kalau bukan karena jalan yang sudah di tentukan Tuhan, Eomma tidak akan mau merusak keluarga orang lain.”
Tangis itu, kenapa begitu tulus...
Rasa bersalah yang begitu besar membuatku benar-benar ingin menghilang dari semua ini. Memang seharusnya aku tidak kembali kemari, karena di sini bukan tempatku lagi...
Seperti dulu...
.......
26  januari 2009,  11:30 pm
Aishh...
Kenapa di sini masih tetap seperti dulu, hah...
Gelap, aku benci gelap!
Aku mencoba mencari handphoneku untuk menerangiku dengan panik, mencarinya di sela-sela kegelapan karena listrik di rumahku mati. Menyebalkan kenapa harus di saat seperti ini, di saat aku sibuk dengan membereskan barang-barangku.
Aku terdiam sejenak...
Menatap balkon kamarku yang kubuka yang terlihat cukup terang karena bulan bersinar indah malam ini.
Aku melangkah dengan pelan menghampiri balkon kamarku. Melihat cahaya lampu jalanan dan rumah yang berada tepat di depan rumahku. Membuatku menjadi tenang. Perlahan air mataku kembali mengalir pelan.
Oppa... aku takut dengan kegelapan ini. Tapi karena ucapanmu, aku jadi berani. Hanya dengan melihat cahaya di sekitarku membuatku menjadi tenang, apa lagi saat aku menatap langit. Aku tidak menyangka kau yang begitu takut dengan gelap menjadi bersikap berani karena malu di depanku.
“Eonni...” Panggil Yoora dengan senter di tangannya.
“Ne...” Aku langsung menghapus air mataku dengan cepat dan berbalik menatapnya yang berdiri di depan pintu kamarku.
“Boleh aku masuk?” Tanyanya.
Aku tersenyum kecil mengingat ucapanku dulu yang melarangnya masuk tanpa izin dariku.
“Ne, silahkan...” Aku memberikan izin.
“Eonni, kenapa di sini sangat berantakan? Apa Eonni sedang kesal?” Tanyanya yang bingung dengan keadaan kamarku yang berantakan.
“Besok aku akan kembali ke Jerman.” Jawabku.
Kali ini, sebelum aku pergi aku akan mencoba untuk bersikap ramah padanya.
“Kenapa... kenapa begitu mendadak? Apakah karena aku dan Eomma?” Tanyanya yang sedikit terkejut mendengar ucapanku.
“Aniyo, aku hanya rindu pada Eomma di Jerman.” Aku beralasan. “Ah, dari mana saja tadi? Aishh... apa kau habis berkencan?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Ne Eonni, untuk merayakan hari jadi kami yang kedua.” Ucapnya pelan.
“Chukkae...” Aku tersenyum menatapnya, kali ini benar-benar senyum yang tulus. Karena aku sudah mengikhlaskan hubungannya dengan Donghae-oppa. Aku tidak ingin memaksakannya lagi.
Dia tersenyum tipis membalas ucapanku.
“Ah, kenapa tadi kau kemari Yoora-ya? Apa ada yang ingin kau sampaikan?” Tanyaku.
“Ah, ne... tadi Appa menyuruhku kemari karena kata Appa Eonni takut dengan gelap. Makanya aku membawakan senter ini.” Tunjuknya pada senter yang di pegangnya dari tadi yang masih terus menyala untuk menerangi kami.
“Gomawo...”
“Cheonman.” Balasnya. “Eonni...”
Aku menatapnya yang terlihat ragu untuk melanjutkan ucapannya.
“Mwo?” Tanyaku penasaran.
“Aniyo...” Ucapnya cepat.
“Mwo? Kau membuatku penasaran Yoora-ya.” Aku tersenyum dan mencoba memaksanya.
“Hmm... bisakah kita menjadi... saudara seperti antara eonni dan dongsaeng?” Tanyanya ragu.
Aku terdiam sejenak, apa salahnya untuk menjadi baik setelah membuatnya sedih. Lagi pula aku tidak akan bertemu lagi dengannya setelah besok pagi kepergianku kembali ke Jerman.
Aku tersenyum menatapnya dan langsung memelukknya. “Tentu saja, kenapa tidak.”
Aku merasa dia sangat terkejut dengan pelukanku terlebih dengan sikap ramahku kepadanya, tapi dia tetap membalas pelukanku.
“Eonni, apakah aku sedang bermimpi?” Tanyanya tidak percaya.
“Aniyo, kau tidak bermimpi. Mianhae... karena sejak datang kemari aku tidak pernah bersikap ramah padamu.” Aku melepaskan pelukanku padanya.
Aku melihatnya menangis, lalu cepat-cepat dia menghapusnya.
“Mulai besok, kalau kau ingin melambaikan tangan kepada namjachingumu dari balkon ini. Lakukanlah, aku memberikanmu izin.”
“Gomawo Eonni.” Dia tersenyum menatapku.
“Ini sudah sangat malam, tidurlah lagi.” Aku menyuruhnya.
“Ne... ini senternya Eonni.” Dia menyerahkannya kepadaku.
“Aniyo. Sebentar lagi pasti listriknya akan menyala.” Aku menolaknya. “Bawalah untukmu Yoora-ya.”
“Bukankah Eonni takut dengan gelap?”
“Ne, tapi sekarang tidak lagi. Seseorang membantuku untuk tidak takut dengan gelap, tapi dia sendiri sangat takut dengan gelap.” Aku tersenyum mengingat Donghae-oppa.
Rasanya air mataku ingin keluar lagi...
“Cepatlah tidur...” Perintahku.
“Ne...” Dia langsung berbalik dan pergi. “Selamat malam Eonni.”
“Selamat malam Dongsaeng.” Balasku.
Aku kembali menatap kearah jalanan dan rumah yang ada di depanku...
Air mataku kembali mengalir...
Mulai saat ini...
Lambaian tangan itu...
Senyum itu...
Tawa itu...
Dan namja itu...
Bukan milikku lagi...
Semuanya bukan milikku lagi seperti dulu...
Sekarang dia milik dongsaengku, Yoora-ya...
Semoga kalian bahagia...

                                                                                *****

Park Yoora’s side :
27  januari 2009,  11:50 am

                Aku langsung keluar dari kamar Hana-eonni karena sepertinya dia sedang ingin sendiri...
Tuhan...
Apakah senyumnya tulus...
Eonni, mianhae karena sudah membuatmu jadi terluka begitu dalam...
Oppa, kenapa kau tidak mengatakan kalau kau mengenal Eonni. Kenapa membuatku menjadi merasa sangat bersalah?
Apa dulu aku hanya pelarian bagimu? Kenapa membuatku begitu mencintaimu? Lalu apa yang sekarang harus aku lakukan? Melihat Eonni yang sedih seperti itu juga membuatku jadi sedih.
Eonni, apa kau  benar-benar senang dengan hubunganku dengan Donghae-oppa?

Flashback_
“Hana-ah, di sini dingin. Ayo pulang.”
 “Oppa, apa aku benar-benar terlambat?”
“Kenapa kau tidak pulang? Semua orang sibuk mencarimu.”
“Apa kalau aku pulang kau akan menjadi milikku?”
“Hana-ah, kau bukan anak-anak lagi bersikaplah dewasa. Ini juga sulit untukku.”
“Dan ini sangat sulit untukku. Pulang lah Oppa, kau hanya membuatku jadi ingin cepat mati jika kau terus berdiri di depanku seperti itu.”
Apa yang terjadi diantara mereka? Apa mereka saling mengenal?
“Hana-ah! Kau harus pulang, semua orang cemas padamu, Appa dan Eommamu sangat cemas.”
 “Eomma? Dia bukan Eommaku dia pencuri. Dia merebut kebahagianku, kalau dia tidak merebutnya pasti saat ini  aku masih bersamamu Oppa, seperti dulu...”
Plak!!
Aku terkejut dengan apa yang dilakukan Donghae-oppa. Kenapa dia menampar Hana-eonni? Apa karena kata-katanya yang mengatakan Eomma sebagai pencuri? Ini benar-benar membuatku bingung, tentang apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka.
 “Mianhae, kita tidak bisa seperti dulu lagi. Aku sudah memiliki Yoora-ah, aku menyayanginya dan aku tidak ingin membuatnya sedih hanya karena keegoisanmu, Hana-ah. Aku mohon jangan seperti ini.”
Kenapa namaku dibawa-bawa? Apa mereka pernah saling...
Aku tak sanggup untuk melanjutkan kata-kataku...
Apa itu mungkin? Kenapa aku tidak tahu?
“Apa kau mencintainya? Apa  dia begitu berarti untukmu? Apa yang dia lakukan sampai kau begitu menyayanginya? Apa hebatnya dia dari pada aku?”
“Dia selalu ada di saat aku sedih karena harus kehilangan Appa. Dia mendukungku dan membantuku untuk bangkit. Dimana kau saat itu, Hana-ah? Di saat aku memerlukan bantuanmu dan perhatianmu, dimana kau saat itu?”
Mereka benar-benar...
Tuhan...
 “Oppa, aku membencinya dan aku benar-benar ingin membunuhnya. Agar kau tidak dapat melihatnya lagi.”
 “Hana-ah...”
 “Mwo? Kau ingin aku merestui hubungan kalian berdua? Dia sama seperti ibunya, mereka sama-sama pencuri. Aku benci mereka. Aku benci jika harus melihat mereka tersenyum. Aku benci karena aku sendirian dengan semua orang yang tertawa mengelilingiku. Tidak ada yang peduli padaku, kenapa aku harus peduli pada kalian semua, hah?”
Aku... aku pencuri? Aku pencuri? Mianhae... Eonni, aku benar-benar tidak mengetahui ini semua...
 “Aku menyayangimu, Hana-ah. Jadi jangan seperti ini, melihatmu seperti ini juga membuatku terluka.”
“Kalau begitu putuslah dengannya kalau kau ingin melihatku tersenyum kembali.”
Aku langsung berlari  meninggalkan mereka, aku tidak sanggup melihat mereka lagi, pelukan-pelukan itu! Kata-kata itu! Apa kau begitu mencintaiku Oppa?
Flashback end_

Kenapa tadi aku harus mengikuti Donghae-oppa yang pergi ke taman, kalau saja aku tidak mengikutinya aku tidak akan merasa sakit seperti ini. Dan aku akan hidup dalam ketidaktahuan yang membuatku semakin sakit. Kenapa aku harus berada di posisi seperti ini?
Kalau saja aku mengetahui ini dari awal tentang mereka aku pasti tidak akan pernah mau memulai menyukaimu Donghae-oppa, atau menerima cintamu. Eonni, maafkan aku? Aku benar-benar sudah terlanjur mencintainya...

                                                                                *****

Lee Donghae’s side :
27  januari 2009,  00:45 am

Aku berjalan memasuki dorm dengan malas...
Aku benar-benar lelah hari ini, lebih lelah dari pada aku harus syuting sampai malam...
“Hae-ah, kenapa kau tidak menyapaku, hah?” Tanya Eunhyuk yang marah karena aku tidak menyapanya saat masuk kedalam.
Aku menatapnya sedih...
“Hae-ah, ada apa denganmu? Kenapa kau seperti habis menangis?” Tanyanya yang langsung jadi cemas.
“Aku, mencintainya tapi aku juga menyayangi  Yoora-ah. Bagaimana ini aku sudah membuatnya menangis? Dia menangis karena aku. Hyuk-ah apa yang harus aku lakukan.” Aku tidak bisa menahan tangisku lagi. Dan aku langsung menangis di dalam pelukkan Eunhyuk-ah yang bersedia mendengarkan curhatku.
“Tenanglah dulu, kau membuatku jadi bingung harus melakukan apa.” Ucapnya mencoba membuatku tenang.
“Hyuk-ah, aku mencintainya tapi aku marah padanya karena dia meninggalkanku begitu saja dan pergi. Aku tahu dia terluka karena perceraian kedua orang tuanya, tapi seharusnya dia tidak pergi begitu saja harusnya dia bercerita padaku dan kami bisa selalu bersama. Dan sekarang sudah terlalu rumit untuk memulai ulang semuanya.” Aku masih terus berbicara membuat Eunhyuk-ah bingung mengatasiku.
“Hae-ah, kalau kau berjodoh dengannya kau pasti akan bisa bersamanya. Jangan seperti ini, bagaimana kalau ada fans yang melihatnya?” Kata Eunhyuk-ah lagi masih mencoba membuatku tenang, tapi sama sekali tidak berhasil.
Tiba-tiba pintu dorm terbuka...
“Hae-ah ada apa?” Tanya Yesung-hyung dengan cemas melihatku yang menangis. “Kau apakan dia Hyuk-ah?” Tanyanya galak pada Eunhyuk-ah.
“Anio, aku... aku tidak melakukan apa-apa.” Kata Eunhyuk-ah cepat langsung melepaskan pelukanku dan mendorongku.
Yesung-hyung masih menatapnya tidak percaya.
“Bukan karena dia Hyung, aku hanya sedih karena aku harus  kehilangan yeoja yang kucintai.” Aku langsung mengatakan masalah yang sebenarnya.
“Apa kau putus dengan Yoora-ah?” Tanya cemas.
“Anio, hanya saja aku menyukai yeoja lain yang dulunya sangat aku sukai dan sekarang dia kembali lagi setelah lama menghilang.” Jelasku lagi agar Hyungku ini mengerti permasalahan yang sebenarnya terjadi.
“Aigoo, kenapa masalahnya begitu rumit?” Dia sepertinya juga bingung dengan masalahku ini.
“Apa yang harus aku lakukan Hyung, Hyuk-ah?” Aku meminta pendapat mereka.
Yesung-hyung langsung menghapus air mataku dan menuntunku untuk duduk di sofa. Sementara Eunhyuk-ah ke dapur dan mengambilkan air minum untukku. Mereka mencoba membuatku untuk tenang. Dan aku juga sudah cukup merasa tenang.
Setelah itu aku langsung menceritakan dari awal bagaimana kisahku dengan Hana-ah kepada Eunhyuk-ah dan Yesung-hyung. Mereka mendengarkan ceritaku dengan baik dan memberikan komentar-komentar yang cukup membuatku jadi lebih baik.walaupun mereka kurang yakin juga dengan komentar mereka sendiri.

                                                                                *****

Park Hana’s side :
27  januari 2009,  09:50 am

Aishh... kenapa namja ini? Aku pikir setelah semua yang terjadi tadi malam akan membuatnya menjadi lebih baik kenapa dia jadi semakin bersikap seolah tidak mengenalku!
Bahkan untuk menjadi chinguku pun dia tidak mau. Aishh... sombong sekali dia apa karena Super Junior sudah sangat terkenal sampai membuatnya jadi seperti itu. Namja itu... baiklah kalau itu mau mu!
Aku langsung mematikan handphoneku dengan kesal karena Donghae-oppa tidak mau menjawab panggilan dariku. Apa dia sangat sibuk hari ini? Atau karena dia memang marah?
Padahal hari ini aku akan kembali ke Jerman dan aku mungkin tidak akan pernah kembali lagi kemari. Seoul, aku akan merindukanmu nantinya...
Aku ingin melihat senyum itu untuk yang terakhir kalinya...
Kau namja yang menyebalkan aku benci padamu...
Tidak, Donghae-oppa aku mencintaimu... batinku.
“Hana, ayo cepat pesawat sebentar lagi akan take off.” Appa menyadarkan ku dari lamunan.
“Ne..” Aku mengikuti langkah Appa dari belakang menunggu pesawat yang akan take off sebentar lagi.
Appa menemaniku untuk pulang ke Jerman karena Appa ingin bertemu dengan Eomma. Katanya ada hal yang ingin di bicarakan. Sekalian Appa ingin bertemu dengan rekan bisnisnya di Jerman.
Eomma tiriku di rumah karena harus menemani magnaeku yang sedang sakit. Sementara dongsaengku, Yoora-ah sedang kuliah karena hari ini dia ada ujian di kampusnya. Sebenarnya dia dan Eomma tiriku sangat ingin mengantarku ke bandara tapi apa boleh buat mereka tidak bisa.
Jadilah hanya aku dan Appa saja...
Sesuai permintaanku pada Appa, untuk mencarikan aku tiket pagi untuk pulang ke Jerman. Aku mendapatkannya tapi entah kenapa aku masih sulit harus meninggalkan negara ini. Apa karena aku masih tidak ikhlas dengan hubungan Yoora-ah dan Donghae-oppa, mungkin.
Tapi aku akan mencoba untuk mengikhlaskan hubungan mereka. Seiring berjalannya waktu aku yakin aku akan dapat dengan mudah untuk mengikhlaskan hubungan mereka.
“Hwaiting...” Aku memberikan semangat pada diriku sendiri untuk dapat mampu menghadapi ini semua. “Ini adalah yang terbaik yang diberikan uhan untukku.” Tambahku lagi mencoba membesarkan hati.

*****

To be continued...
Please laeve your commentS
Gomawo
SF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar